New Sky

New Sky
Chapter 1



*Niiitttt niiitttt niiitttt


Alarm jam digital berbunyi.


*Ceklek


Alarm dimatikan


"Hhhooooaaammmmm..... Ngantuk sekali."


Pukul 05.00


"Aku harus segera bersiap..."


.


.


.


.


Suara dari siaran televisi.


"Kericuhan terjadi di kota El-Gheriya, penggunaan sistem kasta yang diterapkan oleh kota ini menjadi pemicu aksi terrorisme dari kasta rendah. Dikabarkan mereka mencoba menerobos paksa tembok raksasa yang melindungi kota El-Gheriya. Aksi mereka digagalkan setelah pemerintah setempat mengeluarkan perintah untuk menyerang warga yang memberontak."


"Huh... Makin hari makin kacau saja. Norma dan etika sudah tidak ada. Apa bedanya kita dengan monster yang berkeliaran itu."


Awalnya dunia ini adalah tempat yang normal, aku bisa hidup bahagia tanpa beban sedikitpun. Tapi sekitar 8 tahun yang lalu semua berubah.


Mereka datang entah dari mana. Awalnya para ahli astronomi mendeteksi pergerakan benda asing yang memasuki tata surya dalam jumlah banyak.


Tak disangka benda itu mendarat di bumi. Orang-orang sudah diperingatkan untuk menghadapi hujan meteor yang tak terhitung jumlahnya tapi lagi-lagi kami dikejutkan dengan benda asing itu yang berhenti jatuh setelah memasuki atmosfer bumi.


Benda itu berbentuk seperti prisma berwarna hitam. Mereka memiliki ukuran yang sangat besar, mungkin bisa dibandingkan dengan gunung kecil. Kami menyebut benda itu sebagai Anomaly.


Kepanikan melanda masyarakat, orang-orang juga mulai berspekulasi dan berkonspirasi. Alien, senjata rahasia negara besar, hukuman Tuhan, kiamat ,dan masih banyak lagi.


Para ilmuan meneliti benda asing itu lebih dalam lagi dan tidak mendapatkan hasil apapun sampai suatu hari... Sebuah gelombang radiasi terpancar dari seluruh benda asing itu, dan sejak itu semuanya berubah.


Kota hilang dalam semalam, bencana alam terjadi dimana-mana, wabah penyakit yang tidak pernah diketahui melanda, dan yang lebih parah lagi manusia, hewan dan tumbuhan mulai bermutasi menjadi makhluk-makhluk mengerikan.


Hal yang lebih buruk lagi adalah benda-benda raksasa ini dapat berpindah tempat dengan pola yang tidak dapat diprediksi. Mereka dapat bergerak melayang menuju tempat lain atau terkadang mereka dapat berteleportasi dari satu tempat ke tempat lainnya.


Aku ingat saat hari itu pertama kali terjadi semua benar-benar kacau. Populasi makhluk hidup menurun drastis. Kami pikir ini adalah kiamat tapi bagi beberapa orang semua belum berakhir. Manusia melawan balik dengan menciptakan tempat berlindung baru.


Para ilmuan menyadari bahwa radiasi yang dipancarkan oleh para Anomaly berupa gelombang elektromagnetik. Dengan menggunakan frekuensi tertentu, para ilmuan dapat menahan efek dari radiasi.


Manusia menciptakan pelindung menggunakan gelombang frekuensi ini dan menciptakan sebuah kota baru di dalamnya. Kami menyebut tempat yang terlindungi ini sebagai zona aman, sedangkan tempat yang sudah dihancurkan oleh radiasi disebut sebagai zona terlarang.


Kami pikir pelindung ini dapat melindungi manusia paling tidak untuk sementara waktu, tapi lagi-lagi kami salah. Setiap prisma hitam memiliki frekuensi yang berbeda dan mereka harus dilawan dengan frekuensi yang berbeda juga.


Itulah sebabnya meski beberapa kota sudah menggunakan pelindung, mereka tetap akan hancur apabila ada prisma baru yang kebetulan mendarat di tempat mereka.


Aku mulai tertarik dengan benda-benda asing ini sejak aku terjangkit wabah yang di sebabkan oleh radiasi Anomaly. Beruntungnya aku termasuk dari sedikit orang yang dapat sembuh dari penyakit itu.


Sampai saat ini para peneliti masih belum menemukan vaksin untuk penyakit ini. Manusia hanya dapat mengandalkan sistem imun tubuhnya. Dan entah beruntung atau tidak, tepat setelah aku sembuh dari penyakit itu beberapa minggu kemudian aku kembali terjangkit oleh penyakit tersebut. Dan itu terus terjadi sampai aku lupa sudah berapa kali diriku terinfeksi. Aku menghabiskan hampir seluruh hidupku di karantina.


Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa aku semakin cepat sembuh setiap kali terinfeksi penyakit. Kurasa tubuhku sudah membangun imunnya sendiri.


"Berita lainnya datang dari kota Kota Exitium. Peningkatan energi anomaly telah terjadi di area sekitaran kota dalam kurun waktu beberapa dekade dan terus meningkat hingga saat ini. Para warga disarankan untuk berhati-hati dalam beraktivitas."


"Hmm..."


Aku memperhatikan grafik data energi yang ditampilkan di layar televisi.


Akumulasi energi setinggi ini harusnya sudah cukup untuk menciptakan salah satu bencana dari yang aku sebutkan sebelumnya. Semoga pelindung kota ini masih kuat untuk menahannya.


"Sudah 3 tahun semenjak outbreak terakhir terjadi, semoga hal ini bukan pertanda buruk."


Outbreak adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan situasi dimana prisma hitam raksasa itu melepaskan gelombang radiasi yang sangat kuat dan menghancurkan hukum fisik di area sekitarnya dalam jangkauan yang sangat luas.


Masih banyak misteri yang tersimpan dari benda-benda asing itu tapi sekarang yang terpenting adalah... Aku harus berangkat sekolah.


*Niit* *Niit* (dering telpon)


"Hmm? Ibu..."


Aku mengangkat panggilan telponku.


"H-halo?


"Edward... Apa kau sudah mau berangkat sekolah?"


Suara seorang wanita paruh baya terdengar dari balik ponsel.


"Ya... Kenapa ibu menelpon pagi-pagi begini?"


"Hanya ingin menanyakan keadaanmu saja..."


"Huh... Aneh-aneh saja. Aku baik-baik saja, bagaimana dengan ibu?"


"Sebenarnya aku merasa kurang enak badan hari ini. Entah kenapa aku memiliki firasat buruk."


"Hmm... Mungkin karena odolku habis tadi pagi atau karena keran airku tidak menyala akibat telat membayar iuran? Kau hanya terlalu lelah bekerja. Berhentilah berpikiran yang aneh-aneh dan beristirahatlah untuk hari ini."


"Ya... Kau juga."


Panggilan dimatikan.


"Huh... Ada-ada saja.


Aku membuka pintu apartemenku dan menguncinya dari luar. Aku tinggal di sebuah apartemen tua yang bisa dibilang sudah bobrok. Satu-satunya alasanku tinggal di sini adalah karena harganya yang sangat murah.


Benar... Aku tinggal sendirian, jauh dari orang tua. Walaupun aku bilang begitu tapi sebenarnya orang tuaku tidak tinggal begitu jauh. Kami masih berada di kota yang sama. Exitium, salah satu kota metropolitan terbesar di dunia. Hanya saja aku dengan orang tuaku tinggal di distrik yang berbeda. Aku dengan urusan sekolahku dan mereka dengan pekerjaannya. Huff... Keluarga yang sibuk.


Namaku Edward Ryker, umurku 17 tahun. Seorang siswa SMA biasa di sekolah yang bahkan aku tidak ingat namanya.


Ini adalah ceritaku... Cerita tentang kami. Orang-orang yang berjuang bertahan hidup di dunia yang baru, di bawah langit yang baru, dunia yang tidak mengenal ampun dan langit yang tidak mengenal belas kasih.


.


.


.


.


"Sialan!"


Umpatku dengan sendirinya.


Aku lupa mengisi saldo kartu keanggotaan angkutan umumku sehingga aku tidak dapat pergi menggunakan kereta seperti biasa.


Dengan terpaksa aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Mungkin firasat ibuku memang benar, ini adalah hari yang sial.


.


.


.


.


"Maaf Edward... Kurasa kita harus mengakhiri hubungan ini."


"Eh...?"


Seakan-akan kesialanku belum berakhir. Pacarku memutuskan hubungan kami tepat sepulang sekolah.


"T-tapi... K-kenapa?"


"Aku rasa kita memang tidak cocok... Maafkan aku."


"T-tunggu... Grace!"


Ia sudah pergi. Semua sudah berakhir.


.


.


.


.


Aku merebahkan diriku di atas kasurku.


"Kuharap ini hanya mimpi buruk."


Aku menutup kepalaku dengan bantal. Aku masih memproses semua hal yang baru saja terjadi hari ini.


"Aku penasaran apakah keadaan bisa jadi lebih buruk?"


*Dummm*


"Aku dengan mulut sialku."


Aku merasakan guncangan tanah yang sangat hebat. Seketika aku langsung berlari keluar dari apartemenku agar tidak terjebak apabila bangunan runtuh sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"...!"


Benar-benar tidak dapat dipercaya. Hal yang kulihat adalah... Kehancuran.


Mimpi buruk menjadi kenyataan. Tanah dan bangunan terangkat ke atas. Retakan raksasa muncul di tanah bersamaan dengan guncangan dari gempa dan menelan gedung-gedung tinggi di sekitarnya.


Seakan-akan masih belum cukup, langit mulai terdistorsi dan beberapa detik kemudian muncullah sebuah prisma hitam raksasa dari balik celah yang tercipta di atas langit.


Aku melihat cahaya yang sangat terang muncul dari benda hitam itu dan tepat setelahnya sebuah gelombang yang tak kasat mata menghempaskan seluruh area di sekitar benda itu. Untungnya lokasiku dengan prisma hitam itu cukup jauh tapi meski begitu hempasan tersebut mampu melemparku jatuh ke belakang.


*Rrroooaaarrrrr*


Raungan keras yang memekakan telinga terdengar dimana-mana. Teriakan dan jeritan orang-orang juga memenuhi seluruh tempat.


Sudah berakhir.


ini adalah... Outbreak.