
"..."
Sang gadis kecil yang baru saja terbangun melihat ke arah sekelilingnya. Hamparan pasir membentang luas sejauh mata memandang, bukan dinding dan ruang gelap yang dipenuhi dengan prajurit besi.
Gadis kecil itu berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Ia ditangkap dan disekap oleh sekumpulan orang tak dikenal lalu sang gadis berambut putih datang dan menolongnya.
"Para penculik itu...!"
Gadis kecil itu dengan segera berteriak dengan penuh rasa takut.
"Tenanglah... Mereka tidak akan bisa mengejarmu."
Ucap gadis berambut putih dengan tenang. Suaranya terdengar sangat pelan sampai hampir tidak terdengar.
"...D-dimana kita? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"..."
Gadis berambut putih berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang gadis kecil.
"Tempat yang aman... Paling tidak untuk saat ini. Kau sudah tertidur hampir seharian."
"S-seharian?"
"Ya... Dan kita sudah kehilangan banyak waktu."
Gadis berambut putih berhenti berbicara lagi sebelum akhirnya melanjutkannya.
"Tapi kurasa ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara."
"..."
Mereka berdua terdiam dan saling bertatap-tatapan, membuat sang gadis kecil merasa canggung.
"Sebenarnya hal ini tidak diperlukan tapi karena kita sudah sejauh ini... Bagaimana kalau pertama-tama kita memperkenalkan diri masing-masing?"
Ucap sang gadis berambut putih memecah keheningan.
"Kau bisa memanggilku Shiro. Siapa namamu?"
"Rin..."
"Rin... Nama yang bagus."
"...Pamanku yang memberikan nama itu."
Untuk sesaat pandangan gadis kecil yang bernama Rin itu terlihat kesepian.
Rin menatap ke arah Shiro.
"Shiro... Apa kau yang menyelamatkanku?"
"...Hanya menjalankan tugasku."
"Aku tidak tahu lagi, entah apa kau melakukannya karena uang atau memang karena kau peduli. Karena aku tidak yakin ada orang yang rela melakukan sejauh itu demi keduanya, atau mungkin tidak. Tapi tetap saja... Terimakasih."
"..."
*Huff*
Shiro menghela napas dan berbicara kepada gadis kecil yang bimbang itu.
"Aku ingin menyingkirkan kesalahpahaman di antara kita. Tapi sebelum aku menceritakan kisahku, bagaimana kalau kau menceritakan kisahmu terlebih dahulu?"
"...?"
"Aku ingin kita saling memahami agar hal seperti ini tak terjadi lagi. Dengan begitu perjalanan akan jadi lebih mudah."
Rin terdiam. Ia tak tahu harus mengatakan apa dan mulai dari mana.
"Aku... Tak tahu harus mulai dari mana. Satu hal yang aku tahu pasti ialah... Aku adalah seekor monster."
Gadis itu berkata dengan penuh rasa kesedihan.
"..."
"Aku tak ingat siapa namaku, siapa orang tuaku dan dari mana aku berasal. Satu-satunya yang ku ingat adalah diriku yang tak berdaya terbaring sekarat di antara puing bangunan, hanya menunggu waktu sampai ajal menjemput. Tapi orang-orang tak dikenal itu datang dan menyelamatkanku."
"..."
"Mereka bilang jangan takut, semua akan baik-baik saja. Untuk sesaat kupikir semua akan baik-baik saja, sampai aku menyadari bahwa mereka yang datang lebih buruk dari seekor monster. Mereka bilang akan menyelamatkan kami. Tapi mereka justru menyiksa kami dan terus melakukan percobaan pada tubuh kami."
"S.A.V.I.O.R."
"Benar... Mereka. Aku masih bisa menahan rasa sakit di tubuhku karena aku memiliki banyak teman yang mendukungku di sana. Kami saling menjaga satu sama lain tapi pada akhirnya semua menghilang satu persatu hingga pada akhirnya hanya aku sendiri yang tersisa."
"..."
"Mereka memindahkanku ke fasilitas lain dan terus memasukan benda aneh itu ke dalam tubuhku. Kupikir semua sudah berakhir, aku sudah pasrah dengan keadaan. Tapi suatu hari datang seorang peneliti yang sangat baik kepadaku. Aku memanggilnya paman. Ia seperti sosok ayah bagiku. Ia bahkan memberikanku nama sungguhan, bukan kode angka atau semacamnya."
"..."
"Ia berjanji suatu hari akan membawaku pergi dari tempat itu. Dan tak disangka hari itu benar-benar terjadi. Aku mendengar dari para peneliti bahwa terjadi pemberontakan di seluruh tempat. Aku mendengar namamu di sebutkan berkali-kali, C-001."
"Mendengar berita itu, orang-orang yang dijadikan bahan percobaan di fasilitas tempatku berada juga melakukan pemberontakan. Di saat itulah aku dan pamanku melarikan diri."
"Kalian berhasil?"
"Ya... Meskipun fasilitas itu memiliki pertahanan yang ketat tapi para subjek tes memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk membuat celah di pertahanan mereka."
"Lalu... Kemana kalian pergi?"
"Keadaan setelah kami pergi tidak begitu baik. Paman tidak memiliki keluarga jadi kami hidup dengan berpindah-pindah tempat. Kami mendengar kabar bahwa para pemberontak berhasil memenangkan pertempuran di markas utama tapi anehnya pasukan S.A.V.I.O.R. masih terus menerus mengejar kami. Kurasa mereka tidak sepenuhnya kalah."
"..."
"Pamanku menceritakan banyak hal tentangmu, ia bilang kau merupakan orang yang cukup terkenal di organisasi. Aku bahkan sempat memgagumimu tapi setelah melihat kenyataannya, semua berubah."
"..."
Rin berhenti bercerita, tiba-tiba matanya berkaca-kaca seakan-akan ingin menangis.
"Kami tidak bisa melarikan diri terus menerus, mereka berhasil menemukan kami. Paman terluka parah akibat mencoba melindungiku. Ia membawaku menemui seseorang yang di sebut sebagai bartender dan memintanya membawaku pergi sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya."
"Aku turut berdukacita."
"Tak apa, ini bukan salahmu. Yang lebih membuatku terkejut adalah mengapa paman menyuruh orang itu membawaku kembali ke para penyiksa itu?"
"Jadi pamanmu yang membuat permintaan itu?"
"Benar... Kenapa...? Kenapa ia melakukannya? Kenapa aku harus mengalami semua ini? Apa aku benar-benar harus kesana? Apa selama ini aku salah?"
Sekarang gadis kecil itu mulai menangis ketakutan. Shiro hanya diam menunggu sampai gadis kecil itu tenang.
"Apa yang dilakukan S.A.V.I.O.R memang tak dapat dimaafkan. Walaupun tujuan mereka demi menyelamatkan manusia tapi mereka melakukannya dengan cara yang salah. Meski begitu tak bisa dipungkiri bahwa mereka telah banyak berjasa dalam menyelamatkan dunia. Aku tahu betul dengan hal itu... Karena aku juga merupakan bagian dari mereka."
"..."
"Ceritaku tidak begitu menarik. Aku hanya akan menjelaskan tujuan dan untuk apa aku bertarung."
Shiro menatap gadis kecil di depannya tepat di matanya dengan pandangan serius.
"Kau bilang kau bingung dengan alasanku menyelamatkanmu. Apa itu demi uang atau karena rasa peduli. Selama menjadi mercenary, aku hanya menerima misi yang berhubungan dengan monster. Sebisa mungkin aku tidak ingin membunuh atau membahayakan nyawa manusia meskipun nyawaku terancam sekalipun, karena aku tahu siapa musuhku yang sebenarnya."
"..."
"Kau pernah mempertanyakan apakah aku sama sepertimu atau tidak. Jika dalam konteks asal usul maka jawabannya benar. Kita adalah senjata yang diciptakan untuk melindungi umat manusia... Bukan, lebih tepatnya kita adalah... Monster. Aku diciptakan untuk membunuh monster maka dari itu tugasku hanya membunuh monster. Memang dalam diri sebagian manusia mereka merupakan monster yang lebih kejam tapi tak semua manusia itu jahat. Maka dari itu, aku tak ingin menyerah pada manusia."
"Kalau begitu mengapa kau memilih menerima komisi dari paman? Apakah kau tidak menganggapku sebagai manusia?"
"...Ada beberapa komisi yang tidak bisa kutolak. Bukan karena aku mau tapi karena keadaan yang memaksa. Aku akan bicara jujur. Sebenarnya sebentar lagi akan terjadi outbreak di suatu tempat. Banyak orang tak bersalah akan kehilangan nyawanya, aku tak bisa membiarkan hal ini begitu saja."
"..."
"Aku punya kontrak bisnis dengan bartender dan tugas ini adalah yang terakhir. Aku menerimanya karena bayaran dari misi ini adalah... Suatu barang yang akan sangat membantuku dalam mencegah bencana ini."
"..."
"Heh... Mungkin aku juga telah ditipu olehnya. Aku tidak bisa membatalkan sebuah komisi karena itu sama saja melanggar janji. Tidak kusangka ternyata aku malah membawa seorang anak kecil ke kuburannya. Aku minta maaf..."
Sang gadis kecil terdiam tanpa berkata apa-apa.
"Mungkin... Kau memang hebat seperti yang dikatakan oleh paman. Aku merasa bahwa diriku yang paling sengsara dan merasa dunia tidak adil. Tapi nyatanya aku sama saja seperti orang-orang itu, aku adalah orang egois yang mementingkan diri sendiri."
Ucap Rin dengan perasaan yang tercampur aduk.
"Kau bekerja dibawah S.A.V.I.O.R dan melawan para anomaly begitu lama. Aku yakin kau juga telah melihat dunia dari segala sudut pandang. Paling tidak itu yang pamanku katakan."
"..."
"Tidak apa... Aku paham. Dunia ini tidak sempurna, begitu juga cerita yang ada di dalamnya. Ceritaku mungkin tidak dapat berakhir dengan bahagia. Kalau pengorbananku diperlukan untuk menyelamatkan nyawa banyak orang, aku rela melakukannya."
"Kau ini cepat dewasa ya... Tapi hal seperti itu sebenarnya tidak diperlukan."
"Eh...?"
"Aku mengantarmu ke sana bukan berarti aku akan meninggalkanmu dan membuatmu merasakan semua penderitaan yang pernah kualami. Aku bilang aku tidak bisa melanggar kontrak kerja, tapi setelah aku mengantarmu dan menerima bayarannya bukankah itu artinya kontrak sudah berakhir?"
"..."
"Aku akan menyelamatkanmu secepatnya setelah itu."
"A-apa kau yakin dengan itu?"
"Aku sudah bilang kan? Tugasku adalah untuk melindungi manusia. Jika aku mengabaikanmu itu sama saja dengan menipu diriku sendiri."
"..."
Gadis kecil yang bernama Rin mulai meneteskan air matanya.
"Eh...? K-kenapa aku..."
"..."
Shiro mendekati Rin dan mengusap kepalanya.
"Kau tidak seharusnya mengalami semua ini. Ini bukan beban yang harus kau tanggung."
"Hiks... Hiks..."
Melihat anak kecil itu melepaskan semua tangisannya, Shiro seketika merangkulnya dengan pelan.
Ia tahu apa yang dirasakan anak itu... Tidak, mungkin dia tidak tahu. Ia selalu menjadi yang terkuat di antara yang lain, maka dari itu ia yang selalu menanggung beban dan kesedihan mereka. Ia tak pernah memikirkan perasaannya sendiri sedikitpun sampai saat ia sadar ia sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
.
.
.
.
Waktu telah terlewati sekian lama.
Rin sudah kembali tenang. Ia mengusap air matanya dan menatap ke arah Shiro.
"Terimakasih..."
Ucapnya dengan pelan. Seakan-akan tubuhnya telah kehabisan tenaga dan lega karena telah kehilangan bebannya.
Shiro hanya membalas dengan senyum tipis.
"Ayo pergi."
Ucap Shiro dengan lembut.
"Mmm...."
Rin menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Ngomong-ngomong aku masih penasaran dengan apa yang terjadi pada para penculik itu. Apa nama mereka tadi ya?"
"Lab 48."
Jawab Shiro.
"Ah... Ya itu."
"Mereka semua mati dalam pertempuran. Kita berhasil melarikan diri sebelum pasukan bantuan mereka datang. Perjalanan kita masih sangat panjang, mengenal sifat mereka aku yakin kita akan sering bertemu dengan mereka di sepanjang perjalanan."
"..."
Rin tampak khawatir mendengarnya.
"...Aku akan mengajarimu."
"...?"
"Cara untuk bertahan hidup di dunia yang sekarat ini."
Dan dengan begitu dimulailah perjalanan panjang mereka menembus padang pasir menuju wilayah antah-berantah.
Hari demi hari dilewati. Shiro mengajarkan semua yang ia ketahui kepada Rin. Mulai dari hal dasar seperti membuat api, mencari arah, mencari makanan dan lain-lain.
Ia bahkan mengajarinya cara untuk mengendalikan dan menguasai kekuatannya tapi hal ini tidak berjalan begitu mulus.
*Duuaaarrrrr*
Sebuah ledakan energi yang sangat besar muncul di tengah padang pasir.
"Kau kehilangan dirimu lagi, ada apa?"
"..."
Gadis kecil itu tidak menjawab. Ini sudah yang ke 59 kalinya ia gagal di hari itu.
"Aku..."
"Tidak apa kalau kau tidak mau bilang, kita akan lanjutkan lain hari."
"..."
Kota demi kota mereka lewati. Shiro juga mengajarkan Rin cara untuk menjadi seorang mercenary dan mengajarkannya cara mengalahkan monster.
"Hyyyaaaa....."
*Ting*
Sebuah pisau ditahan oleh ekor tajam dari seekor kalajengking yang berukuran sebesar beruang.
*Bumm*
Gadis kecil yang melawan monster itu terlempar ke tumpukan gunung pasir.
"Kalau kau tidak ingin menggunakan kekuatanmu maka gunakan otakmu. Berpikir cepat, bertindak cepat."
*Uhukk* *Uhukk*
"Dia datang berhati-hatilah."
"...!"
*Sringgg*
Pisau belati yang dipegang sang gadis kecil memotong ekor beracun dari kalajengking itu. Gadis itu melompat ke atas makhluk itu dan menusuk kepalanya hingga mati.
"Kau belajar dengan cepat."
"Tidak kusangka ternyata pisau tua ini benar-benar dapat memotong kulit keras makhluk itu."
"Yang terpenting bukanlah alatnya melainkan penggunanya. Aku pernah melihat seseorang yang dapat mengalahkan mecha raksasa menggunakan krayon warna."
"Kau pasti bercanda."
.
.
.
.
Malam harinya
"Konsentrasi..."
*Huff*
Energi misterius yang berada di dalam tubuh gadis itu mulai mengalir menuju ujung jarinya. Ia dapat merasakan setiap energi yang mengalir itu.
"..."
Seketika aliran di tubuhnya menjadi kacau dan mulai bereaksi satu sama lain. Rin dengan segera meninggalkan meditasinya.
"Percuma."
Gadis itu pergi meninggalkan tempat meditasinya dan kembali menuju kemahnya.
Seorang gadis berambut putih duduk terdiam menatap langit malam di kejauhan.
"Ada apa Kak Shiro?"
"...?"
Gadis berambut putih yang menyadari kedatangan Rin langsung menoleh ke arahnya.
"Persiapkan senjatamu. Mereka datang."
"M-mereka? S-siapa?"
"Lab 48."
Seketika bunyi mendengung datang dari kejauhan. Bunyi itu semakin lama semakin mendekat dan memunculkan wujud pesawat raksasa yang mendarat tepat di hadapan mereka.
"I-inikah bala bantuan yang mereka maksud?"
Tanya Rin dengan gemetar.
"Jangan panik, lakukan semua yang sudah kuajarkan padamu. Kalau keadaan menjadi di luar kendali... Aku akan menggunakan senjataku."
Topeng hitam muncul di wajah gadis itu dan menutupi seluruh wajahnya.
Pintu pesawat terbuka dan mengeluarkan prajurit yang tak terhitung jumlahnya. Dengan segera mereka mengepung kedua gadis itu.
Di antara mereka terlihat 1 prajurit yang memiliki wujud berbeda dari yang lainnya. Tampaknya ia adalah kapten mereka.
"Diluar dugaan."
Ucap Shiro secara tiba-tiba.
"Kupikir yang akan datang adalah pemimpin kalian yang selalu bersembunyi di belakang seperti tikus."
"Hmph... Reputasimu memang cukup berbahaya C-001... Tapi percaya diri yang terlalu berlebihan itu tidak baik. Professor Peitrum sedang sibuk dengan urusan yang lebih penting, aku harap kau bisa puas hanya dengan melawanku."
Tak seperti prajurit-prajurit yang sebelumnya telah berhadapan dengan Shiro dan Rin, prajurit yang tampaknya adalah kapten pasukan ini dapat berbicara dan berkata-kata.
"Aku akan berikan kau dua pilihan. Serahkan anak itu dan kita akan melupakan segala masalah lama atau... Kami akan mengambilnya dengan paksa.
"Majulah...!"
Ucap Shiro tanpa ragu.
"Heh... Kuberi kau peringatan sekali lagi C-001. Kau mungkin bisa bertahan tapi bagaimana dengan anak itu?"
Prajurit itu menoleh ke arah Rin.
"..."
Shiro juga menoleh ke arah Rin, ia merasa ragu untuk sejenak.
"Aku tidak takut. Berikan semua yang kau punya!"
Jawab Rin dengan lantang.
"Hehe... Gadis yang pemberani, atau mungkin... Bodoh? Semua unit... Serang!"
Ratusan bahkan mungkin ribuan prajurit menyerbu ke arah kedua gadis itu.
*Duarrr*
Petir ungu menyambar ke arah Shiro dan menghempaskan pasukan di sekitarnya.
Shiro menebas musuh-musuhnya yang datang tiada henti menggunakan pedang hitamnya yang dialiri listrik.
*Ting*
Kapten pasukan mengayunkan pedangnya ke arah Shiro. Gadis itu menahan serangannya dengan pedangnya, membuat hempasan energi di sekitar mereka.
"Kau kuat... Tapi bisakah kau menahan ini?"
Robot berzirah hitam itu menyemprotkan asap merah ke wajah Shiro.
*Uhuk* *Uhuk*
"A...apa?"
Shiro jatuh berlutut dan memegang dadanya yang terasa sangat sakit. Indra perasanya dapat kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa setelah menghirup asap merah itu.
"Sekarang..."
Kapten pasukan menoleh ke arah Rin.
Rin mengangkat pisaunya dan mengarahkannya ke musuhnya. Bersiap untuk serangan yang akan datang. Tubuhnya tampak sangat gemetar.
"Ja-jangan berani-berani menyentuhnya."
Ucap Shiro dengan bersusah payah.
Shiro menggunakan seluruh tenaganya yang tersisa untuk bergerak. Ia berlari ke arah sang kapten, berusaha untuk menusuknya dari belakang.
Tapi serangannya digagalkan oleh pasukan lainnya yang langsung menyerangnya. Mereka menahan tubuhnya dan memukulinya tanpa ampun.
"H-hentikan!"
Teriak Rin.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Ucap sang kapten dengan nada mengejek.
Dengan satu langkah ia mengayunkan pedangnya ke arah belati yang dipegang oleh Rin, membuat belati itu terlempar dari tangannya.
Rin yang terkejut tidak bisa berbuat apa-apa dan seketika sang kapten mencekik tubuh kecil anak itu dan mengangkatnya dari tanah.
"Ugghhh..."
Rin yang mulai kehilangan kesadarannya melihat ke arah Shiro yang tak berdaya.
Ia memejamkan matanya, memfokuskan energi yang berada di dalam tubuhnya.
"..."
Tangan gadis kecil itu menjadi bercahaya akibat teraliri oleh energi yang luar biasa.
Ia mencengkram tangan besi yang mencekiknya dan membuatnya hancur lebur seketika.
"A-apa...!!!"
Rin yang sudah terbebas mengayunkan tinjunya ke arah perut makhluk besi itu dan membuatnya terpental jauh ke belakang.
Pasukan lainnya dengan segera menyerbu gadis itu dengan seluruh kekuatan mereka.
Dengan kekuatannya Rin membantai mereka semua yang datang ke arahnya.
"..."
Dalam pikirannya Rin mendapatkan pengelihatan masa lalunya. Hal yang tidak pernah ingin ia ingat atau lihat kembali.
Seketika perasaan bersalah membanjiri dirinya, mengacaukan pikiran dan konsetrasinya sehingga membuatnya kehilangan kendali atas kekuatannya.
"Aaaaaarrrrrgggghhhhh........."
Gadis kecil itu menjerit kesakitan. Energi yang begitu kuat meledak dari dalam. Seluruh pasukan robot dan pesawat raksasa yang membawa mereka hancur seketika menjadi abu, hanya menyisakan sang gadis kecil dan gadis berambut putih. Ledakan raksasa itu jauh lebih besar dari yang sebelumnya pernah terjadi hingga menyebabkan sebuah badai energi.
"Rin...!!!"
Shiro berusaha berlari sekuat tenaga mendekati Rin. Ia memeluk gadis kecil yang berteriak kesakitan itu.
Energi yang terus-menerus keluar dari tubuh gadis kecil itu seketika berhenti dan badai yang mengelilingi mereka juga menghilang.
*Hiks* *Hiks*
Gadis kecil itu mulai menangis ketakutan.
"Jangan khawatir... Semua sudah berakhir."
Ucap Shiro menenangkan.
.
.
.
.
"..."
"..."
Mereka berdua duduk mengelilingi api unggun di tengah malam yang sunyi.
"Aku..."
Rin membuka pembicaraan.
"..."
"Aku takut menggunakan kekuatan ini."
"..."
"Dulu sewaktu aku masih di dalam fasilitas yang lama. Mereka memaksaku membunuh banyak orang dengan kekuatanku. Aku tidak bisa menolak mereka, mereka mengancam teman-temanku."
"..."
"Maafkan aku."
"Untuk apa?"
"Maafkan aku, aku tidak banyak berguna di pertempuran."
"...Kau yang mengalahkan mereka semua di pertempuran. Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa membantu."
"Tetap saja itu tidak mengubah fakta bahwa aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku."
"..."
Mereka berdua kembali terdiam.
"Aku tidak tahu harus bilang apa. Kita membuat kesalahan, dan terkadang kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaikinya. Aku bisa mengajarimu cara mengendalikan atau menahan kekuatanmu tapi pada akhirnya semua tergantung dirimu. Apakah kau bisa melawan masa lalumu?"
"..."
"Beristirahatlah, ini adalah hari yang melelahkan. Besok kita akan melanjutkan perjalanan kita.
.
.
.
.
"Kita sampai."
"..."
"Perbatasan Death Valley."
Di hadapan mereka terdapat hamparan pasir yang sama. Tidak ada perbedaan yang terlalu jauh dengan gurun yang telah mereka lewati, hanya saja tempat ini terasa sangat sepi. Bahkan angin tidak berhembus. Di kejauhan terlihat badai pasir besar yang sedang mengamuk.
"Sudah waktunya."
Ucap Rin dengan ekspresi serius.