New Sky

New Sky
Prologue 10



Seharian mereka berjalan melewati gurun itu. Meski sudah tengah hari tapi udara tidak terasa panas. Perjalanan mereka juga terasa begitu sunyi dan tenang, tidak ada satupun monster yang keluar menyerang mereka.


"Aneh... Begitu hening. Udaranya juga terasa... Biasa saja."


Ucap Rin.


"Kita berada di dekat zona erupsi, semua yang ada di sekitarnya memang tidak masuk akal."


"Apa yang ada di dalam badai pasir itu?"


Tanya Rin kembali.


"Lebih baik kau tidak perlu tahu. Lagi pula kita tidak akan pergi sejauh itu. Malam hari nanti kita sudah akan sampai, itupun jika tempat ini masih memiliki malam."


"Apa maksudmu?"


"...Bukan apa apa."


"...?"


Mereka melanjutkan perjalanan mereka dalam keheningan, tak terasa hari mulai gelap dan malampun tiba.


"Kak Shiro..."


"Hmm?"


Mereka berdua terhenti di tengah perjalanan.


"Aku sudah memikirkannya kembali."


"...?"


"Berapa banyak lagi waktumu yang tersisa?"


"Maksudmu?"


"Outbreak yang kau bilang. Kapan itu akan terjadi?"


"...Kurang dari seminggu."


"Kurasa... Kau tidak perlu menyelamatkanku."


"Apa?"


"Ya... Masih banyak orang yang lebih membutuhkanmu."


"..."


"Kau tidak perlu khawatir denganku. Aku bisa menjaga diriku sendiri sekarang berkat bantuanmu."


"..."


"Aku sangat menikmati momen kebersamaan kita, terimakasih sudah membuat kenangan indah bersamaku."


"..."


Shiro tidak tahu harus bilang apa. Ia membuka mukutnya dan kata yang keluar adalah...


"Kita sudah sampai."


Rin hanya menganggukan kepalanya.


Tanah bergetar dan muncul jalan rahasia di balik tumpukan pasir. Sebuah pintu gerbang raksasa yang tampak kokoh terbuka perlahan-lahan.


Sekelompok prajurit bersenjata lengkap keluar dari dalam gerbang itu dan berhenti tidak jauh dari tempat mereka berada.


"Ini untukmu."


Rin memberikan sebuah kalung kepada Shiro.


"Pamanku yang memberikannya... Jangan lupakan aku."


"..."


"Selamat tinggal."


Gadis kecil itu berjalan menuju pasukan yang sudah menunggunya. Mereka mengunci tangan anak itu dan membawanya masuk ke dalam fasilitas.


Seorang prajurit menghampiri Shiro dan memberikan sebuah koper kecil kepadanya.


"Senang bekerja sama denganmu C-001."


Ucap prajurit itu kepadanya.


"Apa yang akan terjadi pada anak itu?"


"Hal yang selanjutnya akan terjadi padanya bukanlah urusanmu. Pergilah, kau punya tempat lain yang harus kau datangi bukan? Pahlawan..."


"..."


Shiro pergi meninggalkan fasilitas itu. Pandangannya tertuju pada kalung yang diberikan oleh Rin kepadanya, semua yang telah berlalu seakan-akan tidak pernah terjadi.


"Sekarang... Dimana aku meletakan kendaraanku. Hmm...?"


Ia tak tahu sudah berapa lama ia berjalan kembali tapi ia sudah bisa melihat pemukiman kecil di tengah padang gurun.


"Seharusnya aku masih berada di dalam perbatasan... Fatamorgana?"


Gadis itu memasuki pemukiman mencurigakan tersebut. Tempat itu benar-benar sepi seakan-akan telah ditinggalkan sangat lama. Ia berhenti di depan sebuah gereja yang hampir runtuh.


"..."


"Kau tidak masuk ke dalam?"


"...?!"


Shiro dengan segera menggenggam gagang pedangnya, bersiap untuk menyerang.


Seorang pria tua dengan pakaian yang sederhana datang entah dari mana.


"Kau adalah?"


Tanya Shiro dengan penuh keraguan.


"Orang tua yang telah dilupakan dunia."


Ucap pria tua itu, pandangannya kini mengarah ke gereja tua juga.


"Aku... Aku tidak tahu apakah aku pantas."


"Semua orang diterima di dalam tanpa terkecuali."


"...Entahlah, aku sudah melakukan banyak sekali dosa. Tanganku sudah ternodai dan sekarang aku mengorbankan nyawa orang yang tidak bersalah."


"Tapi belum terlambat bukan?"


"...?"


"Kau belum kehilangan dirinya."


Jawab orang tua itu lagi.


"..."


Gadis berambut putih itu merenung menatapi bangunan tua di depannya. Ketika ia menoleh ke arah pria tua di sebelahnya, orang itu sudah menghilang begitu juga dengan pemukiman yang ia datangi. Hanya ada hamparan pasir yang kosong di sekelilingnya.


"Benar... Aku mengubur kendaraanku di sini."


.................................


"Aaarrrrggghhhh"


Seorang gadis kecil menjerit kesakitan. Tubuhnya di penuhi kabel dan selang yang terhubung ke perangkat aneh di sekelilingnya.


"Naikan tekanannya, kita harus mengekstrak lebih banyak energi."


Suruh seorang peneliti kepada anggota lainnya.


Gadis kecil itu kembali menjerit kesakitan setelah para peneliti mengutak-atik alat mereka.


"Subjek penelitian ini sudah tidak dapat digunakan, ia tidak bisa menggunakan kekuatannya sendiri. Satu-satunya cara agar kita tidak membuang mahakarya ini adalah dengan mengekstrak energi yang berada di dalam tubuhnya dan meletakannya di dalam wadah baru."


Para peneliti itu kembali menyalakan mesinnya. Energi yang berada di dalam tubuh gadis itu ditarik keluar secara paksa, membuatnya mengalami rasa sakit yang begitu luar biasa.


*Duarrr*


Suara ledakan terdengar dari sisi lain bangunan.


"A-apa yang terjadi?"


"Kedengarannya dari pintu masuk."


Alarm berbunyi mengisyaratkan situasi darurat. Seluruh penjaga bergegas menuju ke sumber bunyi.


..............................


*Duarrr*


"..."


Alarm berbunyi. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit ia sudah dikepung oleh ratusan penjaga.


"Kontak dengan penyusup. Bersiap untuk menyerang."


"..."


*Duarrr*


Satu demi satu sistem pertahanan fasilitas dan pasukan yang menjaganya dikalahkan oleh gadis berambut putih.


Ia sampai di ruangan besar tempat sang gadis kecil berada. Gadis kecil itu menunduk tak sadarkan diri, ia sudah kehilangan hampir seluruh tenaganya.


Shiro mematikan seluruh sistem ruangan itu dan melepaskan tubuh Rin dari alat yang menjeratnya.


"K-kak Shiro...?"


Rin yang masih tak berdaya membuka matanya, melihat orang yang telah menyelamatkan nyawanya berkali-kali.


"Aku akan membawa kita keluar dari sini."


Ucap gadis berambut putih itu.


Ia menerobos pasukan yang terus menerus datang menyerbu sama seperti saat ia datang.


*Duarrr*


Belasan misil menyerbu ke arahnya tapi gadis berambut putih yang menggendong sang gadis kecil berhasil menghindarinya dengan mudah.


Di hadapannya terdapat mecha raksasa yang menghalangi jalan keluar mereka.


"Kau bisa berdiri sendiri?"


Tanya Shiro kepada Rin.


"Mmm..."


Rin mengangguk lalu turun dari tubuh sang gadis berambut putih.


Tanpa menunggu lama, gadis berambut putih menutup jaraknya dengan mecha raksasa itu.


Belasan misil diluncurkan dari tubuh sang robot ke arah gadis berambut putih yang menerjang ke arahnya.


Shiro berlari menghindari seluruh tembakan makhluk itu hingga pada akhirnya berhasil mendekati mecha raksasa.


Robot itu mengayunkan tinjunya tapi sang gadis menghindarinya dan melompat ke atas tangannya. Gadis itu mengayunkan pukulannya ke kepala sang robot dan menghancurkannya dalam satu pukulan. Robot raksasa itu terjatuh, hancur dan meledak menjadi kepingan kecil.


"Ayo."


Shiro menarik tangan Rin dan membawanya berlari menuju keluar fasilitas.


Sesampainya di luar, gadis itu menekan sebuah tombol di alat kecil yang ia bawa.


*Dummm*


Seketika gerbang fasilitas meledak dan runtuh, menutup satu-satunya jalan keluar.


"..."


Rin tampak ingin mengatakan sesuatu tapi Shiro membawa mereka pergi menggunakan kendaraannya sebelum gadis kecil itu dapat berkata-kata.


.


.


.


.


"Kurasa kau menyelamatkan hidupku lagi."


Ucap Rin secara tiba-tiba.


"..."


Shiro menghentikan laju kendaraannya. Hari sudah mulai pagi, samar-samar cahaya matahari mulai terlihat di penghujung cakrawala.


"Hanya menjalankan tugasku."


Shiro menunjukan kalung pemberian Rin yang ia kenakan.


"Aku sudah menerima bayarannya, mau tidak mau kontrak harus aku tepati."


Rin hanya bisa tersenyum mendengarnya.


"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?"


Tanya Rin kepada Shiro.


"Bisakah aku ikut bersamamu? Aku... Tidak tahu harus pergi kemana."


"Maaf... Tempat yang kutuju selanjutnya adalah medan pertempuran. Aku tidak bisa membahayakan nyawamu."


"..."


Rin tampak sedikit murung.


Shiro berpikir sejenak dan teringat akan suatu hal. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengecek beberapa hal dan memasukannya kembali.


"Aku tahu satu tempat dimana kau bisa mendapatkan kehidupan yang layak."


"...?"


"Memang bukan kehidupan normal tapi aku yakin kau akan aman bersama mereka."


"Mereka?"


"Aku akan menjelaskannya di perjalanan."


.


.


.


.


Sebuah benda raksasa berjalan perlahan di tengah hamparan pasir. Benda aneh itu terlihat begitu kokoh, mirip seperti benteng yang berjalan.


Motor klasik tua yang dikendarai gadis berambut putih itu melaju dengan kecepatan tinggi mengejar benteng raksasa yang sedang menerjang padang pasir.


Di samping benda raksasa itu tertulis sebuah nama yang sangat besar. GAIA, dewa kuno Yunani yang melambangkan bumi, ibu dari kehidupan.


Shiro menembakan sebuah suar ke langit dan seketika benteng raksasa itu mengeluarkan bunyi mendengung yang menggema di seluruh hamparan pasir itu. Tepat setelah suara itu benteng tersebut berhenti bergerak.


Seorang gadis muda turun dari atas benda raksasa itu dan menghampiri Shiro dan Rin.


Shiro yang sudah mengenakan topeng hitamnya berbicara kepada gadis muda itu.


"Dia memiliki kondisi yang tidak stabil, tenang saja ia adalah anak yang baik. Tolong rawat dia."


"Bagaimana denganmu?"


Tanya gadis yang berdiri di hadapannya.


"Aku punya masalah yang belum terselesaikan."


Jelas Shiro.


"Ini adalah perpisahan. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi, semoga beruntung di luar sana nak."


"Ya... Terimakasih banyak atas semua yang telah kau lakukan, aku tidak akan melupakanmu."


Rin memeluk Shiro sebagai tanda perpisahan sebelum akhirnya ia menghampiri gadis yang berada di depannya.


"Bolehkah aku bertanya satu hal?"


Tanya gadis misterius itu.


"Bagaimana kau bisa menemukan lokasi kami?"


"Katakan saja, teman kalian merupakan teman lamaku. Aku tahu aku tampak mecurigakan, tapi aku yakin kau pasti tidak akan menelantarkan anak yang membutuhkan."


"Kami akan menjaganya."


"Terimakasih."


Shiro dengan segera pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ahh... Aku lupa menanyakan namanya. Bagaimana denganmu. Siapa namamu?"


Tanya gadis misterius itu kepada Rin.


"Rin... Hanya Rin."


Gadis misterius itu tersenyum mendengarnya.


"Rin... Nama yang bagus. Salam kenal, namaku..."