Mysterious Woman

Mysterious Woman
Tiga Belas



"Kau pikir kau dapat mendekati seseorang dengan mudah".


"Aku sudah berusaha untuk mendekatinya".


"Aku memberikannya perhatian tapi apa dia sama sekali tidak perduli kepada ku".


"Kalau bukan karena ingin pembalasan dendam aku tidak sudi mendekatinya".


"Aku merasa seperti pengemis bahkan lebih buruk dari pengemis".


***


Akhirnya Sezha sampai di depan pintu gerbang perumahan tersebut, Saat Sezha ingin masuk.


Sezha diberhentikan oleh petugas penjaga pintu masuk perumahan itu.


"Selamat Siang". Ucap salah satu petugas.


"Ia selamat siang pak". Balas Sezha.


"Kalau boleh tahu ada keperluan apa ibu datang kemari".


"Kebetulan kami tidak punya tamu untuk hari ini". Ucap Satpam tersebut.


"Saya ingin bertemu Dengan rekan kerja saya, dia seorang sutradara". Balas Sezha.


Kedua satpam tersebut tampak berpikir atau lebih tepatnya Mengingat seorang sutradara yang tinggal di perumahan tersebut.


"Pak Rian ya buk". Ucap satpam tersebut, Sezha mengiyakan ucapan satpam itu.


"Tapi pak Rian tidak ada menginfokan kami bahwa dia memiliki tamu hari ini".


"Jadi kami tidak bisa membukakan gerbang untuk ibu". Ucap Satpam tersebut.


"Sebenarnya saya tidak mempunyai janji dengan pak Rian, Saya asisten sutradara".


"Tujuan saya kemari ingin mengambalikan barang milik pak Rian". Balas Sezha.


Kedua satpam tersebut meminta kartu pengenal milik Sezha mereka ingin melihat identitas Sezha.


Sezha pun memberikan KTPnya, Setelah Satpam tersebut Membaca KTP tersebut. Kedua satpam tersebut tampak terdiam.


"Maaf Bu".


"Apakah memang benar nama ibu Sezha Diana Antara". Satpam tersebut menanyakan kembali nama Sezha.


"Iya itu nama asli saya". Balas Sezha.


Sezha juga tampak bingung kenapa satpam tersebut tampak terkejut dengan namanya, Apakah karena nama di KTP nya bertuliskan Antara sehingga kedua Satpam tersebut terkejut.


Memang keluarga Antara sangat terkenal dengan Kekayaannya, Mereka memiliki beberapa bisnis mulai dari bisnis bidang properti sampai hiburan. Dan ingat juga Kakek Sezha dulu merupakan seorang mapia yang sangat di segani, Ia sangat terkenal terutama di pasar gelap.


Namun entah apa yang terjadi di masa lalu, Kakek Sezha berhenti menjadi mapia dan di ketahui juga bahwa kakek Sezha meninggal karena bunuh diri.


Keluarga Antara tidak yakin dengan kasus bunuh diri tersebut, entah kenapa mereka merasa bahwa Ajun Antara di bunuh oleh seseorang.


Namun pihak kepolisian tidak dapat mengungkapkan kasus tersebut, dan pihak kepolisian juga mengatakan bahwa Ajun Antara murni bunuh diri.


Satpam tersebut tampak sadang menelpon seseorang, Entah apa yang sedang dibicarakan satpam itu dibalik telpon.


Setelah selesai menelpon satpam tersebut kembali menghampiri Sezha, ia mengizinkan Sezha masuk ke perumahan tersebut.


"Ibu boleh masuk kedalam". Ucap Satpam tersebut.


Sezha semakin bingung kenapa ia di perbolehkan masuk. Padahal tadi mereka sangat bersikeras menahan Sezha.


Tanpa basa basi lagi Sezha melajukan mobilnya memasuki pekarangan perumahan elit tersebut.


Ini adalah pertama kalinya Sezha memasuki kawasan ini, dan Sezha sangat kagum dengan penataan kompels perumahan elit itu.


Semua rumah disana tampak mewah dan klasik, kawasan elit tersebut di dominasi warna Hitam dan abu-abu.


Sezha sangat yakin orang yang tinggal di sini memang benar-Bener orang kaya, dilihat dari model dan bentuk bangunan rumah tersebut yang tampak megah.


Dan akhirnya Sezha menemukan rumah yang ia cari dari tadi.


Sezha menekan bel yang berada di samping pagar tersebut, namun tidak ada yang menjawab.


Sezha kembali menekan, dengan hasil yang sama tidak ada yang menjawab. Sezha memutuskan untuk kembali saja mungkin Rian sedang tidak ada di rumahnya.


Saat Sezha ingin berbalik terdengar suara seorang pria yang mengatakan "masuk", Dan pagar rumah tersebut juga terbuka secara otomatis.


Sezha langsung memasuki rumah Rian, Sezha membuka pintu rumah tersebut yang sudah terbuka. Sezha mengedarkan pandangannya kesetiap sudut rumah yang di tempat Rian, tidak terlalu banyak barang bahkan terkesan kosong untuk rumah dengan ukuran sebesar ini.


Sezha juga melihat tidak ada orang lain di rumah tersebut, Sezha yakin bahwa Rian tinggal sendiri. Entah kenapa Sezha sedikit takut masuk kerumah Rian, ini baru pertama kali Sezha menghampiri rumah seorang pria lajang.


Terdengar seperti suara pecahan kaca dari salah satu ruangan, Sezha yang mendengar pecahan kaca tersebut langsung mencari ruangan yang menjadi sumber suara.


Mata Sezha tertuju pada salah satu ruangan yang pintunya sedikit terbuka, Sezha menghampiri ruangan tersebut.


Begitu Sezha melihat kedalam ia sangat terkejut saat melihat sosok Rian yang terbaring di lantai dan tangan Rian juga mengeluarkan darah. Sepertinya tangan Rian terkena pecahan kaca tersebut.


Sezha menghampiri Rian dan Berusaha untuk menolongnya, Sezha mencium aroma tidak sedap dan sepertinya Rian sedang mabuk sehingga ia kehilangan kesadaran.


Sezha memapah tubuh Rian kearah tempat tidur.


"Kayanya pak Rian lagi punya masalah". Ucap Sezha saat memapah tubuh Rian.


Sezha juga memanggil-manggil nama Rian untuk menyadarkan sutradara tersebut, Rian membalas panggilan Sezha dengan Racauan tak jelas.


"Pak sadar pak". Ucap Sezha.


"Saya tidak suka dengan kehadiran kalian, Hati kalian busuk".


"Dipikiran kalian hanya ada uang sehingga memanfaatkan orang lain". Racau Rian.


"Apa sih yang di omongin orang tua satu ini".


"Mana berat banget". Dengan Susah payah akhirnya Sezha sampai di pinggiran tempat tidur yang berada di dalam ruangan tersebut. Sezha yakin bahwa Ruangan yang ia masuki adalah kamar milik Rian.


Sezha meletakkan tubuh Rian di atas tempat tidur dengan Hati-hati. Namun Rian menarik tubuh Sezha sehingga Sezha terjatuh tepat di atas tubuh Rian.


Sezha terkejut saat dirinya terjatuh di atas tubuh Rian, Sezha dapat melihat wajah Rian dengan sangat jelas. Sezha berusaha untuk melepaskan dirinya, namun Rian semakin memeluknya dengan erat.


"Lepasin pak ini manusia bukan guling". Ucap Sezha.


"Jangan tinggalin Rian bu"


"Rian takut sendiri". Racau Rian.


Sezha terdiam saat mendengar racauan yang keluar dari mulut Rian. Sepertinya rekan kerjanya itu sedang merindukan ibunya.


Entah kenapa Sezha yang masih berada dalam pelukan Rian, sangat merasakan kesedihan yang di rasakan rekan kerjanya itu.


Sezha mengulurkan tangannya kekepala Rian, Sezha membelai kepala Rian dengan lembut. Rian tampak sedikit tenang dengan sentuhan yang di berikan Sezha.


"Jangan sedih pak Rian".


"Semua yang terjadi bukan atas kehendak kita".


"Masih banyak orang yang perduli dengan diri bapak".


"Hanya saja pak Rian yang tidak mampu membuka diri bapak untuk orang lain". Ucap Sezha.


Setelah pelukan Rian sedikit merenggang, Sezha segera bangkit dari atas tubuh Rian. Dapat terlihat dengan jelas wajah Sezha yang tampak memerah.


Mata Sezha teralihkan oleh Luka yang berada di tangan Rian. Sezha membersihkan luka tangan tersebut dan membalutnya.


Sezha dapat melihat ruangan kamar yang di penuhi dengan botol minuman, entah dapat bisikan dari mana Sezha membersihkan Ruangan tersebut.


Setelah selesai, Sezha menyiapkan bubur penghilang pusing untuk Rian. Sezha tampak begitu perhatian dengan Rian, Sepertinya ada yang tidak beres dengan seorang Sezha.


Setelah selesai membuat bubur milik Rian, Sezha memutuskan untuk kembali, Sezha juga meletakkan gelas yang sudah ia perbaiki di samping bubur tersebut.


Sezha juga menuliskan sesuatu di atas kertas yang ia letekkan di samping bubur tersebut. Ia meletakkan kertas tersebut untuk memberi tahu keberadaan Sezha kemari.