
"Kak Sezha boleh kerja gak?". Tanya Sezha kepada Seno.
"Gak". Balas Seno.
"Sezha tu bosen kak, di rumah mulu Sezha juga pengen ngerasain kehidupan dunia kerja". Ucap Sezha.
"Gak pokoknya". Balas Seno.
"Kalian kenapa sih?".
"Kalian bebas buat ngatur hidup kalian masing-masing kalian bebas nentuin keinginan dan kemauan kalian".
"Sedangkan Sezha!! harus nurutin apa kata kalian, gak boleh ini gak boleh itu".
"Sezha itu bukan anak kecil".
"Sezha juga punya impian".
"Gak selamanya sezha bakalan terus kaya gini".
"Kalian gak ada yang bisa ngertiin Sezha". Sezha meninggalkan kedua kakaknya di ruang tamu.
Ia kembali kekamarnya, Sezha sangat marah dengan kedua kakaknya. Kenapa mereka gak bisa sama sekali memahami keadaan Sezha.
Sezha menenggelamkan wajahnya di bantalnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhir nya tumpah juga.
Diruangan tamu Seno dan Abil mulai bimbang, mereka merasa bahwa selama ini mereka terlalu mengekang Sezha bahkan hal paling kecil pun mereka mengaturnya.
Mereka tidak bermaksud apa-apa mereka hanya ingin melindungi Sezha. Mereka tak ingin Sezha terluka atau sakit hati. Mereka hanya memastikan bahwa Sezha aman bersama mereka.
"Bagaimana ini kak?". Tanya Abil kepada Seno.
"Sezha ngambek kak".
"Wajar Sezha menuntut seperti itu kak, Sezha ingin kehidupan normal selayaknya orang lain. Kita terlalu Mengekang dia".
"Kakak juga bingung harus melakukan apa". Balas Seno.
"Bagaimana kalau kita Biarkan saja ia kerja. Biar Abil yang memantau Sezha". Abil mencoba Memberikan Masukan.
Abil adalah orang yang paling dekat dengan Sezha. Di banding Seno, Abil lebih banyak tahu tentang Sezha.
"Baiklah kakak ngizinan Sezha bekerja tapi kau harus tetap mengawasinya jangan sampai ia terluka". Perintah Seno.
Seno kembali kekamarnya ada beberapa dokumen yang harus ia periksa.
"Sezha ini kak Abil". Abil mencoba untuk berbicara dengan Sezha.
"Bukain Pintunya Kakak mau ngomong". Sezha yang mendengar suara Abil membukakan pintu Kamarnya.
"Kakak mau ngomong sama Sezha". Sezha dan Abil duduk di ranjang milik Sezha.
Abil merapikan rambut adiknya yang sedikit berantakan, ia juga menghapus air mata adik bungsunya itu.
"Dengerin kak Abil".
"Kakak dan kak Seno bukan mau ngekang Sezha".
"Kakak hanya ingin Sezha itu dalam keadaan baik-baik aja".
"Ternyata kami tidak memahami keadaan Sezha, kami menganggap bahwa Sezha baik-baik saja padahal nyatanya tidak".
"Dengerin kakak". Abil menangkup wajah adiknya yang sedari menundukan kepalanya.
"Kakak akan beri Sezha kesempatan untuk kerja". Sezha yang mendengar ucapan abil membelalakan matanya, ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kak Abil serius". Sezha mencoba untuk Memastikan kembali ucapan kakaknya itu.
"Kakak serius".
"Tapi dengan satu syarat".
"Kok pakek Syarat sih". Keluh Sezha.
"Dengerin kakak dulu!! Syarat nya ialah Jangan sampai ada orang yang melukai dan nyakitin Sezha".
"Artinya Sezha harus lebih teliti lagi jangan sampai ada orang mengeluh dengan sikap Sezha, hanya itu yang kakak mintak". Ucap Abil.
"Sezha janji, Sezha akan lebih teliti dan gak akan buat masalah". Sezha menghapus air Matanya.
"Bagus deh, tapi kakak mau tanya Memangnya Sezha mau kerja di mana". Tanya Abil yang belum mengetahui di mana adiknya ingin bekerja.
"Ada deh, nanti kalau Sezha udah dapat kepastian akan Sezha kasih tau". Balas Sezha.
"Yaudah kamu Istirahat, kakak juga mau istirahat". Abil mencium kening adiknya itu.
***
Keesokan paginya Sezha pergi bertemu dengan Luna ia ingin menyampaikan kabar gembira.
"Mananya si Luna janji nya ketemu jam 9".
Sezha terus memandangi jam yang berada di tangannya.
Karena antusiasnya, Sezha tak henti-hentinya bergerutu di dalam hati karena temannya itu tak kunjung datang juga.
Saat sedang menunggu ponsel Sezha berbunyi yang menandakan ada notifikasi masuk.
Sezha dengan segera mengechek ponselnya.
Dan hal yang tak di sangka-sangka temannya itu membatalkan janji temu mereka hari ini.
Luna:
"Sorry banget Zha!! gue gak bisa nemuin lo pagi ini gue ada urusan mendadak".
"Tapi kalau Lo memang mau kerja lo datang aja ke perusahaan gue nanti gue temuin sama sutradaranya".
Sezha yang mendapat kiriman pesan tersebut bisa apa. Ia hanya mengiyakan pesan temannya itu.
"Yaudah deh gak papa yang penting aku udah di bolehin kerja".
"Wellcome dunia kerja". Ucap Sezha berteriak sehingga semua orang yang berada di Cafe tersebut mengalihkan pandangan kearahnya.
Sezha ingin segera menuju ke Studio yang akan menjadi tempat ia bekerja sekarang. Namun Sezha ingat ia hanya menggunakan pakaian yang terlalu santai. Sezha memutuskan untuk pulang dan mengganti bajunya.
***
"Luna kamu sudah dapat orang yang akan menjadi asisten saya". Tanya Rian kepada Luna yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Udah pak!!".
"Sekarang ini dia lagi Otw kesini pak". Balas Luna.
"Okedeh kamu suruh dia tunggu sebentar saya ada urusan diluar". Perintah Rian.
Luna yang mendapat perintah tersebut mengangguk menandakan ia mengiyakan pesan bos nya itu.
Rian menuju ke Cafe tempat ia makan kemarin, ia ingin meminta maaf langsung kepada pegawai toko tersebut. Sesungguhnya itu memang kesalahan dari Sarah.
Akhirnya Rian sampai di Cafe tersebut, Ia pun segera masuk kedalam. Namun saat di dalam ia tidak menemui orang yang ia cari.
"Maaf pak".
"Bapak mau pesan apa". Ucap Riya.
setelah berapa lama memperhatikan Rian, Riya baru sadar bahwa pria tersebut merupakan pria kemarin.
"Eh bapak yang semalam ya".
"Bapak mau ngelaporin saya ya pak". Ucap Riya dengan gugup.
"Enggak-enggak saya kemari ingin meminta maaf atas kejadian kemarin. Sebenarnya itu salah teman saya". Balas Rian untuk mencegah kegugupan pegawai tersebut.
Karena mendengar sedikit keributan didepan, Abil menghampiri dua orang tersebut.
"Ada apa ya?". Tanya Abil kepada Riya.
Rian yang menyadari kehadiran Abil langsung memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan saya Rian, Apa anda pemilik Cafe ini". Tanya Rian.
"Ya saya pemilik Cafe ini, Ada apa ya?". Tanya Abil yang penasaran. Riya yang menyadari kalau bosnya itu lupa akan kejadian kemarin, ia mengingatkan abil bahwa pria tersebut yang berada di kejadian kemarin.
"Pak Abil, Bapak ini yang saya bilang kemarin kalau saya gak sengaja numpahin minuman ke baju pacarnya". Bisik Riya takut-takut.
"Sekali lagi saya mohon maaf bahwa kejadian semalam itu merupakan kesalahan pegawai kami. saya akan ganti rugi untuk kejadian kemarin". Ucap Abil. Rian yang mendengar ucapan Abil langsung memotong pembicaraan tersebut.
"Ohh bukan begitu ini kesalahan saya, teman saya semalam tidak sengaja menyenggol pegawai anda".
"Jadi tujuan saya datang kemari ingin meminta maaf atas kejadian kemarin". Ucap Rian.
"Baiklah pak, Kami juga memohon maaf atas kelalaian staff kami". Balas Abil.
Setelah menyelesaikan masalahnya, Rian meninggalkan Cafe tersebut. Akhirnya ia merasa lega setelah meminta maaf langsung.
Namun Rian merasa aneh ia tak melihat perempuan yang menjadi penengah kemarin. Apa perempuan tersebut di berhentikan oleh pemiliknya.
Entahlah Rian tidak tahu pasti apa yang menimpa perempuan itu, mudah-mudahan saja perempuan itu tidak mengalami nasib buruk.