New Sky

New Sky
Chapter 10



"Begini... Begini.... Lalu seperti ini..."


"..."


"Dan begitulah... Caramu membobol sebuah pintu keamanan seperti ini."


"..."


"Ada apa?"


"Entahlah... Aku merasa ini bukan hal yang seharusnya kupelajari."


"Ilmu melarikan diri adalah yang paling utama dan ini termasuk di dalamnya."


"Jadi apa yang akan kita lakukan setelah membuka pintu bank ini?"


"...Tidak ada, aku hanya ingin menunjukanmu saja. Ayo pergi."


"..."


Memang sebelumnya aku meminta tolong gadis itu untuk mengajarkanku ilmu dasar dalam bertahan hidup tapi sebagian besar yang dia ajarkan benar-benar di luar pemahamanku.


"Apa yang kau harapkan? Membuat api dan menyimpul tali? Tunggu... Mungkin menyimpul tali memang akan cukup berguna."


Kami berdua berjalan keluar dari dalam bangunan yang dulunya adalah pusat bank di district itu. Memang sebuah tempat yang cocok untuk berlatih cara membobol sebuah pintu keamanan.


District yang kami lewati ini masih memiliki bentuk bangunan yang bisa dibilang masih utuh.


Tapi entah mengapa suasana tempat ini terasa lebih mengerikan dibanding district lain.


Langit yang ditutupi oleh awan kelabu. Jalanan utama yang sepi dengan berbagai kendaraan yang ditinggalkan begitu saja di tengah jalan. Jendela-jendela bangunan yang bolong menampakan bagian dalam yang gelap seperti sesuatu sedang menatap kami berjalan dari balik bayangan. Dan cat seluruh bangunan yang luntur menampakkan warna asli bangunan dengan tembok yang kusam, membuat suasana menjadi lebih murung. Area ini adalah deskripsi yang cocok untuk sebuah kota hantu.


"Apa kau merasakan sesuatu sedang mengawasi kita?"


Bisik gadis yang berjalan di sampingku.


Biasanya aku tidak akan mempedulikan orang yang mengatakan hal konyol seperti itu, bahkan jika aku yang merasakannya sendiri aku akan tetap mengabaikannya, tapi kali ini berbeda...


Insting gadis berambut putih yang sudah melalui banyak pertempuran ini... Pasti ada sesuatu yang tidak beres.


"Ya... Awalnya kukira hanya perasaanku saja."


Jawabku dengan berbisik juga.


"Apakah sesuatu yang berbahaya?"


"Entahlah... Aku tidak merasakan niatan apapun, tapi perasaan tidak enak ini benar-benar menggangguku. Kau jalan dulu saja, aku akan memastikannya."


"Bagaimana kalau sesuatu terjadi?"


"Seharusnya kau lebih memikirkan dirimu."


Apa yang dia katakan tidak salah, mungkin pertanyaanku memang konyol karena orang yang paling kuat di antara kami adalah dia.


"Aku mengerti... Berhati-hatilah..."


"..."


.


.


.


.


"Kau bisa keluar sekarang...!"


Teriak gadis itu kepada siapapun yang mengawasi mereka.


"...?"


Dari balik salah satu atap rumah muncul sebuah kepala kecil dengan dua mata biru menyala dan kemudian kembali menghilang.


Gadis itu merasakan langkah kaki di atap rumah berlari menjauh. Awalnya ia ragu-ragu untuk mengikutinya, berpikir bahwa ini adalah jebakan. Tapi karena rasa penasarannya ia pun pada akhirnya mengikutinya.


Setelah pengejaran yang cukup melelahkan, gadis itu sampai di hadapan sebuah reruntuhan berbentuk kawah. Satu-satunya tempat di district ini yang terlihat hancur.


"Lagi-lagi pemandangan ini, tempat yang sangat klise..."


Gumam gadis itu kepada dirinya sendiri.


Sebuah bayangan bergerak cepat dari balik bayangan dan mendarat di tengah kawah tersebut.


Makhluk itu memiliki ukuran tubuh yang bisa dibilang kecil jika dibandingkan dengan monster lain kebanyakan.


"Seekor... Anomaly? Tidak bukan... Mech?"


Tubuh makhluk kecil itu ditutupi dengan zirah besi dengan warna silver yang kusam.


Makhluk itu merangkak dengan kaki kecilnya dan tangannya yang memiliki cakar besar. Tulang punggung makhluk itu terlihat menonjol keluar dari bagian belakangnya dan terus menyambung hingga ke ekor. Tampak titik cahaya kebiruan muncul dari sela-sela rongganya.


Sang gadis tidak tahu tempat apa ini dan mengapa ia dibawa ke sana, namun ada satu hal yang ia ketahui.


*Sringgg*


Sang gadis berambut putih mencabut pedangnya dan seketika aliran listrik menyelimuti bilah pedangnya.


"Aku tidak tahu siapa kau... Tapi kalau kau ingin berkelahi, aku akan melayanimu!"


Monster itu sama sekali tidak bersuara sedari tadi, hanya suara geraman yang tampaknya berasal dari gertakan gigi dan sendi-sendi makhluk itu yang terus mengeluarkan suara tidak enak.


Gadis itu merasakan kesedihan dan kesepian dari sang monster yang dapat menggambarkan tempat ini. Tapi ia juga merasakan hal lain... Yaitu murka yang tak tertahankan.


Mengikuti keinginan sang monster, gadis itu pun memilih untuk mengeluarkan senjatanya.


Dan untuk menanggapinya, kedua cakar sang monster itu menjadi bercahaya. Warna kebiruan yang dihasilkan bersamaan dengan percikan listrik yang mengikutinya memancarkan aura berdarah dingin.


Hanya sesaat setelahnya mereka berdua saling menyerang dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata. Jejak petir berwarna ungu dan biru mengikuti dari belakang mereka.


Sang gadis menahan cakar besar sang monster yang hampir mengenainya. Dengan satu cakarnya yang tersisa sang monster menyerang sang gadis yang pertahanannya sudah terfokus ke cakarnya yang lain.


"...?"


Untuk menghindarinya, gadis itu melompat mundur diikuti dengan tebasan menyamping yang meninggalkan bilah petir yang menuju ke arah sang monster.


Monster itu melompat untuk menghindarinya dan kedua cakar besarnya kembali bersinar di atas langit yang kelam. Sambaran petir biru berkumpul menjadi satu dan ia pun berusaha menyerang sang gadis bersamaan dengan pendaratannya ke tanah.


"...!"


Merasakan bahaya yang akan datang, sang gadis berusaha untuk menghindari serangan tersebut namun usahanya sia-sia, sang monster bergerak lebih cepat dan mengenai tanah di dekat gadis itu berada.


Sebuah ledakan luar biasa disertai dengan raungan petir membuat sang gadis terlempar jauh.


"Sepertinya aku terlalu meremehkanmu."


Tanpa berpikir panjang gadis itu melompat masuk ke dalam kepulan asap tempat ledakan sebelumnya berada.


Suara dentingan logam yang saling beradu terus menerus berdentangan. Cahaya biru yang berasal dari mata sang monster bergerak-gerak dari balik asap.


Tidak berhenti sampai disitu, puluhan bilah petir berwarna ungu muncul dari balik kepulan asap.


Sang monster dapat menangkis semua serangan menggunakan cakarnya. Tapi ia telah membuat keputusan yang salah, serangan yang bersentuhan dengannya malah membuatnya menjadi lumpuh.


Waktunya untuk mengakhiri semuanya... Kepulan asap telah menghilang sepenuhnya, menampilkan gadis berambut putih yang telah menyiapkan kuda-kudanya.


Dengan satu tarikan pedangnya dan serangannya yang tak terlihat, ia berdiri di belakang sang monster, memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarungnya tanda pertarungan telah berakhir.


Tidak ada yang bisa melihat bagaimana ia bisa berpindah secepat itu dan kapan serangannya dilancarkan, tapi ternyata semuanya masih belum berakhir.


"...?"


Ia masih belum kalah.


Monster itu mencabut tulang punggungnya yang menonjol hingga ke ekor.


Rongga-rongga tulang itu terpisah dan memunculkan benang energi yang menyambungkan satu sama lain menjadi seperti sebuah cambuk. Percikan listrik muncul dari benang-benang energi berwarna biru.


Satu cambukan yang mengarah ke sang gadis menghempaskan semua puing bangunan tempat mereka berpijak.


Gadis itu sudah mempersiapkan dirinya sehingga ia dapat menahan efek dorongan tersebut, tapi yang jauh lebih penting adalah...


Ia melihat tempat dirinya di serang. Terdapat sebuah luka dengan darah yang mengalir keluar.


Dari semua serangan yang ia terima, hanya satu serangan ini yang membuatnya mengeluarkan darah.


"Benda ini berbahaya"


Pikir gadis itu.


Gadis itu mempersiapkan dirinya tapi serangan yang ia tunggu tak kunjung datang.


Benang yang menyambung cambuk itu kembali merapat, membuatnya menjadi berbentuk seperti pedang.


Aura petir berwarna biru menyelimuti senjata itu. Percikan kilat menyambar tanpa ampun ke seluruh tempat.


Monster itu menusukkan pedangnya ke tanah tempat ia berpijak dan meledakkan seluruh tempat itu tanpa tersisa. Sebuah petir menyambar tempat itu dan menghanguskan semuanya tanpa sisa sedikitpun.


*Uhuk Uhuk


Sang gadis berusaha bangkit berdiri dengan seluruh luka di sekujur tubuhnya.


Area reruntuhan yang awalnya tidak terlalu luas kini semakin melebar.


Gadis itu cukup terkejut. Terlepas dari wujudnya yang kecil, monster itu dapat melepaskan kekuatan yang sangat besar.


Gadis itu tidak yakin bisa mengalahkannya dengan kekuatan senjatanya yang belum pulih sepenuhnya.


"...?"


Sebuah suara yang familier...


Itu adalah suara mesin pesawat milik S.A.V.I.O.R. Kelihatannya mereka tertarik oleh keributan yang diciptakan sang gadis dan monster kerdil.


Pertarungan masih belum usai, tapi mendengar suara itu sang monster kembali ke bentuk semulanya dan dengan segera menghilang ke dalam bayangan.


"...?"


Sang gadis yang kebingungan tidak mengikutinya.


"Aku harus mencari Ray..."


.


.


.


.


Shiro bergegas menemui Ray di tempat persembunyian yang sudah mereka buat di district itu sebelumnya.


"Ray... Kita harus segera pergi!"


"Tungg-"


"Tidak ada waktu lagi!"


Suara pesawat yang sebelumnya sudah sampai di dekat mereka dan lebih tepatnya lagi berhenti di atas mereka.


"Ingat pelajaran pertama...?"


"..."


"Lari!"


*Duarrr


Atap bangunan tempat mereka tinggal seketika runtuh dan memunculkan orang-orang bersenjatakan lengkap yang turun dari pesawat menggunakan semacam tali.


Shiro menghajar orang-orang yang baru saja mendarat itu sementara Ray melompat keluar jendela karena ia hanya akan menjadi beban jika tetap tinggal.


"Gghaarrggg"


Tapi tepat setelah ia keluar, suara erangan muncul dari balik jendela.


Shiro bergegas keluar setelah menghabisi orang-orang yang berada di dalam dan seketika lampu sorot menyinari tempat ia berdiri.


Di sebelahnya tergeletak Ray yang telah dilumpuhkan dengan stun gun.


"Jangan bergerak... Kami akan memeriksa identitas kalian"


Mereka sudah dikepung.


"(Aku harus melakukan sesuatu...)"


Ucap sang gadis dalam dirinya sendiri.


Tapi sebelum ia sempat bertindak seekor monster muncul dari balik bayangan.


Makhluk itu mencakar dan merobek para pasukan beserta dengan Mech yang mengepung mereka dengan cakar birunya.


"...?!"


Melihat kesempatan ini Shiro menarik Ray pergi dari tempat itu.


"..."


Monster kecil yang melihat mereka pergi melanjutkan penyerangannya dengan membabi buta, ia bahkan berhasil melompat ke atas pesawat dan menghancurkan mesin penerbangannya.


*Dummm


Dari balik kobaran api, sang monster dengan mata birunya yang bercahaya kembali masuk ke dalam bayangan.


Hari telah berakhir tapi ia masih belum puas.