
"Bagaimana situasinya?"
"Tempat ini benar-benar sudah dipenuhi oleh mereka. Semua rute keluar juga sudah diblokir."
Ucap gadis berambut putih yang baru saja kembali dari pengintaiannya.
"Tampaknya kita terperangkap untuk sementara waktu... Apa kau punya rencana?"
Matahari masih belum terbit tapi kami sudah benar-benar kelelahan. Belum sempat beristirahat dari hari yang melelahkan, para pasukan S.A.V.I.O.R kembali datang untuk menangkap kami dan sepanjang malam kami habiskan untuk berlari dari kejaran mereka hingga saat ini.
"Kurasa akan sulit untuk mengendap-endap tanpa diketahui dan menggunakan kekerasan akan terlalu berisiko."
"...?"
Aku merasakan titik-titik air di wajahku dan berikutnya hujan mulai turun membasahi seluruh distrik.
"Hujan... Sepertinya akan bertambah deras. Hmm...?
*Dummm
Di kejauhan terdengar suara ledakan dengan kepulan asap yang muncul di kejauhan. Di lihat dari jaraknya, ledakan itu cukup besar hingga bisa terdengar sampai ke sini.
"Sepertinya dia juga sudah mulai bertindak."
"Ayo pergi..."
"Eh?"
"Sekarang adalah kesempatan kita, selagi perhatian mereka teralihkan."
"Kurasa tidak akan semudah itu... Mereka pasti sudah memiliki tim yang siap menjaga seluruh jalan keluar."
"..."
"..."
"Huh... Kau benar, kita tidak boleh terlalu gegabah. Aku akan memeriksa ulang penjagaan setiap pos keluar, kita akan menyelinap melalui tempat yang paling sedikit penjagaannya."
"Baiklah aku akan menunggumu."
.
.
.
.
"Baiklah... Jadi begini rencananya."
Ucap gadis itu setelah ia kembali.
"Pertama-tama..."
Setelah Shiro mengatakan keseluruhan rencananya, kami bergegas pergi menuju ke pos penjagaan yang ia bicarakan.
Jalan keluar distrik yaitu berupa gerbang yang cukup lebar yang dijaga dengan sangat ketat, mereka bahkan menambahkan pagar besi untuk menutupinya.
Entah bagaimana hanya dalam semalam mereka sudah membangun sebuah menara pengawas yang menjulang tinggi.
"Bukankah kau bilang ini adalah pos yang paling aman?"
"Benar..."
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan pos lainnya.
"Ayo..."
Dengan perlahan kami bergerak mendekati pos itu. Shiro berjalan di depan sementara aku mengikutinya dari belakang.
Menara pengawas yang terus mengawasi menggunakan lampu sorotnya dan banyaknya penjaga yang berkeliling membuat kami harus menyelinap perlahan dengan berjalan dari benda-benda yang dapat membantu kami bersembunyi ke benda lainnya seperti kotak barang yang aku tidak tahu isinya hingga kendaraan dan bangunan-bangunan kecil.
Satu persatu penjaga yang kebetulan berada di jalan kami dilumpuhkan satu demi satu oleh gerakan mematikan milik Shiro. Kuharap ia tidak membunuh mereka karena kelihatannya sangat menyakitkan.
Dan pada akhirnya sampailah kami di penghujung jalan. Pagar besi menghalangi kami tapi sesuai dengan rencana kami akan melompatinya untuk sampai di sisi seberang. Pagar tersebut tidak terlalu tinggi sehingga seharusnya cukup mudah untuk melewatinya.
Aku akan pergi terlebih dahulu sementara Shiro sudah bersiap menjaga di belakang dengan senapan barunya yang ia ambil dari salah satu korbannya.
"Aman... Cepat pergilah!"
Bisiknya kepadaku.
Akupun langsung bergegas menuju ke pagar tersebut tapi...
*Duarrr
Seketika rasa sakit yang tak tertahankan menjalar di sekujur tubuhku. Aku juga mencium sedikit bau terbakar dan asap.
Tanpa disadari tubuhku juga sudah terbaring di tanah dan kesadaranku semakin memudar. Sepertinya aku terlalu banyak pingsan dalam perjalanan ini...
Sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, kesadaranku sudah menghilang dan hanya tersisa kegelapan yang menghampiri.
......................
"Ray...!"
Pemuda itu terlempar kebelakang tepat saat ia menyentuh pagar tersebut. Siapa yang menyangka bahwa ternyata benda itu dialiri listrik bertegangan tinggi.
"(Sialan... Kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya.)"
Akibat hal tersebut juga para penjaga mulai berdatangan.
"Lapor... Kami menemukan salah satu dari penyelinap."
"Segera amankan dia dan periksa identitasnya!"
"Dimengerti!"
Seorang prajurit yang tampaknya baru saja menghubungi atasannya dengan segera memerintahkan rekan-rekannya untuk mengamankan Ray.
Shiro ingin sekali keluar dan menyelamatkan temannya namun situasi saat ini benar-benar tidak mendukung karena akan sulit untuk melarikan diri sembari membawa seseorang yang tak sadarkan diri.
Untuk saat ini mundur dan kembali menyusun rencana adalah satu-satunya jalan.
"..."
......................
"...?"
"Jujur aku cukup terkejut kau masih bisa bertahan hidup setelah menerima tegangan listrik setinggi itu."
"...?"
Seseorang baru saja memasuki ruangan, seorang pria... Siapapun yang melihatnya pasti akan langsung mengetahui bahwa ia adalah seorang petarung sejati.
"Ohh... Maafkan aku, seharusnya aku nemperkenalkan diriku terlebih dahulu."
Aku juga baru menyadari bahwa mereka sama sekali tidak menahan diriku. Tubuhku dapat bergerak dengan bebas tanpa borgol atau apapun yang menahan.
Mungkin karena mereka terlalu meremehkanku yang mana memang benar atau pria ini sangat yakin dengan kemampuannya.
"Namaku adalah Mattis Primoz... Orang-orang memanggilku Kapten Primoz. Dan kau adalah?"
"Joe..."
Nama itu terucap entah dari mana. Jika aku memberitahu nama asliku akan sangat berisiko, mereka dapat melacak tempat tinggalku dan jika mengetahui aku bersama dengan Shiro... Kurasa aku harus menghabiskan seumur hidupku dengan berlari.
"Joe?"
"Hanya Joe..."
"Baiklah joe... Di mana kau tinggal?"
"Bukankah terlalu aneh jika tiba-tiba menanyakan tempat tinggal seseorang yang baru kau temui?"
"Benarkah...? Kami hanya ingin mengantarmu pulang, apa kau tahu kalau tempat ini sangat berbahaya? Joe..."
"Aku tidak tahu... Aku tinggal di sini, semua baik-baik saja sampai kalian datang kemari."
"Benarkah begitu? Kalau begitu apa kau tahu apa yang terjadi di tempat ini?"
"Entahlah... Aku tidak begitu mengingatnya, semua terjadi begitu cepat. Tiba-tiba terjadi ledakan yang besar dan aku jatuh pingsan, saat aku terbangun semua orang sudah tiada."
Tentu saja semuanya hanyalah kebohongan belaka yang tiba-tiba terlintas di pikiranku.
"Hmm... Lalu bagaimana dengan temanmu yang satunya itu? Bukankah sebelumnya kalian bersama?"
"Huh... Mungkin dia sudah melarikan diri? Lagipula aku tidak begitu mengenalnya, kami belum lama ini bertemu, sepertinya kami tinggal di blok yang berbeda."
"..."
"..."
"Kau sudah selesai?"
"Kurasa."
"Huh... Kurang lebih aku mengerti, sekarang bisa tolong kau jelaskan tentang ini?"
Pria itu mengeluarkan sebuah pistol yang Shiro pinjamkan kepadaku. Sepertinya dia mengambilnya sewaktu aku pingsan.
"Model yang sangat familier bukan? Kalau tidak salah ini berasal dari tempat kami, apalagi ini adalah jenis yang sangat spesial. Ayo kita mulai dari awal. Akan kutanya sekali lagi Joe... Siapa namamu?"
*Dummmm
Seketika suara ledakan besar datang dari luar dan membuat alarm berbunyi.
"Mungkin aku salah tentangnya... Kurasa dia tidak melarikan diri."
"Tch dasar keparat... Aku akan kembali lagi dan menghajar kalian semua hingga kalian mengatakan semua yang perlu ku ketahui!"
"Hey tunggu..."
Pria yang baru saja menarik gagang pintu untuk pergi keluar menghentikan langkahnya.
"Bisa aku minta benda itu kembali? Sangat sulit untuk mendapatkannya."
Ucapku kepadanya dengan bermaksud menunjuk ke arah senjata yang ia ambil dariku.
"..."
Pria itu kembali menutup pintu lalu mendekatiku dengan perlahan.
Aku merasakan firasat buruk.
*Bukkk
Sebuah pukulan tepat mengenai wajahku membuatku terlempar dari kursi tempatku duduk.
"Gguhhh."
"Kurasa kau harus belajar sedikit sopan santun... Pencuri kecil."
Lalu pria itupun pergi keluar ruangan. Aku mendengar suara pintu terkunci, sepertinya aku tidak akan bisa keluar untuk beberapa saat.
Aku memeriksa tempat ia memukul wajahku. Aku tidak akan bermain-main lagi dengan seorang prajurit. Darah menetes keluar dari mulutku, tampaknya bibirku tersobek.
Paling tidak ia hanya mencurigaiku sebagai seorang pencuri, kurasa banyaknya orang-orang dengan pekerjaan ilegal yang datang ke tempat ini membuat kami dicurigai sebagai salah satu dari mereka. Kurasa itu adalah hal yang bagus, dengan begini mereka tidak akan mencurigai Shiro tapi... Apa yang harus kulakukan sekarang?
Selama beberapa saat aku terus menunggu di dalam ruangan yang kecil itu ditemani dengan suara ledakan, tembakan dan segala keributan lainnya di luar.
Aku melihat ke sekeliling ruangan. Tampaknya tidak ada kamera pengawas, mungkin karena ini adalah markas darurat yang mereka buat?
Ruang ini juga tidak memiliki ventilasi udara. Apa mereka tahu mereka dapat membunuh seseorang di sini?
*Ceklek
"Akhirnya datang juga."
Ucapku sembari duduk dengan santai menyambut tamu yang datang.
"..."
"Maaf... maaf. . aku tahu aku memang tidak berguna. Ayolah jangan memasang wajah seperti itu."
Gadis berambut putih di depanku memasang wajah datar seperti biasanya, tapi aku tahu ada maksud lain yang tersembunyi di baliknya.
"Ayo kita pergi, selagi keadaan di luar masih kacau."
"Apa yang terjadi?"
"Aku akan jelaskan dalam perjalanan."
Dan dengan begitu akhirnya aku bisa keluar dari ruangan yang menyiksa itu.