
"Baiklah, begini rencananya... Aku menyerang dan kau menunggu."
Ucap gadis itu setengah berbisik dengan suaranya yang terdengar kelelahan.
"Aku mengerti... Semoga berhasil."
Shiro hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaanku.
Selune's Elegy... Sepertinya adalah nama senjata raksasa yang ia gunakan sebelumnya. Benda itu kembali ke wujud semulanya, dari sela-sela rongganya muncul kepulan asap yang terus menerus keluar dari dalam. Hanya dengan melihatnya kau sudah bisa tahu seberapa panas benda itu.
Shiro mencabut pedang hitamnya yang tertancap di tanah. Pedang itu seketika kembali mengeluarkan aura petir yang dahsyat.
Para bayangan hitam yang sudah menunggu akhirnya memulai pergerakan mereka. Dengan cepat mereka berlarian menuju ke arah Shiro seperti pasukan semut yang akan mengerumuni makanannya.
Shiro membalas tanggapan mereka dengan berlari sekuat tenaga ke arah mereka sembari menyeret senjata raksasanya dengan sekuat tenaga.
Tepat sebelum berpapasan dengan gerombolan bayangan itu, ia melompat ke arah mereka. Gadis itu mengayunkan kedua senjatanya yang memancarkan cahaya ungu dan biru.
Aku cukup terkejut karena kupikir senjata raksasa itu sudah kehilangan seluruh energinya.
*Dummmmm*
Sebuah ledakan muncul dari tempat gadis itu mendarat.
Ia menebas bayangan yang terus menerus menyerang ke arahnya tanpa henti. Meski sudah berkali-kali di bunuh, jumlah mereka tetap saja tidak berkurang.
"..."
Aku merasa kesal dengan diriku sendiri yang tidak bisa membantu apa-apa disaat-saat seperti ini.
"Hyyaaaa!!!!"
Shiro mengayunkan pedang hitamnya. Sebuah tebasan energi berwarna keunguan memotong seluruh bayangan hitam yang berada di medan tempur.
Monster-monster itu merubah wujud mereka menjadi semacam kabut hitam setelah tubuhnya tertebas.
Kabut hitam itu berkumpul dan menyatu menjadi sesosok monster bayangan hitam raksasa.
*Rrrooooaaaaarrrrr*
"...!"
*Dummm*
Aku tidak bisa melihatnya... Bahkan tanpa berkedip monster itu sudah berdiri di samping Shiro dan menghantamnya dengan pukulannya.
"(Cepat sekali!)"
Pikirku dalam hati.
Shiro terlempar jauh ke samping akibat hantaman sebelumnya. Ia mencoba menahan tubuhnya yang terseret dengan menancapkan senjatanya ke tanah.
"...?"
Belum sempat ia menyeimbangkan dirinya, monster itu sudah kembali berdiri di hadapannya dan melayangkan pukulan lainnya.
*Bukkk*
Lagi-lagi Shiro terlempar hingga senjatanya terlepas dari genggaman tangannya.
Ia tidak dapat menahan laju tubuhnya yang terhempas sehingga ia terus berguling hingga akhirnya berhenti dengan sendirinya.
"Cuih..."
Gadis itu meludahkan darah yang tersangkut di tenggorokannya.
Hanya dalam sekejap monster raksasa itu kembali muncul di depan gadis itu.
*Bukkk*
Tapi kali ini pukulan yang diharapkan tidak terjadi. Shiro berhasil menahan pukulan monster raksasa itu dengan tenang.
Detik berikutnya sebuah hantaman mengenai perut monster tersebut dan membuatnya terdorong beberapa langkah kebelakang, menciptakan jarak yang cukup di antara mereka.
"Aku baru saja mulai..."
Ucap Shiro sembari mengeraskan kepalan tangannya.
Ia mengambil kuda-kuda bertarung seperti seorang petinju.
*Rrrooooaaarrrr*
Seakan membalas perkataannya, monster itu juga menggerakan tubuhnya yang sepertinya sedang menyiapkan pose bertarung.
Makhluk itu mencengkram tanah dengan cakarnya seakan-akan sedang mengambil tolakan.
Dan benar saja monster itu kembali muncul di hadapan Shiro tapi kali ini pukulannya meleset.
Shiro berhasil menghindari pukulan monster itu, menyisakan tanah yang telah hancur akibat serangan dari sang monster.
Ia membalas serangan monster itu dengan kembali memukulnya pada bagian perutnya.
Tubuh monster yang terlalu tinggi mengakibatkan Shiro harus melompat terlebih dahulu sebelum mendaratkan tinjunya pada makhluk itu.
Mereka pun saling beradu pukulan dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mataku.
Tapi bisa dilihat bahwa Shiro tampaknya memberikan lebih banyak pukulan ke monster itu meskipun tampaknya monster itu sama sekali tidak terpengaruh.
Sementara di sisi lain Shiro mendapat lebih sedikit serangan karena tubuhnya yang lebih kecil dibandingkan dengan sang monster sehingga lebih sulit untuk disentuh.
Namun tubuh gadis itu selalu terlihat terlempar ke belakang setiap beberapa detik, aku mengasumsikan bahwa sang monster berhasil melancarkan pukulannya.
Entah sudah berapa lama hal ini terus berlangsung, tidak ada satupun dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
"(Pertarungan ini tidak akan berjalan kemana-mana.)"
Pikirku kembali.
"..."
Aku memberanikan diriku untuk mengambil pedang hitam milik Shiro yang terjatuh sebelumnya.
"Shiiroo!!!"
Aku melemparkan pedang hitam itu ke arahnya meskipun aku yakin bahwa lemparanku tidak akan menggapainya.
"...?"
Tapi tentu saja tidak hanya dirinya yang menoleh ke arahku. Monster raksasa itu juga memiringkan kepalanya melihat pedang hitam itu.
Seperti binatang buas yang kelaparan, bayangan hitam itu segera mengambil ancang-ancang untuk menggapai pedang itu tapi tepat sebelum berhasil melakukan tolakan, Shiro melompat dan menghantam wajah monster itu dengan pukulannya hingga terjatuh.
Ia pun berlari mengambil pedang hitam yang sudah jatuh tergeletak di tanah.
"Terimakasih."
Ucapnya dengan singkat.
*Sriingggg*
Setitik cahaya ungu muncul dan sebuah tebasan kilat memotong kedua lengan monster raksasa itu.
*Gggrrraaaaaaaa*
Dengan segera Shiro berlari menghampiri meriam raksasanya yang juga masih tergeletak di tanah.
Ia mencoba menyalakan benda itu, bersiap untuk mengakhiri musuhnya.
[System: Perhatian! Energi tidak mencukupi!]
"Tch sialan."
Shiro memandang pedang hitamnya yang juga masih mengisi energinya.
Setelah menghela napas kecewa gadis itupun berlari menuju sang monster raksasa dengan menyeret meriamnya.
Ia melompat naik ke atas tubuh monster itu dan menghantam kepalanya menggunakan meriamnya.
Gadis itu berhasil mendarat dengan sempurna. Ia menggenggam pedang hitamnya dengan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas.
Sebuah sambaran petir muncul dari langit mengenai ujung pedang hitam itu dan menyelimutinya dengan aliran petir yang dahsyat.
*Duuaarrrr*
Shiro mengayunkan pedang hitamnya dan melepaskan sambaran petir yang menghanguskan seluruh benda di depannya.
Tapi...
*Kkkyyyyyyaaaaaakkkkhhhh*
Dari balik kepulan asap dan puing bangunan, seekor monster bayangan raksasa yang sekarat mengeluarkan jeritan yang melengking tinggi.
"Ray... Pergilah!"
Aku menganggukkan kepalaku sebagai tanda mengerti.
Aku berlari secepat yang ku bisa menuju ke prisma hitam raksasa yang berada di pusat kawah.
Aku bisa melihat langit mulai menjadi gelap gulita seiring dengan jeritan monster yang tiada hentinya itu.
Suasana kembali mencekam dan udara terasa berat, namun entah mengapa aku sudah tidak memiliki keraguan dalam hati lagi. Dengan yakin dan percaya aku terus berlari tanpa menoleh ke belakang.
...............................
"Kau ini benar-benar tidak bisa diam ya..."
Ucap sang gadis berambut putih kepada monster raksasa di hadapannya.
Tubuh monster itu perlahan pulih dan wujudnya mulai berubah menjadi semakin mengerikan. Benda-benda yang tampaknya seperti tulang menonjol ke luar dan kulit serta daging makhluk itu mulai sobek, menunjukkan bagian dalam tubuhnya.
Kegelapan yang pekat ini membuat tubuhnya menyatu dengan warna ruang di sekitar. Membuatnya menjadi lebih sulit untuk dilihat.
"Aku tidak akan membiarkanmu melewatiku."
Gadis itu menancapkan pedangnya ke tanah, sebuah semburan petir muncul tepat dari bawah tanah tempat monster itu berpijak.
*Gggrrrraaaaaa*
Tubuh monster itu mengalami kejang, ia tidak bisa menggerakan tubuhnya.
"Apa kau yakin?"
"...?!"
Seolah-olah tidak pernah terjadi, monster itu berdiri di hadapan sang gadis dengan tubuhnya yang tanpa luka, semburan petir sebelumnya juga tidak pernah ada. Melainkan tubuh sang gadis yang sudah terkoyak dan tercabik-cabik.
Gadis itu melihat ke telapak tangan dan lengannya yang penuh dengan luka sayatan sebelum darah kemudian menyembur dari seluruh luka di tubuhnya.
"...?!"
Ia bahkan tidak sempat berkata-kata, entah sejak kapan makhluk itu melukainya.
Dengan gerakan yang aneh dan tidak wajar, bayangan itu melangkahi tubuh sang gadis.
"..."
.................................
Aku merasakan sesuatu yang berbahaya menghampiriku dari belakang. Terus mendekat dan semakin mendekat, hingga di suatu titik bulu tengkukku berdiri semua secara mendadak.
"...?!"
*Sringgg*
Sebuah perasaan yang aneh seakan-akan ruang baru saja terdistorsi.
Aku berpaling ke belakang dan melihat sebuah retakan di udara.
Di depanku berdiri Shiro yang entah dari mana muncul secara tiba-tiba. Tubuhnya terluka sangat parah, darah bercucuran dan terus menerus mengalir keluar dari balik lukanya yang tak terhitung jumlahnya, bahkan seluruh tubuhnya sudah ditutupi oleh warna merah darah.
"S-shiro!!!"
"Jangan mendekat!!!"
Teriaknya.
Seketika ia memuntahkan darah dari mulutnya.
Baru setelah itu aku menyadari terdapat sosok mengerikan di balik pecahan ruang di hadapan kami.
Ia terus menerus mencakar retakan itu dengan tangan bayangan yang tak terhitung jumlahnya dan pada akhirnya ia memasukkan tangan-tangan itu ke dalam retakan tersebut.
"Pergilah... Cepat. Benda ini tidak akan menahannya cukup lama."
Aku ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya aku tetap menuruti keinginannya.
Sedikit lagi... Aku bisa meraihnya. Aku mengeluarkan kalung yang mana adalah kunci untuk menghentikan semua bencana ini.
Tepat sebelum aku akhirnya bisa menyentuh prisma hitam itu, sebuah bayangan mencengkram kakiku dan menyeretku ke belakang.
"Ghh... Sialan."
Seketika bayangan itu terbelah dan hilang menyatu dengan warna ruangan yang gelap.
Ini adalah kesempatanku. Aku menyalakan alat kecil yang berada di kalung yang kupegang. Dan menempelkannya di prisma hitam raksasa.
Tanda-tanda bercahaya putih mulai menyebar menyelimuti prisma hitam.
"Hentikaaannnnnnn!!!!!"
Suara yang membuat bulu tengkukku merinding menjerit dari kedalaman ruangan yang gelap.
*Jrasss*
Suara daging yang tersobek terdengar jelas di belakangku. Bayangan hitam berbentuk tentacle dengan ujung yang tajam merobek dan menusuk tubuh Shiro yang mencoba melindungiku.
*Ggrrrraaaarrrgghhhhkkkyyaaaayaaakkkkk*
Jejak-jejak cahaya putih mulai menghilang dari prisma hitam. Jeritan monster pun perlahan menghilang bersamaan dengan kembalinya warna langit.
Distorsi yang terjadi di langit telah menghilang dan reruntuhan yang melayang telah jatuh kembali ke tanah.
"S-shiro!"
Aku memeluk tubuhnya yang hampir terjatuh.
"R-ray...?"
"A-aku di sini..."
"Kita berhasil...?"
"Ya... Kita sudah berhasil."
"Syukurlah..."
Gadis itu mengangkat satu lengannya ke atas kepalanya, ia memperhatikan telapak tangannya yang perlahan pulih seketika.
Bahkan aku tidak bisa berkata apa-apa.
Setelah memastikan tubuhnya sudah tidak memiliki luka lagi, ia pun memandang ke arahku yang masih keheranan.
"Makhluk apa kau ini...?"
Ucapku dengan suara yang agak gemetar.
Ia bangkit berdiri mendekati kalung yang tergeletak di tanah dan mengambilnya.
"..."
"Sudah kubilang kan... Kau akan mengetahuinya cepat atau lambat. Penyebab sembuhnya lukamu..."