
Pagi telah tiba di kota reruntuhan yang suram ini. Bekas kekacauan semalam masih tersisa dibeberapa tempat.
Tumpukan tubuh tak bernyawa dari monster maupun manusia bertebaran di jalanan kota, menghiasi aspal dengan darah mereka yang sudah mengering.
Bagi sebagian orang, pemandangan ini merupakan hal yang tak pantas untuk dilihat tapi bagi sebagian orang lainnya, hal ini merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan uang.
"..."
Gadis itu baru saja keluar dari sebuah bangunan tua, tempat dimana bar tersembunyi berada.
Ia berjalan melewati tumpukan mayat monster yang memenuhi seluruh jalanan.
Tidak hanya mayat monster tapi juga banyak orang-orang yang mengenakan baju hazmat mengelilingi tumpukan mayat-mayat monster itu.
Mereka berasal dari perusahaan-perusahaan di pasar gelap yang menjual organ-organ tubuh dari monster-monster ini. Keuntungan yang diraih dari hasil penjualan sangat besar tapi harga yang harus dikorbankan juga sangatlah besar.
Orang-orang itu berlalu-lalang di jalanan yang sudah hancur ini, sibuk dengan urusannya masing-masing. Bahkan mereka tidak menyadari kehadiran gadis yang lewat di antara mereka.
.
.
.
.
Hari sudah siang, matahari berada tepat di atas kepala. Reruntuhan kota yang terbengkalai di tengah hamparan gurun pasir itu terasa sangat panas pada siang hari.
"..."
Gadis itu berhenti di dalam sebuah area basement sebuah gedung yang sudah ditinggalkan. Ia menatap diam ke arah tumpukan mayat manusia yang tubuhnya sudah terkoyak habis tak berbentuk.
Ini adalah yang ke 7 kalinya ia menemukan hal semacam ini semenjak pagi tadi.
"Dengan begini sudah beres..."
Gadis itu memasang sebuah sensor di dalam tumpukan mayat yang menggunung dan pergi meninggalkan basement mengerikan itu.
Basement itu adalah area terakhir yang dicurigai sebagai tempat persembunyian targetnya.
Tapi walaupun gadis itu sudah memeriksa seluruh area yang ditandai sejak pagi hari tadi, ia masih belum menemukan jejak targetnya.
Bagaimanapun juga itu adalah hal wajar karena kebanyakan monster di area ini aktif pada malam hari dan mereka sangat pandai dalam bersembunyi disiang hari.
Gadis itu sudah memasang sensor pendeteksi energi Anomaly diseluruh area yang ditandai. Sekarang ia hanya perlu menunggu malam tiba dan menyelesaikan misinya sesuai dengan permintaan klien.
.
.
.
.
Malam telah tiba.
Pemandangan kota yang berada di tengah gurun itu masih tampak sama seperti saat siang hari. Hanya saja udara pada malam hari terasa begitu dingin akibat udara yang terlalu kering.
Tapi tidak hanya itu, sejak matahari mulai terbenam suara-suara jeritan aneh mulai bermunculan dari dalam reruntuhan. Bayangan-bayangan hitam juga berkeliaran diseluruh jalanan.
Mereka adalah monster yang disebut sebagai Infected. Dulunya mereka adalah makhluk hidup baik itu manusia, hewan bahkan tumbuhan. Tapi setelah mereka terkena paparan radiasi misterius yang dikeluarkan oleh benda hitam yang melayang di seluruh langit, mereka mulai berubah menjadi makhluk mengerikan yang selalu mengamuk.
Di puncak sebuah gedung tinggi seorang gadis berambut putih terlihat sedang duduk memperhatikan keadaan kota.
"..."
Ia memegang alat kecil yang terhubung dengan sensor yang ia pasang saat siang hari tadi.
Alat itu menunjukan grafik energi Anomaly yang terus meningkat seiring berjalannya waktu.
Monster-monster sudah mulai berkeliaran tapi ia masih tak menemukan frekuensi energi milik target seperti yang tertera pada dokumen.
"...?!"
Setelah sekian lama menunggu akhirnya muncul frekuensi energi yang sama seperti milik target walaupun belum pasti apakah itu benar miliknya. Bagaimanapun juga tidak ada yang akan tahu jika belum diperiksa.
Gadis itu memakai topengnya dan seketika melompat dari atas gedung tinggi itu lalu menghilang di tengah malam yang mencekam ini.
.
.
.
.
*Munch Munch* (suara mengunyah)
Di sebuah stasiun bawah tanah yang terbengkalai, terlihat seekor monster sedang mengunyah sesuatu yang tampak seperti tubuh manusia. Lebih tepatnya itu adalah tubuh salah satu pendatang yang belum lama ini membuat keributan di kota itu.
"Ketemu..."
"..."
Monster itu berhenti mengunyah makanannya dan berbalik untuk melihat siapa yang telah mengganggu makan malamnya.
Seorang gadis berambut putih yang mengenakan topeng hitam berdiri tepat di depan makhluk itu.
*Hening*
Monster itu bangkit berdiri dengan tenang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tampaknya ia tak sebrutal makhluk-makhluk liar lainnya.
Dilihat dari bentuknya makhluk itu dulunya merupakan seorang manusia. Tubuhnya menjulang tinggi sekitar 2,5 meter.
Wajah makhluk itu sudah tidak berbentuk, hanya ada mulut terbuka lebar dengan darah yang mengalir dari dalamnya.
Sang gadis dan monster mengerikan itu saling menatap satu sama lain untuk waktu yang cukup lama.
"..."
Sang gadis memulai langkah pertama dengan menembakan satu peluru tepat ke arah kepala monster itu.
*Dorr*
Tembakannya tepat mengenai kepala monster itu dan membuatnya jatuh berlutut.
"..."
Gadis itu masih dalam posisi menembaknya, menunggu sesuatu terjadi.
Benar saja kepala makhluk itu kembali utuh seperti semula dan detik selanjutnya monster itu sudah tepat berada di depan sang gadis.
Cakar tajamnya bergerak dengan cepat mengarah ke wajah sang gadis. Untung saja karena refleknya yang cepat gadis itu dapat menghindari serangan mematikan itu.
Ia mengepalkan tangannya dan meninju rusuk monster yang terbuka lebar tanpa pertahanan. Sayangnya yang ia dapatkan hanyalah rasa sakit dan nyeri di kepalan tangannya karena tubuh monster itu begitu keras.
Monster mengerikan yang ada di hadapannya membalas gadis itu dengan pukulannya dan menghempaskannya jauh ke belakang.
Gadis itu terhempas begitu jauh hingga menabrak sebuah tembok, bahkan karena kekuatan monster yang begitu kuat membuat tembok itu roboh seketika.
*Guh* (memuntahkan darah)
"Sudah kuduga... Kelas B"
Di kejauhan gadis itu melihat monster yang baru saja memukulnya berjalan perlahan mendatanginya.
Monster itu melompat ke arah gadis itu dan kembali mengayunkan pukulan mematikannya tapi pukulan yang diharapkan mengenai gadis itu gak kunjung datang.
"...?"
Monster itu memperhatikan pergelangan tangannya yang telah diremukan oleh gadis bertopeng di depannya.
Monster itu terdiam karena belum bisa memproses apa yang terjadi sampai akhirnya rasa nyeri yang begitu menyakitkan merambat di pergelangan tangannya yang sudah remuk.
*Ggrrraaaaaaaarrr*
"Ada apa...? Aku baru saja mulai..."
Gadis itu melompat ke atas monster itu dan menendang kepalanya hingga terbanting ke tanah.
Sama seperti sebelumnya... luka di tubuh monster itu kembali pulih seperti sedia kala.
Monster itu bangkit berdiri lalu melihat ke sana ke mari mencari gadis bertopeng itu di antara asap dan debu yang dihasilkan oleh reruntuhan bangunan.
*Grrrrr*
Seketika suasana begitu hening, monster itu sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran sang gadis bahkan dengan indra pendengarannya yang sangat tajam.
"Mencariku?"
"...?!!!"
Saat monster itu menyadarinya... gadis itu sudah bertengger di atas kepalanya dengan tangannya yang terikat di leher monster itu.
Monster itu meronta-ronta dan mencakar tubuh gadis itu, berusaha untuk melepaskannya dari atas tubuhnya.
*Pletek*
Gadis itu menggerakannya tangannya dan mematahkan leher monster itu seketika... Monster itu jatuh tak berdaya, berbaring mengenaskan dengan lehernya yang sudah bengkok.
"Oi... Bangun. Aku tahu kau masih hidup."
Ucap si gadis bertopeng sambil mengangkat kepala monster yang tak sadarkan diri.
"Hmm...?"
Ia terdiam saat tangan monster itu menggenggam pergelangan tangannya.
Monster itu bangkit berdiri bersamaan dengan lehernya yang perlahan memulihkan diri.
*Bukk*
Gadis itu menendang wajah monster yang hampir 2 kali lebih tinggi dari tubuhnya.
"..."
Tidak seperti sebelumnya, tendangannya sama sekali tidak menggerakan monster itu.
*Grrrrrr*
"Oh..."
*RRRRROOOOOAAAARRRRR*
Di kejauhan monster mengerikan itu berjalan mendekati gadis itu perlahan. Walaupun ia tak memiliki wajah tapi amarah monster itu dapat dilihat dengan begitu jelas.
Kulitnya mulai mengelupas dan menampakan retakan berwarna biru di sekujur tubuhnya dengan aura hitam kebiruan yang terasa sangat mencekam.
"Kamu..."
"...Berapa banyak yang telah kamu makan?"
Ucap gadis itu kepada sang monster dengan prihatin.
*RRRROOOAAAARRRRRRR*
Auman monster yang menggelegar itu seketika meruntuhkan seluruh stasiun bawah tanah beserta gedung yang berada di atasnya dan menenggelamkan dirinya beserta gadis bertopeng di dalam reruntuhan puing bangunan.
*Bumm*
Sebuah ledakan muncul dari tengah puing bangunan itu. Di balik ledakan tersebut terdapat monster mengerikan yang sedang berusaha untuk keluar dari dalam reruntuhan.
*Grraaaaaaaaaaaarrrrr*
Setelah bebas dari dalam puing bangunan, monster itu mengaum sekuat tenaga demi melepas seluruh amarahmya.
*Bruk*
"...?"
Di sisi lain seorang gadis berambut putih dengan luka yang sangat parah baru saja melempar sebuah puing bangunan yang menimpa tubuhnya.
Anehnya walaupun tubuhnya terluka parah tapi topeng hitamnya masih utuh tanpa goresan sedikitpun.
Melihat gadis itu masih hidup, monster itu kembali mengamuk, ia mengaum sekali lagi... kini amukannya lebih kuat dari sebelumnya. Ia menghempaskan seluruh puing dan reruntuhan di sekitarnya.
"Ugh...."
Gadis bertopeng itu tidak bisa menahan hempasan itu, apalagi setelah sebuah pecahan tembok bangunan menghantamnya.
"Kuahahahahahaha"
Setelah sekian lama mengaum dan menggeram akhirnya monster itu mengeluarkan suara lain yang tampak seperti sebuah tawa gila.
*Dorr*
Sebuah peluru ditembakan tepat ke arah wajah makhluk itu tapi peluru yang mengarah ke arahnya hangus terbakar oleh aura hitamnya dalam sekejap.
Monster itu melihat ke arah datangnya peluru. Di sana terdapat gadis bertopeng yang masih berdiri dengan tubuhnya yang sudah babak belur.
"Aku... Masih belum selesai."
*Grrrrrr*
*ROOOOAAAARRRRRRRR*
Untuk yang ke sekian kalinya monster itu mengaum sekali lagi. Kini kekuatan besar memenuhi seluruh tubuhnya dan mengguncang tanah di area sekitar.
Monster itu akan mengakhiri semuanya dalam serangan terakhir ini.
"...kurasa ini waktunya."
Monster itu mengambil ancang-ancang dengan satu langkah tapi seketika ia terhenti saat gadis bertopeng yang ada di hadapannya melemparkan sebuah benda kecil ke arahnya.
Tanpa sadar monster itu mengambil benda kecil itu dengan cakarnya. Ia diam terpaku untuk sementara, keheningan yang ia tinggalkan dengan aura menyeramkan yang masih menempel di tubuhnya membuat suasana di sekitar menjadi begitu aneh tapi....
*Sringggg*
"...?!"
Bercak darah bermuncratan keluar dari nadi monster yang terletak di lehernya.
*Blurgh*
Monster itu memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Ia jatuh berlutut dalam diam sembari memegangi lukanya yang terus mengeluarkan darah.
Aura mematikan yang ia keluarkan sebelumnya kini telah hilang sepenuhnya.
"..."
Gadis bertopeng yang sedang menggenggam sebilah pedang hitam perlahan mendekati monster yang mulai terbaring lemas karena kehilangan begitu banyak darah.
Tidak ada yang melihat sejak kapan ia mencabut pedang itu dari sarungnya dan tak ada yang melihat bagaimana ia menghabisi musuhnya dalam sekejap.
Percikan kecil berwarna ungu dari kilatan petir yang muncul di bilah pedang hitam itu masih sedikit tersisa.
"..."
Gadis bertopeng itu menatapi monster yang sudah tak berdaya di depannya dalam diam.
Tak seperti sebelum-sebelumnya... goresan kecil yang berada di leher monster itu tidak kembali beregenerasi seperti sediakala lagi.
"K...Kar...la..."
Monster itu sempat mengucapkan sepatah kata sebelum akhirnya mati di tempat. Di salah satu cakarnya tergantung sebuah pendant yang terbuka dengan sebuah foto di dalamnya. Foto itu berisi gambar sepasang kekasih yang tampak begitu bahagia.
"..."
Sang gadis memasukan kembali pedangnya ke dalam sarungnya dan menghilangkan topeng hitamnya dari wajahnya.
Gadis itu menyalakan sebuah alat pelacak kecil dan menjatuhkannya tepat di atas tubuh monster itu.
Pelacak itu terhubung dengan tukang bersih-bersih yang akan membereskan sisa kekacauan dan mengantarkan tubuh makhluk itu ke para klien.
"Misi selesai."
.
.
.
.
"Bayaranmu sudah ditransfer ke rekeningmu."
Gadis berambut putih itu mengangguk setelah melihat jumlah rekeningnya yang telah bertambah dari layar ponselnya.
Saat ia baru saja melangkah untuk keluar... sang bartender berusaha untuk menghentikannya.
"Hey... Tunggu!"
"...?"
"Kau yakin baik-baik saja?"
Ucap sang bartender sambil memperhatikan luka di sekujur tubuh gadis itu. Tubuhnya dipenuhi dengan perban dan plester. Bercak darah masih tersisa di tubuhnya dan pergelangan tangannya yang patah benar-benar memprihatinkan.
"Um..."
Gadis itu mengangguk tanda bahwa ia baik-baik saja.
.
.
.
.
Di perjalanan pulang, gadis itu menghampiri sebuah supermarket yang telah terbengkalai. Ia mengambil beberapa makanan darurat yang masih belum kadaluarsa dan beberapa air mineral untuk mengisi ulang persediaan makanannya yang hampir habis.
Di kota yang telah ditinggalkan ini, tak jarang kita akan menemukan monster-monster yang berkeliaran disetiap sudut kota.
Orang-orang yang tinggal di sini biasanya bekerja sebagai seorang mercenary. Mereka akan melakukan segala pekerjaan kotor demi mendapatkan uang. Apapun pekerjaannya mulai dari mengantarkan barang pasar gelap, membunuh orang dan yang tersulit adalah berburu monster.
Dan gadis itu adalah salah satu bagian dari mereka. Ia biasanya mengambil pekerjaan yang berhubungan dengan monster. Apapun jenisnya, apapun kelasnya, ia selalu dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
"..."
Gadis itu telah sampai di tempat persembunyiannya. Sebuah rumah kosong yang telah hancur sebagian.
Ia menaruh barang-barangnya di sudut kamar. Dan dengan segera ia duduk bersandar di dinding tembok.
"..."
Gadis itu menutup matanya untuk beristirahat setelah melewati malam panjang lainnya. Satu hari lainnya telah dilewati oleh sang gadis di kota terbengkalai ini.
Tapi ia tak memiliki banyak waktu untuk beristirahat karena bahaya dapat mengancam setiap saat hingga tak menyisakan waktu bagi orang-orang yang hidup di kota ini untuk beristirahat.
.
.
.
.
Pagi lainnya telah menyongsong, hari berat lainnya sudah dimulai.
Setelah terbagun gadis itu menjalani kehidupannya sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain sembari mengambil misi dari setiap klien yang membutuhkan jasanya. Ia tak peduli apa pekerjaannya yang terpenting baginya adalah bayaran harus setara dengan jasa yang ia berikan. Dan tak lupa ia akan mengambil persediaan makanan dan obat-obatan dari toko-toko yang sudah ditinggalkan. Begitulah keseharian sang gadis di kota yang sudah terbengkalai ini.
Tapi diantara reruntuhan kota yang gelap itu, terdapat sepasang mata yang sedang mengintai setiap aktivitas gadis itu... Seperti seorang pemburu yang sedang menunggu saat yang tepat untuk menangkap mangsanya.
"Markas... Ini adalah agen X... Target telah terlihat, menunggu persetujuan untuk menjalankan tahap selanjutnya."
"Bzzztt... Bzzzttt"
"Markas kepada agen X... Tahan posisimu dan tunggu sampai perintah selanjutnya."
"Huff... Kau tau... Lupakan saja. Aku tidak butuh persetujuan dari orang-orang seperti kalian."
"Agen X..? Agen X jawab...! Segera kembali kemari! Ini adalah perintah!"
*Saluran diputus*
"Berisik sekali..."
"Lihat saja C-001... Aku tidak akan melepaskanmu."