
Tidak ada perbedaan yang signifikan dari penampilan mesin tersebut, hanya saja benda itu sekarang dipenuhi dengan garis cahaya merah dan api yang membara. Namun sedikit sulit untuk membedakan apakah api tersebut adalah efek perubahannya atau kerusakan yang disebabkan oleh serangan sebelumnya.
Kepala kokpit yang sudah tersobek menampilkan wajah pria gila yang sudah ditutupi berbagai kabel yang menancap di tubuhnya.
"T-tidak mungkin aku dikalahkan... TIDAK!!! Tidak akan lagi...!!!"
Api yang menyelimuti mesin itu semakin membara seakan-akan mesin itu bisa meledak kapan saja.
"Matilahhh...!!!"
Mesin terbang itu menembakkan seluruh senjata yang ia punya secara membabi buta. Senjata-senjata itu meledak dan membuat tempat itu dipenuhi dengan kobaran api.
Sampai saat benda itu kehabisan semua pelurunya, puncak menara sudah tampak seperti obor yang menyala-nyala.
Mesin itu mengeluarkan sebuah laras panjang dan aura energi tampak berkumpul di dalamnya.
Merasakan bahaya yang akan datang, sang monster kerdil mengubah cambuknya menjadi sebilah pedang. Ia juga akan melancarkan serangan terakhirnya.
Dengan cakarnya yang sudah tidak berbentuk dan tubuhnya yang hancur ia berusaha mendekatkan dirinya ke mesin yang sudah menyala-nyala itu.
Mesin itu bersinar semakin terang seperti akan meledak. Sang monster kerdil dengan segera berlari dan melompat ke atas mesin tersebut.
Awan gelap berkumpul di atas mereka dan akhirnya sebuah sambaran petir biru raksasa muncul bersamaan dengan pedang sang monster kecil yang ditancapkan ke tubuh sang mesin.
*Dummm
Kilatan cahaya berwarna biru... Itulah yang terakhir kali gadis itu lihat, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Sebuah kilatan yang pernah menghancurkan kota ini di masa lalu, kilatan yang membebaskan warganya dari kutukan kematian.
.
.
.
.
"...?"
Gadis itu terbangun di antara reruntuhan dan hal yang pertama ia lihat adalah tembok raksasa yang menjulang tinggi ke atas.
Hujan sudah berhenti, begitu juga malam sudah berakhir dan digantikan dengan cahaya mentari yang datang bersamaan dengan fajar.
Dari balik dinding masih terlihat bekas-bekas awan gelap dengan petir biru di dalamnya.
Hanya dengan sekali melihat gadis itu sudah menyadari bahwa ia berada di sisi lain tembok.
Begitu ia tersadar ia langsung mencari-cari keberadaan temannya yang sedari tadi sudah menghilang semenjak pertempuran dimulai.
Sebelumnya ia menyuruh temannya untuk mencari tempat yang aman tapi kini ia tidak yakin dengan segala kerusakan yang terlihat, apakah temannya masih dalam keadaan yang aman?
"Ray... Aku harus mencarinya."
Gumam pelan gadis itu.
Ia mencoba bangkit berdiri tapi sesaat kemudian rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya.
"Ugh..."
Kakinya hampir tak bisa digerakan sama sekali akibat ledakan yang terjadi sebelumnya, begitu juga dengan tangannya. Tubuhnya benar-benar sudah babak belur dengan luka hangus di sekujur tubuhnya.
"...?"
Tidak jauh dari sana terdapat puing-puing dari puncak menara yang terjatuh dan dari dalam puing bangunan itu sesuatu sedang bergerak keluar.
Sebuah benda yang mirip dengan cakar merangkak keluar dari dalam reruntuhan dan menampilkan sesosok makhluk kerdil yang sedang menyeret tubuh seseorang.
Ya... itu adalah monster kerdil Tuan Frederick yang sedang menyeret tubuh Kapten Primoz yang masih hidup dengan keadaan yang sekarat dan tak sadarkan diri.
Tepat setelah makhluk itu kembali menyentuh tanah, ia membantingkan tubuh pria yang ia seret dengan kasar lalu memecahkan kepala Kapten Primoz yang sudah tak berdaya dan seketika meninggalkan tubuhnya tergeletak begitu saja.
"..."
Kini sang monster dan Shiro saling bertatapan.
"Mari kita selesaikan ini..."
Ucap Shiro dengan suara yang hampir tidak bisa di dengar.
Baik ia dan monster kerdil itu sudah tidak dapat bertarung lagi namun mereka masih harus menyelesaikan pertarungan ini untuk selama-lamanya.
Bagaimana pun juga sang monster pada awalnya memilih sang gadis untuk menjadi malaikat kematiannya. Ia sudah lelah dengan hidup yang ia lakukan, terus menerus membunuh saudaranya sendiri meskipun tujuannya adalah demi membebaskan mereka dari tubuh terkutuk akibat outbreak.
Pikiran orang-orang itu sudah menggila namun jiwanya masih terperangkap dalam tubuhnya yang sudah bukan menjadi milik mereka lagi.
Kini semua orang-orang itu sudah tiada, yang ia inginkan sekarang hanyalah peristirahatan yang damai.
Sang monster dengan bersusah payah menyeret tubuhnya mendekat sampai pada akhirnya ia berdiri di hadapan sang gadis.
"Lakukan..."
Ucap sang gadis dengan tak berdaya.
Ia sudah menyerah... Ia kehilangan semuanya, orang yang ingin ia lindungi pun juga sudah tiada.
Ia juga tahu betul bahwa sesungguhnya sang gadis masih memiliki kekuatan untuk bertarung dibandingkan dengan dirinya yang sudah tak berdaya.
Namun karena semangat juang dalam dirinya yang sudah tiada... Semua sudah berakhir.
Mengerti akan perasaan gadis itu, sang monster pun mengangkat cakarnya tinggi-tinggi, hendak mengakhiri kehidupan sang gadis tanpa rasa sakit.
Gadis itu menutup matanya, ia sudah siap untuk apa yang akan datang.
Tapi...
*Dorrr
*Brukkk
Tubuh monster itu tergeletak begitu saja setelah sebuah tembakan mengenainya tepat di kepala.
"...?"
Sesosok pemuda berdiri di atas puing bangunan dengan sebuah pistol yang baru saja ia gunakan. Sebuah senjata yang memiliki banyak arti bagi sang gadis.
Gadis itu terkejut bukan main dan tanpa disadari setetes air mata turun membasahi pipi sang gadis.
"B-bagaimana mungkin...?"
Tanya sang gadis seakan-akan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Anggap saja... Aku sudah menguasai ilmu melarikan diri."
Balas sang pemuda itu.
Pemuda itu berjalan mendekati sang gadis dan menjulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.
"Apa yang kau tunggu? Perjalanan kita masih panjang bukan?"
Ucap sang pria menunggu sang gadis.
"Heh... Kau benar."
Gadis itu pun mengusap air matanya dan meraih tangan sang pemuda.
Semua sudah berakhir.
.
.
.
.
"Kita sudah menyelesaikan keinginannya."
Ucapnya setelah mengubur jasad Tuan Fredrick.
"Kau sudah mengistirahatkan rekan-rekanmu, kini giliranmu untuk beristirahat."
Ucapnya pemuda itu kembali seraya bangkit berdiri.
"Pada akhirnya peledak yang kau pasang menjadi tidak berguna."
"Kau benar..."
"..."
"..."
"Kau tidak penasaran dengan bagaimana caraku selamat?"
Gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan pemuda itu.
"Kau masih hidup... Itu sudah cukup."
Pemuda itu hanya membalas perkataan sang gadis dengan tertawa kecil.
"Ngomong-ngomong aku menemukan ini juga."
Pemuda itu menyerahkan pedang hitam milik sang gadis dan kotak senjata raksasa miliknya.
"Kau harus tahu perjuangan yang kulalui untuk menyeret benda berat ini. Bagaimana bisa kau membawanya semudah itu dalam pertempuran?"
"Aku akan mengajarimu kalau kau mau."
Balas gadis itu sembari menggendong kotak raksasa itu dengan mudah seakan-akan mengejek pemuda tersebut.
"Kurasa tidak perlu, membayangkannya saja sudah membuat punggungku sakit."
Mereka berdua pun tertawa kecil dan melanjutkan kembali perjalanan panjang mereka yang penuh rintangan.
Angin pagi yang berhembus melalui celah-celah reruntuhan dan cahaya matahari yang bersinar dari balik gedung-gedung tinggi yang hancur memberi suasana yang cukup aneh... Namun itu bukan sesuatu yang mengerikan.
Setelah malam panjang yang mereka lalui, bagi mereka berdua hal ini merupakan... Kedamaian.