New Sky

New Sky
Chapter 6



"Kau melamun lagi."


Ucap gadis itu, membangunkanku dari pemikiranku.


Ia sudah membunuh ratusan monster yang terus berdatangan sendirian. Mayat korbannya sudah menumpuk hingga menjadi gunungan.


"Jangan sampai aku menyeret mayatmu lagi seperti waktu itu."


Ucapnya lagi sembari menebas monster lainnya.


"M-maaf..."


.


.


.


.


"Ada apa?"


Tanyanya setelah membereskan monster terakhir.


"Aku... Akhir-akhir ini aku sering bermimpi."


"Di siang bolong seperti ini?"


"Tidak juga, waktunya tidak menentu tapi akhir-akhir ini menjadi semakin sering."


"...Apa yang kau lihat?"


Tanyanya dengan serius.


"..."


"Awalnya hanya mimpi samar yang kulihat tapi semakin lama semua menjadi semakin jelas. Aku melihat... Seorang anak kecil."


"Anak kecil?"


"Ya... Seorang anak laki-laki."


"..."


Shiro meletakkan jari-jarinya di dagunya, membuat ekspresi seperti orang yang sedang berpikir keras.


"Lanjutkan."


Ucapnya.


"Anak itu berdiri di tengah suatu tempat yang membentuk seperti kawah."


"Kawah?"


"Ya, kau tahu... Seperti bekas meteor terjatuh di tanah. Dan membentuk kubangan raksasa?"


"..."


"Lalu aku melihat..."


Aku berhenti berbicara untuk mengingat-ingat kembali apa yang aku lihat dalam mimpi.


"Prisma hitam raksasa."


"..."


"Benda itu mengeluarkan cahaya. Dan terdapat pola-pola aneh yang terukir di sekujur tubuh benda itu."


"..."


"Dan juga... Ada pasukan yang sangat besar. Pasukan yang terdiri dari monster-monster mengerikan. Aku tidak tahu berapa jumlah pastinya, tapi yang pasti mereka sangat banyak hingga memenuhi pandangan sejauh mata memandang."


"..."


Shiro masih terdiam tanpa mengatakan sesuatu.


"Dan yang terakhir... Aku mendengar suara."


"Suara?"


"Ya... Dia mengatakan sesuatu."


"Apa itu?"


Tanyanya lagi dengan tidak sabar.


"Aku tidak begitu ingat. Kalau tidak salah suara itu bilang... Terimalah... Atau sesuatu semacamnya."


Entah mengapa seketika kepalaku merasakan rasa sakit yang luar biasa. Suara mendengung memenuhi telingaku, kepalaku terasa pusing dan pengelihatanku menjadi kabur.


"R-ray... Kau baik-baik saja?"


"Ugghhh... Y-ya, aku tidak apa-apa. Hal ini juga sering terjadi akhir-akhir ini."


"..."


"S-shiro..."


"Huh?


"Sudah berapa lama kita pergi?"


"Umm... Tiga? Mungkin sudah empat hari."


"...Apakah kehilangan rasa lapar merupakan efek samping dari menjadi Ascendant?"


"Aku tidak yakin tapi mungkin iya...? Karena sejauh yang kutahu mereka dapat bertarung berhari-hari tanpa menelan satupun makanan atau asupan energi ke dalam tubuh mereka."


"Benarkah...? Karena aku merasa sangat lapar sekarang."


"H-hey Ray...?!"


Seketika tubuhku jatuh lemas dan kehilangan kesadaran. Rasanya beban tubuhku tiba-tiba kembali dalam sekejap.


.


.


.


.


"Kau sudah baikan?"


"Ya... Kurasa. Apa kau yakin makanan ini masih dapat dimakan?"


Tanyaku sembari mengunyah makanan yang kami ambil dari dalam supermarket yang terbengkalai.


"Tidak perlu banyak tanya, yang penting tubuhmu bisa mengisi energinya."


"Kau tidak mau?"


"Aku semakin tidak yakin kalau kau merupakan manusia."


Ucapku sambil kembali mengunyah makananku.


"Tapi semua ini semakin aneh."


Ucapnya dengan tiba-tiba.


"Kau benar. Kalau aku memang kandidat yang terpilih mengapa aku bisa merasa lapar?"


"Kenapa kau hanya memikirkan tentang rasa laparmu? Sudah kukatakan hal ini hanya hipotesis yang kubuat."


Aku hanya mengangkat tanganku dengan perasaan tidak bersalah dan kembali mengunyah makananku yang selanjutnya.


"Aku mau tanya satu hal kepadamu..."


"Apa itu? Tanyakan saja."


"Apa yang kau rasakan sekarang?"


"Masih lapar."


"Bukan itu dasar bodoh. Maksudku-"


"Iya-iya aku hanya bercanda... Sejujurnya aku merasa lebih baikan daripada yang sebelumnya, maksudku adalah rasanya beban pikiranku semakin ringan dan kondisi mentalku juga lebih stabil."


"Aneh... Di mimpimu... Kau bukan menjadi bocah itu kan?"


"Tidak... Rasanya aku seperti menjadi orang ketiga yang mengawasi."


Gadis itu terdiam dan berusaha berpikir keras menggabungkan semua kepingan kejadian ini.


"Gejala yang kau tunjukan akhir-akhir ini tidak salah lagi merupakan panggilan langsung dari prisma hitam itu. Suara itu... Kami menyebutnya sebagai... Will of Chaos. Kehendak kehancuran, perwujudan dari prisma hitam itu sendiri yang akan menghasutmu untuk membenci dan menghancurkan semua yang ada di muka bumi."


"Jadi... Intinya adalah...?"


"Ini belum pernah terjadi sebelumnya tapi jika hipotesisku benar... Sepertinya Will of Chaos sudah mengganti kandidatnya."


"Huh...?! Memangnya hal seperti itu bisa dilakukan?"


"Aku juga tidak tahu, mungkin karena kau terus melawan dan bertahan? Mungkin saja dia mengetahui rencana kita dengan memasuki pikiranmu sehingga ia takut jika dikalahkan sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih fatal, jadi ia memutuskan untuk mengganti wadahnya menggunakan kandidat yang lebih mudah dikendalikan, dengan begini kelahiran dari kehancuran dapat dipercepat."


"Berarti... Orang itu adalah..."


"Benar... Anak malang yang ada di mimpimu. Kurasa hubunganmu dengan Will of Chaos belum sepenuhnya terputus sehingga kau masih dapat merasakan panggilannya."


"B-bukankah ini gawat? Kita harus segera mencari anak itu!"


"Bagaimana caranya? Kita tidak bisa mencarinya dari satu tempat ke tempat lain di kota sebesar ini. Lagi pula kita sudah sedekat ini dengan tujuan awal. Prioritas utama kita adalah menonaktifkan benda itu dengan harapan kita dapat membatalkan transfer pikirannya ke anak malang ini."


"Dan bagaimana jika kita terlambat?"


"...Kita harus bersiap untuk menghadapi gelombang selanjutnya."


"..."


Aku takut... Sudah sejauh ini kami melangkah dan sekarang aku baru merasa takut. Kurasa aku sudah kembali mendapatkan akal sehatku.


"Hey..."


"...?"


Gadis itu menggenggam tanganku dan menatap mataku dengan lembut.


"Kita sudah sampai sejauh ini... Ayo kita selesaikan ini untuk selamanya."


"..."


Aku menganggukan kepalaku meskipun tubuhku gemetar. Aku yakin dia dapat merasakan betapa gemetarnya tanganku.


"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini tapi... Kalau misalkan hal buruk terjadi padaku... Aku ingin kau yang mengakhiri semua ini."


Ucap gadis berambut putih itu dengan tangannya yang masih menggenggam tanganku yang gemetar.


Entah mengapa aku sudah tidak merasakan efek dari radiasi lagi. Mungkin tubuhku sudah bisa beradaptasi karena kekuatan aneh yang kumiliki sejak sakit?


Tapi meski begitu kini aku menjadi gugup, napasku menjadi berat dan tubuhku berkeringat. Aku menyesal sudah membunuh orang-orang itu. Aku tahu ini yang terbaik bagi mereka tapi tetap saja. Ini terlalu berat bagiku yang hanya seorang remaja biasa. Aku takut mati...


Gadis itu membuka telapak tanganku dan meletakkan kalungnya di atasnya.


"Ini... Aku akan mengajarimu cara menggunakannya. Kau hanya perlu memutar bagian ini untuk membukanya lalu tekan ini untuk mengaktifkannya. Yang terakhir adalah..."


"..."


Gadis itu menatap ke arahku yang sedari tadi menatap kosong dengan kebingungan. Ia tahu apa yang kurasakan saat ini. Orang yang tidak tahu-menahu apa-apa dibawa ke dalam masalah yang begitu rumit dan diberi tanggung jawab yang begitu besar hingga harus mempertaruhkan nyawa orang banyak.


"Aku tahu ini berat... Aku tahu ini bukan tanggung jawabmu, tapi aku janji... Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu mati."


Ucapnya dengan suara yang setengah berbisik. Sesuatu seperti menghambat suaranya keluar dari dalam tenggorokannya. Sesuatu itu adalah... Perasaan bersalah dan rasa takut.


"..."


"Boleh aku memelukmu?"


"Eh? Umm tentu..."


Ucapnya dengan tidak yakin.


Aku menyenderkan tubuhku yang gemetar ke tubuhnya. Tangannya merangkulku perlahan.


Entah mengapa air mata keluar dari mataku. Aku merasa begitu tenang dan damai.


"Tidak apa... Keluarkan saja semuanya, kau sangat hebat bisa bertahan hingga sejauh ini."


Ucapnya dengan lembut sembari membelai kepalaku.


"..."


"Terimakasih... Aku sudah lebih baikan."


Ucapku sembari melepas rangkulannya.


"Jadi... Hal terakhir yang harus kulakukan adalah?"


"Kau harus menempelkan benda kecil ini ke prisma raksasa itu, dan sisanya percayakan pada benda ini."


Ucapnya sambil memegang alat kecil itu yang ironisnya memiliki bentuk sama persis dengan benda raksasa yang kita lawan yaitu sebuah prisma hitam. Prisma hitam yang sangat kecil, tergantung di sebuah kalung perak yang sudah tidak mengkilap.


"..."


"Kau siap?"


"Ya..."


Ucapku dengan pelan tapi yakin.


Aku sudah tidak memiliki keraguan lagi. Seperti yang pernah kukatakan, aku akan berjuang sampai aku mati demi diriku sendiri dan keluargaku... dan juga... Semua orang.