
"Aduh pakai baju apa ya?".
Sezha sibuk sendiri didalam kamarnya, Ia membongkar semua isi lemari pakaiannya. Ia bingung ingin mengenakan pakaian apa.
Di dalam lemari Sezha terlalu banyak baju kaos dan celana Jeans, Jika ia menggunakan pakaian tersebut ia takut di anggap tidak sopan untuk kesan pertamanya.
Mbok Ningsih yang mendengar suara keributan dari kamar Sezha menghampirinya, Oh iya Mbok Ningsih udah balik dari kampung tadi pagi. Jadi di rumah ini udah ada Mbok Ningsih.
"Cari apa Dek Sezha". Mbok Ningsih terbiasa memanggil Sezha dengan sebutan seperti itu karena ia bekerja dengan keluarga tersebut sudah hampir 20 tahun.
"Ini Mbok Sezha hari ini mau ketemu sama Bos Sehza". Ucap Sezha.
"Ha Bos??". Ucap Mbok Ningsih yang bingung.
"Aduh gini Mbok, Sezha mulai hari ini akan bekerja". Ucap Sehza.
"Lo kok Dek Sezha bisa kerja, Memangnya Dek Seno sama Dek Abil ngizinin". Tanya Mbok Ningsih.
Mbok Ningsih hampir tahu semua permasalahan yang ada dirumah ini termasuk permasalahan Sezha yang tidak diizinkan untuk bekerja.
"Dibolehin dong Mbok jadi ini hari pertama Sehza".
"Tapi Sezha bingung gak ketemu baju yang pas". Ucap Sezha sambil memeriksa setiap baju yang ia keluarkan dari lemari.
"Awas biar Mbok pilihan". Mbok Ningsih pun memilihkan pakaian untuk di kenakan Sezha.
Tak berapa lama, Mbok ningsih menemukan pakaian yang pas untuk di gunakan Sezha.
"Pakai ini aja". Ucap Mbok Ningsih sambil memberikan Sezha Kemeja bewarna abu-abu dan rok hitam pendek di bawah lutut.
"Udah gunain ini aja, Mbok sering lihat di Tv Tv kalau orang kerja kantor pakai baju kaya gini". Sezha memperhatikan pakaian yang di berikan Mbok Ningsih.
"Oke deh Sezha pakai dulu". Sezhe segera mengganti pakaiannya.
***
Akhirnya Sezha sampai di perusahaan tersebut, Ia memperhatikan semua sudut perusahaan tersebut termasuk para pegawainya.
"Kok aku terlalu norak ya". Batin Sezha saat ia membandingkan pakainnya dengan pakaian orang yang bekerja di gedung tersebut.
Rata-rata orang yang bekerja diperusahaan tersebut menggunakan pakaian yang santai dan tak Terlalu mencolok.
"Gak papa deh biasa anak baru". Ucap Sezha menyemangati dirinya.
Sezha memasuki perusahaan tersebut dan kebetulan ia bertemu dengan Luna.
"Luna". Teriak Sezha.
Luna yang merasa terpanggil membalikan badannya.
"Sezha". Teriak Luna.
Dan mereka berdua teriak-teriak seperti di hutan.
"Lo mau ngelamar kerja di mana?". Ledek Luna melihat gaya berpakain Sezha.
"Gue mau ngelamar satpam di depan, ganteng banget kaya oppa-oppa". Balas Sezha sedikit sewot.
"Ciee ngambek". Goda Luna.
"Udah ah cepet mana sutradaranya udah gak sabar ni mau kerja". Ucap Sezha.
Luna yang mendengar ucapan temannya itu tertawa.
"Semangat amat ". Balas Luna.
"Tapi Pak Rian lagi keluar ada urusan, gue rasa belum balik lo nunggu bentar ya". Ucap Luna.
"Siapa Rian?". Tanya Sezha yang tidak kenal dengan orang yang di sebut Sezha.
"Jodoh lo!! ya sutradaranya lah". Balas Luna dengan ketus.
"Santai dong". Sindir Sezha.
"Lu sih ngeselin, Kuliah jauh jauh pintar enggak gobloknya nambah, kali di bagi lagi". Balas Luna tak kalah menyindir.
"Udah Ah ". Sezha menghentikan pertengkaran mereka.
Luna membawa Sezha menuju ruangan Rian, Luna dan Sezha akan menunggu kedatangan pria itu disana.
Sezha tak henti-hentinya Memperhatikan bangunan tersebut. Ia juga membanding-bandingkan dengan perusahaan milik keluarganya.
"Gak boleh gitu Zha, ini tempat lo ngasilin uang". Sezha menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Sezha dan Luna sampai di ruangan Rian.
"Zha lu tunggu sini bentar ya gue mau kebawah mau nyiapin keperluan untuk syuting". Sezha Menganggukan kepalanya.
Dan orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, Sezha yang mendengar suara pintu terbuka langsung bangkit dan ingin menyambut siapa yang datang.
Namun sangat terkejutnya Sezha saat melihat siapa orang yang datang, dan Rian sama seperti Sezha terkejut saat melihat orang yang sedang duduk di ruangannya itu.
Sezha berusaha untuk tenang, ia menundukan kepalanya.
"Kamu pegawai Cafe kemarinkan?". Tanya Rian untuk memastikan.
"Eh ia pak". Balas Sezha dengan gugup.
"Saya tadi datang ke Cafe kamu tetapi kamu tidak ada".
"Apa kamu kena pecat sama pemilik restoran tersebut ". Sezha yang mendapat ucapan tersebut mencoba untuk bersikap tenang.
"Eh enggak pak saya mendapat tawaran dari teman saya, bahwa bapak sedang mencari asisten sutradara".
"Jadi saya mencoba untuk menerima tawaran tersebut , kebetulan ini pekerjaan yang saya inginkan". Balas Sehza.
Entah dari mana ia mendapatkan ucapan tersebut, namun Sezha hanya bisa pasrah dan mencoba untuk tetap tenang.
"Ouhh jadi kamu berhenti bekerja?". Tanya Rian
"Saya mengundurkan diri pak". Balas Sezha.
Benar kata Luna kegoblokan Sezha mengalir sampai jauh.
"Ehm Syukurlah saya berpikir bahwa kamu di berhentikan". Sezha menggelengkan kepalanya.
"Baiklah saya akan menjelaskan sistem bekerja dengan saya".
"Pertama saya tidak suka orang yang ceroboh".
"Kedua saya tidak suka orang yang tidak tepat waktu".
"Dan yang ketiga saya tidak suka dengan orang yang membawa masalah pribadi kedalam pekerjaan".
"Jadi saya harap kamu bisa melaksanakan apa yang saya mau". Ucap Rian.
"Baik pak akan saya lakukan". Balas Sezha.
Rian memperhatikan Sezha dengan tatapan tajam, Sehza yang merasa di perhatikan menatap kembali Rian.
Namun Sezha tidak tahan bertatapan terlalu lama akhirnya ia membuang pandangannya terlebih dahulu.
"Besok kita sudah mulai syuting dan pastikan kamu jangan terlambat".
Sehza menganggukan kepalanya menandakan ia paham. Sezha tak terlalu banyak bicara ia merasa orang di hadapannya ini bukan orang yang mudah untuk di ajak bercanda.
Ia merasa sifat pria di hadapannya cenderung jutek dan dingin, Ia juga melihat bagaimana perlakuan pria tersebut terhadap pacarnya kemarin.
Sezha menggelengkan kepalanya, Rian yang melihat tingkah Sezha langsung menegurnya.
"Apa ada yang salah? kalau tidak ada kamu bisa keluar". Sezha keluar dari ruangan tersebut.
Setelah di luar ruangan tersebut akhirnya ia bisa bernafas. Sezha tidak menyangka orang yang ia temui adalah orang yang ia usir kemarin.
Ternyata dunia sekecil daun pakis.
Luna menghampiri Sezha yang sudah berada di luar ruangan tersebut.
"Bagaimana Zha?".
"Ya kaya gitu, dia cuman ngasih tahu hal-hal apa aja yang gak boleh di lakuin". Balas Sezha.
"Bagus deh gue pikir bakal ada drama-dramanya". Ucap Luna.
Sehza tidak memberi tahu Luna kejadian kemarin, ia sangat hapal bagaimana betul sifat temannya itu dan jika Luna tahu maka habislah nyawa Sezha di bully habis-habisan.
"Tapi Lun, Pak Rian itu sikapnya kok kaya jutek amat ya".
"Ia memang bawakaanny kaya gitu dingin, ketus, dan cuek". Jelas Luna kepada Sezha.
Sezha mengangguk paham dengan ucapan temannya itu.