
Setelah kembali dari rumah Rian, Sezha langsung menuju Cafe tempat ia janjian dengan Luna. Kebetulan syuting telah selesai sehingga Luna dapat menemui Sezha.
Akhirnya Sezha tiba di cafe tersebut namun ia belum melihat keberadaan Luna, Sezha memesan minuman sambil menunggu kedatangan Sezha.
Sezha teringat dengan Rian, apakah ia sudah sadar atau belum. Sezha merasa bahwa sutradara tersebut sedang tertekan atau memiliki masalah.
Ia tidak tahu pasti apa masalah yang menimpa Rian, Sehingga Rian dalam keadaan seperti itu.
Sezha juga teringat dengan kejadian di depan pintu gerbang masuk perumahan tersebut, ia merasa ada sesuatu yang janggal. Mereka yang semula tidak memberikan akses namun tiba-tiba langsung membukakan pintu untuk Sezha.
Sezha akan menanyakan mengenai hal ini dengan kakaknya nanti untuk menjawab semua rasa penasaran pada diri Sezha.
Akhirnya Luna sampai juga, Tampak Luna seperti sedang di kejar hantu ia terlihat sesak nafas.
Sezha yang menyadari kondisi Luna langsung memberikan minum yang sudah ia pesan kan.
"Lo kenapa?" Tanya Sezha.
"Bentar gue nafas dulu" Balas Luna.
Luna meminum jus yang di sodorkan Sezha, setelah meminum Jus tersebut Luna mulai Rileks.
"Lu kenapa sih kaya orang di kejar hutang tau gak". Ucap Sezha saat melihat temannya yang masih Keringetan.
"Sumpah Zha lo gak tahukan di lokasi syuting tadi kaya mana" Ucap Luna.
"Emangnya ada apa?". Tanya Sezha penasaran.
"Si ucup nembak gue". Balas Luna yang langsung mendapat bogeman oleh Sezha.
"Sial lo gue pikir apaan". Balas Sezha.
"Sorry deh, gue lari kemari karena gue gak mau jadi penanggung jawab untuk artis figuran". Ucap Luna.
"Emang kenapa? Itu kan memang bagian tugas lo". Timpal Sezha.
"Lo gak ngerasain aja gimana menanggup jawapin artis figuran yang berasa jadi pemeran utamanya".
"Dan asal lo tahu ya yang menjadi artis figurannya itu Sarah". Sezha yang mendengar ucapan dari Luna kaget.
"Kok bisa jadi Sarah, pacar pak Rian". Timpal Sezha yang bingung.
"Gue baca naskah gak ada tu Sarah masuk dalam list". Timpal Sezha kembali.
"Itu yang bikin gue bingung, males banget gue ngurus-ngurus tu orang".
"Sumpah ya Zha gue enek banget sama wanita bernama Sarah itu".
"Udah jelas-jelas pak Rian nolak dia, dan dia masih bersikukuh juga dekatin pak Rian".
"Sumpah gue gak habis pikir itu wanita urat malunya letak nya dimana". Ucap Luna dengan menggebu-gebu.
"Mungkin karena sutradara baru, makanya ada List nama Sarah". Balas Sezha.
"Bisa jadi".
"Gara-gara sutradara baru ini, kerjaan gue nambah gue harus ngerekap ulang beberapa naskah dan mengatur pengeditan karena sutradaranya nambah".
"Sumpah ya!!! selama gue kerja disini baru kali ini gue ngerasa Syuting serepot ini". Timpal Sezha.
"Yaudahlah namanya udah bagian tugas lo, mana ada kerjaan yang jalannya mulus aja". Balas Sezha sambil meminum-minumannya.
"Eh Zha gue mau nanya".
"Gimana lo bisa masuk kerumah pak Rian, setahu gue ya lokasi rumah pak Rian itu gak sembarangan orang bisa masuk".
"Dan gue yakin jika lo bisa masuk kesana lo orang pertama yang bisa Mampir kerumah pak Rian, kecuali kedua orang tuanya ya yang udah memiliki akses". Timpal Luna.
"Itu juga gue bingung".
"Dengar ya Lun".
"Pertama gue gak di kasi masuk, gue udah coba paksa masuk namun gak di izinin juga".
"Jadi mereka minta KTP gue, Setelah mareka Melihat nama panjang gue. Mereka bertanya itu memang nama gue atau bukan".
"Ya gue jawab ia lah". Ucap Sezha.
Karena mereka baca nama gue, gue langsung di kasi masuk gitu gue juga bingung.
Luna sangat terkejut dengan ucapan terakhir Sezha, ia tak menyangka temannya itu mampu manembus perumahan tersebut.
"Jadi lo bisa masuk kerumah pak Rian". Tanya Luna yang di balas anggukan oleh Sezha.
Luna tepuk tangan saat Sezha menjawab pertanyaannya, Sezha sangat bingung dengan tingkah temannya itu yang tiba-tiba memberikannya tepuk tangan.
"Apaan sih". Oceh Sezha.
"Hebat". Balas Luna.
***
Rian terbangun dari tidurnya, ia merasa bahwa kepalanya sangat pusing.
Rian bingung saat melihat bahwa dirinya berada di tempat tidur, seingat dirinya terakhir kali ia mabuk dan terjatuh di lantai, lalu ia tidak menyadarkan diri.
Rian semakin bingung saat melihat tangannya yang di baluti perban. Rian bertanya-tanya dalam hatinya siapa orang yang membantu dirinya. Rian juga melihat kamarnya yang tampak bersih dan botol bekas minumannya juga sudah tidak berserakan bahkan nyaris seperti tidak terjadi apa-apa.
"Siapa yang dapat masuk kesini?". Rian bertanya pada dirinya.
Terakhir kali ia mendengar suara wanita, namun Rian tidak ingat siapa wanita itu.
"Tidak mungkin Sarah yang datang kemari, Ia sama sekali tidak memiliki akses untuk masuk ke lokasi ini".
Saat sedang berpikir mata Rian teralihkan oleh sebuah paper bag dan mangkok, Rian menghampiri meja tersebut.
Karena penasaran yang tinggi Rian langsung membuka isi Paper bag tersebut, dan Rian sangat kaget saat Melihat gelas pemberian ibunya berada dalam tas kertas tersebut.
"Siapa yang membawa barang ini kembali?". Ucap Rian sambil memperhatikan gelas tersebut.
"Tampaknya ini sudah di perbaiki". Mata Rian teralihkan oleh selembar kertas yang berada di samping mangkok tersebut.
Sebelum membaca isi kertas tersebut, Rian membuka mangkok yang berisi bubur, Rian membaca kertas tersebut.
Rian terkejut saat melihat nama Sezha berada di baris bawah kertas itu.
Untuk Pak Rian:
"Maaf kalau saya lancang masuk kerumah bapak, tapi saya juga mendapat izin masuk dari bapak. Mungkin bapak tidak menyadarinya karena mabuk. Saya membawa pecahan gelas tersebut ke toko untuk di perbaiki mungkin gelas tersebut sangat berarti untuk bapak. Saya sudah mengembalikan gelasnya".
"Saya juga membuatkan bubur untuk bapak, Jika sudah dingin panaskan saja di Kompor atau di Microwave. Semoga bapak baik-baik saja setelah menemukan gelas bapak".
Sezha.
Rian tersenyum saat membaca surat dari Sezha, entah kenapa ia merasa bersyukur bahwa Sezhalah yang menghampirinya bukan orang lain.
Ia merasa bahwa Sehza orang yang memiliki perasaan yang tulus dilihat dari perilaku yang ia tunjukan.
Rian memegang gelas tersebut, ia memeluk gelas itu.
Ia merasa bahwa separuh hidupnya telah terselamatkan dengan kembalinya gelas tersebut.
Rian ingin menghubungi Sezha, namun ia mengurungkannya niatnya itu. Ia akan berterima kasih di kantor saja secara langsung.
Di lain tempat Sarah Sedang menunggu seseorang yang misterius, Ia ingin mendengarkan kabar Baik dari orang tersebut.
Dan yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Aku sudah membantu mu kali ini". Ucap wanita itu.
"Terima kasih atas bantuan mu, tapi ini bukan bantuan melainkan kerja sama". Balas Sarah.
"Kita bermain di lingkungan yang sama dengan tujuan yang sama".
"Kita tidak saling membantu Melainkan bekerja sama".
"Aku harap kita dapat menyelesaikan permainan ini, tanpa kesalahan sedikit pun". Timpal Sarah.
"Ya aku mengerti, kita memiliki hubungan dan tujuan yang sama".
"Kau tak perlu khawatir aku sudah menjalankan tugas ku dengan baik dan ini giliran untuk mu membuahkan hasil". Ucap wanita itu.
"Santai Saja aku sudah masuk selangkah". Ucap Sarah.