Mysterious Woman

Mysterious Woman
Lima



Sezha berlari-lari kecil di dalam rumahnya, Ia tak menduga alarm yang sudah ia setting tidak bekerja sama sekali.


"Aish alarm kurang ajar".


Sezha buru-buru mengganti pakaiannya, jam sudah menunjukan pukul 08.00 itu artinya ia punya waktu 30 menit lagu untuk sampai di sana.


Seno yang bingung dengan tingkah lakunya menghampiri Sezha.


"Apa sih Zha yang di sibukin dari tadi". Tanya Seno.


"Aduh Sezha udah telat ini". Ucap Sezha.


Akhirnya Sezha selesai dengan pakaiannya, dan jam sudah menunjukan pukul 08.20, Artinya ia masih ada waktu 10 menit lagi untuk sampai.


Sezha menunggu taxi di depan rumahnya, namun tak ada satu pun yang lewat.


"Memang hukum alam sudah, pas lagi di butuhin pada ngilang".Gerutu Sezha.


"Aduh mana ni Taxi". Sezha sangat gelisah


Ia sudah hampir terlambat, bukan memang sudah terlambat.


"Udah ayok kakak anterin". Seno yang tak tahan melihat kegelisahan pada diri adiknya, akhirnya mau mengantarkan adiknya itu pergi.


"Memang kakak gak ngantor". Tanya Sezha.


Biasanya jam 07.00 pagi saja kakaknya ini sudah tidak ada di rumah.


"Kakak ada perjalanan dinas hari ini, jadi kamu di rumah sama bang Abil". Ucap Seno.


"Kamu mau di anterin gak ni?". Tanya Seno kembali melihat adiknya yang masih bingung.


"Udah cepat naik". Sezha menaiki mobil Sport milik kakaknya itu.


"Kenapa naik mobil ini sih, malu entar di liatin". Oceh Sezha.


Sezha memang tidak suka di antar atau mengendarai sendiri dengan mobil-mobil mewah di rumahnya, alasannya ia tidak ingin jadi pusat perhatian semua orang.


.


"Sekalian mau manasin". Balas Seno.


Sezha dan Seno akhirnya meninggalkan rumah mereka. Syukurlah jalan tidak terlalu macat.


Setelah berkendara 15 menit akhirnya Sezha sampai di kantornya. Yups ia telat 10 menit ini akan menjadi masalah baginya.


Orang-orang yang berada di perusahaan tersebut mengalihkan pandangan mereka kearah Seno dan Sezha. Sezha yang merasa di perhatikan menyuruh kakaknya untuk segera pergi dari gedung tersebut.


"Udah pergi sana di liatin orang". Usir Sezha kepada Seno.


"Ya biarin aja orang kakak ganteng". Balas Seno menyombongkan dirinya.


"Terserah ah Sezha masuk dulu". Sezha berlari meninggalkan kakaknya.


"Sezha-Sezha semoga kamu gak mengalami hal yang sama". Ucap Seno sambil melihat adiknya berlari.


"Ternyata ia bekerja disini". Ucap Seno.


Saat Seno hendak meninggalkan gedung tersebut ada 2 orang wanita menghampirinya dan meminta nomornya.


"Boleh minta Nomornya gak?". Ucap wanita tersebut.


"Wanita tadi pacar saya". Balas Seno sambil tersenyum.


Seno meninggalkan kedua wanita tersebut.


"Masak ia cewek tadi Pacarnya, dan aku juga baru kali ini lihat dia di sini". Ucap wanita yang gagal mendapatkan nomor Seno.


"Ya bisa aja kan". Balas teman wanita tersebut.


Akhirnya Sezha sampai di ruangan milik Rian, dengan keberanian yang cukup tinggi Sezha membuka pintu ruangan tersebut.


"Selamat pagi pak". Ucap Sezha hati-hati.


"Saya meminta kamu datang pukul 08.30 dan ini sudah 08.45 artinya kamu telat 15 menit". Balas Rian dengan tajam.


"Maaf pak tadi ban Taxi yang saya tumpangi bocor". Bohong Sezha.


"Ingat saya tidak ingin keterlambatan lagi, akibat kamu saya juga jadi telat".


"Iya pak saya akan memperbaiki kesalahan saya". Ucap Sezha sambil menunduk. Ia takut menatap wajah bosnya itu.


"Sudah bawak barang-barang itu kita harus segera ke lokasi syuting". Perintah Seno sambil menunjukan tas hitam di atas Sofa.


Sezha segera mengambil tas tersebut, dan tas tersebut cukup berat untuk ukuran Sezha yang sedikit mungil.


Sezha mengikuti Rian dari belakang, di dalam hati tak henti-hentinya Sezha menggutuk rekan kerjanya ini. Ia tak menyangka rekan kerja nya untuk pertama kali akan bersikap seperti itu.


Sezha dan Rian sudah sampai di parkiran mobil, Saat Rian ingin membuka pintu kemudi ia mengalihkan pandangannya kearah Sezha.


Sezha yang berada di belakang bingung dengan tingkah Rekannya itu.


"Kenapa pak?". Tanya Sezha.


"Kamu bisa mengemudi". Tanya Rian.


"Bi-bisa pak". Balas Sezha.


Rian duduk di kursi belakang.


"Gue ni asisten sutradara atau asisten pribadi sih". Batin Sezha.


Sezha segera mengemudikan mobil tersebut. Tenang pemirsa Sezha sangat pandai mengendarai mobil hanya saja dia jarang bawa mobil.


Sezha melajukan Mobilnya dengan kecepatan sedang, ia melihat dari kaca bahwa Rian sedang sibuk membaca sesuatu, sepertinya itu naskah Filmnya.


Sezha dan Rian sudah sampai di lokasi Syuting, dan Di lokasi tersebut cukup ramai.


Sezha mengikuti Rian dari belakang, Sezha merasa bahwa dirinya sedang di perhatikan semua orang.


Mungkin karena Sezha anak baru.


Syuting di mulai.


Sezha tetap Stay berdiri di samping Rian. Proses Syuting berjalan dengan lancar.


Setelah melakukan Syuting sekitar 2 jam para Crew dan Artis beristirahat sejenak.


Luna yang dari tadi berada di lokasi Syuting menghampiri Sezha.


"Hei". Panggil Sezha.


"Gimana enak hari pertamanya?". Tanya Luna.


Sezha yang mendapat pertanyaan seperti itu membuang Mukanya.


"Gue telat dan di marahin itu kesan pertamanya". Ucap Sezha.


Luna yang mendengar jawaban temannya nya itu tertawa.


"Sabar Ya Zha". Ucap Luna sambil menepuk pundak Sezha.


"Lu sih kalau gue tau orang nya kaya gitu, gue gak mau kamarin nerima tawaran lo". Keluh Sezha.


Hari pertama saja ia sudah lelah apa lagi hari-hari berikutnya.


"Sorry-Sorry gue gak tahu kalau sifat pak Rian segitunya sama lo".


"Eh gue mau nanya memang kalau jadi Asisten itu kita harus nyupirin dia ya". Tanya Sezha.


Luna mengangkat bahunya menandakan tidak tahu.


"Gue kesana dulu ya". Luna meninggalkan Sezha.


Sezha melihat Rian yang sedang sibuk berbincang dengan para artis dan Crew lainnya.


Dan ia hanya diam sambil memegang tas milik Rian


***


Akhirnya Syuting selesai juga, Sezha sangat lega karena tidak ada kesehalan yang ia perbuat hari ini.


Semua Crew membereskan perlengkapan Syuting. Sezha juga menyusun kembali barang-barang milik rekannya itu.


Namun karena ketidak hati-hatian Sezha, Sezha tak sengaja menyenggol lampu yang berada di dekatnya.


Sezha langsung menutup mukanya, namun ia tak merasakan apa-apa. Sezha membuka matanya dan melihat Rian sedang menahan lampu tepat di hadapan wajahnya.


Jantung Sezha berdegup kencang saat mata dia dan mata milik Rian bertemu, Jarak tubuh Mereka juga sangat begitu dekat.


Rian segara menjauhkan lampu tersebut.


"Sudah saya katakan saya tidak suka orang yang ceroboh". Bentak Rian.


Sezha sangat terkejut dengan bentakan tersebut.


Ia tak menyangka di tempat kerjanya ini ia akan mendapat kan perlakuan seperti ini.


Semua orang mengarahkan pandangan kearah Sezha.


"Maaf pak". Ucap Sezha menunduk. Ia takut menatap wajah Rian.


Luna yang dari jauh Memperhatikan Sezha tak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu sudah melakukan kesalahan 2 kali untuk hari ini, dan saya tidak bisa terus-terusan seperti ini".


"Jika kamu tidak hati-hati kembali saya akan memecat mu". Ucap Rian masih dengan nada tinggi.


Sezha tak mampu berbicara ia hanya menganggukan kepalanya.


"Kembali kan tas saya". Rian Meminta tas yang berada di tangan Sezha. Sezha memberikan tas tersebut.


"Saya akan pulang sendiri ". Ucap Rian lalu meninggalkan Sezha.


Sezha tak mampu mengatakan apa-apa ia hanya diam dan menunduk.


Luna yang melihat Sezha langsung menghampirinya.


"Udah Zha gak papa, mungkin pak Rian lagi capek". Ucap Luna untuk menenangkan temannya itu.


"Yaudah ayok, kita balik".


Luna menarik tangan Sezha untuk pergi dari Lokasi Syuting tersebut.