New Sky

New Sky
Prologue 8



Pintu kedai bar terbuka.


Seorang gadis berambut putih memasuki kedai bar yang sudah sepi di malam hari.


"Wah... Wah... Siapa lagi jika bukan mitra yang terpercaya. Apa yang membuatmu datang ke tempat ini malam-malam begini?"


Gadis itu masih berdiri di depan pintu kedai. Ia berjalan perlahan ke arah sang penjaga kedai dengan satu kakinya yang diseret.


Cahaya lampu remang-remang menyinari tubuhnya dan menampakan luka di sekujur tubuh dan bercak darah biru robot yang masih tersisa.


"...Sepertinya tidurmu kurang nyenyak malam ini."


Ucap sang penjaga kedai melihat luka sang gadis. Suaranya tampak sedikit lebih serius.


"Bagaimana cara masuk ke dalam tembok?"


Tanya gadis itu tanpa berbasa-basi.


"Aku bukan orang yang suka bersimpati. Jadi..."


"Tenang saja... Aku punya bayarannya."


.


.


.


.


Gadis itu menuju ke tempat yang ditunjukan oleh sang penjaga bar. Ia mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk masuk ke dalam tembok adalah dengan melalui jalan rahasia yang ada di tempat seseorang bernama The Rat.


Dikatakan bahwa ia adalah penguasa di zona buangan kota itu. Semua hal yang terjadi di tempat itu selalu ia ketahui.


Gadis itu sampai di dekat pintu gerbang tembok raksasa.


Mayat-mayat manusia bertebaran dimana-mana, sebagian besar sudah tidak berbentuk akibat dihujani oleh ribuan peluru yang ditembakan oleh mesin di atas tembok.


Sungguh pemandangan yang menyedihkan dan memprihatinkan. Manusia sudah tidak memiliki moral lagi. Sejujurnya gadis itu ingin menyelamatkan kota itu, tapi ia tahu batas kekuatannya. Ia hanya bisa membunuh monster yang tampak di luar, bukan yang ada di dalam diri manusia.


"Kalau tidak salah di sini."


Gadis itu berhenti di depan sebuah rumah besar yang berada di dekat gerbang tembok.


Di depan rumah besar itu terdapat dua orang berbadan besar yang menjaga.


"Berhenti... Orang biasa dilarang masuk."


"Tembok besar akan runtuh dan iblis akan menguasai kota suci."


Kedua penjaga itu saling berpandangan satu sama lain. Mereka lalu mengangguk dan membukakan pintu masuk ke dalam.


Sang penjaga kedai memberitahukan kepada gadis berambut putih bahwa ia harus memberikan kata sandi khusus untuk masuk ke dalam tempat The Rat.


"Selamat datang... Wahai petarung pemberani."


"...?"


Suara seorang pria yang sedikit serak menggema di dalam aula rumah besar itu.


"Aku telah melihat pertunjukan malammu yang spektakuler. Para pendatang dari daerah berbahaya saling bertarung satu sama lain demi memperebutkan seorang anak kecil."


"..."


Seorang pria muncul dari balik bayangan. Sekujur tubuhnya telah hancur dan membusuk. Ia bernapas dengan menggunakan alat bantu medis, selang-selang infus juga menempel pada tubuhnya.


"Infected?"


Bisik gadis itu kepada dirinya sendiri.


"Ohh... Maafkan kelancanganku. Orang-orang biasa memanggilku The Rat.


Gadis berambut putih menganalisa orang yang menyebut dirinya The Rat itu. Ia adalah seorang infected atau bisa dibilang hampir. Entah bagaimana ia dapat memperlambat prosesnya dan membuat dirinya menjadi setengah zombie.


"Aku yakin kau sudah tau maksud kedatanganku di sini."


"Hmm... Tentu saja, tidak ada hal yang tidak kuketahui. Tapi... Hehehe... Kami para tikus buangan tidak bisa memberikan hal secara cuma-cuma."


"Apa yang kau butuhkan?"


"Heh...aku suka gayamu, tanpa basa-basi. Kau punya kekuatan yang luar biasa. Dan aku punya masalah yang mebutuhkan orang sepertimu."


"...Apa itu?"


"...Aku tahu kau tidak punya banyak waktu tersisa. Aku mengerti perasaan itu. Jadi aku hanya akan meminta balas budi sebagai balasan. Kalau suatu hari kau datang ke tempat ini lagi, aku ingin kau membantuku."


"Cukup adil."


Pria itu berjalan ke ujung aula.


"Buka gerbangnya!"


Setelah pria itu berteriak, seketika sebuah pintu tersembunyi menuju terowongan bawah tanah terbuka.


"Ikuti jalannya, kau akan sampai di seberang tembok. Ohh... Aku lupa, kau ingin mencari orang kan? Kalau begitu kau perlu orang yang memiliki banyak mata. Aku sudah menghubungi seseorang yang akan menjemputmu, tenang saja kau dapat mempercayainya."


"Tapi bagaimana aku dapat mempercayaimu? Kenapa kau mau membantuku?"


"Khehehe... Anggap saja salah satu temanmu merupakan kenalanku."


"Begitu rupanya... Jaringan bisnis gelap memang hebat."


"Hehe... Kau paham maksudku."


"Terimakasih, aku akan membayar kebaikanmu suatu hari nanti."


"Tentu..."


Gadis berambut putih memasuki lorong itu dan menghilang ditelan bayangan.


"Bos... apa kau yakin ingin melewatkan kesempatan ini? Kita bisa menggunakannya untuk melawan orang di dalam tembok."


"Apa kau meragukan pilihanku!"


Pria itu mendadak menaikan suaranya. Bawahannya pun terdiam.


"Lagipula... Aku masih memiliki hutang dengan bartender"


.


.


.


.


Gadis itu berjalan di lorong yang gelap, ia sebenarnya kurang mempercayai pria itu tapi karena ia haris segera mengejar para penculik itu, mau tidak mau ia akan mengikuti permainan pria aneh itu.


Tak terasa gadis itu sudah sampai di penghujung lorong. Ia sampai di sebuah jalur kereta bawah tanah.


"..."


Gadis itu menyusuri rel kereta dan sampai di stasiun bawa tanah yang sudah tak terpakai


Tempat itu benar-benar sepi dan gelap. Hanya sebagian lampu yang masih menyala. Gadis itu naik ke lantai atas melalui eskalator yang sudah tidak menyala.


Sesampainya di permukaan, gadis itu melihat bahwa ia sudah ada di balik tembok besar.


Ia berada di daerah pinggiran suatu pemukiman yang sangat sepi. Mungkin karena tempat itu berada di pinggir kota.


Gadis itu memanjat pagar kawat besi yang menutupi jalan masuk menuju tempat terbegkalai itu.


"Sekarang... Dimana aku bisa menemukan orang itu? Atau lebih tepatnya bagaimana dia akan menemukanku."


.


.


.


.


Sudah satu jam sejak gadis berambut putih sampai di dalam tembok. Ia sudah menjelajahi area pemukiman tempatnya datang dan menemukan sebuah stasiun kereta.


Tempat itu cukup ramai dipenuhi oleh orang-orang yang pulang dari tempat kerjanya.


Walau penampilannya sedikit berbeda dari orang-orang itu tapi tak ada satupun orang yang tampak peduli. Mereka benar-benar sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Layar digital bermunculan di tangan dan kepala mereka. Manusia benar-benar telah dikendalikan oleh teknologi.


Gadis itu masuk ke dalam kereta yang menuju ke pusat kota. Kereta itu melaju dengan kecepatan tinggi. Magnet yang menggerakannya dapat membawa kereta itu melaju dengan kecepatan suara.


Gadis itu melihat gedung-gedung tinggi mulai mendekat di kejauhan, sampai akhirnya pemandangan itu tertutup terowongan yang dimasuki oleh kereta.


"...!"


Mata gadis itu terbuka lebar ketika kereta yang ia naiki keluar dari dalam terowongan.


Pemandangan kota yang dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi dan cahaya lampu neon. Layar hologram yang muncul dimana-mana. Kendaraan yang melayang, jalur kereta yang tersebar di udara, orang-orang yang berlalu lalang di jalanan kota. Benar-benar kota yang berkilau.


"Selamat datang di El Gheriya."


Suara yang berasal dari speaker pemberitahuan informasi kereta berbunyi.


"...El Gheriya... Tidak buruk."


.


.


.


.


Gadis itu turun di stasiun pemberhentian pertama. Ia menjelajahi kota yang baru baginya ini.


Dari bawah ia melihat ke atas. Langit malam yang dipenuhi dengan gemerlap cahaya kota.


Pemandangan di dalam dan luar tembok memang jauh berbeda. Di sini orang-orang tampak lebih hidup dan bahagia. Tapi ini juga merupakan hal yang menyedihkan bagi gadis berambut putih mengingat kondisi di luar tembok.


Meski begitu ia merasakan perasaan yang cukup berbeda dari biasanya. Perasaan yang membuatnya nostalgia.


Melihat orang lain dapat hidup dengan normal di dunia yang sekarat ini membuat hatinya terasa damai.


Begitu lama ia melarikan diri dan bersembunyi di reruntuhan tak berpenghuni. Hidup dengan membunuh dan terus membunuh monster. Akhirnya ia bisa melihat seduatu yang... Normal.


"..."


Setelah terdiam mengangumi semua hal di kota itu untuk beberapa detik, ia kembali mendapatkan kesadarannya dan mengingat tujuannya.


Kalau yang mengirim dirinya ke sini adalah tikus maka ia harus berpikir seperti seekor tikus agar dapat menemukan orang yang ia cari.


.


.


.


.


Gadis berambut putih menyusuri seluruh gang kecil di antara sela-sela bangunan, berharap dapat menemukan hal yang ia cari. Tapi setelah mencari begitu lama ia masih tidak menemukan apa-apa.


Pada akhirnya gadis itu duduk di pojok sebuah gang gelap, berharap agar orang itu dapat menemukannya.


*Huff...*


"Kuharap anak itu baik-baik saja."


Gadis itu membeli sekaleng minuman kopi dari mesin minuman yang berada di dekatnya.


Meski begitu ia tak dapat merasakan rasa kopi itu, bukan karena minumannya yang sudah basi tapi hal ini sudah terjadi pada gadis itu sejak bertahun-tahun yang lalu.


Hari dimana ia kehilangan semuanya, termasuk perasaan dan indra tubuhnya. Itulah sebabnya ia tak bisa merasakan sakit. Satu-satunya yang bisa ia rasakan adalah rasa penderitaan manusia yang telah berubah menjadi monster.


"Oi... Oi... Oi... Lihat apa yang kita temukan di sini?"


"Hei nona cantik... Bagaimana kalau kita bermain sebentar?"


Dua orang berandalan mabuk datang memasuki gang tersebut.


Gadis berambut putih sudah bersiap untuk menghajar mereka, tapi tiba-tiba...


*Bukkk*


Seorang pria botak berbadan besar menggunakan jas hitam datang dan menghantam kepala dua berandalan itu satu sama lain.


"...?"


"Apa kau adalah orang yang di sebut olehnya?"


Gadis itu tidak mengerti tapi ia yakin orang ini adalah yang ia cari. Gadis itu juga menyadari bahwa pria itu sudah menyembunyikan sebuah pistol di belakang tubuhnya.


Tampaknya pria itu akan langsung membunuh dirinya jika ia bukan orang yang dicari. Pikir sang gadis berambut putih.


Gadis berambut putih mengangguk menyetujui perkataan pria itu.


"Ikuti aku."


Tanpa mengucapkan kata lagi, pria itu langsung pergi semakin dalam menuju gang gelap. Gadis berambut putih tidak memiliki pilihan lain selain mengikutinya.


Pria itu membawanya menyusuri gang gelap yang berliku-liku, memasuki lorong demi-lorong dan menuruni tangga di dalam sebuah bagunan.


"Kita sudah sampai."


"..."


Mereka berdua berdiri di depan pintu besi yang tampak kokoh.


Pria itu mengetuk pintu beberapa kali dan sepasang mata muncul dari balik pintu itu dan langsung meghilang kembali.


Seketika terdengar suara kunci pintu di geser dan pintu itu langsung terbuka seketika.


Di balik pintu itu terdapat lorong luas yang diterangi oleh cahaya neon berwarna ungu.


Gadis berambut putih melihat ke arah orang yang menjaga pintu di belakangnya sebelum melanjutkan perjalanannya.


Samar-samar terdengar lantunan musik EDM yang biasanya digunakan pada club malam.


Di ujung lorong terdapat pintu lainnya yang dijaga oleh beberapa orang, di depan pintu itu juga terdapat banyak sekali orang yang mengantri untuk masuk ke dalam.


Pria berbadan besar itu langsung menerobos antrian tanpa ragu sedikitpun, diikuti oleh gadis berambut putih di belakangnya.


Entah mengapa tidak ada satupun orang yang memprotes kelakuan pria tersebut.


"Tamu untuk bos."


Ucap pria berbadan besar itu kepada penjaga. Orang itu mengangguk dan pangsung membukakan pintu.


Di balik tempat iti terdapat sebuah club malam yang sangat besar. Orang-orang yang menari tanpa busana di bawah cahaya neon, para penjudi yang bermain di kasino, bar mewah dan para mafia kota yang sedang berbisnis.


Bagaimanapun juga, bagian luar dan dalam tembok punya sisi gelapnya tersendiri.


Mereka berdua memasuki sebuah ruangan yang diterangi oleh cahaya remang-remang lampu neon. Di sana seorang pria berpakaian mewah dan rapih telah menunggu, ditemani oleh pengawal dan wanita-wanita malam.


"Bos... Aku sudah membawanya."


Pria itu meletakan puntung rokonya dan melambaikan tangannya, menyuruh semua orang untuk keluar.


"Kau juga."


Ucap pria itu kepada pria botak yang membawa gadis berambut putih.


"Apa kau yakin?"


"Ya."


Pria botak itu mengangguk dan meninggalkan mereka berdua sendirian.


"Aku sudah menunggumu. Anjing kesayangan bartender. Atau harus kukatakan... Serigala?"


"..."


"Hehe... Aku hanya bercanda, tidak perlu dibawa serius. Bagaimana kalau duduk dan minum dulu?"


Pria itu menunjuk ke arah kursi dan minuman yang disiapkan.


Gadis berambut putih hanya duduk tanpa meminum minuman yang mencurigakan baginya.


Aku tahu apa yang kau mau, dan aku memilikinya."


"..."


"Aku punya mata dimana-mana, hal seperti ini tentu saja sangat mudah bagiku. Tapi tentu saja ada barang ada harga, itu peraturan di kota ini."


"Sebutkan penawaranmu."


"Heh... Di dunia bawah, reputasimu sudah sangat tinggi terutama di kalangan mercenary. Aku perlu kekuatanmu, aku yakin kau sudah sering menerima pekerjaan seperti ini."


"Mudah saja... Tapi kalau ingin menggunakan jasaku, harus menggunakan peraturanku."


"Ohh...? Baiklah, kita ikuti aturan mainmu."


"Pertama... Hanya menerima makhluk bukan manusia. Kedua, jelaskan semua detail yang kau tahu tentang makhluk buruanmu. Ketiga sebutkan alasanmu memburunya tanpa menambahkan atau mengurangi sesuatu. Aku ingin kau jujur denganku."


"Bagaimana kau akan tahu kalau aku berbohong?"


"Aku bisa melihat kebohongan seseorang."


"Hmm... Baiklah, pelayanan berkualitas perlu usaha yang berkualitas. Kita sepakat."


Sebuah layar hologram muncul di atas meja, menampakan foto dan rekaman kamera pengawas dari sesosok monter.


"Simpelnya aku punya rekan bisnis, dan karena suatu alasan kami bertengkar. Pertengkarannya cukup hebat sampai dia mencoba membunuhku beberapa kali."


"Kau yakin hanya bertengkar?"


"Hanya pertengkaran bisnis biasa, sering terjadi diantara para pengusaha."


"Lanjutkan."


"Aku mengirim beberapa pembunuh bayaran untuk membunuhnya tapi aku baru mengetahui jika ternyata orang ini terinfeksi oleh energi Anomaly. Entah apa yang terjadi padanya, aku juga tidak begitu peduli."


"Lalu?"


"Lalu... Walaupun orang ini sudah menjadi Anomaly, ia masih mencoba membunuhku. Bahkan kekuatannya meningkat pesat. Aku mengirim lebih banyak orang dan mereka semua langsung mati."


"Berapa banyak yang kau kirim?"


"Sekitar 200 pembunuh professional dan ratusan pasukan polisi yang mencoba menghentikannya mengamuk di tempat umum."


"Kau benar-benar perlu belajar banyak tentang menghargai nyawa."


"Mereka hanyalah orang-orang rendahan yang selalu memikirkan uang, mereka berhak mendapatkammya."


"Baik, aku mengerti alasanmu. Lanjutkan ke spesifikasinya."


"Sejujurnya aku bukan orang yang cukup ahli tentang hal ini, tapi dari yang kudengar serangan fisik tidak akan berpengaruh padanya, dia juga meiliki kelincahan yang tinggi. Kurasa dia memiliki Class yang cukup tinggi. Hanya itu yang kutahu."


"..."


"Kamera pengawas terakhir kali menangkap pergerakannya di daerah pinggiran kota tepatnya di district 13 pada pukul 8 malam belum lama ini."


"Itu sekitar 5 jam yang lalu."


"Mereka belum melihat pergerakan lainnya jadi seharusnya makhluk itu belum pergi dari sana."


"Ada lagi yang harus kuketahui?"


"Ya... Aku ingin kau membawa kepala makhluk itu secepat mungkin. Sebelum dia datang dan mengambil kepalaku."


"Hmm, baiklah."


Gadis berambut putih berdiri dan berjalan ke pintu keluar.


"Aku akan memperingatimu serigala..."


"...?"


"Kau tidak punya banyak waktu, begitu juga dengan anak itu."


Gadis berambut putih pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah lagi.


.


.


.


.


Gadis berambut putih mengikuti jejak monster itu hingga ke sebuah saluran pembuangan di pinggir kota. Di misi kali ini, ia membawa kotak senjata besarnya bersamanya.


*Pluk*


Ia melompat turun ke atas genangan air.


Di depannya terdapat terowongan saluran pembuangan besar yang sangat gelap dan bau. Ia berjalan masuk tanpa rasa takut sedikitpun.


"Bu...nuh."


"...?"


Ia mendengar suara bisikan yang menggema di dalam terowongan itu.


"..."


Sesosok bayangan hitam terlihat di balik ujung kegelapan terowongan.


Gadis berambut putih mengeluarkan pistolnya yang dilengkapi dengan peredam suara dan menembakannya ke arah mahluk itu.


"...?"


Pelurunya menembus makhluk itu.


"Class-B sama seperti yang waktu itu."


*Wusshhh*


Bayangan hitam itu melaju dengan cepat seperti hembusan angin kencang dan berhenti tepat di depan gadis berambut putih.


Makhluk itu tidak memiliki mata, hidung, maupun telinga. Hanya mulut lebar dengan senyuman yang mengerikan terpampang di wajahnya.


Gadis berambut putih dengan segera melompat kebelakang untuk menghindari cakaran mematikan dari makhluk itu.


Ia mengangkat kakinya dan menendang wajah makhluk itu hingga lehernya bengkok.


Ia mencoba menendang makhluk itu sekali lagi tapi kali ini serangannya menembus makhluk itu.


"Kehehehehehehehe..."


Monster aneh itu mengeluarkan suara mengerikan seperti sedang tertawa.


Tampaknya makhluk ini dapat memadatkan dan menyublimkan tubuhnya. Ia hanya akan memadat saat menyerang jadi diperlukan timing yang pas untuk menyentuhnya.


Tapi itu bukan satu-satunya masalah. Monster class B seperti ini memerlukan senjata atau peluru khusus untuk menyerangnya, tidak heran orang-orang kesulitan untuk mengalahkannya.


Gadis berambut putih berusaha menjadi lebih efektif karena ia masih punya banyak urusan yang harus diselesaikan.


Ia tak mau ambil pikir panjang dengan segala strategi atau timing yang merepotkan.


*Ceklek*


Ia membuka kotak senjatanya dan menarik sebuah senjata besar dari dalamnya. Senjata itu tampak seperti sebuah meriam raksasa dengan bilah pisau raksasa tertempel di sampingnya atau bisa dibilang sebuah pedang raksasa yang dapat dijadikan meriam.


Gadis berambut putih mengambil satu langkah cepat bahkan lebih cepat dari makhluk itu lalu memotong lehernya dalam satu tebasan tak bersuara.


*Pluk*


Kepala itu jatuh terguling di tanah. Tubuhnya hancur menjadi kabut hitam. Tidak ada darah yang menetes dari tubuhnya.


"..."


"Misi selesai."


Gadis berambut putih mengambil kepala monster yang entah mengapa tidak ikut menghilang bersama tubuhnya dan membawanya pergi bersamanya.


.


.


.


.


*Bruk*


Gadis berambut putih melempar kepala monster itu ke atas meja dan mengejutkan semua orang yang berada di sana.


"I-ini... asli? Bahkan tidak sampai satu jam."


Ucap pria itu terkejut.


"Sekarang aku paham kenapa reputasimu sangat tinggi."


"...Aku bahkan tidak tahu tentang reputasi ini. Yang lebih penting..."


"Tentu saja aku mengerti... Aku pria yang menepati janji. Aku akan memberitahumu semua yang kutahu."


.


.


.


.


*Duarrr*


Gadis itu mendobrak pintu besi yang amat tebal, awalnya ia mengira akan ada alarm yang akan berbunyi tapi yang menyambutnya adalah ruangan gelap yang kosong.


"Ck... Sialan, aku terlambat. Orang itu akan membayarnya suatu hari nanti."


Beberapa saat yang lalu.


"Aku akan memberitahumu semua yang kutahu."


"..."


"Orang-orang itu cukup berani, mereka memiliki tempat persembunyian di tengah kota, atau lebih tepatnya semacam labolatorium kecil. Sepertinya mereka sempat melakukan beberapa percobaan di sana."


"...!"


"Dan jujur harus kukatakan... Semua yang mereka bawa ke sana tidak pernah kembali."


"Cepat katakan dimana tempat itu berada!"


"Oy... Oy... Tenanglah dulu, tempat itu tidak jauh dari sini. Aku akan memberikan lokasinya padamu. Sebenarnya penjagaan tempat itu tidak terlalu ketat, tapi aku yakin kau sudah tahu seberapa kuat orang-orang di sana."


Setelah pria itu memberikan lokasi dan detail penjagaan tempat itu, gadis berambut putih segera pergi keluar.


"Ohh... Hehe... Aku lupa bilang seduatu padamu."


"...?"


"Kalau tidak salah, mereka baru saja akan membawa pergi anak yang kau cari itu, mungkin saat kita bicara sekarang ini mereka sudah membawanya pergi?"


Ucap pria itu dengan nadanya yang licik.


"Kau...!!!"


Kembali ke saat ini


Tempat gelap yang dimasuki oleh gadis itu tampak sangat berantakan. Tampaknya orang-orang di sana terburu-buru saat pergi.


Gadis itu mengecek beberapa dokumen yang tertinggal di tempat itu.


Di atas dokumen-dokumen itu terdapat lambang aneh dengan tulisan Lab 48 di bawahnya.


"Sudah kuduga, pantas terasa familiar."


Bisik gadis itu pada dirinya sendiri.


Ia membuka dokumen tersebut, di dalamnya berisi data rinci tentang gadis kecil yang diculik.


Subject name: SR-509


Umur: 14 tahun


Tinggi: 156 cm


Berat: 45 kg


Kemampuan: (Belum diketahui)


Tingkat ancaman: S


Dan beberapa informasi lainnya juga tertera di sana, fasilitas tempat gadis itu berada sebelum dipindahkan dan perintah penangkapan gadis kecil itu.


Gadis berambut putih pergi ke ruangan selanjutnya. Di sana terdapat ruang operasi yang sudah hancur berantakan seperti di terjang badai.


"...?"


Meski sudah hancur lebur dan gosong tapi masih dapat dilihat bahwa sebelumnya terdapat meja operasi di tengah ruangan itu dan berbagai alat mekanik yang mengelilinginya.


Sepertinya mereka sudah melakukan sesuatu pada anak itu. Pikir sang gadis berambut putih.


Gadis itu menemukan dokumen lainnya yang berisi perintah untuk segera membawa gadis itu kembali ke markas mereka.


"Ini... Rekaman?"


Gadis itu menemuka sebuah alat kecil semacam penerima pesan suara. Suara dua orang yang disamarkan terdengar dari alat itu.


"Kami berhasil menangkap target tapi C-001 masih belum berhenti mengejar."


"Bagus... Menangkap gadis itu dalam pengawasan C-001 sudah lebih dari cukup. Segera bawa gadis itu ke pinggiran kota, markas akan mengirimkan bantuan secepat mungkin."


"Dimengerti."


"Kami mengalami sedikit masalah dengan The Storm, jadi akan ada sedikit keterlambatan untuk sampai ke sana. Estimasi waktu yang diperlukan sekitar 12 jam. C-001 masih menahan dirinya tapi tetap berhati-hatilah. Apapun yang terjadi, jangan biarkan S.A.V.I.O.R. mendapatkan gadis itu."


Seketika rekaman terhenti di sana.


"..."


Gadis itu berkeliling di lab kecil itu lagi, berharap menemukan sesuatu yang berharga seperti lokasi yang akan mereka tuju. Tapi tampaknya ia kurang beruntung, gadis itu tak menemukan apa-apa lagi.


"Huff... Aku mulai bosan melakukan pekerjaan ini."


Mau tidak mau gadis itu harus kembali menggunakan cara lama dalam mencari seseorang.


.


.


.


.


*Bukkk*


Gadis itu menendangkan kakinya ke atas meja dan menarik kerah baju pria itu.


"Katakan... Kemana mereka pergi atau aku akan menghajarmu hingga tidak bisa berbicara lagi."


"Oyy... Apa yang kau lakukan!"


Salah seorang pengawal pria itu mengangkat tangannya untuk menghajar gadis itu tapi detik berikutnya ia menemukan dirinya telah terbanting ke lantai.


"Heh... Baiklah, aku akan memberitahumu. Aku juga sudah puas bersenang-senangnya, maafkan soal yang sebelumnya."


"Tidak akan sebelum aku menghajarmu."


"Mereka pergi ke arah Barat. Keluar dengan cara yang sama saat mereka masuk. Pemukiman di sebelah Barat bagian luar tembok tidak memiliki banyak bangunan, aku yakin kau akan langsung tahu dimana mereka bersembunyi."


"Apa aku bisa mempercayaimu?"


"Heh... Mau tidak mau kau harus bertaruh pada informasi ini."


"...Kau berhutang kepala padaku."


Segera setelah itu, gadis berambut putih meninggalkan mereka dan pergi mengikuti jejak para penculik itu hingga keluar kota.


Gadis itu pergi ke seberang tembok menggunakan lorong rahasia tempat ia masuk. Tapi saat ia keluar, gadis itu mendapati rumah besar milik The Rat telah kosong. Tidak ada satu orang pun di sana.


Kecurigaannya tentang orang itu semakin meningkat tapi ia tidak mau ambil pikir panjang. Ia pergi dari rumah besar itu dan melihat seisi pemukiman juga sepi.


Tapi suara ramai terdengar dari gerbang tembok, gadis itu pergi ke sana untuk melihat keadaan.


"Tembok besar akan runtuh dan iblis akan menguasai kota suci."


Gadis itu melihat orang-orang berbaris dengan senjata menuju ke arah gerbang kota, mereka sedang memulai pemberontakan. Meski begitu percuma saja, mereka hanya akan dihabisi dalam sekejap.


Benar-benar akhir yang menyedihkan bagi kota ini. Pagi hari ini, akan terjadi banyak pertumpahan darah.


"Aku harus segera mencarinya."


Gadis itu segera pergi ke wilayah barat pemukiman. Benar saya di sana hanya terdapat sedikit rumah, kebanyakan hanya lahan bercocok tanam yang tentu saja tidak terdapat tanaman apapun akibat wilayah yang kering.


"..."


Gadis itu menemukannya, bangunan yang cukup besar terpisah jauh dari pemukiman lainnya. Tempat yang cocok untuk menyembunyikan orang.


.................................


"Lepaskan aku...!"


Gadis kecil itu berteriak meminta tolong sembari dirinya diseret menuju ke dalam sebuah ruangan gelap oleh para prajurit berzirah hitam.


Mereka mengikat tubuh gadis itu di sebuah kursi besi yang ditahan menggunakan rantai dan membungkam mulut gadis kecil itu.


"Mmmmm......!!!!!"


Salah seorang prajurit memukul gadis itu dengan senapannya untuk membuatnya diam.


*Bukk*


"..."


Sebagian dari para prajurit itu pergi keluar ruangan dan sisa lima orang ditinggalkan di dalam ruangan bersama dengan sang gadis. Anehnya mereka menodongkan senjatanya ke arah sang gadis bukan ke pintu masuk, seakan-akan ancaman datang dari dirinya bukan dari penyusup yang akan datang kapan saja.


...............................


10 jam sebelum waktu penjemputan.


Setelah satu jam melakukan penyelidikan terhadap bangunan mencurigakan di pinggiran kota. Gadis berambut putih itu sudah mengkonfirmasi keberadaan sang gadis kecil, ia juga sudah memetakan denah bangunan tersebut beserta para penjaga dan lokasinya. Semua persiapan telah selesai.


"...!"


Gadis berambut putih mendengar suara sirine yang sangat keras dari kejauhan, asalnya dari gerbang kota. Tampaknya para pemberontak sudah mulai beraksi.


"Maaf... Aku tidak punya waktu lagi."


.


.


.


.


*Dummm*


Pintu depan bangunan besar itu meledak seketika dan menghempaskan pasukan di sekitarnya.


Semua penjaga yang berada di luar sudah dikalahkan tanpa tersisa. Dan tak lama lagi semua yang ada di dalam juga akan bernasib sama dengan yang di luar.


"..."


Seorang gadis berambut putih yang membawa sebuah katana hitam yang di selimuti oleh sambaran listrik ungu berjalan memasuki bagian dalam bangunan.


Satu demi satu penjaga ia habisi dengan mudahnya. Setelah bertarung berkali-kali dengan mereka kini semuanya terasa jauh lebih mudah dibanding saat pertama kali melawan para prajurit itu.


Gadis berambut putih sampai di depan ruangan tempat sang gadis kecil berada. Ia menebas gagang pintu yang terkunci di depannya dan mendobrak masuk ke dalam.


"Mmmmm.........!!!!!!"


Di dalam sana terdapat sang gadis kecil yang terikat sendirian di dalam ruangan. Tubuh gadis itu dipenuhi dengan tanda-tanda bergaris merah yang membentuk pola acak.


"Jangan khawatir aku akan menyelamatkanmu."


Ucap sang gadis berambut putih.


Ia menyarungkan pedangnya dan melepaskan benda yang menyumpal mulut sang gadis.


"Di belakangmu......!!!!!!"


Teriak sang gadis kecil segera setelah mulutnya bebas


"...?"


Ia lupa dan baru saja menyadari bahwa para penjaga yang bersama dengan sang gadis kecil sudah tidak ada.


*Bukk*


Benar saja teman lama sang gadis berambut putih yaitu prajurit yang membawa cakar raksasa menghantam kepalanya hingga membentur lantai.


Dengan cepat prajurit lainnya membantu menahan tubuh sang gadis berambut putih.


Salah seorang prajurit menodongkan senjatanya kepada gadis berambut putih. Ia melepaskan pengaman senjatanya dan menarik pelatuk senjatanya. Sebuah peluru yang dialiri energi aneh terbang menuju kepala sang gadis berambut putih.


"Hentikannn.......!!!!!!"


Sang gadis kecil berteriak. Waktu seakan-akan terasa melambat untuk sesaat.


Detik berikutnya sebuah ledakan energi muncul dari tubuh sang gadis kecil dan menghempaskan mereka semua yang berada di dalam ruangan.


*Bummm*


Sebuah gempa datang bersamaan setelah ledakan energi tersebut. Aura aneh menyelimuti area sekitar dan membuat udara terasa berat.


Aliran energi dari dalam tubuh sang gadis menyambar keluar menyerang tanpa pandang bulu.


Para prajurit berzirah hitam yang terkena sambaran energi langsung hancur lebur dalam sekejap.


Hanya butuh hitungan detik sampai mereka semua mati dan menyisakan sang gadis berambut putih. Kini semua sambaran energi itu terfokus pada dirinya.


"..."


Gadis berambut putih menunjukan ekspresi yang kurang enak. Setelah sekian lama akhirnya ia kembali merasakan hal yang tak pernah ia bisa rasakan sebelumnya. Rasa sakit.


Gempa yang terus mengguncang tanah dan energi yang tak terkendali mulai meruntuhkam bangunan sedikit demi sedikit.


Gadis kecil yang menjadi sumber semua ini menjerit kesakitan, tubuhnya melayang di udara dengan cahaya aneh yang keluar dari garis di tubuhnya.


Gadis berambut putih berusaha berdiri dengan bersusah payah. Langkah kakinya terasa begitu berat dan rasa sakit di tubuhnya semakin bertambah.


"Jadi mereka masih melakukan hal semacam ini pada anak-anak."


Akhirnya setelah sekian langkah penuh perjuangan, gadis berambut putih sampai di hadapan sang gadis kecil.


"Anak yang malang..."


Untuk sesaat tubuh gadis berambut putih terasa ringan kembali, rasa sakit di tubuhnya juga sudah menghilang sepenuhnya meskipun energi mematikan masih terus-menerus menyambar ke arahnya. Untuk sesaat semua terasa damai.


Gadis berambut putih menyentuh dahi gadis kecil itu dan seketika energi mematikan yang memancar dari dalam tubuhnya kembali memasukinya dan menghilang tanpa jejak.


Gadis berambut putih menangkap tubuhnya yang terjatuh dan membaringkannya dengan perlahan.


"..."


.


.


.


.


"..."


Sang gadis kecil membuka matanya perlahan. Ia melihat langit malam di atas kepalanya dan bantaran pasir di sekitarnya.


Ia juga mendapati bahwa dirinya berada di atap sebuah bangunan kecil yang berada di tengah gurun, bukan sebuah bangunan besar di dekat kota.


"...?"


Di hadapannya terdapat seorang gadis berambut putih yang duduk diam di atas pagar atap.


Matanya terpejam, rambut putihnya yang berkilau terhembus oleh angin malam gurun.


Tangannya masih siap siaga memegang pedang hitamnya dengan kotak senjata raksasa yang tersender di sebelahnya.


Gadis itu membuka mata biru berkilaunya dan menatap balik ke arah sang gadis kecil.


"..."