
*Dorrr*
Aku meleset lagi...
"Tenang saja kau akan terbiasa."
Ucap gadis itu dengan santai sambil menebas ratusan monster yang menyerbu ke arahnya. Sedangkan aku masih belum bisa membunuh satupun.
"Ucapanmu sama sekali tidak membantuku."
Ucapku sambil menembak sekali lagi yang tentu saja masih meleset.
"Fokuskan pandanganmu ke arah targetmu. Di pengelihatanmu akan muncul lingkaran dan tanda bantu. Itu menandakan arah bidikanmu."
Aku melihatnya. Benda yang muncul di layar yang ada di topengku.
Aku mengikuti lingkaran yang ada di layar dan mengarahkannya ke monster di depanku tapi karena monster itu berlari kencang ke arahku membuatku panik dan tanganku menjadi gemetar. Akti tidak bisa menarik pelatuknya.
Sial.
*Sringgg*
Tepat sebelum monster itu membunuhku ia sudah terbelah menjadi dua. Lagi-lagi gadis itu menyelamatkanku.
"Kau baik-baik saja?"
Tanyanya dengan lembut.
"Apa semua mercenary sekuat ini?"
"Tidak juga, kebanyakan dari mereka tidak bisa mengalahkan monster kelas D sendirian."
"Mendengar ceritamu sebelumnya, hal semacam itu sudah sangat mengesankan di mataku. Aku penasaran dari mana datangnya kekuatan kalian."
"Meh... Mereka sama saja seperti manusia biasa tapi khusus untuk yang bekerja sebagai pemburu monster, mereka memiliki berbagai macam cara. Ada yang memodifikasi tubuh mereka dan menggantinya dengan suku cadang mekanik, ada yang memasukan bahan kimia ke dalam tubuh mereka sebagai doping dan ada juga yang sedari awal memiliki fisik di atas manusia normal."
"Bagaimana denganmu... Kau termasuk yang mana?"
"Siapa yang tahu~"
Ucapnya sambil mengibaskan tangannya.
.
.
.
.
Kami berjalan semakin dalam menuju pusat outbreak keadaan menjadi semakin aneh. Aku bisa melihat langit yang terdistorsi, puing bangunan yang melayang di udara serta tebing yang tercipta akibat gempa.
"Monster-monster ini... Mereka dulunya manusia kan? Aku sama sekali tidak melihat adanya mayat manusia di sepanjang jalan."
"...Kau benar. Mereka adalah yang paling dekat dengan pusat radiasi, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain menerima nasib."
"Apakah itu berarti kita akan membunuh manusia?"
"Apa kau ragu?"
"Entahlah... Aku merasa tidak yakin."
"Mereka sudah bermutasi, mereka bukan manusia lagi, tapi..."
Gadis itu berhenti berbicara. Ia merenungkan perkataannya seperti memikirkan sesuatu di masa lalu.
"Memang beberapa dari mereka memiliki ingatan mereka sebagai manusia, terutama yang memiliki kecerdasan."
"Maksudmu..."
"Maksudku mereka tidak mati jadi kalau kau bilang kita membunuh manusia... Itu benar."
"..."
"Tapi membunuh mereka justru adalah satu-satunya cara untuk membebaskan mereka dari penyiksaan. Jadi jangan ragu untuk menembak."
"...Akan kuusahakan."
Walau agak ragu tapi aku harus tetap melakukannya. Kalau tidak aku yang akan dibunuh oleh mereka.
.
.
.
.
*Dorrr*
"Kau semakin baik dalam menembak."
"Terimakasih atas pujiannya."
"Seandainya kau bisa lebih cepat lagi."
"Paling tidak biarkan aku menikmati pujianku."
Kami sudah menghabisi ratusan monster dalam perjalanan kami. Prisma hitam yang ada di kejauhan sudah semakin terlihat.
*Dummm*
Seketika tanah bergetar, tanah di depan kami menjulang ke atas seakan-akan sesuatu meledak dari bawah dan benda itu bergerak ke arah kami.
Gadis itu dengan segera mendorongku ke samping sebelum aku dapat bereaksi.
Tubuhku terjatuh ke samping jalanan dengan keras sedangkan gadis itu mendarat di atas tubuhku yang terbaring di tanah.
"Monster lainnya?"
Tanyaku dengan waspada.
"Bukan... Semakin kita ke tengah semakin tidak stabil wilayahnya. Kita harus berhati-hati, lingkungan di sekitar bisa berubah kapan saja."
Gadis itu berdiri dan menawarkan tangannya untuk membantuku.
"Hmm?"
*Dummm*
Getaran lainnya datang dan tanah di depan kembali terangkat.
"Perubahan lainnya?"
Tanyaku lagi kepada gadis itu.
"Tidak yang ini monster sungguhan. Kelas D, bersiaplah!"
Seketika muncul seekor monster dari dalam tanah.
"Tikus?"
"Cacing?"
Sesosok monster yang berwujud seperti tikus raksasa merangkak keluar dari dalam tanah. Makhluk itu memiliki banyak tentacle aneh yang bermunculan di tubuhnya, lehernya dan sebagian tubuhnya dililit oleh onggokan daging, mirip seperti tubuh cacing.
Tanpa menunggu sedikitpun si gadis berambut putih langsung menerjang ke arah monster raksasa itu.
"Hey tunggu!"
Monster itu menggerakan tentaclenya ke arah gadis berambut putih, berusaha untuk menusuknya.
"Tch."
Aku menembakan senjataku dan berhasil mengenai semua tentaclenya. Benda-benda menjijikan itu seketika meledak saat bersentuhan dengan peluru yang aku tembakan.
Pedang milik gadis itu mulai mengeluarkan cahaya ungunya. Ia berlari lalu melompat ke arah monster itu, berusaha menebas kepalanya.
*Clinggg*
Tikus raksasa itu menahan pedang yang mengarah ke kepalanya menggunakan cakarnya yang panjang.
Aura petir ungu yang berada di pedang itu terlepas, menimbulkan efek dorongan yang menghempaskan area sekitarnya.
*Dummm*
Detik berikutnya sang tikus raksasa itu memukul sang gadis dan membuatnya terlempar hingga menjebol dinding bangunan tempatnya mendarat.
"Oh sial."
*Kkkyyyaaaakkkkk*
Tikus itu mengeluarkan suara aneh seperti menjerit lalu merangkak dengan kecepatan yang luar biasa ke arahku.
Aku berusaha membidiknya tapi sebelum aku sempat menarik pelatuk senjataku, monster itu berhenti dan mencakar tanah di depannya. Mengakibatkan gelombang serangan yang mengarah tepat ke arahku.
Dengan cepat aku berguling ke samping untuk menghindarinya. Serangan itu membelah tanah dan semua benda yang dilewatinya.
Saat aku kembali sadar, makhluk itu sudah tepat berada di depanku dan mulai mengayunkan cakar tajamnya ke arahku.
"Gawat!"
*Sringgg*
"..."
Bercak darah berceceran dimana-mana. Salah satu tangan tikus itu terpotong tepat sebelum mengenaiku. Jejak petir masih bisa terlihat di udara.
"Tepat waktu."
Ucap sang gadis berambut putih.
*Kkkyyyyaaaaakkkkkk*
Tikus itu menjerit lagi tapi teriakannya kali ini berbeda dari sebelumnya.
"...?"
Jutaan tikus kecil yang tak terhitung muncul dari balik sela-sela saluran air dan gang kecil di antara bangunan.
Mereka tampak sangat kelaparan dan yang lebih buruk lagi adalah mereka mengarah menuju kami berdua.
"Pegangan."
Ucap sang gadis berambut putih tiba-tiba.
Ia menarik bajuku dan melemparku ke tempat yang tidak dikerumuni oleh tikus. Lagi-lagi tubuhku mendarat dengan keras, sepertinya kali ini aku menghancurkan punggungku.
Gadis itu menjatuhkan sebuah bom di tempatnya berdiri. Lalu melompat jauh di luar batas manusia dan mendarat di sebelahku.
"Kurasa kau harus belajar memperlakukan orang lebih baik."
Ucapku yang masih terbaring sambil menahan rasa sakit.
*Duarrr*
Bom itu meledak dan menyisakan jejak api yang membakar seluruh tikus-tikus itu.
Sang gadis mengangkat pedangnya ke atas dan mengalirinya dengan aliran listrik ungu.
Ia melepaskan tebasannya menuju ke arah monster tikus yang berusaha melarikan diri.
Gelombang petir membelah udara dan mengenai monster itu, menimbulkan luka yang cukup parah baginya tapi masih belum cukup untuk membunuhnya.
"Incar kepalanya."
Ucap gadis itu kepadaku secara tiba-tiba.
Setelah mengatakan hal itu ia langsung berlari menuju ke arah sang tikus raksasa.
Mengikuti perintahnya aku berusaha membidik kepala monster itu di balik kepulan asap yang tercipta akibat serangan sebelumnya. Untungnya topeng ini dapat membantuku melihat dari balik kepulan asap.
*Dorrr*
Aku menembakan satu peluru tepat menuju ke kepalanya. Tapi reflek luar biasa tikus itu membuatnya berhasil menghindar dengan memiringkan kepalanya.
"Tch sialan."
*Bukkk*
Sebelum tikus itu sempat melakukan hal lain, gadis berambut putih menghantam kepalanya dengan menggunakan kotak senjata raksasanya.
Aku menembak kepala tikus yang terkejut itu dan meledakannya menjadi gumpalan darah seketika.
Sang gadis berambut putih melompat ke atas monster itu dan menancapkan pedangnya ke tempat dimana kepala monster itu sebelumnya berada.
Ia menarik pedangnya, mengeluarkan seekor larva seukuran bayi dari dalam leher makhluk itu.
Gadis itu melemparkan makhluk itu ke tanah dan menebasnya dengan segera.
"Cacing?"
"Kurasa bukan."
"Yang penting masalahnya sudah selesai."
Ucap gadis itu dengan lega.
Ia membersihkan bercak darah yang menempel di pedangnya dan memasukannya kembali ke dalam sarungnya.
"Kau benar. Apa-apaan makhluk itu, kuat sekali!"
"Itu masih belum ada apa-apanya."
"Aku sudah muak membayangkan semua tingkatan kelas ini."
Ucapku dengan lesu.
"Jangan begitu. Kalau bukan karenamu mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk membunuhnya."
"Terimakasih atas pujiannya... Itupun kalau kau benar-benar memujiku."
"Ayolah, aku serius. Kau semakin baik dalam menggunakan senjatamu. Dan gerakan kita sudah semakin sinkron."
"Benarkah?"
"Tidak juga, aku hanya ingin membuatmu semangat karena perjalanan kita masih jauh."
"Tsk, sudah kuduga."
Gadis itu hanya membalasku dengan senyum kecilnya.
.
.
.
.
*Dummm*
"Sialan... mereka tidak ada habis-habisnya!"
Kami salah langkah, mereka menjebak kami. Ratusan monster yang tak terhitung jumlahnya menyerbu ke arah kami tanpa henti.
Dan yang lebih buruk lagi...
*Rrroooaaaaarrrrrr*
Satu diantara mereka mengeluarkan aura yang sangat mencekam. Wujudnya seperti manusia, tubuhnya dilapisi dengan zirah yang terbuat dari daging busuk yang mengeras.
*Uhuk* *Uhuk*
Kita sudah semakin dekat tapi tubuhku sudah semakin tidak kuat. Semua tekanan dari monster-monster ini mempercepat efek dari radiasinya.
"Di belakangmu... Awas!!!"
Teriakan gadis berambut putih kembali menyadarkanku dari pikiranku.
"Eh...?"
Dan saat aku menyadarinya...
********
Darah bermuncratan keluar dari perutku. Di belakangku sudah berdiri monster berzirah itu dengan cakar nya yang sudah menembus tubuhku.
Aku mulai kehilangan kesadaran, dan sebelum kehilangan sepenuhnya aku melihat ekspresi panik di wajah sang gadis berambut putih.
"..."