New Sky

New Sky
Chapter 7



Akhirnya kami sudah sampai di tempat tujuan kami. Tempat ini sama persis dengan yang ada di mimpiku.


Sebuah kawah raksasa membentang luas di depan kami berdua. Reruntuhan bangunan dan tanah melayang memenuhi langit yang terdistorsi.


Prisma hitam raksasa melayang di tengah kawah dengan corak garis mengeluarkan cahaya aneh, cahaya itu seperti suatu energi yang bocor dari dalam prisma itu, membentuk tentacle yang menggeliat di angkasa.


Satu-satunya hal yang berbeda adalah tempat ini begitu sepi. Namun suasananya tetap mencekam.


"..."


Shiro menatap serius ke arah prisma hitam itu. Jiwanya seperti meninggalkan tubuhnya, entah apa yang ada di dalam pikirannya.


"Tempat ini lebih sepi dari dugaanku."


Ucapku memecah keheningan.


"Kau benar... Keheningan ini membuat telingaku merasa tidak nyaman."


"Jadi... Bagaimana sekarang?"


"Mungkin memang terlihat sepi, tapi aku yakin hanya dalam beberapa langkah sesuatu yang di luar nalar akan menghampiri kita. Aku akan maju duluan, kuserahkan bagian belakang padamu."


"T-tunggu aku jadi benar-benar gugup sekarang, a-apa yang harus kulakukan? Kita belum membahas satupun rencana."


"Hmm... Kau benar. Hanya satu masalah kita."


Ucapnya kembali menatap ke benda raksasa itu.


"Kita tidak bisa menggapainya di atas langit. Kita harus membuatnya turun."


"Dan bagaimana cara kita melakukannya?"


"Dengan menggunakan ini."


Ucapnya sembari meletakkan kotak raksasa yang selalu ia bawa ke tanah.


Meskipun benda itu tampak besar dan sangat menonjol di pengelihatan tapi aku hampir saja melupakan kehadiran benda itu.


"Sebenarnya apa guna benda itu? Aku tidak pernah melihatmu menggunakannya selain untuk memukul monster tikus yang waktu itu."


"Cacing."


"Lebih tepatnya larva."


"Benda ini terlalu berbahaya jika digunakan untuk hal kecil seperti itu."


"Hal kecil... Jadi situasi yang mempertaruhkan hidup dan mati kita selama ini adalah hal kecil?"


"Kalau dibandingkan dengan yang ada di depan kita saat ini... Tentu saja iya. Benda ini kuseret berbulan-bulan demi momen ini."


"Baiklah... Jadi bagaimana rencanamu?"


"Senjata ini memiliki jangkauan yang sangat jauh, dari jarak seperti ini saja seharusnya sudah cukup untuk menggapai prisma hitam itu tapi... Benda hitam itu memiliki sistem pertahanannya juga, ia akan kebal terhadap serangan apapun yang berada di luar jarak seratus meter dari sekitarnya."


"Tunggu... Jika serangannya bisa mengenai benda itu... Bukankah berarti tidak dihitung di luar jangkauan?"


"Kau memang benar, hal ini tidak masuk akal tapi... Kurasa seratus meter adalah jarak yang dibutuhkan agar prisma hitam itu dapat mengaktifkan sistem perlindungannya. Jadi bukan masalah jarak atau kena tidaknya serangan, melainkan waktu."


"Begitu rupanya, sepertinya aku paham. Jika kita cukup dekat dengan benda itu maka dia tidak akan sempat bereaksi untuk mengaktifkan pelindungnya."


"Tepat sekali. Jika serangan benda ini dapat mengenainya, dipastikan benda itu akan kehilangan kekuatannya untuk melayang di langit."


"Aku masih bertanya-tanya dari mana kau mendapatkan semua informasi ini."


"Selama aku menpersiapkan benda ini, aku ingin kau melindungiku."


"A-apa aku bisa melakukan itu? Bagaimana kalau ada monster kelas S yang kau bilang."


"Kita sudah melewati banyak pertarungan dan mengalahkan musuh yang tak terhitung jumlahnya. Aku percaya kau dapat memahami pemikiranku tanpa harus diucapkan melalui kata-kata. Insting seorang petarung... Atau partner?"


"Asal kau tahu yang melakukan sembilan puluh persen lebih pekerjaan adalah dirimu sendiri. Aku tidak melakukan banyak hal."


"Dalam pertarungan, semua orang mengisi perannya masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Asal kau melakukan yang terbaik, itu sudah lebih dari cukup."


"Meskipun kau bicara begitu tapi tetap saja..."


"Ray..."


"..."


Suara gadis itu masih datar sama seperti biasanya. Tapi kali ini... Perasaan yang ada dibaliknya berbeda.


"Aku percaya padamu."


"..."


Gadis itu hanya terdiam.


"Aku tidak akan membiarkan salah satu dari kita mati."


"..."


Mata birunya yang mengkilau dipenuhi dengan tekad yang membara di dalam dirinya. Hal itu membuatku kagum sekaligus tenang, tapi entah mengapa tekad itu serasa dipenuhi dengan kesedihan.


"Kau siap?"


Tanya gadis itu kepadaku untuk yang terakhir kali.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, tidak ada hal lain lagi yang harus kuucapkan.


"Ayo kita mulai."


Pertempuran di mulai. Aku dan Shiro berjalan perlahan mendekati prisma raksasa itu melewati kawah raksasa yang tercipta dari puing-puing bangunan.


"..."


Shiro memberikan aba-aba tangan dan membuatku berhenti segera setelah melihatnya.


*Dumm*


Sebuah guncangan yang luar biasa datang tiba-tiba. Ini lebih kuat dari yang biasanya kami temui, mungkin karena kami berada di dekat titik pusat.


Seketika prisma hitam itu mengeluarkan sebuah gelombang yang tak terlihat dan menghempaskan puing-puing bangunan yang menutupi kawah ke seluruh area di sekitarnya.


Dan tentu saja... Mengarah ke tempat kami berdiri.


"Sialan"


Aku merasakan guncangan tanah dan setelahnya tubuhku serasa melayang dari tanah. Aku tidak bisa melihat apa-apa karena sebelumnya aku menutup mataku agar tidak terkena serpihan kecil yang bisa saja berbahaya.


"Kau tidak apa-apa?"


Aku membuka mataku dan melihat gadis berambut putih di depanku sedang berusaha menahan sebuah pecahan tembok besar dengan tangannya agar tidak terjatuh mengenai kami.


"Dari pada aku... Kau sendiri bagaimana?!"


"Aman terkendali."


Ucapnya sembari berusaha mendorong benda raksasa itu dengan satu tangannya.


"Sekarang aku sangat yakin kalau kau bukan manusia."


"...?"


"...Suara apa itu?"


Sebuah suara aneh menggema di seluruh tempat.


"Teriakan putus asa... Seperti hyena yang memanggil kawanannya."


"Dia memanggil bantuan?"


Getaran lainnya datang tapi kali ini bukan dari tengah, melainkan dari pinggiran kawah.


Monster yang tak terhitung jumlahnya membanjiri kawah dan berlari menuju ke arah kami berdua.


"Aku tidak yakin bisa melindungimu jika lawan kita sebanyak ini."


Ucapku membicarakan rencana yang sebelumnya kami buat.


"Aku tahu. Lagi pula benda ini juga perlu mengisi tenaganya."


Shiro membuka kotak senjata raksasanya. Mengeluarkan sebuah senjata raksasa yang tampak seperti... Meriam? Atau pedang?


Benda itu memiliki bilah raksasa yang tajam di salah satu sisinya dan di sisi lain terdapat mekanisme yang menurutku tampak seperti sebuah meriam karena benda itu memiliki lubang di ujungnya.


Shiro mengayunkan pedangnya ke arah kerumunan monster yang membanjiri kami. Sebuah gelombang yang tak kasat mata membelah mereka semua dalam sekejap mata.


Sekarang aku paham mengapa ia tak pernah menggunakan senjata itu. Aku melihat benda itu dapat membelah benda puluhan meter di depannya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Bahkan puing bangunan yang tampak sangat kuat dapat terbelah dengan mudahnya. Bekas dari serangan benda itu juga dapat dilihat dari sisi kawah yang terkena efeknya.


"H-hebat sekali..."


"Tak ada waktu untuk terkesan. Lindungi dirimu sendiri dan jangan sampai terkena seranganku."


Shiro berusaha sebisa mungkin untuk memancing gelombang monster itu ke arahnya.


Ia sudah menjaga jaraknya dariku tapi meski begitu serangannya seringkali hampir mengenaiku.


.


.


.


.


*Huff... Huff...*


Medan tempur dipenuhi dengan genangan darah para monster. Mayat-mayat bertebaran dimana-mana, sebagian besar sudah tidak berbentuk sama sekali.


Semua musuh sudah dikalahkan. Hanya tersisa beberapa monster yang masih hidup, mungkin jumlahnya di bawah seratus.


"Kau bisa mengurus sisanya?"


Tanya Shiro yang sudah berlumuran dengan darah, sama seperti waktu itu.


"Serahkan padaku."


Gadis itu berjalan mendekati prisma hitam raksasa. Ia mengambil posisi dan mengarahkan senjata raksasanya menuju targetnya. Sedangkan aku menghabisi musuh yang tersisa dengan cukup mudah karena jarak mereka yang tidak terlalu dekat.


"Hanya perasaanku... Atau memang langitnya semakin gelap?"


Tanyaku sembari menatap ke langit.


"...?"


Gadis berambut putih itu seketika juga melihat ke atas.


Warna langit perlahan berubah menjadi merah darah dan dalam waktu yang singkat cahaya matahari sudah tidak terlihat lagi.


Langit merah darah dan kawah yang menjadi gelap-gulita, hanya prisma hitam raksasa di depan kami yang memancarkan cahaya yang begitu terang. Mungkin lebih terang dibandingkan dengan saat kami pertama kali datang. Cahayanya... Terasa sangat suci dan hangat.


"Ray!!"


"...?!"


Panggilan gadis itu kembali menyadarkanku.


Tepat di depan kami, dari balik sela-sela puing bangunan dan retakan tanah muncul bayang-bayang hitam yang merangkak ke atas permukaan.


"B-benda apa itu...?!"


"Ray... Kuserahkan padamu..."


"...Aku mengerti."


Aku akan melindunginya sembari ia mengisi daya senjatanya. Apapun yang terjadi aku tidak boleh membiarkan makhluk-makhluk itu mendekatinya.


Bayangan-bayangan itu berubah menjadi sosok dengan wujud seperti manusia. Tubuh mereka berwarna hitam pekat, bahkan wajah mereka tak tampak sedikitpun.


Senjata raksasa milik Shiro mulai mengeluarkan cahaya kebiruan. Atau lebih tepatnya benda itu menarik aura kebiruan ke dalamnya. Benda itu memunculkan garis-garis kebiruan, mekanismenya bergerak dan mengubah bentuk senjata itu sendiri.


Senjata itu tampaknya mengambil energi yang tersebar dari sisa-sisa monster yang telah dibunuh.


[System: Energy Output 10%]


Makhluk hitam itu mulai berlarian ke arah kami berdua. Gerakan mereka benar-benar sangat cepat, membuatku kesulitan untuk membidik dan menembak tepat sasaran.


[System: Energy Output 55%]


*Dorrr*


Salah satu tembakanku mengenai kepala salah satu dari mereka tapi seranganku tampaknya tidak memberikan dampak yang cukup parah.


"Tch sialan... Makhluk apa ini sebenarnya? Shiro... Berapa lama lagi waktu yang tersisa?"


"Masih sangat lama, bertahanlah sebentar."


[System: Energy Output 78%]


Aku yang mulai gelisah kembali melancarkan serangan ke makhluk hitam yang sama. Setelah tembakan ke lima mengenainya, makhluk itu seketika menghilang menjadi abu.


Tidak butuh waktu lama sampai mereka akhirnya berhasil meraih kami. Lengan mereka berubah menjadi senjata tajam yang siap untuk menebas musuhnya.


Salah satu dari mereka tiba-tiba melompat ke arahku. Aku menghindari serangannya, makhluk itu membelah tempatku berpijak sebelumnya dengan mudah.


*Dorrr*


Satu tembakan dan makhluk itu pun musnah.


"...!"


Monster lainnya mulai mendekat, kali ini menuju ke arah Shiro.


"Gawat!"


Tepat sebelum makhluk itu berhasil memotong leher gadis itu, tubuh makhluk itu seketika berubah menjadi abu.


"Nyaris saja..."


Ucapku dengan lega.


Tunggu... Kalau aku sampai gagal, apakah gadis itu benar-benar akan mati? Ia sama sekali tidak bergerak meskipun kepalanya nyaris terpotong.


[System: Energy Output 115%]


"O-oi... Bukankah energinya sudah lebih dari cukup?"


"Belum... Masih butuh lebih banyak."


"Kau gila! Mereka hampir membunuhmu."


"Kau terlalu tegang... Tenangkan dirimu. Panik akan membuat performamu berkurang."


"Bagaimana mungkin aku tidak panik setelah mengetahui kau benar-benar tidak akan bergerak setelah benda itu hampir memenggalmu! Dan lagi sebenarnya berapa banyak energi yang kau butuhkan?!"


"Musuh... Fokus!"


"Tch sialan... Mereka tidak ada habisnya."


Aku sudah hampir mencapai batas. Makhluk ini terus bermunculan dari bawah dan semakin lama semakin banyak hingga akhirnya menciptakan rombongan musuh yang menyerbu bersamaan ke arah kami.


[System: Energy Output 200%]


"Shiro... Sekarang atau tidak sama sekali!"


"Belum cukup..."


"Kita berdua akan mati!!!"


Teriakku sembari terus menembaki musuh yang berdatangan.


"Pedangku..."


"Ha...?"


"Tarik pedangku."


"T-tapi... Aku tidak bisa menggunakannya."


"Lakukan saja!"


"Terserah apa katamu."


Aku mencabut pedang hitam miliknya, seketika sambaran petir yang tak terkendali memusnahkan seluruh musuh yang menuju ke arah kami.


"W-wow... Benda ini luar biasa. T-tidak maksudku sangat berbahaya."


Sambarannya menjadi semakin tidak terkendali dan bahkan hampir mengenaiku sendiri.


"Tancapkan benda itu ke tanah di depanku!"


"B-baiklah."


Dengan hati-hati aku berjalan perlahan sembari memegang senjata liar ini. Musuh yang terus menerus menerjang kami dihabisi seketika oleh sambaran petir mematikan dari pedang hitam ini.


Cahaya ungu dari pedang yang kubawa semakin lama bersinar-semakin terang. Rasanya seperti sesuatu akan meledak dari dalamnya.


"Hyaaaa.....!!!!!"


Entah mengapa aku berteriak saat mencoba menancapkan beda ini. Mungkin aku terlalu terbawa suasana mengingat benda ini tak hanya menghabisi musuh tapi juga mencoba menghabisiku.


*Duaarrrr*


Tanah di sekeliling kami meledak, tepat saat aku menancapkan benda ini, menyisakan tempat kami berdiri sebagai satu-satunya yang tidak terkena dampak.


"G-gila..."


[System: Energy Output 300%]


"Pas sekali..."


Gadis itu mengarahkan meriam raksasanya ke langit, tepat ke arah prisma hitam itu.


"Selune's Elegy... Aktifkan!"


Senjata itu mengeluarkan aura dan cahaya kebiruan yang terasa sangat menenangkan.


Entah mengapa pendengaranku terasa sangat sunyi dan hampa tepat saat senjata itu di tembakan.


Cahaya yang indah dan megah melesat ke atas langit, menembus langit merah dan mengenai prisma hitam raksasa.


Tanah rasanya bergetar tapi suasana tetap terasa sangat sunyi.


Tembakan cahaya itu mulai memecah dirinya dan berjatuhan mengenai makhluk hitam yang tersisa.


"..."


Selesai... Cahaya itu menghilang, begitu juga dengan langit merah yang menutupi langit.


"A-apakah kita berhasil?"


"..."


Benda itu... Prisma hitam itu... Perlahan jatuh ke bawah menuju bagian tengah kawah.


*Dummm*


Hantaman yang sangat keras mengguncang tanah dan membuat area di sekitarnya hancur.


Debu dan puing bangunan terlempar ke arah kami seperti sebelumnya.


"Ini dia..."


Tepat setelah kabut asap yang tercipta akibat hantaman menghilang...


Di depan kami terdapat prisma hitam raksasa yang sudah tertancap di tanah, benda itu masih mengeluarkan cahaya anehnya meskipun tidak sebanyak sebelumnya. Tubuhnya juga tidak menu jukan tanda-tanda mengalami kerusakan.


Tapi tidak hanya benda itu, bayangan hitam yang sebelumnya juga sudah siap untuk mempertahankannya. Kini jumlah mereka sangat banyak hingga dapat membentuk pasukan.


"Babak kedua... Kontes terakhir, dimulai!"