Mysterious Woman

Mysterious Woman
Sepuluh



Jam sudah menunjukan pukul setengah 10 malam, Sezha dan Luna menyudahi pergibahan mereka malam ini.


Kebetulan Sezha di beri izin oleh Abil membawa mobil, jadi Sezha tidak perlu susah-susah mencari taxi.


"Gue balik dulu". Ucap Luna kepada Sarah.


Sezha membalas dengan mengacungkan jempolnya.


Sezha mengemudikan mobilnya dengan santai, ia ingin menikmati malam yang begitu indah.


Ini malam sabtu, tetapi Sezha dapat melihat Banyak muda-mudi yang sedang berkencan.


Sezha mengkhayal kapan ia bisa seperti mereka. Memiliki kekasih yang baik hati, tampan, pengertian dan tentu saja memiliki sejuta Kejutan romantis untuknya.


Saat sedang mengemudi Sehza teringat sosok Rian, Sezha memutar balikkan mobilnya entah kenapa ia ingin mengunjungi rekan kerjanya itu.


Sezha ingin memastikan dengan mata kepalanya bahwa sutradara tersebut baik-baik saja. Sezha juga ingin menunjukan kepeduliannya sebagai asisten.


Akhirnya Sezha sampai di rumah sakit dimana Rian di rawat. Sezha tidak tahu Rian berada di ruangan mana.


Sezha bertanya kepada perawat yang piket malam itu.


"Ada keperluan apa ya". Tanya perawat tersebut.


"Saya ingin menanyakan pasien bernama Rian berada di ruangan mana?". Tanya Sezha.


"Sebentar ya buk". Perawat tersebut mengecek data pasien dari Komputer.


"Berada di ruangan nomor 23A di Lantai 3". Ucap Perawat tersebut. Sezha membalas dengan mengucapkan terima kasih.


Sezha menaiki Lift menuju kelantai 3.


Setelah sampai Sezha mencari ruangan dengan nomor 23A. Dan akhirnya Sezha menemukannya.


Sezha mengetok pintu tersebut namun tidak ada sautan.


"Apa Pak Rian lagi istirhat ya". Tanya Sezha pada dirinya sendiri.


Sezha membuka pintu tersebut secara perlahan, Sezha dapat melihat tubuh Rian yang terbaring lemah di atas Ranjang rumah sakit tersebut.


Sezha memperhatikan setiap sudut ruangan namun tidak ada siapapun di Ruangan tersebut kecuali Sezha dan Rian.


"Kok gak ada ya yang jagain pak Rian".


"Keluarga sama pacarnya pada kemana".


"Kasian banget pak Rian gak ada yang menemani". Sezha duduk di kursi yang berada di samping ranjang Rian.


Sezha memperhatikan wajah bosnya yang tampak lemah dan tak berdaya, Sezha dapat melihat raut wajah Rian yang terlihat damai saat sedang tidur.


"Kalau di lihat lama-lama pak Rian ganteng juga ya". Oceh Sezha saat menatap wajah Rian.


Sezha menggelengkan kepalanya saat ia sadar dengan apa yang ia ucapkan barusan.


Sezha meletakan tangannya di atas kening milik Rian, Sezha hanya ingin memastikan apakah Rian masih demam atau tidak.


"Udah dingin kok". Ucap Sezha.


Sezha menarik kembali tangannya, namun Rian yang masih memejamkan matanya menahan tangan Sezha.


Sezha sangat terkejut saat tangan Rian menyentuh tangan Sezha.


Rian membuka matanya dan ia dapat melihat sosok Sezha dengan jelas.


"Sedang apa kamu disini". Tanya Rian kepada Sezha.


"Saya hanya singgah untuk menjenguk keadaan bapak". Balas Sezha.


"Jika tujuan mu berkunjung untuk apa kamu menyentuh kening saya". Tanya Rian.


Sezha mencoba untuk bersikap tenang, walaupun jantung sudah tidak berdetak dengan semestinya.


"Saya cuman mau mastiin bapak masih panas atau enggak". Balas Sezha.


"Terima kasih atas perhatian kamu".


"Namun saya tak Membutuhkannya". Balas Rian.


Sezha mencoba untuk bersabar dengan bosnya tersebut, ternyata ada manusia yang lebih tidak tahu diri selain Sezha.


"Yaudah deh pak maaf".


"Saya gak maksud apa-apa cuman mau mastikan bahwa bapak baik-baik saja".


"Sebagi asisten!! Saya hanya Menunjukkan rasa perduli saya sebagai rekan kerja".


"Jadi pak Rian tidak perlu berpikir yang aneh-aneh". Balas Sezha.


Rian hanya diam tak membalas perkataan Sezha barusan, banyak gadis yang datang kepadanya dengan alasan yang sama.


Jadi tidak bisa di pastikan bahwa ucapan Sezha tak memiliki maksud apapun.


"Kenapa bapak cuman sendirian".


"Biasanya kalau orang sakit pasti banyak yang jagain". Ucap Sezha.


"Aku yang tidak menyukai mereka berada disini".


"Dan kamu juga boleh pergi". Ucap Rian lalu kembali memejamkan matanya.


Sepertinya Sezha sedang di usir.


Sebelum keluar dari ruangan tersebut Sezha mengucapkan sebuah kalimat yang sukses membuat jantung Rian berdetak.


"Selamat istirhat pak semoga lekas sembuh".


"Walaupun bapak orang yang cuek kepada saya, tapi bapak merupakan orang pertama yang menjadi rekan saya dalam bekerja".


"Itu alasan saya mengkhawatirkan bapak".


"Tidak ada maksud apapun di balik kedatangan saya".


"Saya hanya berharap pak Rian segera pulih dan dapat bekerja dengan maksimal, Setiap masalah itu ada pada setiap kehidupan jadi cobalah untuk menyelesaikan bukan menghindarainya". Ucap Sezha.


Rian yang mendengarkan semua perkataan Sezha hanya diam ia tak membuka matanya, namun jantungnya berdetak lebih kencang saat Sezha mengatakan bahwa Sezha mengkhawatirkan dirinya.


Dan kalimat tersebut terdengar tulus hingga mampu menggugah jiwa Rian.


Sezha meninggalkan kamar milik Rian.


Sezha berpikir bahwa Rian sedang mengalami kesulitan, sikapnya yang dingin menandakan bahwa dia dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Sudahlah apa yang perlu aku khawatirkan tentang pak Rian".


***


"Aku harus mendapatkannya".


"Dengan itu kita bisa mengambil keuntungan lebih untuk perusahaan Papa". Ucap Pria itu pada seorang wanita.


Wanita tersebut duduk dengan santai sambil melipat kakinya. ia juga memainkan kuku-kukunya.


"Ya kau harus mendapatkannya".


"Lupakan perasaan tulus mu padanya".


"Tidak ada yang tulus di dunia ini".


"Semua orang mendekat hanya untuk mengambil keuntungan".


"Pertemanan dan percintaan yang tidak menghasilkan sesuatu sama saja menabur bibit yang sudah mati".


Wanita itu menyeringai dengan sinisnya.


Ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan, walaupun bermain licik sekali pun.


Berbuat baik hanya akan membuat orang lain menggap kita bodoh. Itu lah motto hidup yang wanita itu jalani.


"Aku akan mengalihkan perhatiannya kak".


"Kakak tenang saja, kita akan menjatuhkan semua yang telah mereka bangun".


"Sama seperti bagaimana mereka menghancurkan kita di masa lalu".


"Nyawa dibalas dengan nyawa dan uang harus kembali dengan uang".


Pria itu menatap langit-langit malam dari balik jendela.


Ia akan mulai membalas semuanya satu persatu.


Dia akan bermain licik sebagai mana rubah yang berusaha mendapatkan apa yang di inginkannya.


Sekalipun ia menjadi penghianat akan ia lakukan karena pada dasarnya hidup adalah mencari keuntungan.


"Kak apakah kau masih ingin tetap bersamanya setelah ia beberapa kali menyakiti perasaan mu?". Tanya pria tersebut pada kakaknya.


Wanita itu menatap lekat adiknya tersebut, Ia bangkit dari kursinya dan berdiri di samping adiknya itu.


"Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi".


"Usaha tak akan pernah mengkhianati hasil".


"Aku hanya perlu menunggu waktunya".


"Walaupun dia mencoba untuk membuangku".


"Dengan senang hati aku yang telah terbuang akan kembali kepadanya hingga apa yang aku inginkan menjadi milik ku".


"Kita lihat saja".


"Apa yang akan ia lakukan saat aku mulai menghancurkan segalanya".