New Sky

New Sky
Prologue 6



"Bagaimana menurutmu?"


Tanya sang bartender kepada gadis berambut putih.


Walaupun ekspresinya tetap datar, tapi matanya memancarkan ketertarikannya kepada benda itu.


"Menarik... Tapi tempat ini..."


"Ya... Seperti yang kau pikirkan. Fasilitas 57, tersembunyi di antara hamparan padang pasir yang tak bernama. Aku yakin kau lebih tahu dimana lokasi pastinya kan?"


"...Apa kau tidak lihat orang-orang ini mencoba menangkapku selama seminggu penuh? Dilihat dari manapun ini tampak seperti jebakan."


"Hmm... Tidak heran kau akan berpikir seperti itu tapi percayalah, aku sangat mengenal orang-orang ini dalam dunia bisnis. Mereka orang yang menepati janji. Disisi lain kau juga tidak punya pilihan lain kan?"


"..."


Gadis itu terdiam dan merenung. Apa yang dikatakan oleh sang bartender benar, ia tidak memiliki pilihan lain dan ia juga sudah kehabisan waktu.


"Baiklah kita sepakat, apa pekerjaannya?"


Sang bartender agak sedikit ragu dalam mengatakannya.


"...Mungkin kau akan kurang suka dengan yang satu ini, tapi karena ini pekerjaan terakhirmu jadi tolong lakukan sebaik mungkin."


"...?"


"Misi kali ini..."


*Cekrek*


Suara pintu di belakang bar terbuka, menampilkan sesosok anak kecil yang ditutupi dengan tudung hingga meutupi seluruh tubuhnya.


"Mengirim paket."


Anak kecil itu berjalan perlahan dengan hati-hati ke arah mereka berdua, ia berhenti dengan jarak agak jauh dari mereka.


"..."


Gadis berambut putih terdiam melihat sosok anak kecil itu, ia sudah paham apa tugasnya.


"Kenapa aku?"


Ucap gadis berambut putih, ekspresi kesal sedikit terlihat di wajahnya.


"Karena kau adalah orang yang paling cocok untuk pekerjaan ini. Tenang saja, kau akan paham maksudku nanti."


"..."


Gadis bersmbut putih menengok ke arah anak itu sekali lagi dengan sedikit perasaan bersalah.


"Maafkan aku tapi kita tidak punya waktu untuk membicarakan detail misi ini, anak itu sendiri yang akan mengatakannya."


Walaupun ragu dan tidak puas tapi karena ia memahami situasi mereka yang mendesak, gadis berambut putih hanya menganggukan kepalanya.


*Dummm*


Tanah berguncang sekali dan membuat lampu bar mati dalam sekejap.


"Sudah saatnya, ikuti aku."


Sang bartender menggenggam tangan anak kecil yang ketakutan itu dan segera membawanya ke ruangan di belakang bar. Gadis berambut putih mengikuti mereka dari belakang.


Mereka sampai disebuah ruangan yang tampak seperti sebuah garasi, sang bartender menyampirkan kain yang menutupi sebuah motor klasik tua di tengah ruangan.


"Anggap saja sebagai hadiah perpisahan."


Ucap sang bartender kepada gadis berambut putih.


"Tidak buruk untuk sebuah motor tua."


Gadis itu menaiki motor tersebut dan menyalakan mesinnya, suara mesin yang menggelegar memenuhi ruangan kecil itu.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata sedikitpun, anak kecil yang merupakan unsur penting dalam misi kali ini duduk di belakang sang gadis berambut putih.


Sang bartender berjalan menuju pintu garasi untuk membuka gerbangnya.


"Perhatikan kemana kau berjalan, Dia sudah datang."


"Hmph... Aku sudah pernah balapan dengan petir, awan lambat ini tidak akan bisa menangkapku."


Gadis berambut putih itu menggeber mesin motornya menandakan kesiapan dirinya.


Sang bartender melihat ke arah si anak kecil sebelum akhirnya menatap sang gadis berambut putih.


"Aku percayakan padamu."


*Whhoooossshhh*


Saat gerbang dibuka, angin hitam langsung memenuhi ruangan, dengan segera gadis berambut putih mengenakan topeng hitamnya.


*Duarrr Duarrr Duarrr*


Suara sambaran petir yang tiada hentinya terus menerus mengaum di luar.


Gadis berambut putih langsung menancapkan gas kendaraannya, seketika membawa dirinya dan anak kecil di belakangnya keluar dari tempat itu.


*Duarrr*


Hanya selang beberapa saat di luar sebuah sambaran petir hampir mengenai mereka, diikuti dengan sambaran lainnya seakan-akan memang mengincar mereka.


"Sudah ketauan...? Cepat juga rupanya."


*Rrrroooaaarrrrr*


Jauh di belakang terdengar suara auman yang sangat keras. Kepulan awan hitam menembus keluar dari sela-sela gedung tinggi, melahap semua yang dilewatinya. Benda itu bergerak dengan kecepatan tinggi mengejar ke arah gadis berambut putih dan anak kecil yang berusaha kabur dari kota itu.


"Lama tak jumpa... Teman lama."


*Rrrrroooaaaarrrrr*


Gadis itu menekan tombol turbo pada kendaraannya dan melaju lebih cepat dari sebelumnya.


*Dummm*


Walaupun awan gelap itu langsung melahapnya tapi benda raksasa yang jatuh itu sempat menahannya beberapa saat.


"..."


Sang gadis berambut putih menyadari bahwa sang bartender telah menyiapkan jalan keluar untuk mereka dari kota itu.


Dengan mengikuti petunjuk yang sulit dilihat oleh orang biasa, gadis itu menyusuri jalan yang telah disiapkan oleh sang bartender.


Jalan yang penuh dengan jebakan dan halang rintang itu berhasil menahan sang awan raksasa dari mengejar mereka berdua.


.


.


.


.


Setelah beberapa lama menyusuri jalanan yang disediakan bartender, mereka berdua hampir sampai di ujung kota tapi tampaknya jebakan yang telah disediakan sang bartender sudah tidak ada lagi dan awan gelap itu sudah sangat dekat dengan mereka.


*Duarrr Duarrr Duarrr*


Sambaran petir juga masih terus menyambar membabi buta mengejar mereka.


"..."


Gadis berambut putih melihat ke arah awan gelap yang hampir menggapai mereka.


"Tch... Hey kau!"


"E-eh?


Gadis berambut putih berteriak memanggil anak kecil di belakangnya dan membuatnya terkejut setengah mati.


"Aku perlu bantuanmu, letakkan tangan kananmu di sini... Cepat!"


Tanpa berpikir panjang anak kecil itu langsung melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, ia menggenggam gas motor tersebut dan menjaga kecepatannya agar tidak melambat.


Sementara itu sang gadis berambut putih membuka koper senjata raksasanya.


"..."


Sebuah benda berbentuk seperti meriam raksasa berwarna putih dikeluarkan dari dalam koper tersebut.


"Tahan sebentar, ini akan sedikit berat... Dan panas."


"Ugh..."


Gadis berambut putih itu meletakkan meriam raksasa itu di atas bahu sang anak kecil sebagai tempat bertumpu.


Ia membidik tepat ke arah awan gelap yang berada di belakangnya. Energi berwarna biru mulai terkonsentrasi dan berkumpul ke dalam meriam tersebut.


Anak kecil yang berada di bawahnya berteriak kesakitan akibat panas yang dihasilkan energi meriam tersebut.


"..."


Tanpa menunggu lebih lama ia menembakkan meriam tersebut dengan kekuatan kecil akibat waktu dan tempat yang tidak mendukung.


*Duuuummmmm*


Cahaya biru raksasa ditembakkan dari dalam meriam tersebut tepat ke arah awan hitam yang mengejar mereka.


Semua benda yang dilewati cahaya itu menghilang seketika menjadi partikel kecil. Awan hitam yang mengejar mereka dan seluruh gedung tinggi yang menutupi pengelihatan menghilang seketika. Menyisakan pemandangan kota di kejauhan yang sudah hancur dilahap awan hitam yang masih berada di kejauhan.


"Kerja bagus."


Ucap gadis berambut putih pada anak kecil di belakangnya, ia memasukkan kembali senjatanya dan mengambil alih kemudi kendaraan.


.


.


.


.


Langit yang cerah menyambut mereka di luar kota. Sang gadis berambut putih membuka topeng hitamnya, membiarkan hembusan angin padang pasir membelai wajahnya.


Ia melihat ke arah sang anak kecil, sedari tadi tubuhnya gemetar dan selalu berpegang erat pada gadis berambut putih.


Meski begitu gadis berambut putih salut dengan keberanian anak itu, apalagi ia dapat diandalkan dalam situasi genting.


Mereka berdua melihat ke arah kota tempat mereka sebelumnya berada. Kota itu sudah habis dilahap oleh Sang Badai.


Gadis berambut putih itu tidak ingat nama kota itu saat masih dihuni oleh manusia, meskipun begitu ia sudah cukup lama tinggal di tempat terbengkalai itu.


Kini kota yang terlupakan telah menghilang sepenuhnya dari dunia bersama dengan penduduknya yang telah berubah menjadi monster.


Ia mengalihkan pandangannya ke arah anak kecil yang berada tak jauh darinya.


Perasaan bersalah memenuhi dirinya tapi bagaimanapun juga ia tidak boleh melanggar kontraknya sebagai seorang tentara bayaran.


"Huh..."


Gadis itu kembali menaiki kendaraannya dan menyalakan mesinnya.


"Naik..."


Gadis itu menoleh ke arah sang anak kecil untuk memanggilnya tapi ia tidak menemukan siapapun.


Anak itu telah melarikan diri.


"..."


"Bruh..."