New Sky

New Sky
Prologue 1



Tahun XXXX, Bulan XX tanggal XX


Forggotten City.


Kota ini benar-benar terlihat seperti kota mati. Banyak bangunan yang telah runtuh dan tak layak pakai. Di luar tak terlihat satu orang pun yang berkeliaran.


Tapi walau kota ini sudah ditandai sebagai zona terlarang, masih ada beberapa orang yang nekat memasuki tempat ini dengan alasan yang berbeda-beda.


Malam itu, di sebuah apartemen bobrok yang gelap akibat tak ada pencahayaan.


Di salah satu sudut kamar terdengar suara dari TV rusak yang masih menyala.


***Bzzzttt**... Bzzzttt*....


Breaking news...


Keadaan di sebagian kota semakin tak terkendali. Warga di beberapa kota berikut...


Bzzzttt...


Bzzzttt...


Di wajibkan untuk segera mengungsi ke... Bzzzttt dan mengikuti instruksi dari pemerintahan setem... Bzzzttt... Kami menghim... Bzzzttt... warga untuk tetap tenang dan tidak panik agar... Bzzttt...


Kami menghimbau seluruh warga untuk tidak keluar rumah sampai waktu yang telah ditentukan.


Bzzzzzztttt.....


Sinyal hilang!


Kamar gelap itu dipenuhi dengan berbagai barang yang dapat menunjang hidup seseorang. Sebuah katana, berbagai senjata api dan amunisinya yang diletakkan sembarangan juga berada di kamar gelap itu.


Beberapa koran lama tampak berserakan di lantai.


Para ilmuan menemukan jutaan objek asing memasuki tata surya dengan kecepatan tinggi!


Potret objek misterius yang berhasil diambil oleh para ilmuan!


Benda asing mengorbit bumi!!! Warga dapat melihatnya di langit dengan mata telanjang!


Objek aneh raksasa mendarat untuk pertama kalinya di bumi!!!


Manusia melakukan kontak pertama dengan alien?


Berbagai kata di koran-koran itu juga dilingkari dengan tinta merah, kata seperti, objek aneh, prisma hitam, alien, wabah, penyakit dan monster dilingkari.


Kata seperti, kericuhan, pemberontakan, protes, hukuman, kiamat, kehancuran, kelaparan, kematian dan masih banyak lagi, semua dilingkari.


Di salah satu sudut kamar itu terdapat kamar mandi yang lampunya masih menyala.


Seorang gadis dengan rambut berwarna putih menatap ke arah cermin yang sudah retak.


Ia mengenakan gaun pendek berwarna putih dan sebuah jaket musim dingin.


Tubuhnya dipenuhi dengan luka dan bercak darah. Ia mensterilkan luka-luka di tubuhnya dengan menyiram alkohol di seluruh lukanya.


Rasa sakit yang luar biasa dengan cepat menyusul setelahnya tapi wajah gadis itu seolah-olah tak memedulikannya.


Ia segera membalut seluruh lukanya dengan perban lalu meminum sebuah pil pereda rasa sakit dan beberapa vitamin lainnya.


Ia sempat terdiam untuk beberapa saat, ia menatapi cerminan dirinya dengan mata biru terangnya.


Huff...


Setelah menghela napas panjang ia mematikan lampu kamar mandi dan pergi ke luar.


Gadis itu mengambil pedangnya, mencabutnya dari sarungnya lalu mulai mengasah pedang itu untuk menjaga ketajamannya.


Tanpa sadar lama kelamaan gadis itu mulai menutup matanya. Ia begitu lelah, ia bahkan tak ingat kapan terakhir tidur.


Kini ruangan gelap itu benar-benar hening. Tidak ada satupun suara yang terdengar kecuali napas sang gadis. Tapi semua orang tau hanya dari mendengar napasnya saja.


Gadis itu tidak sepenuhnya tertidur, ia siap mengayunkan pedangnya kapan saja jika mendengar sesuatu bergerak.


"...?!"


Gadis itu membuka matanya, ia mendengar sesuatu di luar, ia bergegas pergi ke arah jendela tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Ia mengintip ke bawah dari balik tirai yang menutupi jendela. Beberapa orang yang mengenakan pelindung dari ujung kepala hingga ujung kaki dan bersenjatakan lengkap berkumpul di depan apartemen tua itu.


Di seragam dan kendaraan mereka tertera sebuah kata yang bertuliskan S.A.V.I.O.R.


"Kami telah sampai di posisi target, segera memasuki area. Ganti."


Ucap pimpinan mereka kepada rekannya yang berada di balik alat komunikasi.


Seorang dari mereka bergegas menuju ke depan pintu apartemen, diikuti oleh rekan-rekannya.


Ia meletakan sebuah alat di pintu itu lalu berdiri di sebelahnya. Orang itu menekan sebuah tombol, dalam satu kedipan pintu langsung terbuka seketika tanpa suara sedikitpun.


Mereka langsung bergegas memasuki pintu apartemen yang sudah rusak itu dengan hati-hati.


Gadis yang sedari tadi mengintip mereka bergegas mengemasi barang-barangnya.


Ia memasukkan seluruh obat-obatan ke dalam sebuah tas dan membawanya bersamanya, memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya dan mengikatnya di pinggangnya, mengambil sebuah pistol dengan desain yang tak biasa lalu meletakkannya juga di pinggangnya.


Dan yang terakhir, ia mengambil sebuah kotak senjata yang hampir setinggi tubuhnya lalu bergegas pergi dari tempat itu.


Sebuah topeng hitam yang muncul entah dari mana menutupi seluruh wajah gadis itu.


Para pendatang itu mulai memasuki setiap ruangan dan memeriksanya satu demi satu tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun sampai akhirnya mereka sampai di ruangan dimana gadis itu sebelumnya berada.


"Aman."


Mereka mulai memeriksa tempat itu dan menemukan benda seperti kaleng makanan bekas dan beberapa botol air mineral yang sudah habis digeletakkan begitu saja.


"Target telah meninggalkan lokasi, kami menemukan beberapa jejaknya disini."


"Menunggu instruksi selanjutnya. Ganti."


Seseorang dari mereka menggunakan alat komunikasinya untuk memberitahu rekannya yang berada di tempat lain.


*Bruk*


Tiba-tiba semua pintu di seluruh ruangan tertutup dan membuat semua orang terkejut.


"Pintunya terkunci."


"Coba dobrak."


"Tunggu!"


Orang itu mendekati pintu dan mengamatinya dengan perlahan. Ia menemukan sebuah kabel tipis tertempel di gagang pintu. Ia menyusuri kabel itu dan menemukan sebuah benda kotak kecil yang menempel di tembok.


"Oh sial-"


*Dummm*


Benda kecil yang di letakkan di seluruh ruangan apartemen meledak dan seketika memenuhi seluruh apartemen dengan asap.


"Bravo 1 apa yang terjadi? Bravo 1 jawab!"


Seseorang memanggil mereka dari balik alat komunikasi.


Tapi semua orang yang terkunci di dalam seluruh ruangan apartemen tidak menjawab.


"Sialan."


Umpat seorang yang sedang berjaga di lorong.


Ia menaikkan senjatanya, bersiap untuk menembak siapapun yang menyerangnya di dalam kepulan asap ini.


Di ujung lorong ia melihat seorang gadis dengan rambut putih melewatinya.


"Kontak dengan musuh!"


Sayangnya sebelum ia sempat menembak, gadis itu sudah menembaknya duluan menggunakan pistolnya dan melubangi kepala orang itu.


Gadis itu menghampiri pria itu untuk mencuri senjatanya, tapi ia melihat lubang di kepala pria itu mulai tertutup perlahan.


Gadis itu sudah mengetahui hal ini akan terjadi, ia bergegas pergi ke pintu depan tempat orang-orang itu datang. Ia ingin menghabisi semua musuhnya terlebih dahulu baru kabur setelahnya. Ia ingin menunjukan kepada mereka, dengan siapa mereka berhadapan.


Gadis itu memburu sisa orang yang tidak terkena ledakan, walau orang-orang itu dapat meregenerasi tubuhnya tapi mereka membutuhkan waktu yang sangat lama agar dapat pulih sepenuhnya.


Tim yang menunggu di depan sudah bersiap menembak siapapun yang keluar dari dalam bangunan.


Setelah beberapa suara tembakan, teriakan dan ledakan yang terdengar dari dalam gedung apartemen, akhirnya gadis itu muncul dari pintu depan dengan santainya.


Ia menyeret tubuh seseorang lalu melemparkannya ke depan.


"C-001 jatuhkan senjatamu dan angkat tanganmu ke atas! Menyerahlah, kau sudah dikepung!"


Salah seorang dari mereka memberikan peringatan terakhir kepada gadis itu dengan sebuah pengeras suara.


Tanpa berbicara sedikitpun, gadis itu menjatuhkan senjatanya dan berjalan perlahan ke depan.


"Tangan di atas...!"


Perintah orang itu lagi.


Gadis itu tetap berjalan ke arahnya.


"Aku bilang tangan di atas...!!!"


Gadis itu menghentikan langkahnya, ia mengangkat tangannya perlahan tapi ia mengubah arahnya seketika menjadi memegang sarung pedangnya.


"Sialan! Tembaakkk.....!!!!!"


Seluruh tim yang mengepungnya menembakkan seluruh amunisinya ke arah gadis itu.


Gadis itu melangkahkan satu kakinya untuk mengambil posisi, ia menarik napas dan seketika seluruh peluru yang melayang ke arahnya berhenti di udara seakan-akan waktu telah berhenti.


Ia menarik keluar pedangnya dari dalam sarungnya. Raungan petir yang berasal dari pedang itu seketika menghempaskan seluruh orang yang menghalangi jalannya.


Sambaran itu membuat seluruh kendaraan dan tanah yang di lewatinya hancur terbakar.


Gadis itu dengan santainya berjalan melewati seluruh kehancuran itu.


Salah seorang yang masih hidup merangkak ke arahnya dan berusaha menggapai kakinya.


"Kau...di...ta...han...."


*Dorrr*


Tanpa menahan sedikitpun, ia menembak kepala orang itu dengan satu peluru. Lalu kembali berjalan pergi seakan-akan tak ada masalah.


Malam itu hujan tidak turun sehingga api membakar habis seluruh apartemen.


Keributan yang terjadi di kota sunyi itu menarik perhatian para penghuninya. Hampir semua orang mengetahui kehebohan yang terjadi malam itu, tapi tak hanya manusia saja yang tertarik.


Puluhan bahkan ratusan monster aneh berlarian menuju lokasi keributan itu untuk mencari mangsa baru. Para prajurit yang telah pulih langsung berhadapan dengan mereka, kali ini malam benar-benar terasa panjang bagi sebagian orang.


Tapi orang yang dicari oleh para pendatang itu, dari seluruh mata yang melihat kejadian pada malam hari itu, tak ada satupun yang melihat kemana ia pergi.