New Sky

New Sky
Prologue 7



*Huff Huff Huff*


Anak kecil itu berlari di tengah padang gurun, melarikan diri dari sang tentara bayaran putih.


Tapi satu hal yang ia tidak ketahui, yaitu bahwa semua yang ia lakukan sia-sia.


*Bukkk*


Walaupun anak kecil itu sudah berlari begitu jauh, gadis berambut putih berhasil mengejarnya dalam waktu singkat dan langsung membantingkan kepala anak itu ke dalam pasir.


"Mmmm..... Lepaskan aku!!!"


Teriak anak itu sambil meronta-ronta.


"Aku tidak ingin terlihat seperti orang jahat jadi tolong jangan melawan. Kita tidak aman di sini, para anomaly itu bisa muncul kapan saja."


"Satu-satunya hal yang berbahaya di sini adalah kau!"


Anak itu melepaskan tudungnya yang ditarik oleh gadis berambut putih. Seorang gadis cilik dengan rambut berwarna hitam berlari menjauhi gadis berambut putih.


*Dummm*


"Waahhhhh apa yang terjadi?!"


Tanah di bawah gadis kecil itu berguncang dan seketika monster batu raksasa muncul dari dalam tanah dan mencengkram gadis kecil itu.


"Kyaaaa.... Lepaskan aku!"


Gadis itu menjerti ketakutan.


*Rrrooaaaarrrrr*


Teriakan mengerikan dari monster itu membuat sang gadis kecil terdiam seketika.


Cengkraman monster itu semakin kuat dan membuat gadis kecil itu berteriak kesakitan.


*Dumm*


Gadis berambut putih menghantam kaki monster raksasa itu dengan pukulannya, membuatnya hancur berkeping-keping.


*Graaaarrrr*


Monster itu jatuh berlutut dan mengerang kesakitan.


Monster itu mengarahkan pandangannya ke gadis berambut putih, ia berusaha menggapai gadis itu dengan tangannya yang satu lagi.


Karena tubuhnya yang besar membuat gerakannya begitu lambat. Gadis berambut putih dapat menghindarinya dengan mudah, ia naik ke atas telapak tangan monster itu dan berlari menuju kepalanya.


*Dummm*


Satu pukulan tepat mengenai wajah monster batu itu dan menghancurkan kepalanya.


Seketika tubuh monster raksasa itu hancur dan berubah menjadi pecahan batu besar dan kecil.


Gadis berambut putih yang telah mendarat dengan sempurna menangkap gadis kecil yang terjatuh dari atas.


Ia meletakkan anak itu perlahan ke bawah, tubuhnya masih tampak gemetar.


"Sudah kubilang di sini berbahaya."


"...B-bagaimana kau bisa m-menghancurkan m-monster raksasa itu d-dengan begitu mudah...?"


"Walaupun tubuhnya sangat besar, makhluk itu tidak lebih dari monster class-D."


"...?"


Gadis kecil itu tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan gadis berambut putih itu.


"Aku tahu kau bingung dan takut... Tapi tolong bekerjasamalah sampai kita menuju kota di zona aman berikutnya. Kau mengerti?"


Gadis kecil di depannya hanya mengangguk dalam diam.


"Bagus, ayo kita pergi."


Gadis berambut putih dan gadis kecil itu melanjutkan perjalanan mereka mengarungi padang pasir.


.......................................


5 jam setelah insiden di kota yang terlupakan.


"Semuanya telah menghilang..."


Seorang pria paruh baya bersama dengan rombongan pasukan bersenjata mendatangi tempat yang dulunya merupakan reruntuhan sebuah kota, tapi kini reruntuhan itu telah menjadi rata dengan tanah.


"Jadi ini adalah kekuatan dari The Storm..."


"Professor... Kami menemukannya!"


Seorang prajurit berteriak memanggil pria paruh baya itu.


"Tubuhnya masih selamat akibat tertutup oleh puing bangunan."


"Tampaknya kekuatan regenerasinya sudah mencapai batas. Segera amankan tubuhnya!"


"Siap Pak!"


Para prajurit itu mengangkut tubuh seorang wanita yang hampir tidak berbentuk dan memasukkannya ke dalam sebuah tabung berisi cairan hijau.


"Ck... Dasar tidak berguna, sudah kubilang jangan berbuat seenaknya."


Pria itu mengumpat sendiri melampiaskan kekesalannya.


"C-001 dan The Storm... Huff... Benar-benar sial sekali. Aku harus segera membereskan semua kekacauan ini sebelum Dokter mengetahuinya."


*Bzzzzzttt*


"Huh?"


Alat komunikasi yang dibawa oleh pria itu berbunyi dan seketika menampilkan sebuah layar hologram.


Pria itu merasakan tatapan membunuh dari balik layar hologram itu.


"D-dokter...?!!!"


"Kita perlu bicara... Professor Braun."


....................................


-EL GHERIYA


-Sebuah kota di pinggir padang pasir tanpa nama.


-Status (Zona Aman)


.


.


.


.


Gadis berambut putih dan gadis kecil yang mengikutinya telah sampai di sebuah kota kecil di pinggiran padang gurun.


Kota itu dibagi menjadi 3 wilayah. Daerah utama yang terletak di tengah kota merupakan pusat pemerintahan kota tersebut, tempat di mana gedung-gedung tinggi dan teknologi modern berada. Daerah kedua berada di luar daerah utama, tempat di mana perumahan warga menengah ke atas berada. Dan yang terakhir adalah daerah ke tiga, tempat di mana orang-orang kumuh dan tidak dianggap tinggal. Daerah ini terletak di luar tembok besar yang melindungi kota dari ancaman zona berbahaya.


"Kita akan beristirahat di sini untuk sementara waktu!"


Kedua gadis itu bersembunyi di salah satu bangunan kosong yang sudah tak terpakai di zona terluar kota.


"Kau punya sesuatu untuk dikatakan?"


Tanya gadis berambut putih kepada gadis kecil di depannya.


"...Apa kau akan membunuhku?"


"Tentu saja tidak."


"Apa karena aku adalah paket yang penting?"


"...?"


"Apa aku benar-benar harus kembali ke tempat itu?"


Gadis berambut putih tak tahu harus menjawab apa, ia juga mengerti apa yang dirasakan oleh gadis kecil itu.


"Aku mendengar dari orang itu kalau kau juga sama sepertiku. Kau seharusnya mengerti apa yang akan mereka lakukan kan?"


"Aku tahu, tapi aku harus tetap membawamu ke sana."


"...Kurasa tidak peduli dari mana asalnya, kalian semua para mercenary sama saja, hanya uang yang ada dalam pikiran kalian."


"Berbicara seperti itu hanya akan membuatmu tampak seperti orang yang meminta belas kasihan orang lain."


"..."


Pembicaraan lebih lanjut sudah tidak ada gunanya. Itu yang dipikirkan oleh gadis berambut putih, mereka berdua masih belum memiliki hubungan yang kuat untuk saling mempercayai satu sama lain.


"Huff... Ikut aku."


"Kemana?"


Jawab gadis kecil itu dengan singkat dan sedikit kesal.


"Kita perlu mengisi persediaan, perjalanan kita masih jauh. Kali ini... Jangan coba-coba melarikan diri lagi."


"Aku mengerti."


Gunan gadis itu dengan ketus.


.


.


.


.


Mereka berdua berjalan di tengah daerah kumuh, mereka berdua melihat ke arah tembok tinggi yang memisahkan kota.


Terlihat begitu megah, tembok yang menghalau padang pasir dan monster tapi juga sebagai lambang dari rasisme dan ketidakadilan. Orang-orang di luar tembok berjuang mati-matian untuk hidup, sementara mereka yang di dalam menikmati hidupnya tanpa rasa bersalah sama sekali.


Tiap harinya di depan gerbang utama tembok raksasa itu berkumpul ribuan orang-orang dari luar tembok yang marah.


Awalnya mereka hanya meminta keadilan, tapi mereka dibalas dengan ribuan peluru yang menghujani mereka dan membunuh mereka.


Hal mengerikan itu terus terjadi setiap harinya saat kerumunan orang sudah terlalu banyak.


Mayat bertebaran di mana-mana dan tidak ada satupun orang di dalam tembok yang peduli.


Gadis berambut putih dan si gadis kecil memasuki sebuah kedai bar yang cukup ramai.


Mereka berdua duduk di tempat yang tidak mencolok agar tidak menarik perhatian yang tidak diinginkan.


Seorang pelayan mendatangi mereka untuk menanyakan pesanannya.


"Pesan apapun yang kau mau."


Ucap gadis berambut putih.


Gadis kecil itu pun menuruti perintahnya.


"Kau tidak pesan?"


Tanya gadis kecil kepadanya.


"Aku hanya perlu makan sehari sekali, dan itu saat malam hari."


Gadis kecil itupun membiarkannya dan langsung menyantap makanan yang datang dengan rakus seperti orang yang belum makan berhari-hari lamanya.


"Kau tunggu di sini, aku punya urusan yang harus dilakukan. Aku akan tetap mengawasimu jadi jangan coba lakukan hal yang aneh."


Gadis berambut putih pergi meninggalkan gadis kecil itu dan mendatangi sang penjaga kedai.


"Kau tidak tampak seperti orang sini. Apa kau seorang pengembara?"


Penjaga kedai itu langsung bertanya kepada gadis berambut putih yang baru saja duduk di depannya.


"Bukan, aku ingin membeli beberapa informasi darimu."


"Hmm menarik, apa yang kau tawarkan?"


Gadis berambut putih itu hanya menunjukan nominal angka di ponselnya. Ekspresi sang penjaga kedai tampak terkejut, ia pun langsung menyetujui kesepakatannya.


"Baiklah, apa yang mau kau ketahui?"


"Seberapa banyak yang kau tahu tentang padang pasir?"


"Heh... Aku tinggal seumur hidup di hamparan pasir, tidak ada orang yang lebih mengenal mereka daripadaku."


"Apa yang kau ketahui tentang koordinat ini?"


Gadis berambut putih menyodorkan secarik kertas kecil dengan koordinat angka di atasnya.


"Heh...heheheh... Menarik sekali... Seorang gadis muda yang datang entah dari mana menanyakan daerah tak berpenghuni di pinggiran Death Valley.


"Apakah begitu namanya sekarang? Aku sudah lama tidak melihat dunia luar. Aku ingin tahu rute tercepat dan teraman menuju tempat itu, waktu yang dibutuhkan dan kemungkinan bahaya yang mengancam."


"Heh... Kau punya penawaran maka aku akan memberikan yang kau butuhkan."


Setelah berbincang cukup lama dengan penjaga kedai, gadis berambut putih kembali ke tempat duduk si gadis kecil dan mengajaknya untuk segera pergi setelah membayar makanannya.


"Kemana lagi kita setelah ini?"


Tanya sang gadis kecil kepada gadis berambut putih.


"Mengisi pasokan persediaan."


Mereka berdua pergi ke pusat perbelanjaan di tempat itu. Sebuah pasar kumuh yang cukup ramai dipenuhi orang berlalu-lalang.


"Perhatikan barangmu."


Ucap gadis berambut putih memperingati gadis kecil di sebelahnya.


.


.


.


.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka berhasil membeli beberapa pasokan persediaan untuk beberapa hari kedepan.


Bukan rencana perbelanjaan yang begitu menyenangkan, di sepanjang jalan banyak orang yang berusaha mencuri barang mereka dan berakhir dengan tubuh mereka yang terbanting oleh gadis berambut putih. Sebagian orang juga berkelahi di sepanjang jalan, entah itu pedagang dengan pedagang, pembeli dengan pembeli maupun pedagang dengan pembeli.


Pedagang yang menjual barang yang mereka inginkan juga bukan orang yang ramah, penuh dengan tipu muslihat dan kebohongan, untungnya gadis berambut putih sudah terbiasa berbicara dengan orang semacam itu.


"Hei kau... Serahkan semua uangmu!"


"...?"


Di perjalanan pulang mereka berdua melewati gang-gang sempit dan berpapasan dengan sekumpulan orang yang sedang mengancam wanita tua.


"A-aku tidak punya uang."


Ucap wanita tua itu dengan ketakutan.


"Jangan bohong dasar tua bangka! Aku melihat daganganmu cukup ramai hari ini kan?"


"Seingatku kau juga masih punya banyak hutang yang harus dibayar."


"Bu-bukankah kalian yang seenaknya memasang pajak kepada kami."


Jawab sang wanita tua dengan takut.


"Huh? Apa kau bilang?"


*Bukkk*


Pria itu meninju wajah wanita malang itu hingga ia jatuh tersungkur.


Pria itu mengangkat tangannya sekali lagi untuk memukul wanita itu tapi...


"Huh...?"


Pergelangan tangannya ditahan oleh gadis berambut putih.


"Kau tidak boleh menggunakan tanganmu untuk menindas orang lain."


Ucap gadis berambut putih dengan tenang.


"Memangnya apa urusannya denganmu dasar ******."


*Kretek*


"Aaaarrrrrgggghhhhhh..."


Seketika pergelangan tangan orang itu dipatahkan oleh gadis berambut putih.


"Kalau kau ingin melukai orang, kau harus siap untuk dilukai."


Ucap gadis berambut putih dengan nadanya yang dingin.


"Dasar bedebah sialan... Serang dia!!!"


Para berandalan itu menyerangnya bersamaan. Seorang yang paling depan melayangkan pukulannya ke kepala gadis itu. Gadis itu menunduk untuk menghindar dan memukul perut pria itu hingga ia memuntahkan isi perutnya. Tanpa menunggu lama, gadis berambut putih itu memukul dagu pria itu ke atas, membuatnya menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah.


Teman-temannya yang lain juga menyerangnya dan berakhir dengan babak belur.


"J-jangan bergerak."


Salah seorang berandalan yang tersisa menodongkan sebuah pistol ke arah gadis itu. Tangannya gemetar karena ketakutan.


"...Kau takut."


"A-apa?"


Dalam sekejap mata, gadis berambut putih menutup jarak di antara mereka dan menedang tangan orang itu hingga senjatanya terlempar ke atas.


Gadis itu menangkap senjata itu, mengokangnya dan langsung menembakkannya ke kaki pria itu.


"Aaarrggghhhh"


Pria itu jatuh berlutut dan gadis berambut putih segera menendang kepalanya hingga pria itu jatuh pingsan.


"Kau."


"Heekkk..."


Gadis itu menarik orang yang tampaknya adalah pemimpin berandalan itu.


Gadis itu memukuli wajahnya berkali-kali hingga babak belur.


"Kalau kalian berani melakukan hal seperti ini, maka selanjutnya leher kalian yang akan kupatahkan... Mengerti?"


"B-baik."


Gadis berambut putih melepasnya dan membiarkannya jatuh pingsan.


"Kau baik-baik saja?"


Tanya sang gadis berambut putih kepada wanita tua yang sudah ditenangkan oleh gadis kecil disampingnya.


"Ya... Terimakasih banyak, mereka benar-benar membuat hidup kami tidak tenang."


Ucap sang gadis kecil menawarkan bantuan.


"Terimakasih banyak anak muda."


Gadis kecil membantu wanita tua itu berdiri. Kaki wanita itu agak pincang sehingga sulit baginya untuk berjalan.


Gadis berambut putih membantu membawakan barangnya yang ternyata lebih berat dari kelihatannya. Wanita tua ini benar-benar hebat, pikirnya.


.


.


.


.


Mereka sampai di depan rumah kecil yang sudah bobrok.


"Nenekkk...!!!"


Seorang anak kecil keluar dari dalam dan segera memeluk wanita tua itu.


"Apa yang terjadi? Mengapa wajahmu terluka? Siapa mereka?"


"Tenang saja Banu... Nenek tidak apa-apa, mereka adalah orang yang menolongku. Terimakasih banyak kalian berdua... Bagaimana kalau kalian masuk ke dalam? Walau tidak banyak yang bisa kutawarkan."


"Tidak perlu, kami masih harus melanjutkan perjalanan kami."


"Begitu rupanya... Sekali lagi terimakasih banyak ya..."


Mereka berdua hanya mengangguk sebelum akhirnya pergi.


"Sampai jumpa kakak!"


Cucu dari nenek tersebut mengucapkan selamat jalan saat mereka sudah berbalik.


.


.


.


.


"Banyak yang terjadi hari ini."


Ucap gadis kecil memecah keheningan saat mereka berjalan pulang.


"Dari semua orang rakus yang kita temui hari ini, kupikir kau akan membunuh mereka semua."


"...Orang-orang akan melakukan apapun demi bertahan hidup. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka, apalagi di dunia yang sudah sekarat ini."


"..."


"Aku hanya membunuh monster bukan manusia, itu tugasku."


"Meskipun sifat manusia seperti monster?"


"...Aku percaya manusia dapat berubah."


"Hmph... Kurasa tidak semua hal tentangmu buruk... Nona mercenary."


Kedua gadis itu kembali ke tempat persembunyian mereka. Situasi di antara mereka sudah tidak setegang sebelumnya.


Meski begitu... Satu masalah selesai, masalah berikutnya akan datang menghampiri.


Sekumpulan pasukan berbadan besar dengan zirah dan perlengkapan lengkap memperhatikan seluruh gerak-gerik mereka semenjak mereka memasuki kota ini.


"..."


.


.


.


.


"Huff... Hari yang melelahkan."


Bisik gadis kecil pada dirinya sendiri.


"Beristirahatlah, besok kita harus berangkat pagi buta."


Ucap sang gadis berambut putih sembari merapikan persediaan mereka.


Hari sudah larut, mereka berdua beristirahat di dalam bangunan kosong yang telah ditinggalkan.


Sang gadis berambut putih meninggalkan dirinya tertidur dalam posisi bertarung, tangannya memegang gagang pedangnya, siap untuk menebas siapapun yang menyusup.


.


.


.


.


"...?"


Gadis berambut putih terbangun di tengah gelapnya malam. Suasana sangat sepi tapi ada satu hal yang membuatnya terbangun.


"..."


Gadis berambut putih melihat keadaan gadis kecil untuk memeriksa keamanannya.


"..."


Tidak ada yang aneh.


"...?"


Ia mendengar bunyi itu lagi, sesuatu sedang mengawasi mereka. Ia menyusuri lorong bangunan tua itu.


"..."


Ia berjalan perlahan agar langkahnya tidak bersuara, pedangnya sudah siap untuk dikeluarkan.


"...?"


Ia berhenti di tengah perjalanan, bersamaan dengan hilangnya suara yang hanya ia seorang yang bisa mendengarnya.


"...!!!"


*Duummmmm*


Sebuah cakar besar menembus dan menghacurkan tembok di sebelah gadis itu. Cakar itu mencengkram sang gadis dan melemparnya ke luar bangunan.


*Uhuk... Uhuk...*


"Ughh... Sialan!"


Dari balik kepulan asap, seorang prajurit berbadan besar dengan zirah hitam baru saja melemparnya keluar dengan cakar besarnya.


*Sringgg*


Gadis berambut putih menghunuskan pedangnya dan segera menerjang ke arah prajurit itu.


*Dummm*


Gadis berambut putih itu terlempar jauh ke samping. Saat ia mendapatkan kesadarannya kembali ia melihat seorang prajurit berbadan besar lainnya dengan zirah yang sama baru saja menembakkan sebuah senapan meriam ke arahnya.


Serangan itu tidak dapat melukai tubuhnya tapi serangan kejutnya memberikan efek pusing dan sakit kepala yang hebat.


Gadis berambut putih memasang kuda-kudanya, bersiap untuk melancarkan satu serangan cepat.


Hanya dalam satu langkah ia menutup jarak antara dirinya dan prajurit yang membawa senapan meriam.


Pedangnya yang mengeluarkan percikan listrik mengarah ke kepala prajurit itu tapi sebelum serangan itu berhasil mengenainya, seorang prajurit berbadan besar lainnya muncul di hadapan mereka. Sebuah perisai yang tercipta dari kumpulan energi menangkis serangan pedang itu dan menyerap kekuatan listriknya.


"Tch."


Gadis berambut putih menguatkan pijakan kakinya dan mengayunkan pukulan dari tangan satunya.


*Dummm*


Pukulan itu menghancurkan perisai energi itu dan menyebabkan hempasan yang kuat.


Pedang gadis berambut putih kembali mengalirkan energi listriknya. Ia menusukkan pedangnya tepat ke dada prajurit itu hingga menembus tubuhnya.


Energi listrik dari pedang itu mengalir di tubuh sang prajurit dan seketika tubuhnya jatuh tersungkur.


"Robot?"


*Dummm*


Prajurit yang memegang senapan meriam kembali menembakkan pelurunya dan membuat gadis itu terdorong lagi.


Serangan yang sama tidak akan berhasil dua kali, gadis berambut putih berhasil menjaga pijakannya di tanah sehingga ia tidak terlempar di udara lagi.


Prajurit yang menggunakan cakar sudah siap untuk menyerangnya dari belakang.


Ia mengalirkan energi ke dalam cakarnya dan mengayunkannya ke arah gadis itu.


Gadis itu mencoba memblokir serangan itu menggunakan tangannya.


Jauh dari perkiraannya, ternyata serangan itu mencabik kulit di tangannya dan membuatnya berdarah.


Tanpa berpikir panjang gadis berambut putih itu menyipratkan darah di lengannya ke arah kepala prajurit itu.


Bercak darah yang menutupi helmnya membuatnya tak dapat melihat dengan jelas.


Gadis berambut putih segera melompat ke atas dan menancapkan pedangnya tepat ke wajah prajurit itu.


"..."


Melihat prajurit yang membawa senapan telah mengisi ulang pelurunya, gadis berambut putih bersembunyi di belakang mayat prajurit yang membawa cakar dan menggunakannya sebagai perisai.


*Dummm*


Sesuai dugaannya, tubuh zirah robot-robot itu sangat kuat hingga dapat menahan tembakan peluru meriam itu tanpa terlempar jauh.


Gadis berambut putih melakukan gerakan yang sama seperti saat ia akan membunuh prajurit yang membawa senapan meriam di awal pertempuran.


Ia kembali menutup jarak mereka dengan satu langkah. Kali ini ia mengarahkan tebasannya pada senapannya dan membelahnya menjadi dua. Barulah setelah itu ia melompat dan menebas kepala prajurit itu.


*Huff... Huff..."


"Anak itu... Aku harus segera memeriksa keadaannya."


*Dummm*


Seorang prajurit berbadan besar lainnya melompat entah dari mana dan menghancurkan tanah tempat ia mendarat. Prajurit ini bersenjatakan sebuah flamethrower raksasa.


"Oh... Ayolah."


*Dummm*


Suara ledakan lainnya terdengar dari dalam bangunan tempat si anak kecil bersembunyi.


"Lepaskan aku....!!!!!


Sebuah teriakan di kejauhan yang tampaknya berasal dari si anak kecil terdengar hingga ketempat sang gadis berambut putih bertarung.


"Sial, aku terlalu banyak membuang waktu."


Prajurit yang ada di depan gadis berambut putih mengaktifkan flamethrowernya. Api yang lebih mirip seperti cairan lahar mulai membakar dan menghanguskan area yang ditutupinya.


Dinding api menutupi jarak gadis berambut putih dengan prajurit itu. Gadis berambut putih tak dapat mendekatinya dan tembok api itu semakin mendekat ke arahnya, membawanya semakin jauh ke belakang.


Energi listrik berwarna ungu menyelimuti pedang sang gadis, ia melepaskan satu tebasan energi yang sangat kuat hingga dapat membelah tanah yang dilewatinya.


Tebasan itu menembus kobaran api dan membelah tubuh sang prajurit menjadi dua.


Tabung yang menampung cairan pembakaran flamethrower di punggungnya hancur dan menimbulkan ledakan yang sangat besar hingga menghancurkan seluruh bangunan yang ada di area sekitar. Meninggalkan puing-puing hancur yang dipenuhi kobaran api.


"Aku harus segera mengejar mereka."


Gadis berambut putih kembali ke tempat persembunyian mereka yang kosong dan hancur berantakan.


Ia mengambil kotak senjata raksasanya dan menyalakan kendaraannya untuk mengejar para penculik itu.


.


.


.


.


Di sepanjang perjalanan, prajurit robot humanoid berbadan besar terus menerus menghalangi gadis berambut putih.


Setelah pengejaran yang berlangsung sekian lama, akhirnya gadis berambut putih dapat mengejar rombongan yang menculik anak itu.


Mereka berada tepat di pinggir tembok raksasa yang memisahkan kota luar dengan dalam.


"Nona mercenary... Tolong aku! Mmmmm....."


Prajurit yang membawa gadis itu segera membungkam mulutnya.


"Bertahanlah!"


Setelah menghadapi berbagai prajurit robot humanoid di sepanjang perjalanannya, gadis berambut putih telah memahami seluruh mekanisme persenjataan mereka yang begitu beragam.


*Dummm*


Ia menembak kepala prajurit yang menggunakan senapan dengan senjata yang ia curi dari mereka di pertarungan sebelumnya dalam perjalanan menuju kemari.


Baginya prajurit yang menggunakan senapan sangat mengganggu karena keuntungan mereka yang dapat menyerang dari jarak jauh, dan efek serangan mereka yang berbahaya. Maka dari itu ia mengincar mereka terlebih dahulu.


Tembakan itu seketika menghancurkan kepalanya. Dengan segera ia berlari menerjang ke arah kerumunan itu. Prajurit berperisai telah menyiapkan perisai energinya.


Gadis berambut putih memukul benda itu menggunakan kekuatan brutalnya dan seketika menghancurkannya dengan mudah. Tampaknya perisai milik prajurit yang menggunakan perisai dapat menahan dan menyerap serangan berbentuk energi namun tidak terlalu efektif untuk menghadapi serangan berbentuk fisik.


Untuk mengakhiri ini semua ia menggunakan pedangnya dan menyerang seluruh prajurit yang tersisa karena semua musuh yang ia anggap lebih berbahaya sudah dikalahkan.


Gerakan serangan para prajurit itu terasa sangat kuat tapi juga sangat lamban. Meski begitu mereka dapat menutupinya dengan koordinasi yang luar biasa.


Hal ini membuat gadis berambut putih membutuhkan waktu yang lebih lama dari perkiraan.


*Sringgg*


Musuh terakhir telah dikalahkan. Ia terlalu fokus dengan pertarungan sehingga melupakan prajurit yang membawa anak kecil itu.


"Mmmmm...."


Mereka sudah berada di bawah tembok. Jauh di atas sana sudah terdapat prajurit lainnya yang menjemput mereka. Sebuah tali diturunkan untuk mengangkut mereka, mesin yang akan menarik tali itu juga telah disiapkan.


Gadis berambut putih mengambil kuda-kuda untuk melepaskan tebasan energi ke arah orang-orang yang menjaga di atas.


Tapi saat ia baru akan melepaskan serangannya, seorang prajurit lainnya melompat ke arahnya. Gadis itu melompat mundur untuk menghindarinya.


Suara dengungan mesin yang sangat kencang terdengar dari balik asap yang ditimbulkan oleh hantaman prajurit yang baru saja melompat.


Dari balik asap itu muncul prajurit yang ukurannya jauh lebih besar dari lainnya. Gergaji mesin berputar di kedua tangannya, siap untuk memotong lawannya.


Prajurit itu melompat ke depan, menghancurkan tanah yang menjadi pijakannya. Ia mengarahkan gergaji mesinnya ke gadis berambut putih.


Gadis berambut putih berusaha menahan serangan itu menggunakan pedangnya.


Gergaji mesin yang terus-menerus berusaha memotong pedang gadis itu menciptakan suara yang sangat memilukan.


Gadis berambut putih mengerahkan seluruh tenaganya dan menghempaskan senjata prajurit itu ke samping.


Prajurit itu mengayunkan salah satu tangannya untuk menyerang balik gadis itu.


Gadis berambut putih berguling ke depan untuk menghindari serangan prajurit itu dan segera berlari menuju ke arah prajurit yang menculik si gadis kecil.


Mesin yang menarik tali telah dinyalakan dan membawa mereka berdua ke atas tembok.


Gadis berambut putih memanjat ke atas bangunan terdekat dan berusaha melompat menggapai prajurit yang menculik sang gadis kecil.


"...?"


Sayangnya saat gadis berambut putih itu melompat, sebuah rantai dengan pisau yang memenuhi setiap incinya menarik kaki gadis itu ke bawah.


Prajurit pengguna gergaji mesin yang tingginya lebih dari dua kali gadis berambut putih menyeret rantai itu ke arahnya.


Tarikan rantai semakin cepat dan gadis berambut putih terseret semakin dekat ke arah prajurit gergaji mesin.


Prajurit itu menancapkan gergajinya ke tanah, siap untuk membelah sang gadis menjadi dua bagian.


"Tidak hari ini kawan."


Gadis berambut putih melemparkan dua buah granat ke arah prajurit di depannya.


Benda itu meledak dan tarikan rantai juga berhenti. Gadis berambut putih melepaskan ikatan rantai di kakinya, pisau silet yang memenuhi rantai itu telah melukai kakinya cukup parah. Meski begitu ia tak dapat merasakan rasa sakitnya.


Gadis berambut putih menatap ke arah tembok dan menemukan bahwa prajurit yang membawa sang gadis kecil telah menghilang bersama dengan rombongan yang membantunya.


*Sringgg*


Sebuah cambukan rantai hampir saja mengenai sang gadis berambut putih.


Ia melihat ke arah serangan itu berasal. Prajurit bergergaji mesin telah siap untuk ronde selanjutnya.


Cairan berwarna biru tampak mengalir di dalam tubuh prajurit itu. Gergaji mesinnya memancarkan energi kebiruan yang tampak aneh. Pedang milik sang gadis juga telah siap, aura petir keunguan telah memenuhi bilah pedang tersebut.


Mereka berdua maju bersamaan. Kecepatan serangan mereka meningkat dengan pesat. Kekuatan mereka saling beradu dengan seimbang.


Tidak berhenti sampai di situ, tubuh prajurit bergergaji mesin terbuka dan memperlihatkan isi dada dan perutnya yang berisikan gerigi pemotong yang terus berputar.


Prajurit itu berhasil melucuti senjata sang gadis berambut putih dan menahan gerakannya. Ia membuatnya terjatuh dan segera berusaha untuk melahap tubuhnya hingga hancur berkeping-keping.


Suara mesin pemotong yang berada di depan wajah terdengar seperti predator yang kelaparan.


Gadis berambut putih berusaha menahan tubuh prajurit itu sekuat tenaga.


Pedangnya terlempar jauh darinya hingga ia tidak dapat mengambilnya. Gadis berambut putih berusaha menemukan cara lain dan menemukan rantai berpisau terkulai dari tubuh prajurit itu.


Ia menggapainya dan melemparkannya ke dalam perut robot itu.


Mesin pemotong itu memakan rantai yang merupakan tubuhnya sendiri hingga akhirnya seluruh rantai itu tersangkut di antara mesin pemotong itu.


Prajurit itu jatuh berlutut. Mesinnya berhenti, percikan listrik keluar dari robot itu dan seketika mengeluarkan asap.


"..."


Gadis berambut putih memotong lengan gergaji robot itu. Ia menyalakannya kembali secara manual dan menggunakannya untuk memenggal kepala robot itu. Cairan berwarna biru bermuncratan keluar dari dalam tubuhnya.


"..."


Gadis berambut putih yang kelelahan dan terluka melihat ke arah tembok tinggi yang memisahkan kota.


"...Sialan!!!!"


Umpatnya dengan kesal.


Gadis itu melihat kembali ke arah mayat robot di sebelahnya. Ia sebenarnya sempat menyadari hal ini sebelumnya, robot-robot ini terasa cukup familier. Entah dimana ia pernah melihatnya.


Satu hal yang ia tahu, anak yang ia bawa memiliki sesuatu yang spesial sampai seseorang rela berbuat sejauh ini demi mengambilnya.


Bagaimanapun juga ia harus segera menemukannya kembali, dan ia tahu harus memulai pencariannya dari mana.