
Kami saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama dengan rasa curiga yang ada pada diriku.
"..."
"Huh..."
Pada akhirnya aku bangkit berdiri sambil menghela nafas lalu berjalan mendekatinya.
"Aku tahu masih banyak hal yang kau rahasiakan dan tidak ingin kau ceritakan."
"..."
"Tidak apa... Setelah semua yang kita lalui bersama, paling tidak aku yakin bahwa kau tidak berniat jahat."
Gadis itu melihat ke langit senja yang cerah. Tanpa disadari diriku pun juga mengikuti tatapan matanya.
Bangunan-bangunan hancur tanpa bersisa. Aku penasaran apa ada yang masih tersisa di antara reruntuhan ini selain monster yang berkeliaran.
Tapi meski begitu langit sore ini tampak sangat indah, mungkin yang paling indah yang pernah kulihat seumur hidupku?
"Ayo pergi, kita masih harus mengantarmu kembali."
Ucap gadis itu dengan tatapan matanya yang kembali ke arahku.
Dia benar... Masih ada satu perjalanan lagi yang harus di.selesaikan.
Aku pun tersenyum dan tertawa kecil menjawab pertanyaannya.
"Tapi sebelum itu kurasa kau harus membersihkan badanmu terlebih dahulu."
Ucapku sambil menatap tubuhnya yang masih berlumuran darah.
"Oh... Kau benar, bau darah memang sangat menarik perhatian musuh."
"Bukan itu yang kumaksud sih..."
"Ray...?"
"...?"
Pandanganku seketika menjadi kabur dan berikutnya seluruh ruangan menjadi gelap gulita.
.
.
.
.
"..."
"Aku mulai terbiasa dengan perasaan bangun tidur ini."
Ucapku setelah membuka mata.
Aku terbangun di pojok ruangan gelap yang diterangi oleh cahaya rembulan dari balik jendela.
Di pojok lainnya terdapat gadis berambut putih dengan mata biru bersinarnya yang terus menatap ke arahku. Tubuhnya sudah tidak dipenuhi dengan bercak darah seperti sebelumnya.
"Ughh..."
Rasa pusing dan sakit kepala tiba-tiba menghampiriku saat aku mencoba bergerak.
"Jangan terlalu banyak bergerak. Demammu masih sangat tinggi."
Sebenarnya aku ingin menyentuh dahiku untuk memastikan, tapi aku terlalu lelah untuk melakukannya. Yang tubuhku rasakan saat ini hanyalah dingin yang menggigil.
"Maaf membuat api di tempat seperti ini takutnya akan menarik perhatian musuh."
Memang salah satu peraturan penting untuk bertahan hidup di tempat pasca bencana adalah jangan terlalu banyak menarik perhatian.
"Apa aku akhirnya akan mati?"
Ucapku dengan suara pelan.
Dari awal aku sudah sakit dan radiasi di tempat ini semakin memperparahnya. Tapi seharusnya setelah prisma itu dinonaktifkan, radiasi yang dikeluarkan olehnya juga ikut hilang bukan?
Huh... Sudahlah, itu tidak penting. Tanpa kekuatan Will of Chaos atau apalah itu, tubuhku tetap tidak akan bisa menahan infeksi yang telah terjadi.
"Kekuatanku bisa memulihkan sel dan jaringan, tapi aku tidak bisa menghilangkan virus yang sudah tertanam di tubuhmu."
Benar juga... Aku ingat dia pernah menyelamatkan nyawaku dari kematian waktu itu.
"Tapi... Tubuhmu memiliki ketahanan yang sangat kuat. Meski dengan bantuan Will of Chaos sekalipun, orang biasa seharusnya sudah mati saat menginjakkan kakinya di pusat bencana. Ini adalah hal yang menarik karena kau adalah satu-satunya orang yang berhasil membangun imunitas terhadap virus ini... Paling tidak orang pertama yang kulihat..."
Entahlah... Mungkin ketidak beruntunganku di masa lalu akhirnya membuahkan hasil.
Tapi aku penasaran dengan penyakitku. Kalau benar sumber radiasi utama berasal dari frekuensi... Kenapa penyakitku terjadi akibat virus?
Mungkinkah para makhluk yang bermutasi dapat menciptakan virus dan menyebarkannya? Entahlah aku bukan seorang ahli.
Aku ingin menanyakan pertanyaan ini ke gadis itu tapi kupikir tidak perlu jadi aku menanyakan hal lain.
"Kekuatanmu... Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Apakah kau benar-benar seorang manusia?"
"..."
"M-maaf... Kau tidak perlu menjawabnya kalau kau tidak ingin."
"..."
Gadis itu memberikan jeda selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menghela nafas.
"Kurasa tidak ada salahnya untuk memberitahumu. Kita sudah sampai sejauh ini, belum tentu juga kau bisa bertahan sampai akhir perjalanan. Lagipula ini bukanlah rahasia yang sangat penting atau berbahaya, cepat atau lambat dunia juga akan mengetahui keberadaannya..."
"Keberadaannya...? Keberadaan siapa?"
"S.A.V.I.O.R. mereka adalah orang yang menciptakanku, atau bisa dibilang... Mengubahku menjadi seperti ini."
S.A.V.I.O.R... sebuah nama yang asing bagiku.
"Mereka adalah organisasi rahasia yang bertujuan untuk melawan para anomali ini."
"..."
"Kedengarannya adalah tujuan yang sangat mulia bukan? Tapi kenyataannya mereka banyak melakukan hal kotor untuk mewujudkan penyelamatan yang mereka dambakan. Bahkan sampai mengesampingkan kemanusiaan. Mereka menciptakan berbagai macam senjata untuk melawan makhluk-makhluk ini dan hingga pada akhirnya mereka mencapai sebuah cara dengan merekonstruksi ulang apa yang disebut dengan manusia. Dan harga yang harus dibayar untuk melakukannya tidaklah sedikit..."
Begitu rupanya... Jadi organisasi ini kurang lebih menciptakan manusia super sebagai senjata untuk melawan para anomali. Dan dari pendeskripsian Shiro... Kurasa untuk menciptakan manusia super ini membutuhkan banyak sekali pengorbanan.
"Jadi tujuanmu menyelamatkan tempat ini adalah karena..."
"Jangan salah sangka."
"Aku tidak bekerja untuk mereka lagi... Aku tidak akan pernah menyetujui cara mereka."
"Apa kau... Melarikan diri?"
"Meski kurang tepat tapi kurang lebih seperti itu. Aku memiliki sejarah yang panjang dengan mereka dan bisa dibilang aku adalah buronan mereka sekarang."
"..."
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan? Jika tidak kembalilah beristirahat... Jalan pulang nanti tidak akan lebih mudah daripada saat kita berangkat karena bukan hanya monster yang akan kita lawan nanti."
"...?"
Aku ingin menanyakan apa yang dia maksud tapi tubuhku sudah semakin lelah. Pada akhirnya aku memilih untuk diam hingga terlelap dengan sendirinya.
.
.
.
.
Keesokan harinya kami berangkat pagi-pagi buta. Tubuhku sudah lebih baik dari sebelumnya meski aku yakin suatu saat penyakit ini akan kembali lagi.
"Aku tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya."
Ucapku setelah keluar dari dalam bangunan tempat kami bermalam.
"Setelah reruntuhan-reruntuhan melayang itu jatuh ke tanah, banyak jalan yang tertutup sehingga kita harus mencari jalan baru."
Seharian penuh kami lalui dengan mencari jalan di antara celah-celah reruntuhan bangunan, sebenarnya masih terdapat jalan yang lebih mudah dilalui tetapi karena dirasa tempat itu terlalu terbuka kami lebih memilih jalan yang lebih aman.
"Berhenti..."
Ucap Shiro tiba-tiba
Aku yang mengikutinya dari belakang terdiam tanpa mengatakan apapun dan menunggu arahan berikutnya.
Suara mesin dan bayangan besar di langit melewati kami begitu saja. Tampaknya seperti sebuah pesawat atau semacamnya?
"Percepat langkahmu, kita harus segera pergi dari sini."
"Siapa mereka?"
Tanyaku sambil berbisik.
"Orang-orang yang kubicarakan sebelumnya."
Mengerti dengan situasinya, aku hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut.
Rupanya ini yang ia katakan dengan musuh kita tidak hanya para monster saja.
Setelah kami sampai di tempat yang cukup jauh dan aman, Shiro mulai membuka mulutnya kembali.
"Saat Outbreak terjadi orang-orang akan pergi menyelamatkan diri mereka... Tapi ketika bencana sudah terlewati mereka akan kembali. Orang-orang ini sebagian adalah petugas keamanan yang kebingungan dengan apa yang menyebabkan berhentinya Outbreak, sebagian adalah para peneliti yang ingin menyelidiki sampel para monster, para pedagang pasar gelap dan mercenary yang mencari keuntungan dan yang terakhir adalah..."
"S.A.V.I.O.R?"
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Kukira mereka seharusnya datang untuk menghentikan outbreak."
"Memang seharusnya seperti itu, mereka hanya memanfaatkan kehadiranku di sini."
"Mengambil apa yang tersisa dan menangkap mangsa... Kedengarannya memang seperti membunuh dua burung dengan satu batu."
"...?"
Sebuah suara yang terdengar seperti jeritan yang familier terdengar di kejauhan.
"Lobster?"
"Ular..."
Sebuah benda hitam terbang mendekat ke arah kami.
"Tahan nafasmu."
"Huh...?"
Sekali lagi teriakan makhluk itu membuat siapapun yang mendengarnya akan menutup telinga.
Makhluk yang kurasa mirip seperti lobster itu terbang di atas kami. Tubuhnya sangat besar, jauh lebih besar dari apapun yang pernah kulihat.
Mungkin memang tidak sebesar prisma hitam tapi makhluk ini memiliki panjang tubuh sampai beberapa kilometer.
Meskipun aku tidak yakin dengan perhitungannya tapi aku cukup yakin karena sudah selang waktu beberapa lama tapi bagian tubuhnya masih tetap tidak habis melewati kami.
"Akhirnya pergi juga. Makhluk apa itu?"
"Spesies yang jarang terlihat, tapi cukup terkenal. Mengalahkannya akan sesulit berurusan dengan bayangan hitam yang kemarin."
Memang lebih baik tidak berurusan dengan makhluk yang tidak kita ketahui.
"Tapi bagaimana kalau ia sampai ke pemukiman?"
"Aku yakin S.A.V.I.O.R pasti mau mengurus yang satu ini."
Entah mengapa aku merasakan arti tersembunyi dari perkataan barusan.
Ternyata perjalanan kembali memang cukup sulit. Huff... Padahal kami baru saja menyelamatkan sebuah kota, tapi kenapa rasanya malah jadi seperti penjahat? Kami terus menerus bersembunyi dan berjalan dari balik bayang-bayang reruntuhan.
Kami menggunakan rute terjauh untuk menghindari kontak langsung dengan monster apapun. Sebelumnya Shiro mengatakan bahwa ia tidak bisa menggunakan kedua senjatanya sementara waktu akibat kehabisan tenaga.
Aku penasaran bagaimana dengan kabar orang-orang di balik tembok. Apakah kerusakan sudah sampai di seberang? Kuharap semua baik-baik saja.
.
.
.
.
Suara geraman dari balik bayangan membuat tikus-tikus yang berkerumun berlarian ketakutan.
Sebuah cakar besi tajam menarik mayat yang sudah tak berbentuk masuk ke dalam bayangan.
Sepasang mata biru yang dingin dan tak berperasaan menatap ke luar bayangan.
Fajar telah tiba... Tapi perburuan tidak pernah berakhir baginya.