Mysterious Woman

Mysterious Woman
Sembilan



"Apa kabar?". Tanya Pria itu kepada Sezha.


Namun Sezha masih diam, ia masih memperhatikan pria itu.


"Ini gue".


"Elen". Ucap Pria itu.


"Udah lama ya Zha kita gak jumpa, hampir 5 tahun kita gak ketemu". Ucap Elen.


Sezha tak dapat berkata apa-apa orang yang susah payah dulu ia lupakan kini kembali lagi.


Elen Gezha merupakan teman dekat Sezha waktu SMA.


Selain Luna, Elen merupakan sahabat dekat Luna.


Dulu mereka bertiga berteman sangat baik, namun sebuah kejadian merubah segalanya.


**Dulu Elen, Sezha dan Luna merupakan teman yang sangat dekat. Karena pertemanan mereka yang begitu erat menimbulkan perasaan tersendiri. Sezha diam-diam menyukai Elen.


Dan dulu Sezha tidak secantik sekarang ini. Ia Terkenal dengan keculunannya dan yang mau menemaninya hanya Elen dan Luna.


Sezha juga sering di Bully saat masih sekolah, dan inilah yang menjadi alasan kedua kakaknya tidak memperbolehkannya Bekerja Karena mereka takut kejamnya dunia kerja akan Membawa Sezha kembali Kemasa lalunya.


Elen dan Luna akhirnya nya mau berteman Dengan Sezha dan ingat, Elen juga sama seperti Sezha yang sering di bully.


Hingga pada suatu hari Elen menyatakan cintanya kepada Sezha, Sezha yang mendengar pernyataan Cinta tersebut sangat bahagia.


Dan ternyata pernyataan cinta tersebut hanya Sebuah lelucon. Elen sengaja menyatakan Cintanya hanya untuk mempermalukan Sezha di depan teman-temannya yang lain.


Sezha sangat terluka sehingga ia Tidak masuk sekolah selama beberapa hari, dan setelah kejadian itu juga Elen berhenti sekolah dan pindah keluar negeri.


"Lo pasti gak nyangka kan akan bertemu dengan gue". Ucap Elen kepada Sezha.


"Kenapa lo balik?". Sezha menatap Elen dengan tatapan dingin.


"Gue ingin memperjelas semuanya Zha". Ucap Elen.


"Gak ada yang perlu lo jelasin, gue udah tahu semuanya".


"Dan ingat jangan pernah lo temuin gue lagi". Sezha mamanggil taksi dan meninggalkan Elen.


"Zha seharusnya lo dengerin gue dulu". Ucap Elen sambil Melihat Taxi yang membawa Sezha yang semakin menjauh.


Di dalam Taxi Sezha mengirim pesan kepada Luna, ia ingin memberi tahu bahwa Elen kembali


Sezha:


"Elen kembali".


Tak berapa lama Luna membalas pesan Sezha.


Luna:


"Lo serius?".


Sezha:


"Gue Serius, Elen menghampiri gue tadi".


Luna:


"Kita ketemuan nanti malam di cafe biasa".


Sezha mengiyakan pesan temannya itu.


Sezha tidak kembali kerumah melainkan ia kembali ke Cafe milik kakaknya. Sezha berjalan dengan sempoyongan.


Kejadian hari ini sangat mengejutkan.


"Kenapa dia kembali".


"kenapa?".


"kenapa?". Teriak Sezha sehingga mengalihkan perhatian seluruh pengunjung Cafe.


Abil yang melihat tingkah aneh adiknya, langsung menghampirinya.


"Ini minum dulu". Abil memberikan segelas jus jeruk kepada Sezha. Sezha meminum jus tersebut.


"Habis ini bayar". Dengan spontan Sezha memuntahkan kembali jus yang ada di mulutnya. Jus tersebut mengenai baju Abil.


"Jorok banget jadi anak gadis". Abil mendumel sambil Membersihkan bajunya yang kotor.


"Sezha gak ada minum jusnya". Ucap Sezha.


"Ya ampun kakak cuman bercanda". Balas Abil.


"Tau ah, Sezha lagi capek". Sezha menelungkupkan kepalanya di atas meja bar tersebut.


"Ini masih jam 12 siang, kok kamu cepat kali balik syutingnya".


"Apa jangan-jangan kamu di pecat". Sezha menatap Abil dengan tatapan tajam.


"Mata dong". Ucap Abil.


"Sutradaranya masuk rumah sakit ". Balas Sezha.


"Kok bisa???".


"Pakek nanyak segala kok bisa".


"Kalau orang masuk rumah sakit ya berarti lagi sakit, itu aja kok di tanyak".


"Bodo amat ah". Sezha meninggalkan Abil yang masih tak habis pikir dengan tingkah adiknya.


"Nyaraf dia". Ucap Abil melihat Sezha yang melenggang pergi meninggalkan Cafenya.


***


Akhirnya Rian sadar dari pingsannya, Ratih yang dari tadi merasa khawatir akhirnya dapat bernafas dengan lega.


Ratih membantu Rian memperbaiki posisi tidurnya.


"Syukurlah kamu sudah sadar". Ucap Ratih.


"Kamu di rumah sakit". Balas Setyo.


"Tadi kamu ditemukan pingsan di ruangan kamu, Asisten mu membawa mu kesini". Jelas Setyo.


"Baiklah".


"Sebaiknya kamu istirahat dulu, untuk saat ini kamu tidak perlu bekerja biar ayah yang akan mengurus pekerjaan mu". Rian hanya menuruti perkataan ayahnya. Ia juga terlalu lemah untuk bekerja.


Mungkin ini akibat setres yang melanda diri Rian terus-menerus sehingga fisik nya menjadi terganggu.


***


Sezha bertemu dengan luna di Cafe biasa tempat mereka nongkrong.


"kok bisa sih Elen balik lagi kemari".


"Setelah dia menyakiti dan memalukan Lo dan tanpa rasa bersalah sama sekali dia datang kembali". Luna tampak kesal saat tahu Elen kembali menemui Sezha.


"Memang gak ngotak tu orang".


"Gue benci banget sama dia, gara-gara dia hubungan kita jadi rusak".


"Dan gue gak nyangka dia sejahat itu sama lo". Luna masih mengeluarkan segala kekesalan di hatinya.


"Yaudah biarin ajalah gak usah di tanggepin". Sezha mencoba untuk menenangkan temannya itu.


Sezha mengalihkan pembicaraan dari sosok Elen ke sosok Rian.


"Bagaimana kabar pak Rian?". Tanya Sezha.


"Pas gue tinggal pergi tadi dia belum sadar".


"dan mungkin sekarang dia udah sadar". Balas Luna.


"Syukurlah". Ucap Sezha.


"Sepertinya pak Rian untuk saat ini tidak dapat aktif bekerja karena masalah kesehatannya". Sezha yang mendengar ucapan tersebut langsung terdiam. Itu artinya dia akan kembali menjadi pengangguran.


"Berarti gue balik nganggur dong". Ucap Sezha.


Luna mengangkat bahunya menandakan ia tidak tahu kelanjutannya sama sekali.


"Eh gue mau nanya ni Lun".


"Lantai 4 kok sepi banget ya, Cuman ada ruangan pak Rian aja".


"Ia ruangan tersebut memang di desain khusus untuk pak Rian, Sebenarnya pemilik perusahaan tersebut orang tuanya".


"Disana pak Rian bekerja sebagai sutradara sekaligus direktur perusahaan".


"Dan mungkin untuk sementara semua pekerjaan pak Rian di ambil alih oleh ayahnya". Sezha mengangguk paham.


"Lun pak Rian memang sering kaya gini ya tiba-tiba pingsan". Sezha bertanya apakah Rian memang sering seperti ini apa tidak.


"Setahu gue ya pak Rian gak pernah seperti ini". Kata Luna, Sezha mencoba untuk berpikir kembali apa yang membuat Rian begitu stress sehingga menganggu daya tahan tubuhnya.


"Lun Sarah itu pacar pak Rian kan?".


"Gue gak tahu banget sih. Cuman sampai saat ini pak Rian menekankan bahwa ia tak memiliki hubungan spesial dengan siapapun". Ucap Luna.


"Yaudah deh kalau gitu". Balas Sezha.


"Kenapa lo nanya tentang pacar pak Rian".


"Jangan jangan lo suka ya sama dia". Gode Luna.


Sezha mengangkat tangannya seolah-olah ia ingin membogem wajah Luna.


"Lo tu ngomong di pertimbangkan ya".


"Gue cuman mikir apa hal yang membuat Pak Rian begitu setres". Balas Sezha.


Luna hanya tersenyum mendengar ucapan Sezha, senyuman yang di berikanpun bukan senyuman biasa melainkan senyuman menggoda.


***


"Bagaimana keadaan kamu?". Tanya Sarah kepada Rian.


"Aku baik-baik saja". Balas Rian yang masih fokus dengan bukunya.


"Ini salah ku".


"Gara-gara aku kamu jadi seperti ini".


"Aku seharusnya gak ninggalin kamu tadi".


"Kamu pasti kecewakan sama aku". Ucap Sarah.


Rian yang mulai muak dengan semua ucapan Sarah, ia menatap Sarah dengan tatapan tajam.


"Berhentilah seolah-olah bersikap aku membutuhkan mu". Balas Rian.


Sarah terdiam setelah mendengar perkataan Rian,


Sarah sangat kecewa dengan ucapan Rian, Ia bermaksud baik mengunjungi Rian dan Sarah juga ingin menemaninya.


"Kamu gak bisa membuka hati kamu sedikit saja untuk ku". Ucap Sarah sedikit emosi.


"Pulanglah aku bisa mengurus diriku sendiri". Ucap Rian lalu memejamkan matanya.


Sarah meninggalkan Rian, Ia merasa bahwa dirinya sudah tak ada lagi harganya di mata Rian.


Rian menganggap Sarah seolah-olah hanya hama yang menganggu bahkan merusak tanaman yang di hinggapinya.


"Ingat ya Rian".


"Aku gak akan pernah berhenti sampai kapanpun".


"Aku harus mendapatkan semua yang aku mau".


Sarah meninggalkan rumah sakit tersebut.