New Sky

New Sky
Prologue 4



Di dalam sebuah bar tersembunyi.


*Suara pintu besi tergeser*


Seorang wanita misterius yang mengenakan kerudung hitam memasuki bar tersembunyi yang saat itu sedang cukup ramai.


"Selamat datang... Ada yang bisa dibantu?"


Sapa sang bartender sambil mengelap sebuah gelas.


"Ya... Aku punya beberapa pertanyaan."


Ucap wanita itu dengan nada yang terdengar sedikit sinis.


"Apa kau pernah melihat seorang gadis remaja dengan rambut berwarna putih?"


"Hmm... Biar ku ingat-ingat terlebih dahulu."


"..."


*Bukkk*


"Tidak perlu berpura-pura lagi! Cepat katakan dimana kau menyembunyikannya...!"


Mendengar keributan itu, seketika perhatian orang-orang yang berada di dalam bar beralih ke wanita itu.


"Maaf nona... Tapi sebaiknya kau menghargai pelanggan lainnya."


"Semua ini tidak akan terjadi jika kau langsung mengatakan yang sebenarnya."


*Ceklek*


Wanita itu mengokang pistolnya lalu menodongkannya ke dahi Sang Bartender.


"Heyy... Hentikan."


Tiba-tiba salah seorang pengunjung bar berdiri dan meneriaki wanita itu.


"Jangan menggangguku dasar orang rendahan."


Sebilah pedang cahaya menempel di leher pria itu dan membuatnya terdiam seketika.


"Maaf nona... Tapi sepertinya kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa."


Ucap Sang Bartender dengan tenang.


"Hmph... Aku memang sudah mendengar banyak rumor tentang dirimu... Tapi ketahuilah... Kau yang tidak tau sedang berurusan dengan siapa."


...........................


"Ini semua yang kau minta."


Seorang pria menyerahkan dua tas besar kepada seorang gadis.


Gadis itu lalu memeriksa seluruh isi tas untuk memastikan barang-barang yang ada di dalamnya.


Ia mengangguk sebagai tanda bahwa semuanya sudah sesuai. Ia mengarahkan ponselnya ke atas ponsel pria itu untuk mengscan kode yang tertera di dalam ponsel sang pria.


"Bayarannya sudah masuk, senang berbisnis denganmu."


Pria misterius itu lalu pergi dan menghilang entah kemana.


"..."


.


.


.


.


"..."


Gadis itu meletakkan beberapa bola kecil di tengah plaza kota. Tempat itu di kelilingi oleh banyak gedung-gedung tinggi yang dulunya merupakan pusat perbelanjaan di kota itu, kini tempat itu sudah hancur terbengkalai.


Bau yang sangat menyengat dari bola itu menyebar ke seluruh area di sekitaran plaza.


"...segini harusnya sudah cukup. Sekarang.... Langkah selanjutnya."


.


.


.


.


Gadis itu membuka sebuah pintu yang menuju ke atap sebuah gedung tinggi yang berada di sebelah plaza kota.


Topeng hitam muncul di wajahnya dan membuat pandangannya menjadi lebih jelas.


Ia mengawasi keadaan plaza di bawahnya dengan cermat.


"Semua persiapan telah usai."


"Oh... Sudah datang."


Tidak berselang lama, monster-monster seukuran manusia mulai berdatangan dari segala arah menuju bola-bola yang mengeluarkan bau aneh. Mereka datang bergerombol seperti kawanan serangga yang kelaparan.


"Umpannya bekerja."


Bisik gadis itu kepada dirinya sendiri.


Ia menekan sebuah alat dan seketika seluruh jalanan yang mengarah ke plaza tersebut meledak dan membunuh semua monster yang sedang melewatinya.


Tepat setelah ledakan besar, seekor monster dengan ukuran hampir setinggi gedung muncul secara tiba-tiba.


"Akhirnya datang juga."


Monster itu berlari ke tengah-tengah plaza tapi sebelum ia dapat melangkah lebih jauh, seutas benang tranparan yang diletakan setinggi pergelangan kaki monster itu di antara bangunan menahan kakinya dan ajaibnya seutas benang yang sangat kecil itu mampu menjatuhkan sang monster raksasa.


Ia menekan tombol lainnya dan seketika meledakan bagian bawah gedung yang berada tepat di sebelah monster raksasa itu. Gedung tersebut runtuh dan menimpa makhluk itu hingga jatuh tak berdaya.


"..."


Gadis itu turun dari gedung yang ia tempati, Ia mendekati monster raksasa itu dengan hati-hati tapi...


*Dumm*


Lengan monster raksasa yang tak sadarkan diri itu seketika bergerak menghantam tubuh gadis itu dalam sekejap mata.


Tubuhnya yang sangat kecil jika dibandingkan dengan monster raksasa itu terlempar puluhan meter.


*Uhuk...*


"Huh... Tentu saja tidak akan semudah itu."


Gadis itu berdiri di antara puing bangunan tempat ia mendarat, meskipun terbentur begitu keras tapi tubuhnya tidak terluka sama sekali.


*Cuih* (membuang ludah)


"Target telah dikonfirmasi... Kode nama (XXXXX), tingkat bencana... A."


*Ceklek*


Gadis itu membuka kotak senjata besar yang selalu ia bawa kemanapun.


"Waktunya berburu."


*Rrrroooaaarrrrrrr*


.


.


.


.


"..."


Bangkai monster raksasa yang tubuhnya telah hancur lebur tergeletak di hadapan gadis berambut putih.


Gadis itu menatapi bangkai monster raksasa yang ada di depannya untuk beberapa saat sebelum melemparkan sebuah bom ke dalam mulut mayat raksasa itu untuk memastikan kematiannya.


*Duarrr*


"...misi selesai, waktunya kembali."


Bisik gadis itu.


.


.


.


.


Di dalam bar rahasia.


"..."


Gadis berambut putih berdiri tepat di depan pintu masuk bar. Ia baru saja sampai di situ setelah menyelesaikan misinya. Tapi perasaan tidak enak memenuhi tubuhnya saat berada di depan pintu itu.


Ia membuka pintu dengan perlahan dan hati-hati.


"...?"


"Selamat datang... Ada yang bisa dibantu?"


"..."


"Hmm...? Ada apa?"


Orang yang berada tepat di depan gadis muda itu adalah sang bartender yang biasanya sering ia temui tapi ada sedikit hal yang terasa janggal.


"Mayat..."


Bisik gadis itu dengan singkat.


"Maaf... Aku tidak mengerti apa maksudmu."


Ucap gadis itu sambil menunjuk ke arah bercak darah kecil yang terpapar di lantai.


"Hmm... Tampaknya aku kurang teliti saat membersihkannya."


"Jadi... Apa yang terjadi?"


Tanya gadis itu kepada sang bartender.


"Bukan hal yang penting... Hanya orang bodoh yang sedang berulah."


"Hmm... Baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Berikan saja bayaranku."


"Baiklah-baiklah, kau ini memang tidak sabaran... Sudah ku kirimkan kepadamu."


"Um..."


Gadis itu pun mengangguk kepadanya.


"Ngomong-ngomong... Apa kau sudah melihat badainya?"


Tanya sang bartender.


"Badai?"


"Ya... (Badai)"


"Ohh... Maksudmu itu. Tentu saja, dari atas puncak gedung juga sudah mulai terlihat."


"Hmm... Aneh."


"Hmm...?"


"Kalau kau sudah mengetahuinya, kenapa kau malah ingin pergi dari sini? Bukannya ini adalah kesempatanmu?"


"..."


Gadis itu terdiam sejenak.


"Ada hal mendesak lain yang harus aku urus. Waktu tidak bisa dibeli."


"...Sudah datang ya?"


Tanya sang bartender dengan wajah yang serius.


Gadis muda yang ada di hadapannya hanya mengangguk pelan.


"Huh... Kalau begitu aku tidak bisa menahanmu lagi. Sepertinya aku harus mencari orang lain untuk menangani pekerjaan-pekerjaan merepotkan ini."


"Semoga beruntung kalau begitu."


Ucap sang gadis dengan tak peduli sembari meninggalkan bar itu.


.


.


.


.


Gadis itu keluar di depan sebuah gang sempit yang gelap. Tapi saat ia membuka pintu keluar, ia langsung menyadari seseorang sedang memperhatikannya.


"..."


Gadis itu menatap lama ke dalam gang yang gelap itu.


"..."


Merasa bahwa posisinya telah diketahui, orang yang bersembunyi dalam bayang-bayang kegelapan itu menampakan dirinya.


"Akhirnya kita bisa bertemu langsung seperti ini... C-001."


"...?"


Seorang wanita muncul dari balik bayangan, nada bicaranya terdengar begitu sombong.


"Aku masih tidak menyangka bahwa senjata rahasia terkuat yang dimiliki oleh S.A.V.I.O.R. adalah seorang gadis cilik seperti ini"


Wanita itu berhenti berjalan beberapa meter dari gadis itu.


"Kau... Siapa?"


Tanya gadis itu dengan polos.


"Huh... Siapa aku itu tidak penting, yang penting adalah sekarang kau harus ikut bersamaku."


"Kenapa aku harus mengikuti seseorang yang tidak aku kenal?"


"Ohh... Kau mau bermain seperti itu rupanya."


Ucap wanita di hadapan sang gadis dengan nada sinis.


"Hey gadis kecil... Bukankah kau mencuri beberapa barang di tempat kami?"


Wanita itu melirik ke arah kotak senjata besar yang dibawa oleh sang gadis.


"Maksudmu ini...? Ini adalah souvenir yang kuambil dari teman lama."


Ucap gadis itu seakan tak bersalah.


"Souvenir katamu? Apa kau tahu berapa banyak yang telah terbunuh karena benda itu!"


Entah mengapa wanita di hadapannya menaikan suaranya seperti akan marah.


"..."


"Percayalah... Aku memahami hal itu lebih darimu."


Bisik sang gadis dengan tatapannya yang dingin.


Tatapan itu seakan menembus sang wanita hingga membuatnya mundur dan ragu.


Untuk sesaat sang gadis merasakan kesedihan dan amarah dalam dirinya tapi semua itu hilang seketika.


"..."


Gadis itu berjalan pergi ke arah cahaya meninggalkan sang wanita itu dalam kegelapan.


"Hey... Mau kemana kau!"


Teriak sang wanita.


Ia mendekati gadis itu dan mencengkram pundaknya.


Gadis itu berbalik dengan tatapannya yang tampak tak peduli. Wajahnya yang lelah berusaha menunjukan bahwa ia tidak ingin diganggu.


"Pulang... Kau juga sebaiknya pulang. Tidak ada yang bisa dicari di sini selain kehampaan."


Gadis itupun pergi meninggalkan sang wanita yang diam termenung. Ia masih memproses apa yang sedang terjadi.


"Apa dia benar-benar sebuah senjata mematikan seperti yang dibicarakan orang-orang?"


"Ck... Sialan!"


Wanita itu menyalakan sebuah alat komunikasi yang berada di tangannya. Suara seseorang terdengar dari balik alat komunikasi.


"Bagaimana keadaan di sana?"


"Huh... Aku telah melakukan kontak dengan target."


"A-apa...? Apa kau baik-baik saja? Apa saja yang kau lakukan?"


"Oy, oy, tenanglah sedikit. Kenapa kau begitu panik hanya karena seorang gadis kecil? Kalau bukan karena moodku sedang baik, pasti dia sudah habis sekarang. Tatapan sombongnya itu benar-benar membuatku muak."


"*Huff* sudah kuduga mengirimmu untuk tugas ini adalah sebuah kesalahan besar. Jadi bagaimana keadaan disana?"


"Huh... Aku baru saja membuat keributan di sebuah bar dan membunuh beberapa orang di sana."


"A-apa katamu?"


"Itulah yang kukira sampai pemilik bar itu melakukan sesuatu yang tidak masuk akal."


"Pemilik bar?"


"Ya... Aku tidak mau mengingatnya. Sebenarnya aku malu mengatakannya tapi memikirkannya saja sudah membuatku merinding."


"Aku tidak mengerti apa maksudmu... Lalu bagaimana dengan C-001?"


"..."


Wanita itu terdiam, tidak tau ingin mengatakan apa.


"Tidak ada perkembangan"


"*Huff* dasar kau ini..."


"Tenang saja... Aku akan mengajaknya bicara sekali lagi, kalau dia masih menolak, aku akan membawanya dengan paksa meskipun harus menyeretnya. Kirimkan saja gear milikku, akan kubereskan sisanya."


"Kalau sampai Dokter tau, aku bisa dalam masalah besar tapi mau bagaimana lagi sepertinya orang sombong sepertimu juga perlu diberi pelajaran."


"Oy... Apa maksudmu yang barusan itu?!"


"Gearmu akan sampai dalam waktu kurang dari 1 jam. INGAT... Jangan bertindak sembarangan."


Saluran komunikasi pada alat itupun ditutup dari pihak seberang.


"Huh... Dasar merepotkan"


.......


"...."


Di atas sebuah gedung yang sangat tinggi, sang gadis menatap ke arah (Badai) besar yang sedang menuju ke kota tempat ia berada.


Angin kencang mulai berhembus melewati kota di antara sela-sela gedung tinggi. Hawa mulai mencekam dan udara terasa sangat berat.


"..."


Gadis berambut putih dengan topeng hitamnya duduk termenung menatapi (Teman Lamanya).


"Siapakah yang pantas disebut pahlawan?"