Mysterious Woman

Mysterious Woman
Enam Belas



Akhirnya Sezha dan Rian sampai di cafe yang mereka tuju, bukan-bukan!! Tapi yang Rian tuju. Rian sudah keluar dari mobilnya namun Sezha masih enggan untuk turun. Sezha terus memandangi cafe tersebut lekat-lekat entah kenapa kakinya terasa kaku untuk di gerakkan.


Rian yang menyadari Sezha belum juga keluar dari mobil, membukakan pintu mobil untuk Sezha. Sezha kaget saat Rian membukakan mobil untuknya.


"Apa yang kau tunggu".


"Ayo keluar". Ucap Rian kepada Sezha.


"Kita pindah cafe aja ya!".


"Kebetulan ada cafe yang cukup enak dekat sini". Ucap Sezha.


Rian bingung, kenapa Sezha tidak ingin makan di cafe tersebut. Padahal Sezha dulu bekerja di cafe ini.


Bagaimana Sezha tidak mau turun, Rian membawa Sezha ke cafe milik Abil. Tentu saja Sezha enggan untuk turun. Jika ia masuk berdua dengan Rian. orang-orang cafe tersebut akan terkejut melihat dirinya terutama Abil.


Apa lagi ia pernah membuat masalah dengan Rian saat pertama kali jumpa. Ini akan membuat tanda tanya besar sama orang-orang di dalam.


"Sudahlah ini cafe yang cukup enak, kau tak perlu canggung".


"Anggap saja kita datang sebagai tamu". Ucap Rian.


Rian langsung menarik tangan Sezha tanpa seizin pemilik tangan, Sezha memandangi tangannya yang bergandengan dengan tangan Rian.


Entah kenapa Sezha merasa sangat senang saat Rian menggandeng tangannya.


Sezha yang menyadari pikirannya itu, langsung membuang pikiran tersebut. Ia juga menarik tangannya dari genggaman tangan Rian.


"Ada apa?". Tanya Rian.


"Tidak apa-apa". Balas Sezha.


Rian dan Sezha memasuki Cafe tersebut. Sezha berusaha menutupi wajahnya agar tidak ada orang yang mengenalinya terutama kakaknya.


Namun sayang, penyamarannya kurang sempurna.


Riya salah satu pelayan cafe tersebut mengenali Sezha.


"Buk Sezha". Ucapnya dengan nada yang sedikit keras.


"Buk Sezha". Ucap Rian yang tampak bingung.


Sezha yang menyadari kebingungan Rian mencoba untuk memberikan penjelasan.


"Ouh biasa orang disini manggil saya Buk Sezha pak pas saya masih kerja disini". Ucap Sezha.


Sezha tidak ingin Rian mengetahui bahwa dia adik pemilik cafe ini.


Saat Riya melihat pria yang duduk di hadapan Sezha. Riya sangat terkejut. Kenapa pria yang pernah bermasalah dengannya kini bersama adik bosnya.


"Bapak ini". Ucapnya dengan nada yang lumayan berteriak juga. Sezha yang mulai tak nyaman dengan Pelayan tersebut, Sezha membawa pelayan itu kebelakang.


"Ibu pacaran sama bapak itu". Ucap Riya kepada Sezha saat mereka sudah di dapur.


"Enak aja, dia sutradara dan saya bekerja sebagai asistennya". Ucap Sezha.


"Terus ngapain ibu makan siang bareng sama bapak itu". Sezha pusing dengan pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Riya.


"Pokoknya saya gak punya hubungan apa-apa, pak Rian cuman mentraktir saya makan sebagai ucapan terima kasih dia karena saya bekerja keras". Ucap Sehza, Riya yang mendengar penjelasan Sezha mengangguk paham.


"Ouh ia pak Rian cuman tahu kalau saya pegawai disini, jangan kamu sebut kalau saya adik pemilik cafe ini.. Oke?".


"Siap buk". Ucap Riya dengan tegas.


"Kak Abil mana?". Sezha menyadari bahwa kakaknya tidak ada di cafe tersebut.


Sezha kembali kemeja yang di tempati ia dan Rian, setelah kembalinya Sezha. Rian bertanya apa yang ia bicarakan dengan pelayan tersebut.


"Apa yang kamu bicarakan dengan dia?". Tanya Rian.


"Tak ada saya hanya ingin bertemu dengan rekan-rekan kerja saya dulu. Mereka juga mengucapkan selamat karena saya mendapatkan pekerjaan lebih baik". Ucap Sezha dengan berbohong.


Rian yang tidak mengetahui kebenaran tersebut, langsung percaya dengan apa yang dikatakan Sezha.


Akhirnya makanan mereka datang, Sezha dan Rian kini sibuk dengan makanan mereka masing-masing.


Setelah makan Rian berniat untuk mengantarkan kembali Sezha, namun Sezha menolak tawaran tersebut. Ia tidak ingin Rian mengetahui hal lain tentang dirinya termasuk alamat rumahnya.


"Saya akan mengantar kamu pulang". Tawar Rian.


Sezha dengan cepat menolak tawaran tersebut.


"Gak usah pak, saya ingin lebih lama di cafe ini".


"Sudah lama gak berbincang dengan teman-teman saya yang masih kerja disini". Bohong Sezha.


"hmm".


"Baiklah kalau begitu saya pergi dulu". Setelah mengucap kalimat tersebut Rian langsung masuk kedalam mobilnya.


Sezha dapat melihat mobil Rian yang semakin menjauh, dan ia kini dapat bernafas dengan lega.


Sezha juga tidak mengerti kenapa ia menyembunyikan identitas aslinya, atau bisa di bilang ia pura-pura miskin. Hanya saja Sezha menganggap bahwa Rian mengetahui dirinya sebagai orang biasa jadi ia akan membiarkan hal itu. Tidak ada ruginya juga dengan diri Sezha yang menyembunyikan identitasnya.


Di dalam mobil Rian masih teringat tentang Sezha. Ia merasa bahwa Sezha bukan orang yang buruk sebagaimana ia pikirkan selama ini.


Namun Rian merasa bahwa Sezha bukan dari golongan orang biasa, kecurigaan tersebut bermula bagaimana cara Sezha yang mampu masuk kedalam kompleks perumahannya padahal tempat ia tinggal merupakan tempat yang di jaga sangat ketat.


Apakah Sezha berasal dari keluarga yang berpengaruh, atau Sezha bukan orang yang selama ini ia pikirkan.


"Aku akan mencari tahu". Ucap Rian.


**


Seno sedang sibuk menyelesaikan beberapa dokumen perusahaannya, kali ini Perusahaannya akan melakukan kerja sama dengan PH, Perusahaan tempat Sezha bekerja. Saat sedang sibuk memepelajari beberapa dokumen, ponsel yang berada di samping Seno berdering, Seno segera mengangkat ponsel tersebut.


"Ya ada apa?". Tanya Seno kepada tangan kanannya itu.


"Saya sudah mencari tahu latar belakang dari pemilik PH".


"Dari informasi yang saya dapatkan, Pemilik PH tidak memiliki ikatan apapun dengan Adibakra".


"Namun ada keanehan yang saya temukan, Setyo memiliki istri dua, istri pertamanya meninggal dunia akibat kecelakaan, lalu ia menikah lagi. Namun saya tidak menemukan informasi yang jelas dari istri kedua Setyo. Dari informasi yang saya dapatkan Istri kedua setyo sebelum menikah dengannya merupakan seorang pendiri panti Asuhan".


"Saya hanya ingin menginformasikan Sepertinya keluarga Adibakra juga mengincar keluarga Setyo". Ucap Tangan kanan Seno tersebut dari balik telpon.


"Hemm gali lagi informasi tersebut, aku merasa bahwa kita bertiga akan masuk dalam lingkungan yang sama".Ucap Seno lalu mematikan telponnya.


"Mereka mengincar orang-orang lebih. Namun siapa orang yang berada di lingkungan Setyo".


"Kali ini aku harus lebih waspada terutama dengan kerja sama ini".


"Mungkin saja ada orang tertentu yang mencoba untuk memanfaatkan situasi ini". Ucap Seno.


Seno memandang lurus kedepan dapat ia lihat di dinding paling ujung Foto kakeknya. Seno berjanji akan menjaga perusahaan yang sudah di besarkan kakeknya, terlebih lagi ia akan lebih hati-hati lagi dalam menjaga keluarganya.


Musuh-musuh keluarga Antara akan membalas melalui bidikan anggota keluarga.