
Sezha berjalan dengan santai menyusuri kompleks perumahan tempat ia tinggal. Ia baru saja kembali dari supermarket yang berada di depan kompleks rumahnya. Jarak supermarket tersebut dengan rumah Sezha tidak terlalu jauh.
Jam masih menunjukan pukul setengah sembilan malam, Sezha singgah sebentar ke taman yang ada di kompleksnya untuk beristirahat sebentar.
Sezha dapat melihat banyak orang-orang yang juga menikmati malam di taman tersebut, mulai dari anak kecil yang dengan asiknya bermain ayunan dan prosotan, maupun orang dewasa yang sedang memadu kasih. Mungkin hanya Sezha sendiri orang dewasa yang tidak memiliki pasangan.
Saat sedang asik memperhatikan anak kecil berlari-larian tiba-tiba seseorang menghampiri Sezha.
"Hai.." Ucap Elen.
Sezha terkejut saat melihat Elen di hadapannya.
"Ngapain Lo disini?" Tanya Sezha.
"Gak nyangka aja kita sama-sama merindukan kenangan 5 tahun yang lalu" Balas Elen.
Sezha tersenyum miring dengan jawaban Elen.
Memang saat mereka masih sekolah Sezha, Luna dan Elen sering bermain di taman perumahan tempat Sezha tinggal.
Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama di taman ini, mungkin taman ini memiliki kenangan tersendiri untuk mereka.
"Gue kesini cuman mau istirahat".
"Gak ada kaitannya dengan kejadian yang dulu". Balas Sezha sedikit ketus.
"Gue tahu lo belum bisa maafin gue atas kejadian yang lalu".
"Tapi gue bersyukur lo baik-baik aja". Balas Elen sambil menatap Sezha.
"Gue baik-baik aja gak ada Kaitannya dengan lo, dan gue semakin lebih baik saat lo menjauh dari gue Mulai sekarang". Balas Sezha.
Sezha ingin meninggalkan Elen namun Elen menahan Tangan Sezha.
Sezha yang merasa tak nyaman langsung menjauhkan tangan Elen dari pergelangan tangannya.
"Bisa gak sih lo gak ganggu gue".
"Biarin gue tenang".Ucap Sezha dengan nada sedikit keras.
"Zha gue beneran sayang sama lo".
"Dulu gue ngelakuin semua itu demi lo".
"Gue gak mau lo jadi bahan bullian anak-anak yang lain makanya gue terima Tantangan mereka". Balas Elen yang tampak memohon kepada Sezha.
"Lalu hasilnya apa?".
"Gue tetap di bulli dan lo malah pergi tanpa pertanggung jawaban atas perbuatan lo".
"Kalau lo memang gak salah, seharusnya lo jelasin sama gue bukannya pergi begitu aja".
"Lo gak tahu betapa di permalukannya gue akibat ulah lo".Balas Sehza dengan emosi yang tak terkontrol lagi.
"Zha gue tahu lo masih punya rasa sama gue, dan perasaan gue juga gak berubah Zha". Ucap Elen.
Tiba-tiba Elen memeluk Sezha, Sezha terkejut dengan pelukan Elen secara Tiba-tiba.
Sezha langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Elen.
"Jangankan memiliki perasaan yang dulu, Gue udah menganggap lo bukan siapa-siapa lagi bahkan teman sekali pun".
"Jadi lupakan semua perasaan, Gue gak akan pernah membalas perasaan tersebut". Ucap Sezha lalu meninggalkan Elen.
Elen berteriak memanggil nama Sezha, Elen sangat menyesal dengan yang terjadi di masa lalu.
Di sepanjang jalan Sehza terus-Terusan mengutuk dirinya, kenapa ia bisa bertemu dengan Elen di daerah rumahnya sendiri. Ia merasa bahwa Elen mengikuti dirinya.
Akhirnya Sezha sampai di rumah, Sezha langsung masuk kekamar tanpa menyapa kedua kakaknya yang sedang menonton Tv.
"Dia kenapa?". Tanya Abil kepada Seno.
"Gak tau juga". Balas Seno.
"punya adek satu sifatnya aneh banget". Ucap Abil saat melihat Sehza membanting pintu kamarnya..
"Emang sifat kamu gak aneh?". Tanya Seno kepada Abil.
Abil yang mendapat pertanyaan tersebut memalingkan wajahnya kearah kakaknya itu.
"Kan kita sama-sama aneh". Balas Abil.
**
Sezha yang menyadari keterlambatannya itu bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sial ia telat lagi, mungkin waktu jarang memihak kepadanya, bukan!! Tapi Sezha yang tak pernah memahami waktu hingga waktupun berpaling darinya.
"Sial!! Telat lagi". Ucap Sezha.
Sezha segera mengenakan pakaian, entah pakaian apa yang ia pakai, ia tidak perduli yang penting ada kain yang menutupi tubuhnya.
Sezha menuruni tangga rumahnya dengan buru-buru hingga beberapa kali ia hampir tersandung, ia melihat mbok Ningsih yang tampak sedang menyapu lantai rumahnya.
"Mbok Kak Abil letak kunci mobil dimana". Tanya Sezha kepada Mbok Ningsih.
"Mbok kurang tahu Dek, Cuman tadi Mbok lihat Dek Abil naik mobil yang biasa Dek Sezha naikin". Balas Mbok Ningsih
Sezha menepuk jidatnya yang kecil itu, bagaimana bisa kakaknya membawa mobil yang biasa ia pakai.
Sebenarnya masih ada 2 lagi mobil di bagasi mereka, namun Sezha tidak suka mengendarai kedua mobil tersebut karena terlalu mewah. Biasa orang kaya.
Akhirnya Sezha memutuskan untuk memesan taksi, jam berapapun ia sampai biarlah. Lagi pula Sezha sebenarnya tidak memiliki pekerjaan apapun di sana, jadi ia datang kesana hanya sekedar isi absen. Lebih tepatnya bisa di bilang Sezha makan gaji buta.
Ia hanya bekerja jika ada Rian, namun saat ini Rian sedang Cuti jadi ia hanya mondar-mandir di kantor tersebut.
Akhirnya Sezha sampai di kantor dengan jam yang hampir menunjukan tengah 10, ia terlambat hampir satu jam. Luar biasa!!!
Sezha langsung menuju keruangan Rian, ia tidak tahu pasti apakah Rian ada di ruangannya atau tidak.
Sezha melihat pintu Rian yang tertutup rapat, itu artinya Rian tidak ada di dalam ruangan. Sezha dengan santai membuka pintu ruangan tersebut.
Ia tidak menyadari pemilik ruangan tersebut Sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Sezha yang menyadari kehadiran Rian kaget bukan main. Ia hampir saja mengeluarkan kata-kata yang mungkin sedikit kasar.
"Astaga Naga". Ucap Sezha sedikit berteriak.
"Jadi selama saya tidak masuk kantor kamu datang jam segini?". Tanya Rian yang masih stay di kursinya. Rian memandangi Sezha yang tampak gugup.
"Eh enggak pak".
"Saya baru hari ini telat karena-". Sezha tampak berpikir mencari alasan.
"Karena ban taxi nya bocor". Ucap Sezha.
Dalam hati Sezha, ia mengutuk dirinya sendiri yang tampak bodoh.
"Bilang saja kamu kesiangan". Ucap Rian.
Sezha tersenyum kikuk dengan ucapan Rian yang terakhir.
"Saya memaafkan kamu kali ini". Ucap Rian.
Rian bangkit dari kursinya, ia menghampiri Sezha yang masih berdiri di depan pintu.
Sezha yang melihat Rian berjalan menuju kearahnya berusaha mundur untuk menghindari tubuh Rian.
Karena terlalu jauh mundur Sehza menabrak pintu yang sedang tertutup.
"Bapak mau ngapain pak?". Tanya Sezha dengan terbata-bata saat melihat Rian yang sangat dekat dengan dirinya.
"Ada yang ingin saya tanyakan pada kamu". Ucap Rian dengan suara dingin nan Seksi yang sukses membuat Sehza merinding.
"Apakah saya melakukan sesuatu terhadap kamu semalam?". Tanya Rian.
"Bapak meluk saya". Balas Sezha spontan.
Sezha langsung menutup mulutnya bisa-bisanya ia Menjawab dengan jujur alih-alih ia harus berbohong.
"Ouh Syukurlah kalau hanya memeluk mu". Ucap Rian lalu menjauhkan tubuhnya.
Akhirnya Sezha dapat bernafas dengan lega.
"Beruntunglah kamu sebagai wanita kedua yang saya peluk selain ibu saya". Ucap Rian yang masih memandangi Sezha.
Sezha yang mendengar ucapan tersebut membatin.
"Keberuntungan macam apa itu?". Ucap Sezha dalam hati.
"Saya berterima Kisah kepada kamu karena telah memulangkan gelas itu, walaupun saya tidak tahu bagaimana kamu bisa masuk. Saya akan mencari tahunya nanti".
"Hari ini saya akan fokus untuk berterima kasih, saya akan mentraktir kamu makan siang hari ini". Ucap Rian.
"Iya deh pak terserah bapak, Jangankan bapak saya juga bingung kenapa di bagi masuk". Balas Sezha.