
Akhirnya Sezha sampai juga di kantor ia segera menuju ke studio milik Rian.
Sezha berjalan dengan santai, Karena Syuting akan di mulai pukul 08.30 dan ini masih pukul 08.00
Sezha menyapa semua orang yang di temuinya.
"Pagi". Sapa Sezha.
"Wah datangnya kecepatan". Ucap Sezha saat melihat jam di tangannya.
Sezha menghubungi Luna apakah Luna sudah datang atau belum.
Sezha:
"Lun dimana?".
Tak berapa lama Luna membalas pesan Sezha.
"Gue udah di lokasi syuting". Balas Luna.
"Cepet banget nyampek disana". Ucap Sezha saat mendapat balasan dari temannya itu.
Sezha menaiki Lift menuju lantai 4 dimana ruangan Rian berada. Sezha berjalan dengan santai ia sesekali bersenandung kecil untuk membuat suasana hatinya lebih baik.
Saat hampir mendekati ruangan Rian, Sezha melihat Rian bersama seorang wanita. Sezha memfokuskan Pandangan matanya untuk memastikan siapa wanita itu.
Sezha dapat mengenali wanita tersebut. Ya wanita tersebut adalah Sarah, wanita yang bersama Rian di Cafe.
Sepertinya pasangan tersebut sedang bertengkar, Sezha bersembunyi di balik dinding sesekali ia mengintip pasangan tersebut.
Tidak terlalu terdengar jelas setiap kalimat yang di Ucapkan kedua orang tersebut, Namun Sezha masih mencoba untuk menguping pembicaraan mereka.
"Kau tidak perlu mengunjungi ku lagi". Ucap Rian kepada Sarah.
"Gak aku akan tetap bertemu dengan mu".
"Kamu yang terlebih dahulu mendekati ku dan sekarang kamu menjauhi ku". Ucap Sarah kepada Rian.
Rian mencoba untuk menahan emosinya, Sudah jelas pagi ini dia dalam keadaan tidak baik. Tadi pagi ia tak sengaja menyenggol sebuah gelas pemberian ibunya. Walaupun tidak Sengaja tetapi Rian sangat terluka karena itu satu-satunya pemberian dari ibunya yang paling berkesan untuknya.
"Jangan pernah salah dalam menanggapi sikap ku".
"Aku bukan perhatian kepada mu melainkan aku mengasihani mu".
"Kau menjadi seperti ini berkat diriku".
"Jadi ingat Jangan pernah melebihi batas apapun". Ucap Rian lalu meninggalkan Sarah di depan pintu.
"Dengar ya Rian sampai kapanpun aku akan terus mengikuti mu". Sarah berteriak lalu meninggalkan ruangan Rian.
Syukur lah di lantai 4 ini jarang di lalui orang, hanya orang-orang tertentu saja yang naik kelaintai tersebut .
walaupun ucapan mereka sangat jelas namun Sezha tidak dapat sepenuhnya mendengar percakapan mereka. Ia hanya mendengar teriakan jelas dari Sarah.
"Mesti banget berantem di kantor". Oceh Sezha saat ia keluar dari tempat persembunyiannya.
"Orang pacaran jaman sekarang manis di awal doang".
"kebelakangnya mah sepahit racun". Ucap Sarah.
Sarah melihat jam sudah hampir pukul 09.00 itu artinya ia sudah telat.
"Aishh pak Rian pasti nganggapnya telat lagi". Batin Sarah.
Sarah berlari menuju ruangan tersebut.
Ia mengetuk pintu tersebut lalu langsung masuk tanpa perintah, Ia melihat Rian Terbaring sambil menutup matanya di sopa ruangan tersebut. Dengan Ragu-ragu Sezha menghampiri Bosnya itu dan menanyakan keadaannya.
"Bapak baik-baik aja pak?". Tanya Sezha.
"Telpon Luna dan katakan Syuting hari ini di undur dan katakan padanya untuk melanjutkan syuting hari Senin". Sezha yang mendapat perintah tersebut langsung menghubungi Luna.
"Sepertinya pak Rian gak baik-baik aja". Batin Sezha sambil mencari nomor Luna di ponselnya.
"Hallo Zha". Ucap Luna dari seberang telpon.
"Lun kata pak Rian Syuting hari ini di undur jadi hari senin". Balas Sezha.
"Lo kenapa?". Tanya Luna sedikit kaget.
Sezha sedikit berbisik saat akan Menjawab pertanyaan Luna.
"Sepertinya pak Rian lagi sakit". Balas Sezha.
Sehza tidak mengatakan bahwa ia melihat Rian dan Sarah bertengkar. Sehza takut orang-orang lapangan akan Menganggap Rian tidak profesional atau menggabungkan urusan pribadi dan pekerjaan.
"Oke deh Lun. Bye". Sezha mematikan ponselnya.
Sehza kembali menghampiri Rian yang terbaring, Sehza memperhatikan Rian yang nampaknya sedang tertidur.
Sehza penasaran kenapa Rian bisa sampai seperti ini hanya karena bertengkar dengan Sarah.
"Apa pak Rian cinta banget ya sama Sarah".
"Tapi kayanya gak mungkin, Pak Rian aja cuek bener sama pacarnya".
"Atau pak Rian memang kaya gitu sikapnya". Sehza menebak-nebak apa hal yang membuat Rian menjadi seperti ini.
Karena tidak jadi Syuting Sezha memutuskan untuk pulang lebih dulu, Ia ingin menemui kakaknya di Cafe atau sekedar membantu kakaknya untuk mengisi kekosongan harinya.
Sezha menghampiri Rian untuk pamit pulang, Namun saat Sezha menyentuh tangan Rian.
Sehza terkejut tangan Rian terasa panas, Sezha segera membangunkan Rian dan menanyakan apakah dia baik-baik saja.
"Pak bapak demam pak?". Sezha menggoyangkan tubuh Rian.
Namun Rian tidak bergerak sama sekali.
"Jangan-jangan mati". Ucap Sezha sedikit keras.
Rian yang terganggu dengan suara Sezha membuka matanya.
"Saya masih hidup".
"Kamu boleh pulang". Perintah Rian lalu kembali menutup matanya.
"Pak bapak mau saya beliin obat pak?". Tawar Sezha.
"Tidak perlu". Balas Rian.
"Tapi bapak sakit lo pak sebaiknya bapak berobat". Oceh Sezha. Rian yang mendengar ucapan Sehza bangkit dari tidurnya.
Karena terlalu pusing Rian hampir saja terjatuh dari Sofa tersebut, Sezha dengan cepat memeluk tubuh Rian.
Saat Ini Rian dan Sezha memiliki jarak yang sangat dekat, Sezha dan Rian saling bertukar pandangan satu sama lain.
Jantung Sezha berdetak saat menatap wajah Rian yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
Rian berdehem, seketika kesadaran Sezha kembali masuk kedalam dirinya. Sezha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rian.
"Bentar ya pak saya beliin obat sama Sarapan sepertinya pak Rian belum sarapan".
"Tunggu sini ya pak". Sezha segera keluar dari ruangan tersebut.
Sezha memegang jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Kendali kan diri Lo zha".
"Santai Zha jangan baper ini bukan Ftv setelah pandang-pandangan langsung jatuh cinta".
Sezha segera menuju Apotek yang berada di depan kantor tersebut.
Di dalam ruangan Rian terdiam, Ia juga memegang jantungnya yang berdetak.
"Ada ada saja". Ucap Rian lalu berbaring kembali.
Sezha Sampai di Apotek tersebut. Namun Sehza bingung ingin membeli obat apa.
"Belik apa dek?". Tanya Petugas Apotek tersebut.
Sehza tampak berpikir, namun ia Teringat saat menonton Tv ia melihat orang yang demam kepala nya di tempel semacam pendingin untuk menurunkan panas.
"Saya beli obat demam". Ucap Sezha.
"Obat demam untuk anak-anak atau dewasa". Tanya petugas Apotek tersebut kembali.
"Untuk usia 30 tahunan, sama itu buk yang di tempel-tempal di kepala". Petugas Apotek tersebut memberikan obat yang di pinta Sehza.
Setelah membayar Sehza mampir ke tukang bubur yang berada di samping Apotek tersebut.
"Bang bubur ayamnya satu".
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan Sezha kembali kekantor tersebut.
Saat ingin menyebarang hampir Saja Sezha tertabrak mobil namun dengan cepat mobil tersebut menghindari Sehza.
"Apakah itu Sehza". Ucap Pria yang mengendarai Mobil tersebut.