New Sky

New Sky
Chapter 13



*Dummm


Kami sampai di bagian luar bangunan dan langsung disambut oleh ledakan besar di depan mata kami.


"Kau bisa jelaskan apa yang terjadi sekarang?"


Tanyaku melihat keadaan yang semakin kacau.


"Seperti yang kau lihat..."


*Dummm


Ledakan lainnya terjadi dan aku bisa melihat bayang-bayang mata biru milik sesosok makhluk kecil yang sedang menggila di medan tempur.


"Kau membawanya kemari?!"


"Begitulah... Aku menemukannya sedang menghancurkan pos-pos yang lain satu-persatu, tidak ada salahnya menunjukkan jalan menuju tempat selanjutnya bukan?"


"..."


"Baik, cukup basa-basinya."


Gadis itu menarik tanganku dan membawaku berlari menuju pintu keluar.


"Pergi begitu cepat?"


Suara seorang pria yang terdengar familier terdengar di belakang kami. Kami berdua berhenti dan melihat ke arah suara itu datang. Ia adalah Kapten Primoz, orang yang kutemui di ruang interogasi sebelumnya.


"Tunggu dulu... Kurasa aku pernah melihatmu di suatu tempat.


Oh sial... Sepertinya sudah ketahuan.


"..."


"Hmm... Sekarang semuanya masuk akal."


Ucapnya sembari mengeluarkan senjata yang ia ambil dariku.


"Hehe... Sebuah kesempatan dapat bertemu denganmu di sini... C-001."


Ucap pria itu dengan senyum sinisnya seperti pemangsa yang telah menemukan mangsanya.


"Ray..."


"...?"


"Siapa dia?"


"..."


Aku dan Shiro saling bertatap-tatapan selama beberapa waktu. Aku melirik wajah sang kapten hanya untuk melihat wajahnya yang tampak kecewa.


"Aku tahu pangkatku memang tidak terlalu tinggi... Tapi untuk seekor tikus percobaan, kau ini sangat sombong ya..."


*Bbbzzzzztttt....


(Suara alat komunikasi)


"Kapten di mana lokasimu? Kami membutuhkanmu! Kapten... Kau baik-baik saja?"


Suara orang memanggil terdengar dari balik alat komunikasi yang ia bawa namun ia tidak tidak mengacuhkannya dan langsung mematikan alat komunikasi tersebut.


"Kau tahu...? Aku sudah lama sekali ingin mencoba hal ini."


Pria itu membuang senapan miliknya dan mulai mengepalkan tinjunya. Memberi isyarat untuk melakukan duel tangan kosong.


"Kau yakin ingin melakukannya? Kau hanya seorang manusia biasa."


Ucap Shiro dengan nada datarnya yang biasa. Tapi meski ia tidak menyadarinya, nadanya yang datar justru membuatnya terlihat merendahkan lawannya.


"Heh... Sudah kubilang, jangan sombong dulu dasar tikus percobaan!"


"Baiklah kalau begitu... Kebetulan aku sedang ingin memukul sesuatu."


"Majulah... C-001!"


*Dummm


Tepat sebelum mereka mulai mendekati satu sama lain, sebuah ledakan muncul di antara mereka dan sesosok bayangan kecil muncul.


Makhluk yang baru saja muncul itu menghadang sang kapten. Tanpa peringatan sedikitpun, dengan cakarnya yang tajam ia menyerang pria itu tanpa ampun.


"Kurasa kita tidak perlu repot-repot."


Ucap sang gadis berambut putih.


"Kau tidak ingin mengambil kembali senjatamu?"


"Tidak perlu, lagi pula aku memang ingin mengembalikannya nanti."


"Aku jadi merasa sedikit bersalah."


Kami melanjutkan pelarian kami menuju pagar besi yang sebelumnya pernah melumpuhkanku. Shiro dengan segera mendekatinya untuk memegang pagar itu.


"T-tunggu Shiro!"


Namun tidak terjadi apa-apa saat ia memegangnya.


"Apa yang kau tunggu?"


Tanyanya dengan tatapan bingung ke arahku.


"Eh?"


"Sebelumnya aku sudah mematikan aliran listriknya, sekarang sudah aman."


"B-baiklah."


Meski begitu aku sempat ragu-ragu sebelum menyentuhnya, mengingat kejadian sebelumnya membuatku trauma.


Kami memanjat pagar besi itu dan berhasil sampai di bagian luar. Aku tidak tahu kenapa aku baru menyadarinya saat kami melewati pagar, sejak kapan ada tembok besar yang menghalangi jalan kami?


Di kejauhan terdapat tembok besar yang sangat mirip dengan tembok pengaman yang berada di dekat distrik tempatku tinggal, sepertinya sistem keamanan di sini juga aktif saat outbreak terjadi.


Itu berarti kami harus melewati satu halangan lagi...


"Bagaimana kita melewati yang ini?"


Tanyaku kepada Shiro yang juga sedang menatap ke arah tembok yang menjulang tinggi itu.


"Aku sudah memeriksa gerbangnya sebelum menyelamatkanmu, pintunya sudah terkunci total. Mungkin masih bisa dibuka dengan meretas sistem keamananmya tapi aku tidak berbakat dalam hal semacam itu jadi... Aku sudah menyiapkan rencana cadangan. Kita akan memanjat menara di sana."


Ucapnya sembari menoleh ke arah menara besar yang berada di dekat dinding raksasa itu.


Tinggi menara itu jauh melebihi tinggi dinding raksasa yang menghalangi jalan kami, aku penasaran apa gunanya menara raksasa semacam itu dan perusahaan macam apa yang mengelolanya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sesampainya di sana? Melompat ke atas dinding?"


Tanyaku lagi kepadanya.


Gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku sudah meletakkan peledak yang kucuri dari pos penyimpanan di bawah menara itu, sejujurnya jika ada peralatan yang lebih memadai kita dapat menggunakan cara yang lebih aman."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku kita akan meledakkan menara itu saat berada di puncak lalu melompat turun ke sisi lain saat menara itu sudah dekat dengan tanah."


"Aku ingin mempertanyakan kemana perginya logikamu... Dan bukankah kau baru saja mencuri di pos penyimpanan? Bagaimana mereka tidak memiliki sesuatu seperti... Kau tahu... Glider? Zip line atau semacamnya?"


"Aku sudah memeriksanya tapi yang mereka miliki hanyalah amunisi senjata dan sejenisnya, bagaimanapun juga mereka termasuk bagian garis terdepan outbreak. Kebanyakan alat mereka hanya digunakan untuk menahan para anomaly."


"..."


"Tenang saja, aku sudah pernah melakukan cara ini sebelumnya, kau pasti bisa."


Aku hanya bisa menghela nafas dan berharap ini bukan hari terakhirku.


.


.


.


.


Kami berjalan menuju puncak menara menggunakan anak tangga yang tersusun hingga ke atas. Sejujurnya bentuk menara ini sangat mirup dengan menara sinyal, hanya terdiri dari sambungan-sambungan batangan besi.


Aku tidak memikirkan ini sebelumnya, tapi berlari menaiki anak tangga benar-benar hal yang sangat melelahkan terutama karena menara ini sangat tinggi. Rasanya kami sudah berlari sangat lama, namun puncak menara masih tak kunjung terlihat.


"...?"


Sebuah rentetan peluru menghujani kami entah dari mana, beruntungnya siapapun yang menembaki kami memiliki akurasi yang sangat payah. Kami berhasil mencari perlindungan di balik sela-sela bangunan.


Sesaat kemudian barulah terdengar suara dengungan dari baling-baling sebuah helikopter.


"Mereka tidak tahu kapan harus menyerah ya."


Ucap sang gadis dari balik tempat perlindungannya.


"Menyerahlah... tidak ada jalan keluar bagi kalian, serahkan diri kalian atau kami terpaksa menggunakan kekerasan!"


Suara seseorang mengancam kami dari balik pengeras suara helikopter tersebut. Aku bisa melihat sosok Kapten Primoz yang sudah berantakan berdiri di pinggir heli tersebut.


"...?"


Struktur menara ini terdiri dari batangan-batangan besi sehingga kami masih dapat melihat melalui sela-selanya dan secara tidak sengaja dari balik sela-sela itu aku melihat sesosok monster kerdil yang sedang memanjat ke atas menara.


"Psssttt..."


Bisikku pada Shiro


"...?"


Gadis itu mengangguk setelah melihat apa yang ingin kutunjukan kepadanya.


Lampu sorot menyinari tempat kami bersembunyi dengan senjata yang sudah ditodongkan ke arah kami.


"..."


Shiro berjalan ke luar dari tempat persembunyiannya lalu menjatuhkan senjatanya.


"Tangan di atas kepala!"


"..."


Gadis itu tidak merespon.


"Tangan di atas kepala...!"


"..."


Perlahan Shiro pun menunjukkan telapak tangannya dengan sebuah bom yang sudah diaktifkan.


"Bedebah sialan!"


Sebelum orang-orang itu sempat bertindak, Shiro sudah melempar bom itu terlebih dahulu ke arah mereka dan kepulan asap menyembur keluar dari dalamnya.


Heli yang sudah dilumpuhkan oleh bom asap itu mulai kehilangan kendalinya dan monster kerdil yang mendekatinya melompat ke atas heli tersebut.


Ia mencabik-cabik tubuh kendaraan tersebut dan membuatnya kehilangan kendali. Heli yang kehilangan kendali itu secara cepat terbang ke puncak menara dan detik berikutnya terdengar suara ledakan di tempatnya mendarat.


.


.


.


.


Setelah sekian lama menaiki tangga yang melelahkan akhirnya kami sampai di puncak menara. Tempat itu hanyalah sebuah dataran kosong yang tidak terdapat apa-apa.


"..."


Tempat itu benar-benar berantakan, sebuah puing helikopter yang sudah hancur terbakar terletak di sana.


*Sringgg


Hanya beberapa langkah setelah kami berjalan, seekor monster melompat ke arah kami dengan cakarnya yang siap untuk menyerang.


Shiro menangkis serangan makhluk itu dan membuat makhluk itu melompat mundur ke belakang.


"..."


Hujan masih terus menerus turun membasahi bumi. Kami saling bertatap-tatapan dengan makhluk itu tanpa melakukan hal lain, seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan kepada kami.


"...?"


Tangan... Ya, sebuah tangan merangkak keluar dari balik kobaran api yang menyala.


Kapten Primoz... Ia masih hidup dengan tubuhnya yang sudah penuh dengan luka bakar parah. Sebagian besar kulitnya sudah habis terbakar, menyisakan daging yang sudah hangus terbakar dengan darah yang mengering. Bekas luka cakaran juga menjalar di tubuhnya, sepertinya disebabkan oleh pertarungan dengan Tuan Frederick sebelumnya. Benar-benar orang yang sulit untuk dibunuh.


"Kalian benar-benar membuatku muak... Kenapa kalian tidak bisa diam saja dan tetap tinggal di sel tahanan!"


Pria itu mulai marah-marah dan berteriak sendiri lalu pada akhirnya ia tertawa kecil, sementara kami semua hanya melihatnya dengan keheranan.


"He...heheheh... Baiklah kalau kalian ingin bermain seperti ini."


Ia mengubah tatapannya dan mengeluarkan senyum yang mengerikan dengan wajahnya yang sudah hancur lebur itu.


"Aku tidak akan menahan diri lagi."


Ia menjulurkan tangannya ke depan, tepat ke arah kami. Sesaat kemudian muncullah sebuah... Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan benda tersebut. Sepertinya semacam "VTOL" kalau tidak salah begitulah penamaannya di artikel yang pernah kubaca secara tidak sengaja.


"Ray... Tolong bersembunyi di tempat yang aman."


"..."


Melihat tatapan Shiro yang begitu serius aku mengerti betapa sulit musuh yang akan dihadapi hingga membuatnya tidak yakin dapat bertarung sembari melindungi orang lain. Hal ini juga kembali mengingatkanku betapa tidak berdayanya orang biasa sepertiku dalam menghadapi dunia luar.


"Aku mengerti."


............................


"Aku tidak tahu kau paham bahasaku atau tidak... Tapi kalau kau ingin melindungi apa yang pernah menjadi tempat tinggalmu..."


Sang gadis berambut putih menarik gagang pedangnya, menampilkan bilah pedang hitam yang mulai dialiri oleh petir ungu.


"Kita harus bekerja sama."


"..."


Monster kerdil itu hanya diam menatapi gadis itu lalu mengeluarkan suara seperti mendengus dan mengalihkan pandangannya ke arah musuh lainnya.


"Pilihan yang bagus."


Ucap sang gadis berambut putih.


Monster itu hanya mengeluarkan suara aneh sebagai balasan.


"Apa kalian sudah selesai basa-basinya?"


Ucap pria yang sudah tidak sabar menunggu di hadapan mereka.


"Aku sudah tidak sabar untuk menghabisi kalian... Buronan kelas atas dan hantu dari reruntuhan. Khehe... Lawan yang sangat menarik."


Pria itu tersenyum kembali. Ia sudah kehilangan hampir dari setengah kulit bibirnya sehingga sebagian mulutnya tidak bisa ditutup, menampilkan gigi dan gusinya yang membuatnya tampak lebih mengerikan.


Babak penentuan dimulai!