
Gadis berambut putih telah sampai di kota terakhir yang harus ia lewati sebelum sampai di titik tujuan.
Ia akan beristirahat di tempat itu karena mungkin ia tidak akan beristirahat lagi untuk waktu yang lama.
Gadis itu sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan di tengah kota sampai pada akhirnya ia bertemu dengan sosok yang tidak ia duga.
"Sebuah kebetulan bertemu denganmu di sini. C-001... Oh atau harus kusebut... Shiro?"
Seorang wanita berkacamata menghadangnya di tengah perjalanan.
"Kau berani sekali keluar sendirian... Dr. Mei."
Balas Shiro kepada wanita itu.
"Hehe... Kebetulan sekali kita bertemu di depan cafe ini, kudengar makanannya cukup enak. Bagaimana kalau kita berbincang sebentar di dalam?"
"Kau yakin tidak menyadap tempat ini dan mengganti seluruh pegawainya dengan orang-orangmu?"
"Aku hanya... Ingin melakukan beberapa klarifikasi. Tenang saja, tidak ada yang akan mengetahui pembicaraan kita."
"Huff... Baiklah aku mengerti."
.
.
.
.
"Kau mau pesan?"
Tanya wanita itu kepada Shiro.
"Tidak perlu sandiwara, ayo kita buat hal ini menjadi cepat. Apa yang dilakukan oleh petinggi S.A.V.I.O.R. di tempat seperti ini?"
"Huff... Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Terlalu banyak yang harus dibicarakan."
"Sejak kapan kau mengawasiku?"
"Sejak para pasukan spesial yang kukirim datang menyerbumu. Sejak saat itu kau tidak bisa lepas dari pandanganku."
"Sudah selama itu ternyata."
"Pertama-tama, aku ingin minta maaf karena ulah anggotaku yang sembrono kau jadi harus repot-repot mengurus bawahanku yang tidak kompeten. Dan terimakasih untuk tidak membunuhnya."
"Sudah sering kukatakan, aku tidak akan membunuh manusia bahkan jika nyawaku terancam. Kuharap wanita itu juga sudah mengerti cara agar tidak menjadi menyebalkan."
"Sekali lagi aku minta maaf. Lalu... Tentang gadis kecil itu... SR-509."
"..."
"Aku tahu, aku tahu... Kau pasti merasa kesal tapi sungguh-"
"Sudahlah, aku mengerti. Kau memang dari awal berniat untuk menyelamatkan anak itu kan?"
"Huff... Beberapa cabang organisasi, seperti yang berada di perbatasan Death Valley, mereka suka bertindak dengan sendirinya dan seringkali mengesampingkan rasa kemanusiaan sama seperti para pendiri dulu. Mau tidak mau aku harus memotong bagian yang rusak ini dan caranya adalah menggunakan anak itu sebagai umpan dan kau... Sebagai orang yang mengambil umpan tersebut. Di sisi lain anak itu juga terbebas dari masa lalunya berkat dirimu."
"Beginikah caramu membangun ulang S.A.V.I.O.R.... Kau membuang anggota tubuhmu begitu saja?"
"Maaf Shiro... Aku tidak selembut dirimu. Orang yang berani melukai harus siap untuk dilukai."
"Baiklah terserah dirimu saja. Ngomong-ngomong soal anak itu... Project SR, bisa kau ceritakan padaku lebih dalam tentang ini?"
"Tentu... Project SR atau Project Sun Rise, entah siapa yang memberi nama itu, adalah sebuah eksperimen dimana kita memasukan energi photon ke dalam suatu wadah makhluk hidup dan membuat wadah itu menjadi generator photon yang tak memiliki batas."
"Jadi itu sebabnya anak itu memiliki kekuatan yang dahsyat."
"Dan kalau tidak salah, eksperimen ini juga berada di bawah kendali Professor Peitrum."
"Tidak heran kami terus dikejar disepanjang jalan, ia tidak ingin kehilangan mahakaryanya."
"Kalau aku jadi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama. Project SR bisa dibilang merupakan eksperimen menciptakan generator energi tanpa batas. Dan kau dapat membayangkan apa yang bisa kita lakukan jika memiliki energi yang tak terbatas."
"Aku mengerti. Ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan."
"Silahkan saja."
"Lab 48. Sampai kapan kau akan membiarkan mereka?"
"..."
"Bukankah anggota tubuh yang tidak berguna harus dibuang?"
"Bukannya aku membiarkan mereka bebas berkeliaran. Tapi kau tahu sendiri siapa yang memimpin mereka."
"Kita sudah membahas orang itu dari tadi, aku benci dia. Licik dan penuh tipu muslihat. Ohh... Aku juga baru ingat. Benda merah itu..."
"Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, aku juga terkejut project seri C seperti dirimu dapat dikalahkan dengan benda itu. Sepertinya benda itu memiliki sebuah anti gen yang dapat bereaksi dengan struktur tubuhmu."
"Hmm... Baiklah. Aku tidak punya pertanyaan lagi."
"Kalau begitu, klarifikasinya sudah selesai. Selanjutnya kita dapat membahas masalah untuk masa depan."
"Perasaanku tidak enak."
"Apa kau yakin tidak ingin bergabung kembali dengan S.A.V.I.O.R....?"
"Benar saja. Maaf aku tidak tertarik."
"Huff... Shiro. Kalau kau masih berpikir untuk menyelamatkan ascendant di outbreak kali ini... Kami terpaksa harus menentangmu."
"Aku tidak suka dengan caramu mengeksploitasi mereka. Semua hanya menuntun kepada kehancuran dan kegagalan. Kita membutuhkan pendekatan yang lebih baik."
"Shiro... Dengarkan aku. Mereka sudah bukan manusia. Dan kalaupun masih... Aku juga tidak akan segan membunuhnya jika itu membahayakan nyawa orang banyak."
"Memang gayamu."
"Selain itu aku juga memerlukanmu untuk hal lain. Aku ingin mengumpulkan kekuatan lama kita."
"..."
"Hanya kau yang dapat melakukannya. Kami memerlukan kekuatanmu untuk membangun ulang S.A.V.I.O.R."
"Aku akan pikirkan hal ini lagi. Aku masih tidak yakin bahwa membangun ulang organisasi ini adalah hal yang baik."
"Baiklah... Ambil waktumu sebaik-baiknya. Waktu kita sudah habis. Kuharap hadiah yang kuberikan dapat membantumu dalam mengatasi outbreak ini."
"Tentu saja benda ini akan sangat membantu. Aku bahkan harus melukai anak kecil untuk mendapatkannya."
"Ayolah jangan ungkit masalah lama."
Shiro berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Aku punya satu saran untukmu."
Wanita di belakangnya menahan dirinya pergi dengan perkataannya.
"Gunakan waktumu untuk beristirahat dan cobalah untuk menikmati dunia ini."
"..."
"Itu saja, sampai bertemu di medan perang."
.
.
.
.
"Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku bisa mandi seperti ini. Atau mungkin memang tidak pernah?"
Ucap gadis berambut putih yang berjalan keluar dari kamar mandinya.
Ia merebahkan dirinya di kasur besar empuk yang terletak di sebuah kamar luas. Seingatnya ia juga tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Gadis itu memandang ke arah jendela atau lebih tepatnya tembok kaca yang memperlihatkan pemandangan malam kota itu.
Gadis itu berada di dalam kamar apartemen super mewah yang terletak di kota tempat ia singgah.
Walaupun sulit dipercaya tapi meskipun tampaknya gadis itu hidup mengembara di jalanan, nyatanya ia memiliki rekening yang tidak akan bisa habis seberapa banyakpun ia menghamburkan uangnya.
Pendapatan seprang mercenary dalam bidang perburuan monster memang bukan main-main.
Gadis itu sudah mencoba semua makanan mewah yang ada di kota itu dan mencoba menikmati hidup seperti yang dikatakan wanita itu tapi semua tetap sama saja.
Meski dengan segala kemewahan dan kenyamanan ini, gadis itu tidak merasakan perbedaannya. Ia tidak merasa senang maupun sedih.
Gadis itu terduduk di kasurnya dan merangkul kakinya sembari tetap melihat keluar jendela.
Kota yang indah, sama seperti yang waktu itu. Kota yang tampak hidup. Hanya ini yang dapat menenangkannya. Bukti bahwa manusia masih dapat hidup di tengah dunia yang sekarat ini.
"Kita menjadi pahlawan bukan karena kita yang memilih... Melainkan karena tidak ada orang lain yang bisa."
Bisik gadis itu.
"Waktunya telah tiba... Hari penghakiman."