
Beberapa saat sebelumnya
Mengikuti arahan Shiro, aku berjalan pulang menuju tempat persembunyian sementara yang telah kami siapkan sebelumnya melalui rute teraman yang sudah kami temukan.
Tapi jika dipikir-pikir distrik ini memang sangat aneh... Tempat ini terlalu sepi, keheningan yang sama seperti di pusat bencana namun dengan perasaan tidak enak yang berbeda, perasaan yang sulit untuk dijelaskan.
Lihat saja tempat ini... Benar-benar kosong, tidak ada tanda kehidupan sama sekali. Bukan berarti aku mengharapkan ada seekor monster yang muncul tiba-tiba tapi rasanya memang ada yang tidak beres.
Bahkan aku sama sekali tidak menemukan mayat atau bercak darah. Jika dilihat dari jaraknya dengan pusat bencana, orang-orang di tempat ini tidak akan sempat untuk mengungsi. Rasanya seperti mereka semua menghilang secara tiba-tiba.
"..."
Sepertinya aku memang harus menyelidikinya... Tapi harus mulai dari mana?
"...?"
Sepertinya aku melihat sesuatu bergerak ke arah belokan di sana...
Dengan berhati-hati aku perlahan mendekat dan tentu saja tidak menemukan apa-apa.
"...?!"
Aku melihatnya lagi... Seseorang berjalan ke arah sana. Itu manusia .. kan...? Kuharap benar begitu.
Untuk berjaga-jaga aku sudah mempersiapkan pistol milik Shiro yang masih kusimpan.
Orang itu terus menghilang dan muncul secara tiba-tiba. Aku sempat berpikir ada yang tidak beres dan benar saja...
"(Sebuah stasiun kereta?)"
Tanyaku dalam hati.
Orang itu berjalan hingga kemari, atau aku merasa dia mencoba membawaku kemari?
"Terkunci..."
Gumamku setelah mencoba membuka pagar kawat besi yang menutupi area stasiun.
Aku mencoba mengetes cengkramanku pada pagar itu dan memutuskan untuk memanjat dan melompat masuk ke dalam.
Aku menyusuri pelataran stasiun yang dipenuhi dengan bangkai gerbong kereta yang sudah tak terpakai. Tempat ini lebih mirip seperti kuburan kereta.
"...?"
Aku kembali melihat orang itu sekilas memasuki salah satu gerbong yang sudah tua dan bobrok.
"..."
Aku menyusuri bagian dalam gerbong tua yang tampak normal itu, dengan semua kursinya yang sudah robek dan karat di mana-mana.
"Ini...?"
Aku mengambil sebuah benda kecil yang tampaknya adalah kartu pengenal.
"Thomas Fredrickson?"
Itu adalah nama yang terpampang di dalam kartu, foto yang ada di sebelahnya sudah tidak dapat dikenali lagi.
Aku akan menyimpannya untuk sementara.
Langit semakin gelap, apakah hari sudah mau malam atau hujan akan tiba? Awan gelap yang menutupi membuatku tidak bisa membedakannya.
"...?"
Tidak jauh dari gerbong yang sebelumnya, aku menemukan jejak kaki yang mengarah ke area dalam stasiun. Jejak kaki itu berhenti tepat di pintu masuk hangar kereta.
Aku mencpba membukanya dan ternyata pintu ini tidak terkunci. Suara berdecit yang nyaring dari pintu tua itu memenuhi ruangan hangar dengan gemanya.
"Siapapun yang ada di dalam sini pasti sudah mengetahui keberadaanku sekarang. Huh...?"
Baru saja dibicarakan, seseorang seperti baru saja masuk dan menutup pintu yang berada di ruang kendali.
Ruangan itu terletak di lantai kedua, namun tangga yang menuju ke sana tampaknya sudah hancur.
"Bagus... Sekarang bagaimana caraku naik?"
Aku memperhatikan bagian dalam hangar itu dengan seksama, berharap dapat menemukan jalan lain yang dapat kulalui. Tempat itu sangat luas, di tengahnya terdapat banyak jalur rel kereta lengkap dengan gerbong yang sudah tidak terpakai. Sejujurnya gerbong yang berada di tempat ini merupakan jenis yang sangat lama, mereka masih menggunakan roda untuk bergerak, bukannya plat magnetik yang bisa membuat gerbong kereta seperti melayang di udara.
Di sisi samping hangar terdapat peron yang cukup luas, tempat tangga besi yang membawa ke lantai dua berada.
Tidak jauh dari sana aku menemukan sebuah lift... Bukan seperti lift pada umumnya, lebih tepatnya ini adalah papan besi yang diikatkan pada sebuah katrol. Tampaknya digunakan untuk mengangkut barang.
Mataku mengikuti arah lift ini berakhir dan benar saja benda ini menuju ke lantai dua tempat ruang kendali berada.
Aku mempelajari mekanisme alat yang mengontrol katrol itu dan menarik sebuah tuas yang tampak mencolok.
"..."
Sesuai dugaanku tidak ada respon yang terjadi. Kurasa benda ini membutuhkan energi.
*Blang
"...!"
Aku membalik badanku, melihat ke arah suara bising itu berasal. Angin yang berhembus secara tiba-tiba membanting sebuah pintu besi kecil yang mengarahkan ke dalam ruangan gelap.
"Terlihat sangat jelas..."
Gumamku.
Tapi aku tidak punya pilihan lain.
Mendobrak masuk pintu yang mencurigakan itu, aku menodongkan senjataku ke dalam, bersiap untuk hal apapun yang akan datang.
"Kosong..."
Ruangan ini tidak memiliki sumber penerangan tapi karena sudah sering beraktivitas dalam gelap aku bisa melihat bagian dalam ruangan itu samar-samar. Melewati malam tanpa api dan penerangan memang ada gunanya.
Dilihat dari barang-barang yang tampak seperti suku cadang, kotak-kotak distribusi yang tersusun dan rak-rak yang berantakan... Sepertinya tempat itu adalah sebuah gudang.
"..."
Di salah satu sisi ruangan itu terletak sebuah genset yang dapat digunakan untuk membuat listrik cadangan.
"Semoga saja masih berfungsi... Kalau tidak salah cara menyalakannya..."
Alat itu tampaknya mulai berputar sebelum akhirnya mati kembali. Aku terus mencobanya berulang kali tapi hasilnya sama saja. Pada akhirnya aku hanya bisa menghela nafas kecewa.
"...?"
Aku merasakan sesuatu seperti memperhatikanku sedari tadi. Aku menoleh ke arah pintu masuk gudang dan tidak mendapati apapun di sana tapi...
"...?!"
Saat aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain, tepat di mana mataku berada terdapat sesosok bayangan hitam dengan mata biru menyala.
Bayangan itu lalu menjerit dan "terbang" menerjang ke arahku. Ya benar... Dia terbang.
Aku bahkan tidak sempat bergerak atau berteriak dan detik berikutnya pandanganku telah berubah.
Meskipun terlihat sedikit berbeda tapi aku yakin tempat ini masih merupakan tempat yang sama.
Gudang yang gelap dan berantakan entah bagaimana kini menjadi rapih kembali.
"...?"
Aku mendengar suara orang berbincang di keramaian dan suara langkah kaki berlalu-lalang.
Aku membuka pintu gudang dan terkejut dengan pengelihatanku.
Hangar itu menjadi penuh dengan para warga yang beraktivitas. Entah itu orang yang akan berangkat bekerja atau orang yang memang merupakan pekerja di tempat tersebut.
Aku mencoba memegang pundak seseorang yang lewat untuk menanyakan dimana aku sekarang, tapi sentuhanku menembus pria itu dan selanjutnya orang-orang lain yang berlalu-lalang juga berjalan begitu saja menembus diriku.
Apa yang sebenarnya terjadi...? Halusinasi... Mimpi... Atau... Sebuah pengelihatan?
Aku mencoba menggabungkan aoa yang selama ini terjadi. Seseorang menuntunku kemari dan ingin agar aku melihat ini.
Tapi apa yang sebenarnya kucari... Apa yang ingin ia tunjukan?
Sebuah bunyi klakson kereta menyadarkanku dari pikiranku yang tenggelam.
Secara kebetulan aku melihat ke arah jam yang terpajang di peron. Jarum menunjukan pukul enam sore tapi seketika jarum pada jam itu bergerak sangat cepat dan begitu juga dengan orang-orang seakan-akan waktu sedang dipercepat.
"...?"
Kini waktu menunjukkan tepat pukul sembilan malam.
"Kalau begitu sampai berjumpa lagi besok..."
"Ya... Terimakasih atas kerja kerasmu Fredrick!"
"...?"
Seseorang baru saja keluar dari ruang kendali dan berjalan menuruni tangga.
Aku melihat tanda pengenalnya, sama dengan yang kutemukan di dalam gerbong. Kurasa orang ini adalah yang kucari.
Dilihat dari perubahan tempat dan suasananya, kurasa ini adalah pengelihatan kota ini di masa lalu. Tapi aku tidak tahu tepatnya tanggal dan tahun saat ini.
.
.
.
.
Aku mengikuti orang yang bernama Fredrick itu hingga ke rumahnya.
"Hmm? H-halo... Apa ada orang di sana?"
Tepat sebelum ia membuka pintu rumahnya, ia berbalik melihat ke arahku.
"Kurasa hanya perasaanku."
Apa orang-orang di sini masih bisa merasakan kehadiranku?
"Aku pulang...!"
"Papa... Selamat datang!"
"Huh... Aku sudah menyuruhnya untuk pergi tidur tapi ia bersikeras untuk menunggumu."
Keluarga yang hangat dan normal, aku jadi merindukan orang tuaku. Tapi sejauh ini semua tampak biasa saja, apa yang sebenarnya ingin kau tunjukan?
Waktu seketika beralih lagi dengan cepat. Menampilkan sepotong demi sepotong penggambaran kehidupan pria ini. Dia adalah orang yang sangat ramah dan disukai oleh banyak orang.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu bos?"
"Huh... Tempat ini memang sudah berdiri sangat lama. Tapi justru itulah yang menjadi seni dan daya tarik stasiun ini. Di zaman yang modern ini kita sudah tidak pernah lagi melihat kereta yang menapakkan dirinya di rel. Apapun yang terjadi aku tidak akan membeli gerbong-gerbong modern itu!"
"Aku paham maksudmu tapi demi faktor keamanan... Gerbong-gerbong ini sudah terlalu tua, meski dirawat dengan baik pun pada akhirnya akan tetap dimakan oleh umur. Kita sudah melakukan terlalu banyak perbaikan, selain biaya yang terus meningkat, keamanan dan kenyamanan juga semakin berkurang. Bahkan secara hukum kita sudah tidak mengikuti standar keamanan yang dianjurkan pemerintah."
"Huh... Kalau begitu suruh mereka untuk kembali memproduksi jenis lama ini."
Sebuah perdebatan antara dirinya dengan "bos" yang sepertinya adalah pemilik tempat ia bekerja.
Pemandangan berubah lagi, selembar surat kabar mendarat di tanganku secara misterius.
Tunggu... memangnya masih ada orang yang memproduksi berita koran kertas seperti ini? Distrik ini benar-benar tidak bisa berpindah dari masa lalu.
Kecelakaan kereta beruntun yang menewaskan 2000 orang.
"..."
Di hadapanku terdapat gerbang stasiun yang sedang di tutup oleh pemerintah setempat bersamaan dengan sang pemilik yang ditahan.
Aku melihat Tuan Frederick berdiri dengan pasrah melihat pekerjaannya menghilang, kurasa dia juga merasa bersalah dan bertanggung jawab atas insiden tersebut.
"...?"
Kembali ke ruangan yang gelap. Sepertinya aku baru saja melihat sejarah kelam tempat ini.
"Hmm?"
Dan entah sejak kapan generator yang sebelumnya kucoba nyalakan berkali-kali kini sudah berfungsi dan dengannya listrik sudah kembali.
Sekarang...
Aku pergi kembali menuju lift katrol dan menyalakannya. Seperti yang diharapkan, benda ini juga berfungsi dengan baik dan menghantarku menuju ke lantai dua. Aku pergi memasuki ruang kendali yang juga tidak terkunci.
Berbalik dengan keadaan kota mati yang bisa dibilang cukup rapih ini... Aku cukup terkejut dengan bagian dalam ruang kendali yang benar-benar hancur porak-poranda.
Terdapat bekas cakaran dimana-mana, bercak darah yang berceceran dan menetes serta saluran kabel-kabel rusak yang menjuntai.
"..."
Di sisi ruangan terdapat loker-loker yang berjejer dan diantaranya terdapat satu yang terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah USB dan secarik kertas kecil berisikan deretan digit angka.
"Hmm..."
Aku melihat ke jejeran komputer yang tampaknya adalah pusat pengaturan jalur rel dan sistem lainnya.
Semua sudah dihancurkan... Tapi secara kebetulan masih tersisa satu yang masih utuh.
Aku mencoba menyalakannya.
Masukkan sandi...
"..."
Dengan memasukkan angka yang berada di kertas aku berhasil membukanya.
Aku melihat USB yang ku pegang dengan ragu-ragu.
"Waktunya mengungkap kebenaran."
File berupa pesan suara dan pesan video muncul.
"T-tidak... Itu bukan salahku... A-aku... Aku tidak membunuh mereka... Apa salahnya mempertahankan sejarah? Bukan aku... BUKAN AKU!!!"
Secara tidak sadar tanganku menutup file itu setelah mendengar teriakannya yang sangat berisik. Itu adalah rekaman suara dari interogasi sang pemilik stasiun.
Berikutnya adalah file video yang berisi rekaman detik-detik terjadinya kecelakaan yang menewaskan 2000 orang. Sepertinya terdapat malfungsi pada bagian roda dan menyebabkan kereta keluar lintasan, disusul dengan tabrakan beruntun antar gerbong dan... Sebaiknya kita hentikan saja, hal ini tidak baik untuk dilihat.
"...?"
Tepat dii belakangku muncul lagi sosok bayangan yang sebelumnya menyerangku.
"Baiklah... Tunjukkan padaku apa yang mau kau perlihatkan."
Tantangku padanya.
Sesaat setelahnya, makhluk itu menerjangku seperti sebelumnya dan memperlihatkan pengelihatan lainnya.
"..."
Ini adalah waktu di mana outbreak terjadi. Orang-orang mulai bermutasi, begitu juga dengan Tuan Fredrick. Ia berubah menjadi sesosok makhluk kerdil yang kurus kering dan sangat lemah. Tapi aku bisa merasakan entah bagaimana caranya tapi ia masih dapat mempertahankan kesadarannya.
Entah mengapa kebanyakan manusia yang bermutasi di distrik ini termasuk ke dalam kategori rendah, bahkan saking rendahnya mereka tidak maduk ke dalam kategori F. Kurasa mereka termasuk ke dalam infected? Tapi karena mereka mengalami mutasi mungkin tidak dihitung juga.
Tapi dari seluruh makhluk yang lemah dan tak berdaya ini terdapat satu makhluk yang terlihat sangat mencolok.
Tidak hanya karena ukurannya yang sangat besar, namun juga karena kekuatannya yang dapat mengendalikan petir.
Aku melihat ekspresi wajah Tuan Frederick, meskipun wajahnya sudah hancur lebur tapi dapat terlihat dengan jelas bahwa ia mengenali monster raksasa itu.
Dengan menebak dan menerka, aku menduga bahwa makhluk itu tidak lain dan tidak bukan adalah sang bos pemilik stasiun.
Dan percaya atau tidak Tuan Fredrick kecil berlari ke arah monster raksasa yang mengamuk itu. Ia memanjat tubuh raksasanya tanpa di sadari dan masuk ke dalam tubuhnya melalui mulutnya.
Selang beberapa waktu berikutnya sang monster raksasa semakin mengamuk sebelum akhirnya ia terjatuh tak berdaya. Ia bahkan belum sempat menunjukkan kekuatan pengendalian petirnya.
Seekor monster kerdil keluar dari dalamnya dan berjalan mendekatiku. Ia menawarkan tangannya kepadaku dan tanpa berpikir panjang aku pun membungkuk untuk mengambilnya karena tubuhnya yang kecil.
Seketika sejumlah ingatan memasuki pikiranku tentang bagaimana makhluk kerdil yang masih memiliki kesadaran itu bertekad untuk membebaskan orang-orang yang tersiksa dengan cara membunuh mereka dan melepaskan mereka dari tubuhnya yang sudah bermutasi.
Makhluk itu pun perlahan melahap mayat sang monster raksasa hingga kekuatannya menyatu dengannya dan itu yang akan ia lakukan kepada semua orang yang berasal dari distrik itu.
"..."
Aku kembali ke ruang kendali dan melihat bayangan hitam yang sudah berubah menjadi Tuan Frederick.
"Kau ingin agar kami membebaskan dirimu?"
"..."
Ia mengangguk.
Jiwa yang kelelahan, ia telah kehilangan pikiran aslinya dan sisa-sisa memori penyesalan inilah satu-satunya yang tersisa.
"Aku mengerti... Tapi aku tidak akan janji."
Seakan merasa sudah cukup, bayangan masalalu itu menghilang begitu saja.
*Dummm
"Shiro..."
Suara ledakkan dahsyat yang berasal dari kejauhan membuatku berlari keluar bangunan untuk melihatnya.
Awan yang tercipta dari ledakkan berisikan dengan badai petir berwarna biru di dalamnya memenuhi langit distrik.
Beberapa saat setelahnya terdengar suara mesin pesawat yang sangat familier.
"S.A.V.I.O.R!"
Aku harus segera pergi mencari Shiro. Aku yakin di saat ini ia akan kembali ke tempat persembunyian untuk mencariku.
.
.
.
.
"Dan seperti yang kau tahu selanjutnya, kita bertemu di dalam tempat persembunyian, diriku dihajar habis-habisan dan... Oh, kali ini aku tidak pingsan. Sepertinya ini adalah sebuah kemajuan. Bahkan stun gun tidak bisa menghentikanku."
"..."
"Oke... Mungkin aku memang tetap tidak bisa bergerak."
"Huff..."
"Jadi... Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
"Masih pada rencana awal. Membawamu pulang adalah prioritas nomer satu. Apa yang terjadi di sini bukanlah urusan kita, entah itu tragedi yang pernah terjadi maupun kisah heroik Tuan Frederick yang tidak masuk akal. Tapi satu hal yang membuatku tertarik adalah bagaimana si monster raksasa itu bisa menyerap sebagian besar energi yang tersebar di distrik ini. Di sisi lain evolusi dari monster kerdil itu juga melampaui batasan, ia bisa menggunakan kekuatannya dengan sangat baik dan apakah memakan mutant lain dapat mentransfer kekuatannya? Atau sedari awal mereka semua adalah satu kesatuan? Jika iya maka itu menjelaskan alasan perkembangan pesat monster kecil itu. Tapi ini semua masih hipotesis belaka, tidak ada gunanya sama sekali."
"..."
"..."
"Kau sebenarnya ingin membantunya kan?."
"..."
"Aku tahu kau tidak akan pernah menelantarkan orang yang membutuhkan."
"Huh... Meski begitu, kau keamananmu tetaplah prioritas utama bagiku. Kita tetap akan pergi dari sini, untuk sekarang beristirahatlah karena besok akan menjadi hari yang melelahkan."
"..."
.
.
.
.
Sementara itu di sisi lain, para pasukan S.A.V.I.O.R sedang sibuk membangun benteng mereka di sisi lain distrik.
"Bagaimana kemajuannya?"
"Lapor pak... Kami masih belum menemukan jejaknya. Untuk sekarang kami telah mengerahkan lima tim untuk memburu mereka."
"Temukan kedua orang itu secepatnya, dan untuk makhluk yang satunya... Tangkap dia hidup-hidup, kurasa Dokter Snake akan menyukainya."