
Amanda menatap keluar jendela pesawat, terlihat birung burung berterbangan diawan.
Sejak pesawat ini lepas landas tak hanya pusing yang ia rasakan, tak jarang ia bolak balik kekamar mandi, untuk memutahkan isi perutnya.
"Apa kau mabuk pesawat, sudah tiga kali kau bolak baik kekamar mandi, padahal pesawat baru lepas landas satu jam yang lalu" tanya Axe, peragawan yang dipilih mewakili perusahaan JJ modeling.
Amanda menggelengkan kepalanya pelan alih alih jawabannya.
Axe terpikir akan satu hal, tapi kemudian ia tepis pemikirannya, lantaran belum melihat ada cincin yang melingkar dijari Manda.
"Minumlah, agar kau lebih baik" Axe memberikan air mineral pada manda, dan menyapu keringat yang menetes dipelipis Manda.
Amanda meminum air yang diberikan Axe, meskipun tidak menghilangkan mual dan pusingnya, namun setidaknya ia lebih lega dari sebelumnya.
"Tidurlah, perjalanan masih lama, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai"
Entah menurut akan perintah Axe atau memang ingin tudur? Yang jelas, Amanda sudah terlelap dalam alam mimpi.
Axe menatap lekat lekat wajah Amanda yang sudah terlelap, "Andai lu tau man, gue udah lama suka sama lu, tapi sayangnya gue belum punya cukup keberanian untuk ngungkapin"
"Semoga aja, lu belum punya kekasih saat gue siap ngungkapin perasaan gue"
......................
"Bagai mana? Apa kau sudah mendapatkan bukti siapa wanita yang tak sengaja aku tiduri waktu itu" tanya seorang pria yang tengah duduk dikursi kebesarannya.
"Saya sudah mendapatkan rekaman CCTV yang mengarah kekamar tuan, dan anda bisa melihatnya sendiri" kata seorang bawahan pada atasannya.
Pria itu menatap rekaman CCTV yang mengarah kekamarnya.
Pria itu mengclouse dan memprrbesar rekaman tepat pada seorang wanita yang hendak masuk kekamarnya.
Namun sayangnya, wajahnya tak begitu jelas, karena wanita itu membelakangi kamera.
"Cari tau tentang wanita ini" perintah pria itu pada bawahannya.
"baik tuan"
Pria itu memejamkan matanya, mengingat tagedi triwulan yang lalu. Sungguh waktu itu ia diluar kendali.
Ia masih ingat jelas, waktu itu ia datang di acara party ulang tahun club temannya yang ke 4.
Ia melangkahkan kakinya memasuki club, tepatnya diruang VIP. Terdengar suara musik kencang dan lampu yang gemerlap, menyambutnya.
Terlihat orang orang menari dengan ria dibawah lampu disco. Benar benar terlena akan alunan musik kencang yang membuat telinganya sakit.
"Hai tuan, kau ingin meminum sesuatu" tawar seorang pelayan.
Aku menatap satu persatu daftar menu, namun tak ada satupun yang menggugah selera.
Meskipun belum pernah meminum satupun minuman yang tertera didaftar menu, tapi ia yakin, semua minuman yang ada didaftar memabukkan.
"Maaf, aku tidak jadi memesan"
Terasa sebuah tepukan dipundakku, dan akupun yang sedikit kaget langsung membalikkan badan.
"Tuan Andrew" ucapku melihat sang pemilik club, yang mengundangku datang keacara partynya.
"Hai Sky, kau sudah lama" tanya Andrew yang ikut duduk disebelahku.
"Kau melupakan sesuatu Sky, kita tidak sedang membicarakan soal bisnis, jadi tak usah berbicara formal begitu" kata Andrew yang dibalas anggukan olehku.
"Dan dimana minumanmu? Apa kau belum memesan? Astaga, aku seharusnya memerintahkan pelayan untuk menyiapkan minuman, saat kau tiba. Berikan dua minuman terbaik yang kita punya" kata Andrew menatapku dan dan pelayan bergantian.
"Tidak perlu Andrew, aku...."
"Tidak masalah, aku yang mengundangmu dan kau tamu spasialku. Tak mungkin jika aku membiarkan tamuku, yang sudah berdandan rapi tak meminum apapun ditempatku"
Aku hendak menolak, namun sejurus kemudian pelayan datang dengan membawa nampan ditangannya.
"Silakan tuan" pelayan itu melatakkan dua gelas yang berisi minuman yang sebelumnya Andrew pesan ditengah meja, sebelum pelayan itu pergi.
"minumlah, ini minuman terbaik yang kami punya" kata Andrew mendekatkan gelas milikku, karena aku hanya diam menatap minuman itu.
Aku nampak ragu, namun menolak tawaran Andrew bukanlah hal bijak.
Dengan ragu aku mengangkat gelas dari meja. "Bersulang" kata Andrew yang memasukkan cairan berwarna merah kehitaman itu kemulutnya.
Aku menatap minuman ditanganku sebelum menyesapnya. Terasa minuman itu memulai membasahi tenggorokanku.
Jika ditanya, dari angka 1 sampai 10, maka jawabanku -10. Bukan karena alasan, minuman ini terasa aneh dimulutku.
Andrew mengangkat tangan, memberikan kode. Dan tak lama kemudian seorang pelayan berseragam hitam datang dengan membawa beberapa botol kaca berukuran sedang ditangannya. Terlihat jelas, warna cairan didalam botol itu sama persis dengan minuman tadi.
Seakan sudah mengerti dengan tuganya, pelayan itu menuangkan minuman kedalam gelas Andrew yang kosong dan gelasku masih setengah.
"Come on Sky, kita sedang party" kata Andrew melihat seperti ada yang salah dengan Sky.
"Ambil gelasmu Sky, jangan sampai aku mengahabiskan minumannya" kekeh Andrew.
Aku mengangkat gelas itu, masih ragu untuk meminumnya lagi. Gelas itu tampak elegan namun mewah, yang hanya diperuntukan pengunjung VIP. "Kau tau Sky, saat aku punya masalah, aku selalu meminum ini, untuk melupakan masalahku. Memang benar dengan meminum ini tidak membuat masalahku hilang, tapi kau akan merasa lebih tenang, dan jangan lupakan... rasa gelisah yang terus menghantuimu akan hilang... Percayalah padaku" kata Andrew yang mengira Aku sedang memiliki masalah, karena aku tak menikmaki minuman terbaik di club ini. Padahal kalau boleh jujur masalahnya ada digenggamanku.
"Ayolah Sky, temani aku berpesta malam ini" kata Andrew, karena aku hanya diam.
"Bersulang" kata Andrew sebelem menyesap minuman digelasnya. Aku yang tak ingin mengecewakan orang didepanku ikut menyesap minuman yang sama. Sekaligus membuktikan ucapan Andrew, apa benar akan mendapat ketenangan?
"Ayo Sky, kita bergabung dengan mereka" kata Andrew menarik tanganku, setelah minuman yang ada diteko habis.
"Kau kenapa" tanya Andrew melihatku tak bergeming.
Aku menggelengkan kepalaku, entah kenapa kepalaku terasa berat. Bukannya ketenangan yang kudapat, justru pandanganku berputar putar, tak bisa fokus pada satu titik. Bahkan suara Andrew yang dari tadi memanggilku tak terdengar begitu jelas. Suara Andrew seolah terdengar terputus putus, dan terbawa angin.
"Hai Sky, kau baik baik saja? Apa kau sebelunya tidak pernah meminum minuman semacam ini" kata Andrew mengingatku hanya meminum dua gelas berukuran kecil, dan sudah seperti ini. Padahal Andrew sudah menghabiskan 9 gelas sekaligus, tapi masih bisa mengontrol dirinya. Ya mungkin karena Itu adalah minuman sehari harinya. Jadi tak heran jika dirinya masih bisa mengontrol diri.
Aku tak menjawab, kepala kunterasa semakin berat, bahkan tubuhku terasa akan tumbang.
Melihat keadaanku yang tidak memungkinkan, Andrew memerintahkan seseorang untuk membawaku kekamar pengunjung.
"Sorry Sky, aku harus meninggalkanmu. Aku harus kembali bergabung kepesta" ucap Andrew setelah Orang suruhannya meletakkan Sky dikasur. Yang dijawab anggukan samar, entah mengerti atau tidak dengan yang Andrew ucapkan.
......................
Cis dulu buat yang baca 🥂