
Aku menyusuri jalan kecil di sekitar apartemenku. Jalan itu benar-benar sepi. Beberapa bangunan yang ku lewati telah runtuh dan sebagian mengalami kerusakan parah.
Perasaan tidak enak memenuhi seluruh tubuhku, teriakan dan jeritan orang-orang yang panik terdengar di kejauhan tapi jalanan ini terasa begitu sepi.
*Prank*
"...!"
Aku terkejut setengah mati setelah mendengar suara seperti besi yang terjatuh. Sepertinya datang dari tempat sampah di dekat gang kecil.
Aku merasakan firasat buruk. Sebuah bayangan melesat dari dalam tempat itu. Jantungku berdegup kencang membayangkan benda yang akan muncul dari balik gang itu.
*Wuff*
"Huh... Hanya seekor anjing kecil."
*Grrr*
"Hmm?"
Entah mengapa anjing itu menggeram ke arahku seakan-akan merasakan tanda bahaya.
Aku melihat ke belakangku dan betapa terkejutnya diriku. Seorang pria berdiri di belakangku dan aku tidak menyadarinya sama sekali.
Pandangannya menatap kosong ke arahku. Bola matanya berwarna putih polos, ia sudah tidak memiliki pupil mata seperti orang buta.
Wajahnya sangat pucat, saraf tubuhnya menonjol keluar dan hawa dingin terasa di sekitarnya.
Aku berjalan mundur perlahan seiringan dengan orang itu yang terus mendekat.
"P-permisi... Ada yg bisa kubantu?"
Tanyaku kepada orang itu.
"..."
*Rrrrrraaaaaaaakkkkhhhhhhh*
Mulut orang itu terbuka lebar hingga tampak seperti tersobek dari rahangnya. Gigi tajam yang tak terhitung jumlahnya tumbuh dari dalam mulutnya. Darah hitam kental mulai berceceran keluar dari dalam tubuhnya.
Aku yang masih terkejut dengan pemandangan itu tak bisa bergerak sedikitpun. Kakiku gemetar, aku berusaha berlari namun kakiku tidak mau digerakkan.
*Gukk*
Sebelum makhluk itu berhasil mendekat, anjing kecil yang kutemui sebelumnya sudah melompat menggigit leher makhluk itu dan membuatnya terjatuh.
Makhluk itu meletakan jari-jarinya di punggung anjing kecil itu dan merobek tubuhnya dalam satu tarikan.
Tapi yang membuatku terkejut adalah sebuah gumpalan aneh muncul dari dalam luka anjing itu dan tubuhnya semakin lama semakin membesar hingga membentuk seekor monster anjing raksasa.
Melihat kesempatan ini aku berusaha menggerakan kakiku dengan paksa meski harus merangkak dan menyeretnya untuk melarikan diri selagi monster raksasa itu sedang melahap mangsanya.
*Ggrrrrrrr*
"Sialan."
Aku tidak berani melihat kebelakang tapi aku sudah tahu bahwa makhluk itu sekarang mengincarku.
Kakiku menjadi lemas dan seketika tubuhku terjatuh. Aku bisa mendengar tolakan kakinya dan langkah kakinya yang melesat ke arahku.
*Sringgg*
"...!"
Darah berceceran dimana-mana, dan melumuri hampir seluruh tubuhku. Dengan hati-hati aku memberanikan diri untuk melihat ke belakang.
"..."
Seorang gadis berambut putih berdiri di depanku, memegang sebuah pedang hitam berlumuran darah monster yang sudah terbelah dua. Gadis itu membawa sebuah kotak putih setinggi tubuhnya.
"(Mercenary?)"
Tanyaku dalam hati.
"Kau baik-baik saja?"
Tanya gadis itu padaku.
"Y-ya... Kurasa."
Aku masih belum bisa memproses hal yang baru saja terjadi sepenuhnya dan suaraku masih terbata-bata akibat semua kejadian ini.
"Apa kau melihat warga lain yang masih selamat?"
Tanyanya lagi kepadaku.
"T-tidak."
"..."
Gadis itu menganggukan kepalanya dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
"Aku akan membawamu ke tempat aman."
"A-anu... Kau adalah?"
"Kita kehabisan waktu. Ayo cepat!"
Gadis itu berlari dan menarik lenganku.
"O-oh... B-baiklah."
.
.
.
.
Kami sampai di jalanan besar yang di penuhi dengan rombongan orang-orang yang berbaris rapih.
Pasukan militer kota membantu evakuasi warga. Mereka mengarahkan para korban selamat menuju tempat yang aman. Pasukan bersenjata dan mecha raksasa sudah diterjunkan untuk menjaga lajur evakuasi.
Di kejauhan muncul tembok raksasa yang perlahan semakin tinggi. Aku lupa bilang satu hal, umumnya kota-kota besar dilengkapi dengan sistem perlindungan untuk mengatasi hal-hal semacam ini.
Tembok raksasa itu digunakan untuk menutup distrik ini dan mencegah monster yang berkeliaran menyebar ke distrik lain. Para warga akan di arahkan menuju ke jalan masuk yang telah disediakan.
"Kita sudah sampai... Ikuti saja arahan petugas keamanan dan kau akan baik-baik saja."
"Terimakasih."
Ucapku.
Gadis itu menganggukan kepalanya.
"Maaf kau harus melihat hal yang kurang mengenakan seperti tadi. Aku harus segera pergi, sampai jumpa."
"H-hey tunggu!"
Gadis itu langsung berlari melawan arah para rombongan orang yang berbaris dan menghilang di antara kerumunan.
"Ini...?"
Aku mengambil sebuah benda yang terjatuh di bawah.
Walaupun aku tahu ini berbahaya. Tapi tubuhku bergerak sendiri mengikuti arah gadis itu pergi. Aku akan mengembalikan barang ini, lagi pula aku masih belum tahu siapa namanya.
.
.
.
.
"Perhatian... Seluruh warga diharapkan untuk segera mengungsi. Jangan panik dan ikuti arahan petugas. Perhatian..."
Siaran pemberitahuan dan sirine bahaya terus menerus berbunyi tanpa henti di seluruh kota.
Aku berlari di jalanan kota yang sangat kacau. Bangunan-bangunan mulai runtuh. Orang-orang berbondong-bondong menyelamatkan diri, membuat jalanan utama penuh dengan kumpulan manusia yang panik. Mereka saling mendorong dan menginjak orang-orang yang terjatuh.
Karena tidak sabar, beberapa dari mereka juga melawan petugas yang mencoba membantu mereka.
Aku tidak bisa menghitung berapa tubuh yang tergeletak di jalanan dan anak-anak yang mencari orang tua mereka.
"Mamaaa... Kau dimana...?!"
"Minggir! Cepat minggir! Aku mau lewat!"
"Aku tidak bisa bergerak... Tolong aku."
"Tolong jaga anakku, ibu sayang kalian."
"Keluarkan aku dari sini... Aku tidak mau mati!!!"
"Tuan tolong berbaris dengan rapih!"
"Aaaarrrrggghhh.... Aku... Aku berdarah!"
"Heyyy...!!! Ada yang terluka, cepat panggil bantuan!"
"D-dia digigit... Dia sudah terinfeksi, bunuh dia sebelum berubah menjadi monster."
Apa-apaan... Itu hanya luka gores. Orang-orang ini benar-benar sudah kehilangan akalnya.
Keadaan benar-benar kacau. Banyak sekali orang yang mendorongku karena aku melawan arah. Kupingku sakit sekali karena mendengar jeritan dan keluhan orang-orang ini.
Aku mendekati seorang petugas bersenjata lengkap dengan baju pelindung yang menutupi seluruh tubuhnya.
"P-permisi tuan... Apa kau melihat seorang gadis dengan rambut putih? Tingginya sekitar segini. Oh dan dia membawa sebuah kotak besar bersamanya."
"Ohh... Maksudmu mercenary itu?"
"(Jadi benar dia adalah seorang mercenary.)"
"Dia pergi ke arah sana. Tampaknya sangat terburu-buru. Aku tidak pernah bekerja sama dengan orang-orang seperti itu, tapi tetap saja pergi ke pusat outbreak sangat berbahaya. Aku sudah memperingatkannya tapi dia tidak mau dengar."
"Terimakasih banyak atas bantuanmu."
"Kau juga sebaiknya pergi nak... Area di depan mustahil untuk dilewati, tingkat radiasinya sangat tinggi. Kalau kau tidak langsung mati saat memasukinya kemungkinan lainnya tubuhmu akan langsung bermutasi menjadi monster."
"Mereka datang...!!!"
Teriak seorang petugas lainnya.
*Kkyyyaaakkkkkkk*
Makhluk-makhluk itu merangkak keluar dari sela-sela bangunan dengan jeritan-jeritannya yang memekakkan telinga.
Mereka berlari ke arah kerumunan dan membuat para warga yang mengungsi semakin panik.
"Kita akan mati!!!"
Teriak histeris seorang warga.
Para petugas keamanan dengan segera menghalau monster-monster itu dengan melemparkan puluhan bom ke arah mereka dan menembakinya.
"Aku harus segera mencarinya."
Memasuki sebuah gang sempit, aku menggunakan jalan pintas untuk menghindari kerumunan monster itu. Semoga saja aku tidak bertemu dengan mereka lagi.
.
.
.
.
"Kurasa ini tempatnya."
Aku telah sampai di pusat outbreak. Tempat ini tampak begitu sepi, tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, penuh dengan monster kelas atas. Tempat ini lebih tampak seperti kota mati tanpa penghuni.
Aku bisa merasakan udara yang semakin berat dan hawa yang semakin mencekam.
*Uhuk-uhuk*
"Ghh... Sialan."
Tampaknya tubuhku sudah mulai bereaksi dengan radiasinya. Kepalaku mulai pusing dan pengelihatanku mulai rabun.
Di perjalanan aku menemukan ratusan bangkai monster dan manusia serta jejak pertempuran yang sengit.
Sepertinya ini adalah ulah gadis itu. Aku berada di jalan yang tepat.
"Apa sih yang sebenarnya aku lakukan?"
Ucapku memandang ke kalung yang sebelumnya ku pungut.
Kenapa aku melakukan hal sejauh ini? Karena sudah sampai di sini, aku juga sudah tidak punya pilihan lain kecuali melanjutkannya.
*Roooarrrrrrr*
Monster lainnya? Jumlahnya belasan dan sedang mengarah ke arahku. Benar-benar sial.
Oh... Kalau kalian penasaran dengan bentuk mereka, kebanyakan dari mereka hanyalah gumpalan daging yang memiliki kaki, tangan, cakar, tentacle, mulut, sisik dan anggota tubuh lainnya dengan wujud yang absurd. Gunakan saja imajinasi kalian sekreatif mungkin.
*Dummm*
Tepat sebelum mereka berhasil mendekat, tanah yang mereka pijak meledak dan membuat sebagian tubuh mereka hancur.
Organ-organ tubuh mereka berceceran tapi makhluk-makhluk itu tak kunjung mati. Asap keluar dari tubuh mereka dan mulai meregenerasi anggota tubuhnya yang rusak.
Makhluk-makhluk itu saling berkumpul dan menyatu satu sama lain, menciptakan seekor monster berukuran raksasa.
Dia memiliki wujud yang aneh, bahkan panjang kedua lengannya tidak sama. Kepalanya dipenuhi dengan mata dari berbagai ukuran. Tubuhnya yang tidak sempurna terlihat kurus kering dan menampakan tulang-belulang dari mayat makhluk-makhluk yang membentuk tubuhnya.
*Rrrroooaaaarrrrr*
Aku tidak tahu apakah monster itu melihatku atau tidak. Dari jarak tempatku berdiri, makhluk itu seharusnya dapat melihatku tapi entah mengapa pandangannya seperti berusaha mencari sesuatu yang lain.
*Dumm*
Sebuah sambaran petir muncul tepat di atas monster itu dan membelah tubuhnya menjadi dua bagian dari atas sampai bawah.
Dari balik asap debu tampak seorang gadis berambut putih dengan topeng hitam di wajahnya memegang sebilah pedang yang dialiri listrik berwarna ungu menyala.
"...?"