Mysterious Woman

Mysterious Woman
Delapan Belas



"Apakah ada yang sengaja anda sembunyikan?". Tanya Rian kepada Setyo.


"Tidak ada yang ku sembunyikan pada mu?". Balas Setyo.


Rian menatap ayahnya dengan tatapan tajam, seolah-olah ia tak percaya dengan apa yang ayahnya katakan.


"Kau bisa Menutup-nutupinya sekarang, namun anda tak bisa bertahan lama di balik kebohongan itu". Balas Rian.


"Aku tidak akan menutupi apapun dari mu karena kau anak ku". Ucap Setyo.


"Saat ini saya berbicara dengan anda sebagai rekan kerja bukan sebagai keluarga". Balas Rian.


Setyo yang mendengar ucapan anaknya tak bisa berkata apapun, sesungguhnya memang tidak ada yang ia sembunyikan dari putra nya itu. Namun entah kenapa putranya selalu saja menganggapnya seorang penipu atau pengkhianat.


"Kau bisa sesuka mu mencari tahu apa yang aku sembunyikan".


"Itu terserah pada mu, karen sejujurnya aku selalu terbuka kepada mu". Ucap Setyo.


Setyo meninggalkan Rian yang masih diam di kursinya.


"Aku tahu apa yang kau sembunyikan". Ucap Rian.


Sezha yang dari tadi berada di luar ruangan hanya bisa berdiri dengan gelisah, ia tak mendapatkan informasi apapun, lantas apa yang akan ia katakan.


Saat sedang mondar-mandir di depan pintu, Setyo baru saja keluar dari ruangan tersebut. Sezha yang berada di depan pintu menjadi terkejut karena kehadiran pria paruh baya itu.


"Rian ada di dalam". Ucap Setyo sambil tersenyum.


Sezha terlihat tersenyum kaku kepada ayah Rian.


"Terima kasih pak". Balas Sezha.


Setyo membalas ucapan Sezha dengan senyuman, lalu berjalan meninggalkan Sezha.


"Pasti ada yang sedang mereka bicarakan". Batin Sezha.


Sezha mengetuk pintu ruangan milik Rian, setelah mendapat izin dari pemilik ruangan tersebut, Sezha memberanikan dirinya masuk kedalam ruangan itu.


"Siang pak". Ucap Sezha dengan sopan.


Sezha sedikit gugup bercampur dengan rasa takut, ia sama sekali tidak bisa mengatakan apapun.


"Apa kamu sudah menyampaikan pesan saya?". Tanya Rian.


"Saya sudah menyampaikan pesan bapak tapi-". Sezha tidak langsung menjelaskan, ia tak tahu apa yang harus ia katakan.


"Sudahlah kamu tidak perlu menjelaskan lagi".


"Saya sudah mengetahui". Perkataan Rian membuat Sezha terkejut.


"Bapak tahu dari mana?". Tanya Sezha.


"Itu menjadi urusan saya".


"Mulai besok kita akan aktif kembali, jadi pastikan kamu tidak terlambat". Ucap Rian yang di balas anggukan oleh Sezha.


Sezha sangat lega ia tidak perlu menjelaskan dengan rinci.


Namun Rian menatap Sezha dengan tatapan yang mengintimidasi, tentu saja Sezha menjadi ketakutan ia tidak tahu pasti kesalahan apa yang ia buat, namun Rian tiba-tiba merubah tatapan yang semula santai menjadi menengangkan.


"Saya mempunyai pertanyaan untuk kamu?". Tanya Rian.


Sezha yang sudah ketakutan, tidak bisa berkata apapun ia hanya mampu mengaggukan kepalanya.


"Kenapa kamu bisa masuk kelingkungan tempat tinggal saya?".


Sezha mencoba untuk bersikap tenang, ia yakin bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan dan ia yakin juga bahwa dirinya tidak menutup-nutupin apa pun.


"Saya juga tidak mengerti pak, kenapa saya di izinkan masuk".


"Awal nya mereka menolak, namun mereka menanyakan nama saya setelah itu mereka menghubungi seseorang dan saya di perbolehkan masuk".


"Saya pikir mereka menghubungi bapak". Jelas Sezha dengan jujur.


Setelah pertemuan Sezha dan Rian beberapa hari yang lalu. Rian sedikit curiga bagaimana Sezha bisa masuk ke kompleks perumahannya, ia yakin bahwa tempat ia tinggal bukan tempat sembarangan orang masuk, dan jika pun ada tamu para penghuni harus memberikan identitas tamu mereka.


Karena rasa curiga. Rian mendatangi para penjaga kompleks tersebut , dan ia menanyakan bagaimana Sezha di izin kan masuk tanpa persetujuannya.


Dan Rian sangat terkejut saat mengetahui alasan Sezha di izin kan masuk. Para penjaga itu mengatakan bahwa nama Sezha ada dalam list tamu-tamu yang di izinkan masuk secara bebas. Itu artinya Sezha bukan orang sembarangan.


Sezha sangat bingung, ia tahu bahwa ia tidak jujur dengan identitasnya namun itu bukan ia sengaja untuk menutupinya.


"Saya yakin bahwa kamu bukan orang Sembarangan".


Sezha mencoba untuk bersikap tenang.


"Saya sendiri tidak yakin bahwa saya orang yang istimewa, namun saya menjalankan hidup saya sehari-hari layaknya seperti orang lain".


"Saya merasa apa yang bapak lihat, seperti itu lah diri saya". Balas Sezha dengan santai.


"Saya hanya berharap kamu tidak akan membohongi saya suatu saat ini". Timpal Rian.


"Jika pun saya ketahuan berbohong, sebenarnya itu sebuah kesalah pahaman". Balas Sezha.


"kamu boleh kembali ke rumah mu". Ucap Rian.


Sezha membalas dengan senyuman lalu meninggalkan ruangan milik Rian.


"Ah sudah lah aku tak perlu memikirkannya".


"Tidak selamanya waktu berputar pada diriku, bisa saja waktu tersebut tak sengaja membawa orang lain". Ucap Rian.


***


Saat ini Arin ingin melakukan pemotretan untuk sebuah majalalah edisi tahunan, di temani dengan ajudan dan managernya Arin bersiap-siap untuk melakukan sesi pemotretan.


"Kita gunakan ini saja". Ucap Seorang penata baju kepada Arin.


"Aku rasa ini tidak seimbang dengan pakaian ku, coba cari sepatu yang lebih berwarna lembut".


"Aku melihat ada kurang lebih 6 pasang sepatu yang bisa di jadikan fashion untuk pemotretan hari ini". Ucap Arin.


Memang setiap melakukan pemotretan Arin akan mengatur sendiri busana yang akan ia pakai, walaupun ia mengatur sendiri tenang saja, Fashion yang di gunakan Arin tidak akan lari dari tema.


"Wah anda sangat pandai sekali dalam memilih warna". Ucap penata busana tersebut saat memberikan sepatu yang diinginkan Arin.


"Ah terima kasih, aku hanya berusaha agar pemotretan ini berjalan lancar". Balas Arin.


Saat sedang menunggu di ruang ganti, Arin tak sengaja mendengar suara keributan dari balik ruangannya.


Kebetulan bukan hanya dia saja, yang melakukan pemotretan hari ini, namun ada model lagi.


Karena penasaran Arin mengunjungi ruangan di sebelahnya yang menjadi pusat keributan.


"Bagaimana kamu bisa menjadi seorang penata busana dengan selera Fashion seperti ini". Ucap Sarah.


Kebetulan sekali Sarahlah orang yang berada di samping ruang ganti milik Arin.


"Tapi Bu, pemilihan baju harus sesuai dengan tema".


"Kita tidak bisa asal memilih baju, karena brand sendiri yang mengeluarkan baju untuk promosi". Ucap penata busana tersebut.


"Apapun alasannya aku tidak akan menggunakan pakaian tersebut ". Balas Sarah dengan sombong.


Arin yang melihat langsung perdebatan tersebut menghampiri Sarah.


"Pemotretan ini bukan untuk mu melainkan majalah".


"Jadi kau hanya perlu mengikuti bagaimana mareka menata mu". Ucap Arin.


Sarah terkejut saat melihat kehadiran Arin, ia tak menyangka bahwa setelah sekian lama akhirnya ia bertemu Kembali dengan Arin.


"Kau tak perlu terkejut, aku juga melakukan pemotretan untuk majalah ini".


"Model besar saja, mengikuti bagaimana arahan yang di berikan". Ucap Arin lalu meninggalkan Sarah.


Sarah sangat kesal dengan ucapan yang di berikan Arin, bisa-bisanya ia merendahkan diri seorang Sarah dan ini tidak bisa dibiarkan.


"Mungkin kau saat ini bisa menikmati keberhasilan mu".


"Tapi jangan lupakan ada orang yang akan siap menjatuhkan mu". Ucap Sarah.


Sarah tidak pernah menerima perlakuan merendahkan dari orang lain, jadi jika ia di rendahkan maka dengan semampu dan sekuat tenaganya, Sarah akan menghancurkan reputasi orang tersebut bagaimana pun caranya.


"Kita lihat saja". Ucap Sarah.