Mysterious Woman

Mysterious Woman
Dua



Pria tersebut menarik tangan wanita itu keluar dari Cafe tersebut.


"Apaan sih?".


"Kamu gak merasa kalau kita di permalukan ha?".


"Itu kan salah karyawan mereka". Oceh Wanita tersebut.


"Sarah sebaiknya kamu kembali". Balas Pria itu.


"Rian kamu gak ngantarin aku balik". Rengek wanita itu.


"Taxi". Pria bernama Rian itu memanggil Taxi.


"Pulang lah". Rian menyuruh Sarah masuk kedalam Taxi tersebut. Sarah masuk kedalam Taxi tersebut denga cemberut.


"Ada ada saja ". Rian memijat kening nya yang terasa pusing.


Ia memutuskan untuk kembali ke Cafe tersebut, ia ingin meminta maaf karena sesungguhnya ini kesalahan dari Sarah.


Saat Rian ingin kembali ke Cafe tersebut, ia mendapat panggilan.


"Hallo Pak Rian sedang ada situasi darurat di studio". Ucap seorang wanita dari ponsel tersebut.


"Saya akan kesana". Rian mengurungkan niatnya untuk meminta maaf ia akan mengunjungi Cafe tersebut setelah pulang kerja atau besok.


Di dalam Cafe, Sezha tak hentinya mengutuk dirinya bisa-bisanya ia mengusir pelanggan. Bagaimana kalau orang tersebut menceritakan hal-hal yang buruk terhadap Cafe kakaknya, Kakaknya akan mengalami kebangkrutan mendadak.


"Aduh Gimana ini...". Sezha menghentakkan kepalanya ke meja bar tersebut. Pelayan yang melihat tingkah Sezha saling berbisik.


"Tu Buk Sezha bakalan di marahin sama Pak Abil". Ucap seorang pelayan bernama Arga.


"Aduh ini salah gue". Timpal pelayan bernama Riya.


"Lu sih gak mau hati-hati". Balas Arga.


"Gue udah hati-hati cewek tadi itu yang nyenggol gue luan, dia yang berantem sama pacarnya gue yang kenak imbasnya". Keluh Riya.


"Kita diam aja deh, biarin aja Buk Sezha yang nyelesain masalahnya mudah-mudahan gak memburuk masalahnya". Ucap Arga.


"Itu umurnya Buk Sezha berapa sih?".


"Sekitar 23an". Balas Arga.


"Tua gue setahun dong". Timpal Riya.


"Udah ah kerja entar kita di laporin". Kedua karyawan tersebut melanjutkan kerjanya.


Sezha hanya diam di bar, ia masih memikirkan apakah kakaknya akan marah atau tidak. Selain ceroboh ia tidak bisa mengontrol emosinya mungkin ini alasan kedua kakaknya tidak membiarkan ia bekerja.


Dilain tempat Rian sudah sampai di Studio miliknya.


"Hallo Pak Rian Guwana ". Sapa seorang Pria bernama Robbi ferdian.


"Hallo Pak Robbi silahkan duduk maaf saya terlambat". Ucap Rian.


"Tidak apa-apa saya juga baru datang". Balas Robbi.


"Saya ingin menanyakan kapan kita akan Melangsungkan syuting untuk film ini, kita sudah 2 minggu menunda pembuatannya". Robbi merupakan salah satu Manajer dari sebuah rumah produksi.


"Kita akan melaksanakan kembali syuting mungkin hari kamis ini, Asisten saya sedang melahirkan jadi saya akan mencari asisten baru setelah saya dapat kita akan melangsungkan Secepatnya". Balas Rian.


Rian merupakan seorang Sutradara saat ini ia sedang menggarap sebuah Film layar lebar.


"Baiklah hubungi saya jika syuting sudah Mulai di lakukan". Balas Robbi.


"Baik pak". Balas Rian.


Robbi meninggalkan perusahaan tersebut.


"Luna". Panggil Rian.


"Iya pak". Balas wanita Bernama Luna tersebut.


"Saya sekarang butuh seorang Asisten tolong cepat kamu carikan Asisten sutradara untuk saya". Perintah Rian kepada Luna yang menjadi Stafnya.


"Pak kebetulan saya punya teman dia lulusan Seni dari Australia, saya bisa ajak dia bekerja dengan kita". Balas Luna.


"Ajaklah teman mu itu, pastikan dia bukan orang ceroboh". Balas Rian.


"Baik pak". Balas Luna.


***


Jam sudah menunjukan pukul 12.00 namun Kakaknya belum juga kembali, Sezha sudah merasa lelah seharian melayani para pelanggan ia tak menyangka bekerja di Cafe secapek ini.


Yang di tunggu-tunggu kembali juga, sebelum Mengantarkan Arin pulang, Abil menyempatkan untuk singgah ke Cafe Sebentar ia ingin melihat bagaimana kondisi Cafe nya apakah masih terkendali atau tidak.


"Mana Sezha?". Tanya Abil kepada Riya.


"Di dalam pak". Balas Riya.


Saat Abil ingin menghampiri Sezha Riya menahan tangan Abil.


"Arin masuk aja kedalam Sezha ada di dalam". Abil menyuruh Arin untuk menghampiri Sezha. Arin menuruti perkataan Abil.


"Tadi pak ada orang makan disini". Riya menceritakan kejadian yang barusan terjadi.


" Ini salah saya pak bukan Buk Sezha". Riya mencoba untuk membela Sezha, ia takut Bosnya akan memarahi adiknya itu.


"Saya mengerti adik saya memang seperti itu, lain kali kamu juga hati-hati, lanjutkan saja pekerjaan mu". Balas Abil.


Abil melihat Sezha dan Arin sedang berbincang betapa senangnya ia melihat adiknya berbincang dengan kakak iparnya walaupun belum di terima.


"Eh kak Abil". Sezha sedikit ketakutan saat melihat wajah Abil.


"Sudah gak papa kakak mengerti kok". Abil mencoba untuk menenangkan perasaan adiknya.


"Udah kamu balik aja sana, biar kakak yang jaga". Sezha membalas dengan anggukan.


Terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Sezha, Sezha segera membaca pesan tersebut.


"Ciee dari pacar ya?". Goda Arin dan Abil.


"Cowok mana mau sama cewek Pengangguran". Balas Sezha.


"Kak bagi uang". Sezha Meminta uang kapada Abil.


"Ni...". Abil memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Oke". Ucap Sezha lalu meninggalkan kedua orang tersebut.


Sebelum menunggu Taxi datang, Sezha membaca pesan yang baru saja di kirim oleh Luna.


Luna:


"Ada yang mau gue Sampein sama lo, gue tunggu lo di Cafe biasa jam 2 ini".


Sezha:


"Oke".


Sezha segera menuju Cafe tersebut sekalian Sezha ingin makan siang, masih ada waktu satu jam lagi untuk menuju jam 2.


Setelah sampai, Sezha segera memesan beberapa makanan, kebetulan ia sangat lapar. Bisa saja ia memakan makanan di Cafe kakaknya, namun ia malas melihat kebucinan mereka berdua.


Saat Sezha sedang melihat menu makanan, pelayanan yang mencatat pesanan Sezha bertanya.


"Mbak Artis ya?". Sezha yang mendengar pertanyaan tersebut langsung terdiam.


"Saya pengangguran mas". Balas Sezha.


"Masak orang kaya Mbak pengangguran". Pelayan tersebut masih tidak percaya.


"Buktinya cuman saya sendiri yang nongkrong disini". Pelayan tersebut memperhatikan sekeliling Cafe yang sepi.


"Ia juga ya". Balas Pelayan tersebut.


Setelah mencatat, pelayan tersebut segera membuatkan pesanan Sezha.


Selang satu jam, akhirnya Luna sampai juga di Cafe tersebut.


"Sorry Zha gue telat". Ucap Luna.


"Gak papa, namanya Lo kerja". Balas Sezha.


"Gue tadi ngehindarin Si Ucup itu, dia terus-terusan ngajak gue makan bareng". Keluh Luna.


"Ya terima ajalah si Ucup juga ganteng". Balas Sezha.


"Memang ganteng tetapi Playboy, dia mau jadiin gue pacar keberapanya malas ah". Ucap Luna sambil Mengikat rambutnya.


"Lo mau nyampein apa sama gue?". Tanya Sezha to the point.


"Ha gue sampe lupa sama yang mau gue sampein".


"Lo mau gak jadi Asisten Sutradara tempat gue kerja, kebetulan Sutradara tersebut cari Asisten, Asisten lama nya baru lahiran". Ucap Luna.


"Kan lo dulu kuliah bagian seni, bisa la lo kerja sama dia. Kerja nya santai kok dan satu lagi sutradranya ganteng dan masih muda mungkin sebaya sama Kak Seno". Ucap Luna kembali mencoba meyakinkan Sezha.


"Gue mah jadi tukang sapu pun mau, tapi masalahnya kakak gue yang gak ngasih gue kerja". Balas Sezha.


"Coba deh lu rayu kakak lo, Bilang aja lo kerja cuman ngisi waktu luang lo aja". Ucap Luna.


"Yaudah nanti deh gue kasih tau sama kakak gue". Balas Sezha.


" lo harus kerja sama gue, biar kita satu kantor". Timpal Luna.


"Iya deh iya, yaudah lo makan dulu gue udah kenyang". Sezha menyuruh Luna untuk makan.


" Kok lo gak nunggu gue".


"Kelamaan". Balas Sezha.