Mysterious Woman

Mysterious Woman
Dua Puluh Enam



Elen saat ini sedang dalam perjalanan menuju bandara , hari ini ia memutuskan untuk ke New York melarikan diri sesuai dengan perintah Bibinya.


Elen berpikir dengan kepergiannya kedua kali ini, ia merasakan aman, tapi nyatanya tidak ternyata ia sudah di ikuti oleh orang-orang suruhan Sezha Sejak kemarin.


Sejak kejadian. 2 hari lalu saat Sezha dan Rian di hadang, Sezha memberikan perintah kepada orang-orang suruhannya untuk menyekap Elen. Sezha ingin memberikan peringatan kepada Ratih untuk tidak gegabah menyerang dirinya. Sezha tidak ingin orang-orang kembali terluka karenanya.


Ini hanya peringkatan kecil yang Sezha berikan kepada Ratih. peringatan terbesar akan terjadi saat Sezha berhasil mendapatkan bukti langsung dari mulut Ratih sendiri atas kejadian di masa lalu.


Tiba-tiba kendaraan yang di kemudikan oleh Elen dan anak buahnya di hadang oleh 3 mobil secara paksa.


Elen menyuruh anak buahnya untuk menyerang mereka, sedangkan Elen akan mencoba untuk menghubungi bibinya.


Namun Hal tersebut belum sempat di lakukan, tiba-tiba seseorang langsung memukul Elen hingga ia pingsan.


Setelah menghabisi semua anak buah Elen, orang suruhan Sezha membawa Elen kesebuah tempat yang hanya di ketahui oleh keluarga Sezha. Tempat itu dulu di gunakan sebagai ruangan penyekapan musuh.


Sezha masuk kedalam ruangan tersebut dengan penampilan berbeda, bukan penampilan polos yang biasanya ia tunjukan ke orang-orang. Sezha juga di temanin dengan Abil.


Elen mulai sadar dari pingsannya. Saat membuka matanya ia melihat sosok perempuan yang berdiri memebelakanginya.


"Siapa Lo?" Tanya Elen.


Sezha membalikan badannya.


"LO!!!!" Elen berteriak ternyata Sezha yang meyakapnya saat ini.


"Kenapa? Kaget!!! " ledek Sezha


"LEPASIN GUE" Teriak Elen, Dengan cepat Sezha meletakkan ujung pistol ke dahi Elen dan seketika itu juga Elen diam..


"Teriak lagi" Sezha menatap dengan sinis kearah Elen.


"LEPASIN GUE WANITA SIALAN, GUE GAK PERNAH GANGGU HIDUP LO" Elen meludah.


Sezha sama sekali tidak takut dengan suara teriakan, malahan Sezha membalasnya dan tawa yang menggelegar


"Hahahahaha"


"Kamu sangat lucu dan polos pantas saja kamu di manfaatkan Ratih" Sezha berjalan mendekati Elen, ia mencengkram leher Elen dengan kuat.


"Lo pikir gue gak tahu lo itu siapa?"


"Lo menganggap gue, gak tahu apa-apa padahal nyatanya!!"


"Gue tahu segalanya"


"Tak terkecuali rencana lo 5 tahun yang lalu, dan lo.tahu siapa yang bikin rencana itu?"


"Itu gue bukan lo" Sezha melepaskan cengkramannya.


"Katakan pada bibi mu yang payah itu"


"Jika ingin membalas dendam pahami karakter musuhnya" Sezha mengarahkan pistol nya ke dada Elen.


"Bibi mu memiliki rencana untuk membunuhku?"


"namun sayang rencana pembunuhannya gagal".


"Aku tahu sifat ratih seperti apa, ia tidak gampang menyerah. Tapi bisa saja ia melancarkan aksinya di lain waktu kan?".


"Sebelum hal itu terjadi aku harus memberikan nya peringatan dengan cara membunuh keponakannya"


"HAHAHAHAHH" Sezha tertawa dengan sangat keras.


"Apakah tidak ada kalimat yang ingin kau ucapkan, atau satu kata sajalah sebagai kata perpisahan?"


"Diam kau wanita Licik, aku pastikan akan membalas mu ingat itu".


"Kau pikir aku diam saja ha".


"Walaupun aku mati, aku tetap akan membalas perbuatan mu ingat itu" Elen meludahi sepatu hitam milik Sezha.


"Kau tadi mengatakan apa?? Mati??".


"Aku akan mengabulkannya?"


"Bang Abil" Sezha memanggil Abil.


"Ada apa Sezha? apa kau sudah puas bersenang-senang" Tanya Abil dengan cara sedikit menggoda.


Elen tak bisa berkutik, saat ini hanya bisa diam dan meratapi takdirnya, jika memang ia harus mati sekarang.


Sezha membisikan sesuatu ketelinga Abil, dan Abil membalasnya dengan anggukan.


"Karena kau memilih mati?"


"Maka aku akan mengabulkannya" Abil melepaskan tembakan.


"Tenang aku tidak membunuhmu hanya memberikan sebuah kenyamanan".


"Setelah ini kau dapat istirhat dahulu oke" Ucap Abil kepada Elen. Elen tak memperdulikan Abil saat ini ia sangat kesakitan di kakinya.


Elen merasa kakak beradik ini tidak bisa di anggap sepele, dan sampai sekarang juga bibinya tidak mengerim seseorang untuk menolongnya.


"Sembunyikan dia di luar negeri" Abil memerintahkan anak buahnya untuk menyembunyikan Elen di luar negeri.


"Apakah ini tidak terlalu memancing mereka ?" Tanya Sezha kepada Abil.


"Tenanglah kak Seno sudah mempertimbangkan rencana ini".


"Kita Tidak bisa langsung memburu induknya. kita harus menyingkirkan satu Persatu anak buahnya"


"Baru kita bisa menangkap induknya" Jelas Abil yang di balas anggukan oleh Sezha.


"Aku Rasa untuk saat ini Ratih akan fokus menyelamatkan Elen".


"Sebaiknya kakak Membawa kak Arin untuk menjauh"


"Kak Arin tidak tahu apa-apa dalam masalah ini Sezha tidak mau ia terluka seperti kak Arga dulu" Abil memahami kegelisahan adiknya itu.


"Baiklah Abang akan Membawa kak Arin untuk pergi".


"Kakak yakin kamu bisa menangani semua ini, Dan jika pun kamu mengalami kesulitan segera hubungi kakak" Sezha membalas dengan Anggukan.


Sezha ingin menemui Rian, sudah dua hari ia tak mengunjungi Rian. apakah Rian dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.


Sezha memasuki Ruangan tempat Rian di rawat, Di dalam ruangan ternyata ada Setyo dan Ratih.


"Tepat sekali ada wanita itu" Sezha membuka pintu secara perlahan.


"Selamat Sore om tante" Ucap Sezha dengan ramah.


"Selamat Siang" Setyo menghampiri Sezha.


"Terima kasih Sezha kamu sudah melindungi Rian".


"Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam hidup saya".


"Kenapa orang -orang terus mengganggu keluarga saya" Setyo tampak sangat khawatir dengan semua ini.


Bagaimana bisa ada orang yang ingin mencelakai putra semata wayangnya itu.


"Tidak pak"


"Saya tidak banyak membantu, pak Rian melindungi dirinya sendiri".


"Saya yakin pak Rian orang yang sangat kuat" Balas Sezha sambil tersenyum, sesekali juga Sezha mencuri pandang kearah Ratih yang terlihat bersedih. Sezha yakin itu hanya Akting semata.


"Saya menyarankan bapak untuk selalu waspada pak, kita tidak tahu musuh kita seperti apa dan bisa saja pelakunya orang terdekat kita".


"Coba pak untuk selalu waspada dan jangan mudah percaya perkataan orang lain, bisa saja bapak menjadi korban selanjutnya" Ucap Sezha.


Sezha dapat melihat Ekspresi Ratih yang menahan amarah, namun ia mencoba menutupinya dengan kesedihan palsunya.


"Dengan keadaan pak Rian seperti ini tidak memungkinkan pak Rian melakukan Syuting? " Sezha bertanya kepada Setyo.


"Kalian tidak usah khawatir saya sudah mengurus semua itu, dan Rian juga mengundurkan diri untuk project ini".


"Saya tidak mau Rian terus-terusan dalam bahaya".


"Bisa saja pelakunya perusahaan lain yang bermain kotor dengan perusahaan saya" Sezha mengangguk tanda mengerti.


"Kamu jaga Rian, saya harus segera kembali kekantor dan mengurus semua kekacauan ini " Setyo meninggalkan Ruangan di ikuti Ratih dari belakang.


Saat Ratih ingin keluar dari Ruangan tersebut, Sezha mencegahnya.


"Aku sudah mengirimkan satu somasi untuk mu? Jika kurang aku akan mengirim kan nya sekali lagi" Ucap Sehza


Ratih tampaknya tidak perduli dengan perkataan Sezha. Ratih mengakui bahwa untuk permainan pertama ini ia kalah, namun tidak untuk kedua atau ketiga kalinya. Ia harus bisa mengalahkan Sezha.


Sehza menghampiri Rian yang masih terbaring lemah.


"Bagaimana kabar bapak?" Tanya Sezha


"Keadaan ku sudah cukup membaik" Balas Rian dengan tersenyum.


Melihat senyuman di wajah Rian entah kenapa membuat hati Sezha bergetar. Ini pertama kalinya Rian tersenyum untuknya.


"Pak Rian sangat tampan tersenyum"


"Cobalah untuk tersenyum setiap melihat saya"


"Saya akan mencobanya" Rian menggengam tangan Sezha, Sezha membalas genggaman tangan tersebut.