New Sky

New Sky
Prologue 2



Sebuah pintu besi terbuka, di dalam sana terdapat sebuah bar yang di penuhi dengan cukup banyak orang.


Pencahayaan pada bar ini tidak terlalu baik, tempat ini hanya disinari oleh cahaya biru remang-remang. Lantunan lagu terdengar dari dalam radio untuk menambah suasana di dalam bar.


Tidak disangka-sangka sebuah bar tersembunyi memiliki begitu banyak pengunjung di dalamnya.


Tapi siapa yang mau pergi jauh-jauh ke zona terlarang demi menikmati segelas alkohol? Benar mereka bukanlah orang biasa.


Semua yang pergi ke sini memiliki urusannya masing-masing entah itu transaksi gelap, penyelundupan, tentara bayaran, pembunuh, buronan yang melarikan diri dan orang-orang berbahaya lainnya.


Dan kini mereka semua menatap ke arah seorang gadis berambut putih yang baru saja membuka pintu. Siapa yang tidak heran melihat seorang gadis muda memasuki tempat seperti ini, terutama setelah kehebohan yang dibuatnya di luar sana?


Gadis berambut putih itu berjalan dengan santai melewati orang-orang yang terus menatap ke arahnya sehingga membuat suasana menjadi canggung.


"..."


Setelah beberapa saat keheningan, orang-orang kembali melanjutkan aktivitas mereka. Tapi orang-orang itu masih terus waspada dengan kehadiran gadis berambut putih itu.


Mereka tahu apa yang dapat gadis itu lakukan, dan mereka juga tahu apa yang telah gadis itu lakukan.


Gadis itu sesekali melirik ke arah orang-orang yang terus mengawasinya tetapi mereka langsung berbalik dengan panik.


"Yoo.... Kau sudah kembali rupanya."


"Malam ini benar-benar panas ya?"


Gadis itu menghampiri seorang bartender yang memanggilnya. Gadis itu duduk disalah satu kursi yang berada di depan bartender itu.


Bartender itu memberikan segelas minuman beralkohol kepada gadis yang ada di hadapannya.


Gadis itu sempat ragu sejenak, pada akhirnya gadis itupun mencoba seteguk dan meletakan kembali gelas tersebut.


"Bagaimana? Itu adalah salah satu koleksi terbaikku di tempat ini."


"...Aku tidak bisa merasakan apa-apa."


"Aku akan anggap itu sebagai pujian."


Gadis itu melanjutkan minumnya sedangkan sang bartender kembali bekerja seperti biasa.


"Orang-orang itu tak tau kapan harus menyerah ya..."


"..."


"Aksimu sudah terdengar di seluruh penjuru kota kau tau?"


"...Seakan-akan kota ini memiliki penghuni."


"Ayolah... Bukan itu maksudku."


"Situasi di luar benar-benar sedang kacau. Para monster keluar dari tempat persembunyiannya dan menimbulkan kericuhan."


"Lalu? Kota ini tidak memiliki penghuni, apa gunanya mengkhawatirkan hal itu? Lagipula bukannya ini adalah kesempatan bagus untuk memanen?"


"Huff... Kalau saja para pendatang itu tidak di luar sana mungkin aku sudah membuat sayembara untuk perburuan kali ini."


"Mereka benar-benar ahli... Taktiknya sangat terkoordinasi hingga dapat menghabisi seluruh monster yang keluar dari dalam reruntuhan."


"...Bukan hal yang begitu mengejutkan jika itu adalah mereka."


"Mereka disebut pasukan khusus bukan karena tanpa alasan."


"Kurasa kau benar..."


"Tapi sebenarnya makhluk apa mereka itu? Aku sudah mendengar banyak hal gila tentang S.A.V.I.O.R. tapi tak kusangka mereka dapat membuat pasukan abadi."


"..."


Gadis itu tidak menjawab pertanyaan dari bartender. Ia kelihatannya sedang berpikir untuk mencari kalimat yang cocok.


Orang-orang di tempat itu juga menghentikan aktivitasnya seolah-olah juga ingin mendengar perkataan dari gadis itu.


"..."


Kini suasana bar kembali menjadi hening.


"Mereka... Hanyalah sisa-sisa dari masa lalu."


"Aku tidak begitu ingat mereka disebut apa waktu itu, tapi kalau tidak salah mereka adalah... Pasukan khusus yang sering melakukan kontak dengan subjek tes. Awalnya mereka diciptakan untuk memperbaiki hal yang menyimpang, bukan untuk melawan musuh."


"Meregenerasi tubuh bukanlah kemampuan yang begitu luar biasa... Bahkan para Anomaly juga dapat melakukannya."


"Yang mengerikan dari mereka adalah kemampuan koordinasi yang sangat luar biasa. Tapi sayangnya kemunculan mereka kali ini sedikit mengecewakan."


"Apa maksudmu...?"


"Mereka tidak menggunakan peralatan yang mendukung untuk misi kali ini."


"Tunggu... Apa kau sedang menyombongkan diri sendiri?"


"...Aku hanya berbicara berdasarkan penilaianku."


"Jadi maksud dari penilaianmu barusan adalah?"


"Kurasa terjadi kesalahan pada penanggung jawab misi tersebut."


"Kau tampaknya benar-benar memahami orang-orang ini."


Ucap si bartender dengan terkesan.


"Aku... Sudah berhubungan mereka sejak organisasi itu pertama kali berdiri."


"..."


"Tenang saja... Sekuat apapun mereka, orang-orang bodoh itu masih memerlukan lebih dari setengah pasukan untuk menghancurkan bisnismu."


"Tunggu kapan aku bilang takut pada mereka?"


"Mungkin kau berakting seperti seorang bartender biasa. Tapi semua orang yang bekerja di balik bayangan dunia tahu bahwa kau merupakan orang yang sangat berpengaruh."


"Kau terlalu berlebihan... Tapi aku akan anggap itu sebagai pujian lainnya."


"Tapi aku masih penasaran..."


"Sebenarnya apa yang mereka inginkan darimu?"


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang bartender, seisi bar kembali hening. Ini adalah pertanyaan yang mereka tunggu-tunggi selama ini.


"..."


"Apakah benda itu?"


Sang bartender melihat ke arah kotak senjata besar yang selalu dibawa oleh sang gadis.


"Atau benda itu?"


Bartender itu memandang ke arah pedang yang berada di pinggang sang gadis.


"Atau..."


Kini Sang Bartender menatap tepat ke mata tak bernyawa milik gadis yang berada di hadapannya.


"..."


"Terkadang... Kebenaran jauh lebih mengerikan dari kebohongan. Apa kau benar-benar ingin tau?"


Gadis itu bertanya dengan serius, kata-katanya seolah-olah menusuk semua orang yang mendengarnya.


"K-kurasa... Lain kali saja... Aku tidak terlalu peduli dengan masalalumu. Selagi kau dapat menyelesaikan pekerjaanmu, kita tetaplah rekan bisnis, b-benar kan?"


"Selama kau punya bayarannya."


Jawab gadis itu.


"Heh... Aku suka gayamu. Aku punya pekerjaan baru. Datanglah saat tempat ini sudah sepi."


"Aku akan menetap disini."


Jawab gadis itu singkat.


"Terserah kau saja."


Malam berlalu di dalam bar dengan cukup tenang. Orang-orang mulai pergi meninggalkan tempat itu karena kehadiran sang gadis yang tidak mengenakan.


Diluar suasana sudah cukup tenang walaupun masih terdapat beberapa monster yang melarikan diri setelah kawanannya dibantai oleh para pendatang.


Bar sudah sepi, hanya menyisakan sang bartender dan gadis berambut putih yang tidak bergerak atau bersuara sedari tadi.


"Nih..."


Sang bartender menyerahkan amplop coklat berisi beberapa dokumen yang memuat informasi tentang misi kali ini.


"Kertas...?"


"Itu yang mereka berikan padaku. Sudah lihat saja, jangan malas membaca."


"..."


Gadis itu membaca surat dan dokumen itu sekilas. Ia menemukan sebuah benda kecil di dasar amplop.


Menurut surat tersebut. Benda itu akan membantunya dalam menjalani misi kali ini.


Gadis itu meletakan kembali surat dan dokumen itu ke dalam amplop dan membawa benda misterius itu bersama dengannya.


"Bagaimana...?"


Tanya sang bartender.


"Kurang lebih aku paham. Tapi aku ingin mendengar dulu darimu..."


"Huh... Seperti biasa ya... Tidak akan pergi jika tidak mendengar kisah klien."


"Aku harus tahu sedang bekerja untuk siapa dan untuk apa."


"Baiklah-baiklah."


"Klien kali ini adalah orang tua dari seorang gadis. Gadis itu memiliki seorang tunangan. Tapi gadis itu dibunuh dan dimakan oleh tunangannya sendiri tepat setelah tunangannya berubah menjadi seekor monster."


"Waktu kejadian ini..."


"Benar... Tepat saat keruntuhan kota ini, sekitar 1 tahun yang lalu."


"..."


"Benda yang ada di tanganmu itu adalah milik sang gadis, orang tuanya bilang bahwa benda itu dapat membantumu."


"Mereka... Penduduk biasa?"


"Ya, mereka menghabiskan seluruh tabungannya untuk hal konyol seperti ini."


"Tubuh target harus utuh, tanpa luka dan tanpa nyawa. Entah apa yang ingin mereka lakukan dengan mayat si pria. Mungkin mereka ingin mengambil kembali jasad putrinya atau hanya ingin melakukan balas dendam."


"...Kisah yang cukup menarik."


Balas gadis itu dengan tanpa ekspresi.


"Benarkah? Tapi wajahmu tak mengatakan demikian."


"..."


"Permintaannya memang konyol tapi mau bagaimanapun mereka sudah membayar. Aku yakin hal seperti ini dapat kau tangani dengan mudah."


"Uang mukanya sudah ditransfer ke rekeningmu."


Gadis itu mengecek ponselnya untuk mengonfirmasi apa yang diucapkan oleh sang bartender.


Ia mengangguk setelah melihat jumlah rekeningnya yang bertambah.


Dan dengan begitu ia pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Gadis itu menghilang di balik pintu besi bar, di balik pintu itu terdapat lorong gelap yang akan membawanya kembali menuju ke kota yang telah mati.