New Sky

New Sky
Chapter 14



Di sebuah puncak menara yang tinggi, dengan hujan deras yang terus-menerus turun tanpa henti. Kedua kilat biru dan ungu akan bekerja sama untuk mengalahkan musuh terakhir mereka.


"Kuhahahahha... Rasakanlah... Kekuatanku...!!!"


Sebuah VTOL raksasa bersenjatakan lengkap menyoroti sang gadis berambut putih dan monster kerdil yang berdiri berdampingan.


Mesin raksasa itu mengeluarkan suara mendengung yang tercampur dengan suara hujan deras.


Benda itu mendekati sang pria gila dan membuka pintu kokpitnya yang ternyata kosong dan menarik sang pria ke dalam dengan lilitan kabel yang menancap dan menusuki tubuhnya. Setelahnya kokpit tersebut tertutup kembali menelan sang pria gila ke dalam tubuh mesinnya.


"Aku akan membunuh kalian."


Mesin itu kembali mendengung dan kemudian terbukalah puluhan katup kecil di seluruh tubuhnya, mengeluarkan misil-misil yang tak terhitung jumlahnya ditembakkan ke arah kedua musuhnya secara membabi-buta.


Shiro dan Tuan Frederick menghindari tembakkan misil itu dengan lincah. Tuan Frederick melompati misil itu satu demi satu dan semakin lama mendekat ke arah mesin yang menembakinya.


Tepat saat ia akan melancarkan serangan dengan cakar besarnya, sebuah tembakan diluncurkan tepat mengenai monster kerdil itu. Tubuh mungilnya terlempar jauh, terdorong oleh peluru besar yang mengenainya.


Shiro mengambil satu langkah dan dengan kecepatan kilat ia sudah berada di depan mesin terbang itu. Ia mengayunkan pedangnya yang sudah dipenuhi dengan aura petir ke arah mesin tersebut.


*Duarrr


Sebuah ledakan terjadi bersamaan dengan suara petir yang menggelegar, namun kerusakan yang diharapkan tidak pernah terjadi. Lapisan perisai transparan menyerap ledakan yang dihasilkan oleh Shiro.


Peluru lainnya ditembakkan tepat mengenai perutnya dan membuatnya terdorong jauh kebelakang. Ia berhasil menahan dorongan lebih lanjut dengan menahan tubuhnya menggunakan kakinya, meninggalkan dua jejak terseret di tanah. Peluru ini sangat mirip dengan benda yang pernah melukainya di masa lalu.


"Tch"


Dengan jarak yang cukup jauh, mesin itu menembakkan misilnya kembali tak henti-henti.


Sang gadis berambut putih dan monster kerdil hanya bisa terus menghindar tanpa bisa melakukan serangan balasan.


Sangat sulit untuk memotong jarak mereka dan semua juga akan percuma apabila benda tersebut tak bisa di serang.


"Kita tidak akan bisa menang kalau tidak bekerja sama."


Ucap sang gadis kepada sang monster.


Monster itu hanya membalasnya dengan geraman dan suara aneh serta melakukan gerakan tangan untuk mengisyaratkan sesuatu.


"Aku tidak mengerti maksudmu tapi baiklah."


Gadis itu benar-benar tidak mengerti tapi ia sudah menyiapkan pedangnya, bersiap untuk melakukan gerakannya. Ia sama sekali tidak tahu apakah monster itu tahu apa yang akan ia lakukan dan apa yang selanjutnya harus ia lakukan, meski begitu ia tetap melanjutkannya.


Ronde berikutnya dari serangan misil diluncurkan dan dengan satu tebasan kilat, gadis itu menghancurkan seluruh misil yang berhamburan di udara.


Melihat jalan yang sudah dibukakan, sang monster berlari dengan cakar dan kakinya menuju ke mesin terbang itu, ia melompat dengan cakarnya yang dipenuhi dengan cahaya kebiruan serta percikan listrik terbentang ke samping.


*Dummm


Sebuah ledakan lainnya terjadi dan kali ini serangan yang dilancarkan berhasil mematikan perisai transparan milik mesin raksasa.


"Begitu rupanya."


Makhluk itu menggunakan radiasi ledakan elektromagnetik (EMP) untuk mematikan perisai tersebut. Dan dari ide itu sang gadis pun melakukan hal yang sama... Ia kembali menyalurkan energi ke dalam pedangnya dan melancarkan satu tebasan tepat sebelum mesin itu melarikan diri.


Tebasan itu melumpuhkan mesin terbang itu dan membuatnya terjatuh tak berdaya ke bawah.


Sekarang adalah waktunya untuk melepaskan semua yang dimiliki. Shiro dan sang monster kerdil menyerang mesin yang tak berdaya itu bertubi-tubi. Cakar dan pedang terus menerus menggores kulit besi mesin itu namun tak disangka tubuhnya yang begitu keras membuatnya sulit untuk dihancurkan.


Mereka berdua tidak memiliki cukup tenaga untuk melancarkan serangan kuat lainnya akibat terlalu banyak menggunakan kekuatan.


"...!"


*Dummm


Tubuh mesin tersebut bersinar dan sebuah ledakan tercipta dari dalam mesin itu. Membuat Shiro dan sang makhluk kerdil terhempas.


"Apa dia baru saja meledakkan diri?"


Mesin itu memang terlihat meledakan dirinya sendiri namun tampaknya hal itu tidak menimbulkan kerusakan apapun.


Kini mesin itu memodifikasi bentuknya dan berubah menjadi mode tempur yang berbeda dari sebelumnya.


Mesin itu kini memiliki sepasang cakar dan sepasang bilah pedang cahaya yang berada di masing-masing sisinya.


Fase kedua sudah dimulai, ini adalah awal dari pertempuran yang sebenarnya.


Mesin terbang itu menurunkan ketinggiannya menjadi hanya sekitar kurang lebih satu meter dari permukaan tempat berpijak.


Benda itu menyalakan mesin pendorongnya yang membuatnya meluncur dengan kecepatan tinggi. Cakar dan bilah pedangnya merobek pijakan yang ia lewati.


Shiro dan Tuan Frederick yang terkejut hampir tak dapat menghindari serangan yang datang tiba-tiba itu.


Mesin itu memanjangkan kedua bilah pedang cahayanya lalu memutar tubuhnya 360° di satu titik, membuat bilah pedang cahayanya menghancurkan area di sekelilingnya.


Gadis itu melihat ke arah tempat kakinya berpijak sebelumnya, lempeng besi tempat mereka berpijak sudah melebur menjadi cair dengan mudahnya.


"..."


Tanpa memberi istirahat sedikit pun, mesin terbang itu kembali menyalakan pendorongnya dan meluncur ke arah Shiro.


*Tinggg!


Shiro yang masih belum memperbaiki posisi menahan cakar raksasa mesin itu dengan pedangnya. Dengan posisi berlututnya ia terus menurus didorong mundur oleh mesin tersebut ke ujung menara.


"Gghhh..."


Tapi sebelum Shiro terdorong lebih jauh, sang monster kerdil datang dan mencoba menghantam mesin itu dengan cakarnya yang sudah dipenuhi dengan aura petir yang meledak-ledak.


*Dummm


Serangannya berhasil mengenai benda itu, namun seperti sebelumnya serangan itu diserap oleh perisai transparannya dan menyebabkan ledakan yang menghempaskan Shiro dan sang monster kerdil.


Akibat ledakan tersebut mereka terlempar hingga keluar pijakan puncak menara yang berarti mereka sedang terjun bebas menuju tanah.


Sang monster kerdil memegang Shiro dengan cakarnya lalu ia melilitkan ekornya pada tiang-tiang besi menara.


*Grrrrkhh


Monster itu mengeluarkan suara aneh seperti sedang berkomunikasi dengan Shiro. Gadis itu hanya membalasnya dengan anggukan dan seketika monster itu melempar sang gadis hingga menuju kembali ke puncak menara.


Shiro yang masih berada di udara mengeluarkan kekuatan penuh pedangnya dan melancarkan tebasan ke arah mesin terbang tersebut.


Tebasannya hampir membuat tempat mereka berpijak terbelah menjadi dua, sebuah jejak petir memisahkan pijakan tersebut menjadi dua bagian.


Tapi sayangnya mesin itu dapat dengan mudah menghindari serangan kejutan tersebut.


"Tch."


Detik berikutnya sang monster kerdil sudah berhasil mencapai puncak menara dengan memanjat menggunakan cakarnya.


Percuma saja, pertarungan ini tidak membuahkan hasil... Pikir sang gadis. Meski sudah menemukan bagaimana cara melukainya namun benda itu terlalu sulit untuk didekati, juga untuk mengeluarkan serangan EMP membutuhkan tenaga yang besar sehingga hanya bisa dikeluarkan sekali dalam beberapa waktu. Jika menyianyiakan kesempatan maka pertarungan akan semakin sulit.


Belum sempat berpikir lebih jauh, mesin di depan mereka sudah melakukan hal lain lagi.


Mesin itu membuka dua buah katup lebar dan melemparkan dua buah roda gerigi dari dalamnya. Api yang membara menyala dari setiap ujung gigi-giginya.


Benda itu terbang berputar menuju Shiro dan Tuan Frederick. Dengan mudahnya mereka dapat menangkis serangan tersebut tapi mereka terkejut setelahnya ketika jumlah roda gerigi itu bertambah dua kali lipat setelah di tangkis.


Benda itu memantul dan terbang kembali ke arah mereka. Mau tidak mau mereka harus kembali menangkis serangan tersebut tapi kejadian sebelumnya kembali terulang hingga seluruh tempat itu sudah dipenuhi dengan gerigi api yang melayang-layang di udara.


Shiro yang sedang kesulitan menghindari dan menahan serangan benda-benda melayang itu memberi isyarat kepada sang monster kerdil untuk membiarkan dirinya dan pergi untuk menyerang.


Monster kerdil yang mengerti pun bergegas berlari dengan cepat menuju mesin terbang itu berada. Ia menghindari dan mengabaikan semua serangan yang menuju ke arahnya.


Tapi saat monster itu mendekat, semua gerigi yang melayang berkumpul di satu tempat dan menciptakan gerigi api yang lebih besar. Benda itu berputar dengan cepat lalu meluncur ke arah sang monster kerdil.


*Duarrr


Monster kerdil yang sudah menyiapkan cakarnya untuk menyerang terpaksa menggunakannya untuk bertahan dari serangan yang bisa saja membunuhnya.


*Sringgg


Mesin terbang yang berpikir bahwa semua sudah berakhir terkena sebuah tebasan petir ungu yang tiba-tiba muncul dari balik kepulan asap hasil ledakan sebelumnya.


Shiro menggunakan pengorbanan sang monster kerdil sebagai kesempatan untuk mengecoh lawan. Ia berhasil melancarkan serangan dan menonaktifkan kembali perisai mesin itu.


Tidak sampai di situ, sang monster kerdil menarik tulang belakangnya dan mengubahnya menjadi cambuk petir, ia melancarkan serangannya ke musuhnya yang baru saja akan melarikan diri.


*Dummm


Meski tampaknya ayunan cambuk itu lemah, namun dampak yang diberikan masih sama mengerikannya dengan yang Shiro ingat. Ledakan dari serangan cambuk tersebut bahkan menghempaskan Shiro dan monster kerdil itu sendiri.


"K-keterlaluan..."


"...?"


"Suara ini..."


Suara pria gila itu terdengar dari balik kepulan asap.


Cahaya merah menyala muncul dari balik kepulan asap dan akhirnya terungkap bahwa cahaya tersebut berasal dari mesin terbang yang sudah hancur lebur itu.


Ini adalah wujud terakhir dari benda tersebut...


Dapatkah Shiro dan teman-temannya memenangkan pertarungan ini? Dan kemanakah sebenarnya perginya Ray...?