
Sang gadis berambut putih membawa tubuh pemuda yang terluka parah ke dalam sebuah gang kecil yang terlihat aman dan membaringkannya di sana.
*Uhuk* *Uhuk*
Pemuda itu mulai memuntahkan darah dari mulutnya..
"Ternyata memang tidak bisa melindungi sepenuhnya. Atau lukanya yang mempercepat infeksi?"
Gumam gadis itu.
"Lebih baik pikirkan nanti, yang terpenting adalah aku harus menyembuhkan lukanya terlebih dahulu."
Gadis itu melepas topeng hitam yang dikenakan oleh pemuda itu agar memberinya ruang untuk bernafas.
Mulut pria itu sudah tertutupi sepenuhnya oleh darah yang mengalir.
Gadis itu memeriksa luka pemuda itu. Perutnya sudah menembus dari depan sampai belakang. Organ dalamnya sudah hancur berantakan. Area sekitar lukanya juga mulai membusuk akibat kekuatan monster yang menyerangnya.
*Huff*
Sang gadis menghela napas yang panjang.
"Kapan terakhir kali aku menggunakan ini...?"
Tanyanya pada dirinya sendiri dengan bergumam.
"Aku ingat. Semenjak... Aku memutuskan untuk berhenti menjadi monster."
Gadis itu meletakkan tangannya di atas luka pemuda itu. Kulit tangannya berubah menjadi sisik hitam dengan corak garis acak berwarna biru tua.
"Kumohon..."
"Jangan mati..."
.
.
.
.
"...?"
Aku mencoba membuka mataku dan terbangun di sebuah gang sempit. Langit sudah gelap, sepertinya hari sudah malam.
"Ugghh..."
Kepalaku terasa sedikit pusing. Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.
Kalau tidak salah kami sedang bertarung. Lalu...
"...!"
Aku dengan segera melihat perutku yang mana seingatku sudah berlubang tapi aku tidak menemukan bekas luka apapun di sana.
"...?"
Aku menemukan gadis berambut putih duduk di sebelahku dengan darah berlumuran menutupi seluruh tubuhnya.
Dia masih bernafas.
"(Syukurlah kalau dia masih hidup.)"
Ucapku dalam hati.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Aku mulai memikirkan apa yang sebenarnya kulakukan selama ini. Aku membunuh manusia tapi tidak merasa bersalah sedikitpun. Aku bertarung dengan ribuan monster... Tapi untuk apa? Aku bahkan hampir membuat diriku terbunuh.
Benar... Aku sudah gila. Aku bilang dulu aku punya kehidupan yang normal tapi sebenarnya dari awal aku sudah tidak normal.
"..."
Aku mengatakan hal aneh lagi. Apa ini efek dari perubahan ditubuhku? Atau akibat putus cinta? Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku.
Aku merindukan keluargaku.
"Semua akan baik-baik saja."
Gadis itu tiba-tiba membuka matanya.
"Kau kuat, dan kau cukup gila hingga bisa bertahan melewati semua hal ini."
"Entahlah... Mendengar kata-kata itu keluar dari seseorang yang memegang senjatanya saat tertidur... Aku tidak yakin."
"Ini hanya kebiasaanku. Untuk berjaga-jaga bila ada hal buruk yang terjadi."
"Benarkah...? Karena hal pertama yang kau lakukan saat melihatku adalah menarik pedangmu."
"..."
Aku melihat tangan gadis itu yang sudah menarik sedikit gagang pedangnya hingga memperlihatkan bilah tajamnya.
"Aku terinfeksi kan?"
Aku mengetahui bahwa monster yang kami lawan sebelumnya merupakan kelas B. Ia memiliki kemampuan untuk menyebarkan virus melalui cakaran dan gigitannya dan mengubah orang yang ia lukai menjadi monster lainnya.
"Kau sudah bersiap untuk membunuhku kalau aku sampai berubah kan?"
"...Itu hanya kemungkinan terburuknya."
"...Apa menurutmu membunuh itu normal?"
Aku bertanya karena terpikirkan oleh hal-hal yang berada di kepalaku.
Gadis itu mengarahkan pandangannya ke arahku untuk sementara sebelum akhirmya mengalihkan pandangannya.
"Sebenarnya ada satu tingkatan lagi yang lebih kuat dari kelas S."
"..."
"Entitas ini disebut sebagai... Ascendant..."
"..."
"Prisma hitam ini akan memilih satu kandidat, manusia yang kurang beruntung. Sebagai wadah untuk meletakkan kehendaknya. Ia akan merusak pikirannya dan memasukkan pemikiran aneh ke dalamnya hingga akhirnya orang itu menjadi gila. Selanjutnya mereka akan mentransfer semua energi Anomaly ke dalam wadah ini dan membuatnya menjadi entitas yang cukup untuk menghancurkan dunia."
"Jadi menurutmu..."
"..."
"Begitu rupanya."
"Sejak kau mengatakan ingin pergi ke pusat outbreak aku sudah menduga kalau mungkin kau adalah kandidat yang mereka pilih."
"Kenapa kau tidak membunuhku?"
"Tapi kau sudah membunuh ribuan monster itu."
"Itu... Berbeda. Awalnya aku juga tidak bisa membunuh mereka... Tapi seperti yang pernah aku bilang, membunuh adalah cara terbaik untuk membantu mereka."
Kurasa memang aku yang tidak normal. Kini semuanya sudah jelas, benda itu mencoba untuk memasukiku meskipun buktinya belum jelas. Atau mungkin memang sedari awal aku sudah begini? Semuanya menjadi kacau sekarang, aku sudah tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"Apa kau sudah merasa baikan? Jika iya maka kita harus segera berangkat."
"Kenapa kau sangat terburu-buru?"
"Semakin lama kita menunda, semakin banyak orang yang akan mati."
"Bukankah sistem pertahanan kota sudah diaktifkan?"
"Menurutmu tembok kecil itu sanggup menahan radiasi? Pelindung kota ini sudah hancur semenjak benda hitam itu memasuki tempat ini... Dan lagi mungkin kita masih bisa menyelamatkanmu dengan menonaktifkan benda itu."
"...Baiklah apa rencanamu?"
"Kita akan menggunakan ini..."
Gadis itu menunjukan kalungnya.
"Huh?"
"Penyebabnya masih belum diketahui, tapi ini pernah berhasil satu kali. Jika kita memberikan gelombang dengan frekuensi dan kekuatan yang sama dengan yang dikeluarkan oleh prisma hitam itu, kita dapat menonaktifkannya."
"Dan bagaimana caramu melakukan hal itu? Lagipula dari mana kau bisa tahu semua itu?"
"Aku tidak bisa... Tapi benda ini bisa."
Ucap gadis itu sembari memegang benda kecil yang tergelantung di kalungnya.
"Kau yakin benda sekecil itu dapat menaklukkan benda raksasa yang di sana?"
Tanyaku yang masih tidak yakin.
"Tentu saja tidak."
"..."
"Kita kehabisan pilihan, jadi ini adalah taruhan terakhir kita."
"Mau bagaimana lagi... Aku akan mengikutimu. Ngomong-ngomong... Apa yang terjadi dengan pertarungannya?"
"Oh.... Semua monster itu... mereka semua mati."
"Kau pasti bercanda... Kau mengalahkan mereka semua?"
"Kalau tidak, aku tidak akan berlumuran darah seperti ini."
"Tapi tetap saja."
"Jangan membayangkan yang berlebihan, aku tidak membunuh mereka dengan satu jentikan jari. Diperlukan kesabaran dan teknik yang tepat untuk mengalahkan makhluk-makhluk itu."
Gadis itu seketika berdiri dan pergi ke arah ujung gang.
"Kau mau ikut atau tidak?"
Tanyanya sambil menoleh ke belakang.
"Kuharap aku tidak mati lagi."
Ucapku sambil bangkit berdiri dan mengikutinya.
Hari sudah mulai pagi. Cahaya mentari pagi mulai menyinari jalanan kota yang dipenuhi dengan mayat dan darah monster.
"Wow... Kau benar-benar mengalahkan mereka semua."
Ucapku sambil melewati gunungan mayat yang tak terhitung jumlahnya.
Sekarang tujuanku sudah jelas. Kalau benar hidupku akan berakhir menjadi wadah yang membawa kehancuran... Paling tidak aku akan bertarung hingga akhir. Demi diriku sendiri, dan keluargaku yang tinggal di kota ini.
"Aku baru ingat."
"Hmm?"
"Kita sudah berjalan sejauh ini tapi masih belum mengenal nama satu sama lain."
"Kalau dipikir benar juga. Kau bisa memanggilku Shiro. Bagaimana denganmu?"
"Edward... Edward Ryker."
"Ryker... Boleh aku memanggilmu Ray?"
"Tidak masalah, Kurasa...? Belum pernah ada yang memanggilku dengan sebutan itu."
"Kalau begitu aku akan menjadi yang pertama."
"Ngomong-ngomong aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan luka di tubuhku."
"Tidak usah terlalu dipikirkan, kau akan mengetahuinya cepat atau lambat."
"Mencurigakan."
Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju pusat bencana.
............................
Kehancuran...
Seorang anak kecil berdiri di tengah kawah kehancuran. Dulunya tempat itu adalah kota yang sangat megah tapi kini semua peradabannya sudah menyatu dengan tanah.
Sebuah prisma hitam raksasa memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan, begitu mencekam namun begitu hangat dan nyaman.
Di belakang bocah itu terdapat ribuan monster dengan aura yang sangat kuat, berbaris dan berlutut di hadapannya.
"Dimana... Aku?"
"Selamat datang..."
Sebuah suara menggema datang entah dari mana, berbicara dengan bocah itu.
"S-siapa kau...!"
"Siapa kami... Tidaklah penting. Kami di sini... Untuk memberikanmu hadiah, terimalah... Dan biarkan kehancuran memenuhi dunia."
"..."
Seorang bocah laki-laki terbangun dari tidurnya. Keringat dingin bercucuran dari tubuhnya, nafasnya terengah-engah akibat kepanikan.
"Mimpi lainnya? Kenapa mimpi buruk terus berdatangan?"
Tanya bocah itu kepada dirinya sendiri.
Ia beranjak dari tempat tidurnya tanpa mengetahui bahwa sesuatu sedang mengintainya, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsanya.