Mysterious Woman

Mysterious Woman
Dua Puluh Lima



Saat mereka sedang berkendara melewati hutan tiba-tiba muncul sebuah mobil yang mengikuti mereka dari belakang. Sezha lah yang menyadari bahwa mereka sedang di ikuti.


Sezha memberi kode kepada Rian untuk melajukan mobilnya. Namun kecepatan mobil tersebut berhasil di salip oleh mobil belakang dan akhirnya mobil yang di kendarai Sezha dan Rian dapat di hentikan.


"Kamu di dalam saja biar saya saja yang menghadapi mereka"


"Tapi pak ini bahaya" Sezha mencoba untuk mencegah Rian.


"Tidak kamu tetap di dalam jangan keluar, saya tidak ingin kamu dalam bahaya" Rian membuka pintu mobil.


"Bapak hati-hati" Ucap Sezha yang di balas anggukan oleh Rian.


Rian pun keluar dari mobil, ia dapat melihat 4 orang pria sedang menghadang mereka. Rian tidak tahu pasti siapa orang yang menyuruh mereka, tapi Rian tahu bahwa mereka ini mengincar dia dan Sezha.


"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Rian.


"Serahkan gadis yang berada di mobil itu"


"Tidak aku tidak bisa membiarkan kalian melukainya" Ucap Rian. Ia tidak mau Sezha terluka oleh orang-orang ini


"Kau pikir kau siapa ha?"


"Berikan saja gadis itu" Kini salah satu pria mencoba untuk menyerang Rian, Syukur saja Rian dapat menghindari serangan itu.


Sezha hanya bisa memperhatikan pertarungan itu di dalam mobil, Sezha tidak tahu bahwa saat ini dirinya yang sedang di incar.


"Hallo".


"Datang lah kemari segera kami sedang di hadang" Sezha mematikan ponselnya.


Sezha dapat melihat Rian yang sudah mulai kewalahan mengahadapi empat orang itu sendirian.


Sezha terkejut Saat peluru tembakan mengarah kepada bahu Rian.


"Sialan mereka bermain senjata" Sezha mengambil pistol yang berada di dalam tasnya.


Sezha keluar dari mobil dan menambaki keempat pria tersebut secara brutal, namun salah satu pria mencoba memberikan tembakan kepada Sezha namun Sezha dapat menghindarinya.


Sezha melepaskan tembakan sekali lagi dan berhasil melumpuhkan mereka semua.


Sezha berlari kearah Rian dan membawa Rian kembali kedalam mobil. Sehza melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sekarang ini tujuannya adalah rumah sakit, Rian tampak kesakitan dan butuh perawatan.


"Tenang pak saya akan membawa bapak kerumah sakit" Saat diri Sezha di landa ketakutan, ia takut akan hal buruk yang akan menimpa Rian.


Sambil menyetir Sezha menghubungi seseorang


"Cari tahu siapa yang menyuruh mereka" Sezha mematikan panggilannya.


Mobil yang di kendarai Sezha akhirnya sampai kerumah sakit, Rian segera di bawa ke UGD untuk di berikan pertolongan pertama.


"Silahkan kebagian administrasi untuk melengkapi data-data pasien" Sezha menuju administrasi. Syukur saja saat ini ia sudah membawa data milik Rian sehingga Sezha tidak harus kerepotan meminta bantuan lagi saat keadaan darurat seperti ini.


Saat sedang menunggu, Sezha di hampir dua orang pria.


"Nona Sezha" Sezha yang merasa namanya terpenggil mengangkat kepalanya.


Pria itu membisikan sesuatu ketelinga Sezha.


"Ouh jadi dia ingin membunuhku"


"Tuan Seno sekarang berada di singapore, Tuan Seno juga mengatakan bahwa anda tidak perlu lagi ikut campur masalah ini".


"Biar tuan Seno yang melakukannya" Ucap Pria itu.


"Katakan pada kak Seno aku akan tetap di sini untuk melindungi Rian"


"Kemarilah" Sezha membisika sebuah perintah kepada anak buahnya itu.


"Baik bu saya akan melakukannya" Kedua orang itu pergi meninggalkan Sehza.


Akhirnya dokter yang menangani Rian keluar dari ruangan.


"Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi" Tanya Sezha.


"Sykurlah kamu dengan cepat membawanya kemari, jika terlambat sedikit mungkin saja ia akan kehilangan nyawanya akibat kehabisan darah" Jelas Dokter tersebut.


Sezha memasuki ruangan tempat Rian di rawat, Sezha melihat wajah Rian yang sendu dan damai sangat berbeda dengan wajahnya saat bangun yang terlihat jutek dan dingin.


Akibat ulahnya akhirnya Rian yang terkena tembakan, Seharusnya Sehza melarang Rian untuk keluar dari mobil. Tapi Rian tampaknya tidak perduli dengan ucapan Sezha.


"Maaf kan saya ya pak gak bisa lindungi bapak" Sezha memegang tangan Rian.


Entah kenapa tiba-tiba saja air mata Sehza jatuh saat melihat Rian dengan keadaannya seperti ini. Sezha kembali teringat akan masa lalunya. Ia pernah di Selamat kan oleh orang lain namun orang tersebut harus meninggal karena dirinya.


*10 Tahun yang lalu.


"jangan sakiti aku" Sezha menangis ketakutan saat dirinya di sekap oleh orang-orang yang tak di kenalnya.


"Ibu ayah Bang Seno Bang Abil tolong Sezha"


"Sezha takut" Tiba-tiba pintu terbuka dan masuk seseorang, ia langsung berlari kearah Sezha dan melepaskan ikatan tangan sezha.


"Kamu gak papa kan?" Tanya anak laki-laki itu


"Sezha takut bang" Sehza menangis di dalam pelukan Abang nya itu.


"Jangan takut abang ada disini akan lindungi Sehza, Bang Seno dan Bang abil juga akan jagain Sehza" Pria berusia 13 tahun itu memeluk Sehza dengan kuat.


"Hei bocah kamu juga ingin menyerahkan diri ya" Ucap salah seorang pria besar.


"Jangan ganggu adik ku, jika tidak kalian akan menyesalinya" lelaki 13 tahun itu mencoba melindungi Sezha.


"Bukan hanya membunuh gadis kecil itu tapi kau juga!! aku akan membunuh mu" Satu tembakan dilepaskan oleh pria itu, anak laki-laki itu segera melindungi adiknya dan tembakan tersebut menganai belakangnya.


"Bang Bang Arga " Sezha menangis sejadi-jadinya saat kembaran nya itu jatuh tak berdaya dengan sekali tembakan.


Pria itu juga ingin memberikan tembakan kepada Sezha namun pria itu berhasil di lumpuhkan.


Sezha menangis sekeras mungkin.


"Jangan tinggalin Sezha bang"


"jangan tinggalin Sezha"


"Sezha abang sayang sama Sehza, maaf abang gak bisa jagain Sezha dengan baik"


"Tenang Sezha masih ada bang Abil dan Bang seno yang akan jagain Sehza".


"Abang pergi ya" Arga menutup matanya.


Tangisan Sezha semakin menjadi ia terus memeluk tubuh abangnya yang sudah tak berdaya itu.


Orang yang di tangisi Sezha adalah Arga Arsyaqi, kembaran Sezha. Sampai sekarang Sehza masih tidak bisa melupakan kejadian itu. dan Sezha menanamkan dalam dirinya untuk membalaskan dendam atas kematian kembarannya.


Itulah alasan kenapa Sezha sangat merasa bersalah saat Rian harus menerima tembakan, Ia tak ingin Rian mengalami nasib sama dengan kembaran nya. Sezha tidak ingin di tinggalkan untuk kesekian kalinya.


Walaupun Sezha tidak memilki hubungan apa-apa dengan Rian. Tapi Sezha sangat takut Rian akan meninggalkan dirinya secara tragis.


melihat hal ini seharusnya Sezha tidak ikut kedalam masalah ini, ia ingin melindunginya pada akhirnya Rian akan terluka karenanya.


Sezha masih setia menggnggam tangan Rian, Air matanya juga tak henti-hentinya keluar.


Rian membuka matanya, Rian dapat merasakan air mata sezha yang membasahi jari-jarinya. Rian mengusap kepala Sehza.


Sezha yang merasa bahwa ada tangan membelai kepalanya langsung mengangkat wajahnya. Ia melihat wajah Rian yang tersenyum kearahnya.


"Aku baik-baik saja"


"maaf kan aku jika hal ini membuat mu khawatir"


"Tapi aku bersyukur bahwa aku yang terluka bukan kamu" Kata-kata yang di ucapkan Rian saat ini adalah kata-kata yang dapat menyentuh perasaan.


Entah dapat dorongan dari mana Sezha memeluk Rian, Rian sedikit kaget dengan perlakuan Sezha secara tiba-tiba. Rian membalas pelukan yang di berikan Sezha untuknya.


"Maaf kan saya pak" Ucap Sehza.


"Berhentilah meminta maaf ini bukan salah mu" Rian masih setia memeluk tubuh Sezha, dan Sezha juga enggan melepaskan pelukannya. Sehza sangat merasa nyaman saat dirinya seperti ini dengan Rian.