
Sezha berlari dengan cepat, sehingga semua orang memperhatikan dirinya.
Entah kenapa ia sangat khawatir dengan keadaan rekan kerjanya itu, walaupun rekan kerjanya bersikap dingin padanya. Sezha tetap mengkhawatirkannya.
Sezha membuka pintu ruangan tersebut tanpa permisi. Sezha membangunkan Rian untuk menyuruhnya meminum obat.
Namun yang di bangunkan tak memberikan reaksi apapun, Sezha terus menggoyang- goyangkan tubuh Rian.
"Jangan-jangan mati".
"Entar gue di sangka pembunuh lagi". Sezha menarik tangannya dari tubuh Rian.
Namun Sezha sangat khawatir karena Rian tak Memberikan reaksi apapun.
"Pak bangun pak?".
"Gak lucu lo pak ngeprank jam 10 pagi". Sezha masih juga menggoyangkan tubuh Rian. Ia meletakkan jarinya di leher Rian.
"Masih hidup". Sezha keluar dari ruangan tersebut untuk meminta pertolongan. Namun tak ada satu orangpun yang berada di ruangan tersebut.
"Kenapa lantai ini sepi banget ya?".
"Apa memang lantai ini milik pak Rian pribadi".
Karena tak menemukan orang akhirnya Sezha memapah tubuh Rian. Sezha cukup kesulitan membawa tubuh Rian yang tegap tinggi sedangkan Sezha memiliki tubuh yang mungil.
"Ya ampun pak Rian dosanya berat banget".
"Mungkin ini dosa karena keseringan jutekin orang". Ucap Sezha sambil memapah tubuh Rian.
Sezha membawa Rian menuju Lift yang cukup jauh dari ruangan milik Rian.
Sezha menekan tombol 1 yang akan membawanya kelantai dasar.
"Aduh pak!! bangun dong".
"Saya khawatir ni".
"Bapak tau ya, saya itu gak pernah sekhawatir ini sama orang termasuk kakak saya sendiri".
"Tapi ini saya beneran khawatir lo pak". Oceh Sezha didalam lift.
Akhirnya pintu Lift terbuka, Sezha meminta bantuan orang-orang yang ada di sekitar. Orang-orang yang Menyadari keadaan tersebut langsung menghampiri Sezha dan membantu Membawa Rian kerumah sakit.
Seketika kantor menjadi riuh.
"Pak ini kaya mana ya?". Tanya Sezha kepada salah satu pegawai yang membantu Sezha.
Sezha betul-betul khawatir saat ini, Ia takut Rian dalam keadaan parah namun lebih takutnya jika Rian meninggal Sezha akan di tuduh membunuh Rian.
Mana ada pembunuh nolongin orang yang di bunuh, ngaco banget.
Akhirnya Sezha sampai di rumah sakit, Seorang staff di Perusahaan tersebut membantu Sezha membawa Rian kerumah sakit.
Perawat RS tersebut membawa Rian ke UGD, Salah seorang perawat menghampiri Sezha.
"Silahkan isi data pasien di bagian administrasi". Sezha segera menuju meja administrasi.
Namun Sezha tidak tahu harus mengisi apa karena ia tidak mengatahui dengan jelas tentang sosok Rian.
Sezha segera menghubungi Luna, mungkin Luna dapat mengisi informasi tersebut.
"Hallo Lun". Ucap Sezha saat panggilannya tersambung.
"Ini gue di rumah sakit, Pak Rian Pingsan dan gue gak tahu harus ngisi apa di formulir pasiennya".
"Gue udah Otw kesana lo tunggu gue". Perintah Luna yang Langsung mematikan Panggilannya.
"Bentar ya mbak, Teman saya yang ngisi datanya nanti". Ucap Sezha kepada perawat tersebut.
"Bukannya mbak pacarnya ya". Tanya perawat tersebut.
"Gak mbak!!". Ucap Sezha sambil mengangkat tangannya.
"Saya rekan kerjanya". Balas Sezha.
Akhirnya Luna sampai di RS tersebut. Luna segera menghampiri Sezha yang menunggu di meja administrasi.
"Mana formulirnya". Ucap Luna begitu sampai.
Setelah mengisi formulir tersebut, Sezha dan Luna kembali ke ruang UGD. Untuk memastikan keadaan Rian.
Luna juga sudah menghubungi orang tua Rian.
"Zha pak Rian kok bisa pingsan?". Tanya Luna kepada Sezha.
"Jangan-jangan lu racunin lagi". Dengan spontan Sezha memukul kepala Luna.
"Sembarangan kalau ngomong".
"Gue juga gak tahu".
"Tadi pas gue sampai di kantor gue Lihat pak Rian sama pacarnya bertengkar. Pas gue masuk ruangan gue lihat pak Rian terbaring di sopa dan badannya lumayan panas".
"Karena gue asisten yang baik".
"Gue Keluar beliin dia makan sama obat".
"Pas gue balik beli obat, gue bangunin pak Rian terus dia gak bangun-bangun ya gue bawa kerumah sakit". Sezha menjelaskan dengan Rinci karena ia takut di sangka pembunuh.
"Bagaimana keadaannya?". Tanya Sezha.
"Dia baik-baik saja".
"Hanya saja dia kelelahan dan ia juga sedikit mengalami tekanan yang membuatnya stres". jelas dokter tersebut.
"Berarti tadi cuman pingsan kan dok?". Sezha masih mencoba untuk memastikan keadaan Rian.
"Iya dia cuman pingsan". Balas dokter tersebut.
"Pingsan tapi kaya orang mati". Oceh Sezha yang mendapat bogeman dari Luna.
"Sembarangan Ngomong". Ucap Luna.
Sezha baru ingat tasnya tertinggal di ruangan milik Rian.
"Lun titip Pak Rian ya".
"Eh lo sebagai asistennya tanggung jawab dong jangan lari". Oceh Luna saat melihat Sezha yang buru-buru pergi.
"gue asisten sutradara bukan pribadi". Balas Sezha.
"Memang lo mau kemana?". Tanya Luna.
"Tas gue tinggal di kantor, gue mau ngambil tas gue". Balas Sezha.
"Bentar lagi pacar sama keluarganya datang jadi lo jaga bentar ya". Sezha meninggalkan ruangan tersebut.
Ia mengabaikan teriakan Luna yang memanggil dirinya.
"Kok jadi gue yang jaga".
"Mana gue ada kencan lagi". Luna meratapi nasibnya.
Tak berapa lama orang tua Rian sampai di rumah sakit tersebut.
"Bagaimana keadaan Rian". Tanya Ratih.
"Kata dokter dia baik-baik aja kok cuman sedikit stres". Balas Luna.
Luna dapat melihat raut wajah ibu tiri Rian yang tampak khawatir.
"Terima kasih sudah membawa Rian kemari". Setyo mengucapkan terima kasih kepada Luna.
"Gak Om bukan saya yang bawa Rian kemari tapi asistennya". Ucap Luna
"Bukannya asistennya melahirkan ya". Setau Setyo asisten Rian baru saja melahirkan.
"Pak Rian punya asisten baru, tapi sekarang asistennya sedang ada urusan mendadak ". Balas Luna.
***
"Pakek acara ketinggalan segala ni tas". Ucap Sezha sambil memegang tas nya.
Saat ingin meninggalkan ruangan tersebut, Sezha melihat sebuah gelas yang terbuat dari keramik dengan motif bintik-bintik dan tampak seperti ada tulisan di antara pecahan tersebut.
Sezha mengambil pecahan gelas tersebut yang berada di atas meja kerja Rian.
"Sepertinya tidak terlalu parah rusaknya". Sezha memperhatikan pecahan gelas tersebut.
"Gelasnya bagus sayang banget Rusak". Sezha mengambil peper bag yang terletak di samping lemari.
Ia memasukan pecahan gelas tersebut dan ingin mengantarkannya ke tukang keramik untuk memperbaikinya.
Sezha meninggalkan ruangan tersebut.
Sampai juga Sezha di tempat pembuatan keramik, Sezha ingin bertanya apakah gelas ini bisa di perbaiki atau tidak.
"Cari apa ya dek?". Tanya pria paruh baya yang sepertinya pemilik toko tersebut.
"Ini pak saya mau memperbaiki keramik ini". Sezha memberikan pecahan keramik tersebut Kepada pria itu.
Pria tersebut Memperhatikan pecahan gelas tersebut, ia mencoba untuk menyatukan bagian-bagian tersebut.
"Ini bisa di perbaiki". Sezha sangat senang mendengar ucapan tersebut.
"Huh Syukurlah".
"Kapan ya pak dapat selesai perbaikannya".
"Mungkin sekitar 2 atau 3 hari, kamu bisa menjemputnya pada hari senin". Balas Pria itu.
"Baik pak!! Terima kasih".
"Saya tinggal dulu". Sezha berpamitan dengan Pria paruh baya itu.
"Ada-ada saja kejadian pagi ini". Ucap Sezha.
Sezha berjalan meninggalkan toko tersebut, namun di tengah jalan Sehza mendengar seseorang menganggil namanya.
"Sezha....". Teriak pria itu.
Sezha membalikkan badannya dan mencoba untuk memastikan siapa orang yang memanggilnya.
Sezha terdiam saat menyadari Pria yang baru saja meneriaki namanya itu.
"Apa kabar?"....