New Sky

New Sky
Prologue 5



Hari sudah senja, matahari yang mulai terbenam dan langit berwarna jingga menghiasi pemandangan sore hari yang indah.


Sayangnya pemandangan itu hanya akan terjadi apabila badai raksasa yang mengaum di kejauhan tidak menutupi matahari.


Suasana sore hari itu begitu mencekam, angin bertiup semakin kencang, awan kelabu mulai menutupi seluruh kota dan hujan rintik-rintik yang menghanguskan benda yang disentuhnya berjatuhan dari langit.


Tapi di tengah-tengah kota yang akan dilanda bencana itu, dua orang wanita saling berhadapan satu sama lain tanpa memedulikan badai yang akan datang.


Seorang gadis berambut putih yang hanya berbekal dengan sebilah pedang berdiri di hadapan wanita yang tubuhnya dilapisi dengan zirah baja.


Sayap besi yang membentang dengan gagah mengangkat tubuh wanita itu. Tangannya dilapisi dengan cakar besi yang mengerikan. Suara mesin yang mendengung dengan keras terdengar dari mesin yang mendorong sayap raksasa itu.


"..."


"..."


Hujan asam yang turun menguap setelah mengenai zirah milik sang wanita. Tidak ada tanda-tanda kerusakan yang ditinggalkan dari tetesan-tetesan hujan asam.


Begitu juga dengan gadis berambut putih yang ada di hadapannya. Hujan asam turun mengenai kulitnya tapi tidak ada luka bakar atau melepuh yang ditinggalkan.


"Subject C-001, kuminta kau sekali lagi untuk ikut bersamaku, kalau kau menolak... Aku terpaksa harus menggunakan kekerasan."


Ucap sang wanita.


"..."


Gadis yang ada di depan wanita itu hanya diam mengacuhkan perkataan wanita di depannya.


"Huh wajah sombong itu membuatku muak."


"...Aku tidak punya banyak waktu, (Dia) akan datang. Kau juga sebaiknya pergi."


Ucap sang gadis dengan nada datar.


"Hehehhe... Jangan bilang kau takut hanya dengan hujan rintik-rintik ini? Mungkin aku telah salah menilaimu."


"...Aku tidak ingin berdebat dengan orang bodoh, kau sudah kuperingatkan."


Gadis itu berbalik dan berjalan menjauhi wanita itu.


*Wuusshhhh*


Sebuah gelombang melewati sang gadis dan membelah gedung yang berada tepat di hadapannya.


Gadis itu berbalik kembali ke arah sang wanita. Cakar besi yang ada di tangan wanita itu baru saja melepaskan sejumlah energi yang sangat kuat hingga dapat membelah sebuah gedung.


"Apa kau tidak dengar perkataanku bocah? Kau... Ikut denganku."


Suara wanita itu seakan-akan terdistorsi.


Wajahnya telah ditutupi oleh topeng baja dan zirahnya mengeluarkan garis-garis berwarna kemerahan.


"Kau ini keras kepala ya... Baiklah... Aku akan menemanimu menari di bawah hujan jika itu maumu."


Ucap sang gadis sambil meletakan tangannya di atas gagang pedangnya dan bersiap untuk menariknya.


"Khuahahahahahahahaha.... Ada apa? Dimana senjata raksasamu yang selalu kau bawa-bawa itu? Apa kau begitu percaya diri untuk mengalahkanku tanpa menggunakannya? Atau... Kau takut aku mengalahkanmu dengan mudah dan mengambil senjata itu dari tangan lemahmu?"


"..."


"Apa kau pernah mendengar kisah tentang Midir Sang Naga Petir?"


"...?"


"Dahulu kala ada seekor naga petir yang menguasai seluruh daratan. Ia merampas seluruh kehidupan di muka bumi, dan tak ada satupun yang dapat menghentikannya sampai... Suatu saat beberapa manusia yang cukup berani atau mungkin bisa dibilang bodoh melawan naga itu. Mereka menciptakan sebuah senjata terkuat yang dapat menaklukan sang petir."


"Apa maksud dari cerita bodoh ini?"


"..."


Gadis itu tidak menjawab, membiarkan suara hujan mengisi keheningan di antara mereka.


"Apa kau tau mengapa aku ditunjuk untuk menjadi pemilik senjata ini?"


"...?"


"Karena... Hanya aku yang dapat menaklukan sang petir."


Mata biru gadis itu berkilau di kegelapan badai yang melanda. Topeng hitam seketika menutupi wajah gadis itu.


"...!"


*Sringgg*


Gadis itu menghunuskan pedangnya yang diselimuti oleh percikan listrik berwarna ungu. Di saat yang bersamaan petir-petir menyambar dari langit dan menghantam seluruh kota dengan membabi buta.


"Rasakanlah amarahnya... Rasakanlah penghakimannya..."


"Blade of Midir... Thunder's Sin"


*Dummmmm*


Sekali lagi petir menyambar, kali ini tepat di tempat mereka bertarung.


.


.


.


.


Petir mulai berhenti menyambar, suasana kembali menjadi hening dan hujan turun semakin deras.


Sang gadis bertopeng menunggu musuhnya dari balik kepulan asap dan hujan yang menutupi seluruh kota.


"Heh... Sepertinya aku benar-benar telah meremehkanmu... C-001"


"...?"


Di kejauhan tampak jelas bahwa mesin yang di gunakan oleh sang wanita itu mengalami kerusakan parah akibat sambaran petir sebelumnya.


Tubuhnya juga mengalami luka bakar parah tapi mengejutkannya luka-luka itu perlahan menghilang seakan-akan tidak pernah ada.


"Hehehe... Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa kau memegang dua senjata suci sekaligus."


"Hmm? Ada apa dengan ekspresimu itu? Ohh... Kau terkejut dengan kemampuanku?"


"Tidak juga... Kemampuan regenerasi bukankah hal yang begitu mengesankan lagi. Tapi aku sedikit terkejut dengan kecepatan regenerasimu, bahkan anomaly class S belum tentu memiliki kecepatan regenerasi seperti itu. Hanya ada satu orang yang bisa melakukannya."


"Huh... Kurasa S.A.V.I.O.R. sudah memulai proyek gila mereka lagi."


"Kau memang tidak salah... Dan untuk itu juga kami memerlukan kehadiranmu, kelinci percobaan."


Mesin milik wanita itu kembali mendengung. Tabung berisi cairan kemerahan disuntikan ke punggung wanita itu.


Zirahnya kembali memancarkan garis kemerahan dan cakar besinya mengeluarkan aura mematikan yang sama seperti sebelumnya.


"...Kurasa kau tidak akan menjawab lagi bila aku bertanya."


*Wuusshhh*


Gelombang mematikan seperti sebelumnya mengarah ke gadis itu. Dengan cepat ia menghindar dan segera melancarkan serangan balasan.


Dalam satu langkah ia menuju ke depan wanita itu. Pedangnya yang mengayun ke wajah wanita di depannya ditangkis menggunakan cakar raksasa.


Pedang itu mengisi tenaganya dan seketika sebuah petir menyambar ke arah mereka.


Gadis bertopeng melompat mundur untuk menghindari sambaran itu, begitupula dengan sang wanita.


Puluhan misil ditembakan keluar dari sayap raksasa sang wanita. Saat gadis bertopeng berusaha menghindari misil itu, sang wanita dengan segera menerjang ke arahnya dan menusuk tubuhnya menggunakan cakarnya.


Beruntung sebelum wanita itu menusuknya, gadis bertopeng menghindari serangan itu dan menahan cakar sang wanita dengan tangannya.


Energi kembali berkumpul di pedang hitam sang gadis, kilauan cahaya ungu dan percikan petir terlihat di bilahnya.


Dengan segera sang gadis menusukan pedangnya ke arah wanita yang tidak bisa bergerak itu.


Pedang itu menembus tubuh sang wanita dan merusak mesin yang menggerakan sayapnya.


"Arrgghhh"


Seketika mesin itu mengalami kerusakan. Pendorong mesin itu menyeret sang wanita itu ke belakang.


Wanita itu tampaknya mencoba memberikan perintah kepada mesin itu dan seketika mesin itu membuang bagiannya yang hancur dan memasangnya dengan bagian baru.


Entah kenapa gadis bertopeng yang memperhatikan hal itu merasa sedikit terkesan.


Wanita yang tampak marah itu melesat ke arah sang gadis dengan kecepatan tinggi.


Sang gadis bertopeng menyiapkan kuda-kudanya untuk menahan serangan yang datang. Aura petir menyambar-nyambar tanpa henti dari pedang gadis itu.


*Dumm*


Kekuatan cakar mematikan dan pedang petir itu saling bertubrukan, menciptakan ledakan besar yang menghempaskan seluruh bangunan di sekitar mereka.


Debu dan asap kembali menutupi pemandangan. Tapi kini di antara kepulan asap itu terdengar suara dentingan dari besi yang saling bertubrukan. Kilatan petir ungu dan cahaya merah terlihat di dalam kepulan asap itu.


Sesekali petir juga menyambar dari atas langit dan gelombang mematikan serta tembakan misil dan senapan juga muncul.


.


.


.


.


Badai hitam semakin mendekat, kota yang sedari tadi dihujani oleh sambaran petir kini terasa begitu tenang saat petir hilang sepenuhnya.


*Huff...Huff...Huff*


"Uhuk...uhukkk..."


"Urrggghhhh.... Sialan! Kenapa jadi seperti ini."


Pertarungan telah berjalan sangat lama semenjak matahari terbenam hingga langit telah genap sepenuhnya. Hujan juga sudah turun semakin deras, membasahi api yang memenuhi medan pertempuran yang hancur total.


"Kau tau...? Kau cukup sulit untuk dibunuh."


"...!"


"Tidak mungkin... Harusnya aku sudah membunuhmu tadi."


"Kau juga sudah mengatakan hal yang sama berulang kali. Dan lagi... Aku juga bisa mengatakan hal yang sama."


"Mati kau...!!!"


Wanita itu mengeluarkan sebuah flamethrower dari zirahnya dan seketika membakar semua yang berada di hadapannya.


*Duarrr*


"Ggaaahhhh...."


Sebuah kilatan petir menyambar flamethrower sang wanita dan seketika meledakannya, membakar dan menghanguskan tubuh wanita itu bersama dengan zirahnya.


"Dasar bocah sialan."


Ucap sang wanita yang telah hangus terbakar itu. Tubuhnya perlahan pulih kembali walau tidak secepat saat pertama kali pertarungan dimulai.


"Kau sekarat, menyerahlah. Keluatanmu itu tidak sempurna, ia memiliki batasannya."


"Apa pedulimu?"


"Huff... Sepertinya kau belum mengetahui posisimu saat ini."


Dalam sekejap mata, gadis itu menendang wajah wanita yang telah tersungkur di tanah itu. Wanita itu terlempar akibat tendangan kuat itu.


Gear yang ia gunakan di awal pertarungan sudah hangus tak bersisa. Zirah yang menempel di tubuhnya juga sudah hangus tak berbentuk akibat terbakar hingga habis.


Yang wanita itu rasakan sekarang adalah kutukan rasa sakit tak henti akibat tubuhnya yang selalu beregenerasi setelah terluka. Rasanya seperti ia ingin mati saja dari pada terus disiksa seperti ini. Dan akibat efek samping dari kekuatannya, ia juga harus merasakan sakit saat beregenerasi.


Hujan asam yang terus menerus turun membakar kulit sang wanita secara perlahan.


Ia menyuntikan sisa cairan merah yang tergeletak di dekat kerangka mesinnya yang telah rusak dan menyuntikanya ke tubuhnya.


"Kau tidak seharusnya menyuntikan benda itu langsung ke tubuhmu."


*Aaaarrrrrrgggghhhhh*


Wanita itu menjerit kesakitan, retakan berwarna merah muncul di tubuhnya dan seluruh tubuhnya seketika terbakar. Tangan kirinya berubah menjadi sebuah cakar. Sebilah pedang berwarna merah mencuat keluar dari tangan kanannya dan menghancurkan jari-jemarinya.


"Khuhuhuhu...kuhahhahahhaha..."


Wanita itu mencengkram topengnya dengan cakarnya lalu menghancurkanya. Memperlihatkan wajahnya yang telah hancur lebur.


"...ayo kita akhiri ini."


Tanpa menunggu sedikitpun sang gadis mencabut pedang petirnya dan menyerang wanita itu.


Kilatan petir dan kobaran api saling beradu dalam bentuk pedang tajam yang melesat dengan kecepatan tinggi.


Seiring berjalannya pertarungan, gerakan sang wanita perlahan semakin melambat akibat tubuhnya yang sudah kelelahan.


*Sringgg*


Wanita itu lengah dan seketika tangannya yang telah berubah menjadi pedang terpotong oleh bilah petir.


Serangan lainnya diarahkan menuju ke wanita itu. Cakar tajamnya berusaha menahan bilah pedang yang menuju tepat ke kepalanya.


*Dorrr*


Sebuah peluru melesat menembus kaki sang wanita dan membuatnya jatuh tersungkur. Gadis bertopeng itu menembakan pistol yang ia sembunyikan sejak awal pertempuran.


*Sringgg*


Cakar milik wanita itu terpotong, melayang di udara dengan darah yang terus mengalir.


"Aaarrrrggghhhh sialan kau... Ghhh."


Gadis bertopeng itu memasukan pistolnya ke dalam mulut wanita itu.


Di mata wanita yang sekarat itu, gadis muda depannya tampak seperti dewa kematian baginya. Wanita yang sekarat itu akhirnya sadar bahwa ia telah salah memilih lawan.


Topeng hitam itu selalu menjadi mimpi buruk bagi wanita itu. Dulu ia pernah berhadapan dengan seseorang yang memiliki topeng hitam dengan bentuk yang mirip dengan yang dikenakan gadis di depannya. Ia bahkan tak bisa menyentuh orang itu.


Ia akhirnya sadar sekuat apapun dirinya, ia tak akan pernah bisa mengalahkan para pendiri.


"Aku tidak suka membunuh orang."


Ucap sang gadis itu dengan nada dingin.


"Kau bilang kau tidak takut dengan Badai... Aku akan meninggalkanmu disini. Biarkan ia sendiri yang menghakimimu."


Gadis itu merobek mulut wanita itu agar ia tidak dapat berbicara lagi, lalu memotong kedua kakinya sehingga ia tak dapat berjalan.


"..."


Gadis itupun pergi meninggalkan wanita yang sekarat itu sendirian diantara reruntuhan yang terbakar.


.


.


.


.


"Kau sudah mau pergi?"


Tanya sang bartender kepada gadis berambut putih yang baru saja memasuki bar sepi itu dengan kotak senjata besarnya yang sudah berada di pundaknya lagi.


"Ya... Berapa lama lagi sampai benda itu tiba?"


"Kurang dari 20 menit, seharusnya kau masih sempat untuk keluar dari kota ini."


"Baiklah."


"Hey... Tunggu!"


Bartender itu segera menghentikan gadis berambut putih yang langsung berbalik keluar tanpa mengucapkan perpisahan.


"Berhubung kau ingin keluar, aku punya pekerjaan terakhir untukmu."


"...?"


"Aku yakin kau akan sangat puas dengan bayarannya."


Bartender itu melemparkan beberapa foto sebuah benda aneh.


"...Mari kita bicara."