
Sezha Syaqila gadis 23 tahun yang memiliki sifat ceria, ia senang menyapa orang-orang yang ia jumpai dan memberikan hal positif kepada orang-orang yang berada di sekitarnya.
"Pagi Buk Arsi...". Sapanya kepada wanita paruh baya yang sedang menyusun dagangannya.
"Pagi juga neng Sezha". Balas Bu Arsi tersebut.
Sezha baru saja kembali membeli sarapan untuk kedua orang kakaknya.
Saat ini Sezha tak memiliki kegiatan apapun, ia hanya duduk di rumah, bermain dengan temannya, membaca buku di perpustakaan kota.
Hanya kegiatan seperti itu yang ia lakukan setiap harinya. Terkadang Sezha bosan dengan kehidupannya yang seperti ini, ia ingin merasakan suasana baru. Saat ini Sezha tidak bekerja padahal usianya sudah 23 tahun namun ia belum pernah bekerja di luar layaknya seperti orang-orang pada umumnya.
Alasan Sezha tidak di perbolehkan kerja oleh kedua kakaknya karena Sezha merupakan gadis yang sedikit ceroboh.
Kakaknya takut apabila Sezha bekerja dengan orang lain ia akan menimbulkan masalah karena kecerobohannya.
Kita kenalan dulu dengan kedua kakak Sezha. Pertama yaitu Marseno Akbar yang sekarang ini usianya sudah hampir 32 tahun, Marseno bekerja sebagai Wakil Kepala di perusahaan yang didirikan ayahnya.
Yang kedua yaitu Abil Naufal, yang usianya hanya selisih tiga tahun dengan Sezha. Abil saat ini sedang menjalankan sebuah usaha Cafe. Cafe yang di kelola oleh Abil sudah memiliki beberapa cabang di dalam kota maupun di luar kota.
Sezha dan kedua kakaknya tinggal terpisah dengan orang tua mereka, saat ini orang tua mereka menetap di Singapore. Karena orang tuanya sedang mengembangkan anak cabang perusahaan baru disana.
"Sezha pulang....". Teriak Sezha di depan pintu.
Namun tidak satu orangpun yang menjawab teriakannya.
"Kemana sih mereka berdua". Keluh Sezha.
Ia mengecek ponselnya dan ada satu notifikasi masuk dari Kakak keduanya.
Abil:
"Sezha Kakak dan kak Marseno sudah berangkat kerja, kak Marseno ada Meeting mendadak dan kakak punya urusan mendadak di Cafe".
Begitulah Isi pesan yang dikirim oleh Abil.
"Aish dari tadi bukannya kasih tau, siapa yang mau Menghabiskan makanan ini". Sezha memperhatikan kantong plastik yang berisikan 2 bungkus bubur ayam.
Sezha meletakkan 2 bungkus bubur ayam tersebut kedalam kulkas ia bingung ingin meletakan kemana lagi Makanan tersebut.
"Bosennya". Sezha menelungkupkan wajahnya di meja makan.
Ia merasa bosan tidak ada kegiatan yang dapat ia lakukan, ia ingin pergi bermain dengan temannya namun ia ingat ini hari senin pasti teman-temannya sedang kerja. Hanya dia sendiri yang menjadi pengangguran untuk saat ini.
"Mbok Ningsih entah kapan balik, kalau ada mbok Ningsih gak sepi-sepi amat". Mbok Ningsih merupakan pembantu yang bekerja di rumah mereka, namun saat ini Mbok Ningsih sedang pulang Kampung.
"Pengen banget kerja".
"Kaya mana sih lingkungan kerja itu".
"Bosennya di rumah mulu gak ada yang bisa di lakuin".
"Aku tuh udah 23 tahun tapi berasa kaya bocah 6 tahun yang gak boleh ngapa-ngapain".
"Bocah aja bebas ngelakuin apapun".
"Gini amat punya hidup".
"Teman teman aku pada bilang hidup ku paling enak, punya keluarga kaya, kakak tajir, gak ngelakuin apa-apa, gak ngerasain susah nya cari uang".
"Hello Aku tu juga pengen cari uang hasil keringat sendiri tapi apalah daya ku, yang kaya orang di penjara gak boleh ngelakuin apapun".
Sezha berbicara sendiri pada dirinya, Ia sangat prustasi saat ini.
"Jauh-jauh kuliah sampai ke Australia sana, lulus malah jadi pengangguran". Sezha meratapi dirinya sendiri.
Ponsel Sezha berdering saat Sezha sedang asik meratapi dirinya.
"Ngapain kak Abil nelpon". Batin Sezha.
Ia segera mengangkat panggilan dari kakaknya.
"Hallo Sezha".
"Ada apa kak".
"Kamu bosenkan?". Tanya Abil kepada Sezha.
"Ya ialah Mang kenapa?".
"Kamu segera kerestauran kakak, Kakak lagi ada urusan mendadak ini". Sezha yang mendengar ucapan Kakaknya, mengernyitkan dahinya. Saat sedang memikirkan ucapan kakaknya, Sezha baru ingat ini hari senin.
"Ouh... Sezha tahu kakak mau ngapain". Sezha cekikin saat ia ingat alasan kakaknya untuk menyuruhnya kesana.
"Pasti Mau jemput kak Arin kan". Ucap Sezha.
"Udah deh cepat kamu kesini, Bentar lagi kak Arin pesawat nya sampai ni". Oceh Abil dari balik telpon.
"Sezha naik taksi, jangan bawa mobil sendiri". Ucap Abil dari balik telpon, ia melarang adiknya mengendarai mobil sendirian.
"Ia-ia Sezha tahu". Balas Sezha langsung mematikan ponselnya.
"Urusan Kak Arin aja baru gercep". Oceh Sezha.
Sezha segera mengganti baju nya, syukur saja ia sudah mandi tadi pagi. Setelah selesai mengganti pakainnya, Sezha segera menelpon taksi untuk mengantarkannya ke Cafe milik kakaknya.
Akhirnya Sezha sampai di Cafe milik kakaknya.
"Masih jam 9 udah rame aja ni Cafe, Pasti kak Abil pakai jampi-jampi". Oceh Sezha saat baru turun dari taksi.
"Gak boleh Suudzon gitu-gitu kak Abil kakak lu Zha". Sezha menampar pelan mulutnya yang baru saja memfitnah kakaknya.
Wajar saja Cafe kakaknya ramai, Kakaknya sangat pandai dalam mengelola Cafe ini. Mulai dari makanan nya yang enak sampai para pelayannya yang ganteng dan cantik abis.
Sezha langsung menghampiri kakaknya yang tampaknya sedang bersiap-siap untuk pergi.
"Cieee mau kembali mengejar cinta tak terbalas". Ledek Sezha.
Abil tak membalas ledekan adiknya, ia tak akan menang saat bertengkar dengan adiknya.
"Kakak titip Cafenya sama kamu". Perintah Abil dan langsung pergi meninggalkan Sezha.
"Semangatnya". Oceh Sezha saat kakaknya buru-buru keluar.
"Pak Abil kemana Sezha?". Tanya salah satu pelayan yang bekerja di Cafe tersebut.
"Ada urusan balas Sezha". Pelayan tersebut mengangguk paham.
Ia bingung apa yang harus ia lakukan, Pelanggan tak henti-hentinya berdatangan dan para Pelayanan Cafe tersebut mulai kewalahan melayani para pelanggan.
Sezha pun inisiatif sendiri untuk ikut bekerja, ia mengambil celemek yang berlogo Cafe kakaknya.
Ia mendatangi meja para pelanggan yang baru datang, Sezha memberikan buku menu makanan dan mencatat pesanan mereka.
"Kok kita makan disini". Oceh seorang Wanita.
"Jika tidak mau aku bisa panggilkan taksi untukmu, aku tidak punya waktu untuk mencari tempat Makan seperti yang kau mau". Balas Pria yang duduk berhadapan dengan wanita tersebut.
Sezha yang melihat pertengkaran kecil itu hanya diam tak memberi respon apapun, ia berusaha Menjaga sikapnya dengan baik, padahal ia ingin sekali menjambak wanita sombong di hadapannya itu.
Setelah mencatat pesanan, Sezha segera Menggantarkan daftar pesanan tersebut kepada pelayan yang bertugas memasak di dapur.
Setelah memberikan catatan Sezha kembali kedepan ia mencari sesuatu yang dapat ia kerjakan. Ia melihat sebuah meja yang baru saja di tinggalkan, Sezha segera membersihkannya.
"Biar saya aja buk". Seorang pelayanan menghampiri Sezha.
"Udah gak papa biar aku aja, panggil aja Sezha."
"Kamu dapat mengantar pesanan untuk meja nomor 10, biar saya aja yang bersihkan ini". Pelayan tersebut langsung menjalankan perintah yang di berikan Sezha.
Sezha terus memperhatikan orang yang duduk di meja nomor 10 tersebut, kalau di lihat mereka seperti sepasang kekasih. Namun tingkah cowoknya terlalu cuek untuk mengatakan mereka sepasang kekasih.
Pelayan yang di perintahkan oleh Sezha untuk Mengantarkan pesanan kemeja nomor 10 tersebut tak sengaja tersenggol oleh wanita itu yang mengakibatkan minuman yang ada di nampan tumpah kebaju wanita itu.
"Hei hati-hati dong".
"Bagaimana sih kamu jadi pelayan disini".
"Kotor kan baju saya". Bentak Wanita tersebut.
"Mana manager kamu?". Tanya wanita itu kepada pelayanan tersebut.
Sezha yang melihat kejadian tersebut langsung menghampirinya.
"Maaf ya mbak kayanya ini salah mbak, mbak yang nyenggol tangan staff kami hingga minumannya tumpah". Sezha memberikan pembelaan.
"Hei.. Kamu jangan cari-cari Keselahan ya". Balas Wanita tersebut.
"Sudah maaf ini kesalahan kami". Ucap pria yang duduk dengan wanita tersebut.
"Kok salah aku si!!! ini salah mereka". Sezha yang tak tahan dengan tingkah wanita tersebut akhirnya angkat bicara.
"Kami memohon maaf atas Kesalahan staf kami, mbak dan mas nya tidak perlu membayar makanan ini. Anggap saja ini ucapan maaf kami dan mbak sama mas dapat meninggalkan Cafe kami". Ucap Sezha.
"Kalian ngusir kami ya kalian pikir kami gak mampu bayar?". Bentak wanita tersebut.
"Sudah mari kita kembali". Pria tersebut menarik keluar wanita itu.
"Maaf kan saya buk eh Sezha". Ucap pelayan tersebut.
"Gak papa kamu beresin aja meja ini". Sezha meninggalkan meja tersebut.
Ternyata seperti ini resiko menjadi pelayan Cafe.