
"Kau harus hati-hati ayah merasakan bahwa Sezha sedang di incar oleh mereka". Ucap Antara, Ayah dari Seno, Abil dan Sezha.
"Iya yah Seno tahu, Seno akan lebih hati-hati sekarang". Balas Seno kepada ayahnya.
"Bagaimana kabar kedua adikmu".
"Apakah mereka baik-baik saja". Tanya Lilian kepada putra sulungnya itu.
"Mereka berdua baik-baik saja bu".
"Sezha saat ini ia sedang bekerja". Balas Seno.
"Kenapa kalian membiarkan dia bekerja". Lilian terkejut saat mendengar fakta bahwa anak bungsunya itu bekerja.
Lilian sangat takut Sezha akan menjadi incaran orang-orang yang memiliki tujuan jahat.
"Sezha bersikukuh ingin bekerja".
"Ibu tidak perlu khawatir aku sudah mencari tahu info perusahaan tempat Sezha bekerja". Jelas Seno.
"Aku hanya berharap kalian menjaga dia jangan sampai kejadian yang lalu terulang kembali". Ucap Lilian. Lilian meninggalkan Seno dan Antara di ruangan tamu.
"Sudahlah kamu lebih baik kembali ke indonesia".
"Ayah sudah cukup puas mendengar info dari kamu, dan Ayah juga berharap kamu dapat menjaga kedua adik kamu". Ucap Antara.
Sebelum balik ke Indonesia, Seno menyempatkan diri untuk singgah ke Singapore untuk bertemu kedua orang tuanya. Kini Seno sudah bersiap untuk balik ke Indonesia.
Sebelum meninggalkan rumah orang tuanya itu, Seno menelpon tangan kanannya. Ia ingin menanyakan bagaimana kabar kedua adiknya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Seno saat melakukan perjalanan Bisnis keluar negeri, Ia memerintahkan tangan kanannya untuk mengawasi dan melindungi kedua adiknya.
"Bagaimana keadaan mereka?". Seno bertanya dari balik telpon.
"Tuan Abil dan Nona Sezha dalam keadaan baik-baik saja".
"Ouh iya Tuan satu lagi, Saya sudah mendapatkan informasi tentang Sutradara yang bekerja dengan Sezha".
"Sutradara tersebut bernama Rian, Ia merupakan Sutradara dan menjaga sebagai Direktur Perusahaan House Produce".
"Dan poin paling penting ia merupakan anak tunggal dari pemilik H.P". Ucap Seseorang dari balik telpon tersebut.
"Awasi terus dan pastikan juga mereka tidak ada kaitannya dengan keluarga Adibakra". Perintah Seno yang di setujui tangan kanannya itu.
Seno mematikan panggilan ponselnya.
"Aku Merasa mereka sedang Memulai permainannya". Batin Seno.
***
Sezha memasuki ruangan milik Rian, Namun ia tidak melihat orang yang ia cari.
Padahal Sekarang sudah pukul 08.30, namun Rian belum datang juga.
"Apa pak Rian balik sakit ya?". Sezha bertanya pada dirinya.
"Kata Luna hari ini mulai syuting".
"Apa pak Rian udah berangkat di luan ya?".
Sezha keluar dari ruangan tersebut dan melihat ke sekitar lorong tersebut apakah ada orang selain dirinya berada di lantai 4 saat ini.
"Gue di lantai 4 berasa uji nyali".
"Sunyi banget". Ucap Sezha.
Sezha melihat seorang OB yang sedang membersihkan kan lantai, Sezha menghampiri OB tersebut.
"Permisi". Ucap Sezha kepada OB yang tampak sedang menyusun pot bunga.
"Ada apa ya buk?". Tanya OB tersebut dengan ramah.
"Pak Rian udah ada masuk keruangannya apa belum?". Tanya Sezha.
"Hari ini belum ada buk".
"Cuman kemarin saya ketemu pak Rian sore-sore di ruangannya, dia seperti nyari pecahan gelas gitu bu".
Balas OB tersebut.
Sezha langsung teringat dengan gelas yang ia temukan di ruangan milik Rian, Sezha berpikir jangan-jangan pecahan gelas itu yang ia cari.
"Seharusnya kan hari ini ada Syuting. Kenapa pak Rian gak masuk". Sezha berbicara sendiri.
"Maaf buk".
"Cuman saya dengar kalau Syuting hari ini di gantikan oleh sutradara lain".
Sezha mengangguk paham, itu artinya hari ini ia tidak kerja.
"Pak boleh saya cerita bentar". Sezha mencoba untuk berbicara kepada OB tersebut untuk masalah bagaimana nasib ia sekarang.
"Saya kan asisten sutradara, kalau misalnya syutingnya di gantikan sama sutradara lain. Apa saya tetap kerja atau libur?". Tanya Sezha kepada OB tersebut.
"Maaf buk saya kurang tahu". Balas OB tersebut.
"Hmmm oke dek pak gak papa".
"Saya pergi dulu". Sezha meninggalkan OB tersebut.
Karena bingung Sezha menelpon Luna untuk menanyakan bagaimana nasibnya.
"Hallo Lun". Ucap Sezha.
"Ada apa Zha?". Tanya Luna dari balik telpon.
"Katanya syutingnya di gantikan sutradara lain. Jadi gue libur atau gimana?". Tanya Luna.
"Pak Rian gak ada ngasih tau lo kalau lo harus ke lokasi syuting gak?". Luna kembali bertanya.
"Gak ada". Balas Sezha.
"Itu Artinya Lo libur".
"Lo hanya kerja sesuai dengan intruksi pak Rian. Kan lo bukan Crew tetap".
"Jadi hanya bekerja sesuai dengan aturan pak Rian". Balas Luna.
"Ouh Gitu ya". Ucap Sezha.
Sekarang ia mengerti.
"Udah dulu ya Zha, gue sibuk ni".
"Anggap aja hari ini bonus buat lo". Ucap Luna lalu mematikan panggilannya.
Sezha bingung apa yang harus ia lakukan. Sezha berpikir bahwa ia bukan bekerja melainkan hanya membuang-buang waktu.
baru 3 hari ia kerja dan harus menganggur kembali.
Sezha teringat dengan pecahan gelas tersebut, dan kebetulan ia membawanya. Karena tidak memiliki kerjaan Sezha memutuskan untuk mengembalikan gelas ini kepada pemiliknya.
"Mending gue balikin aja ni gelas".
"Entar di tuduh yang enggak-enggak lagi". Sezha teringat bahwa ia tidak tahu di mana Rian tinggal.
Sezha menuju Lobi untuk menanyakan alamat rumah Rian.
"Permisi". Ucap Sezha kepada pegawai tersebut.
"Saya mau minta alamat pak Rian". Ucap Sezha.
Pegawai tersebut memberikan alamat Rian, Sezha menerimanya.
Sezha membaca alamat rumah tersebut, namun ia bingung dengan alamat yang di berikan.
"Memang benaran ini alamat pak Rian". Sezha mencoba untuk memastikan kembali.
"Iya buk itu alamat pak Rian". Balas pegawai tersebut.
Sezha sangat mengetahui dengan jelas daerah tempat tinggal Rian. Daerah tempat tinggal Rian adalah kawasan elit namun bukan sembarangan kawasan elit.
Daerah tersebut sangat di jaga ketat dan tak sembarangan orang bisa masuk. Dan di dalam kawasan tersebut memiliki rumah yang jaraknya jauh antara satu dengan yang lain. Atau bisa di bilang jika kita tinggal di sana kita tidak akan memiliki tetangga.
Sezha juga tinggal di kawasan Elit namun lokasi rumahnya tak seperti lokasi milik Rian.
Di daerah tempa Rian tinggal, biasanya hanya orang-orang yang memiliki usaha atau bisnis gelap yang tinggal di sana.
Daerah tempat Rian tinggal biasanya di sebut Kawasan Mapia.
"Gue bakalan gak bisa masuk kalau kaya gini".
"Lebih baik gue kasi gelasnya pas pak Rian udah masuk kerja aja deh". Ucap Sezha kepada dirinya sendiri.
"Tapi entar kelamaan, sepertinya pak Rian sangat butuh dengan gelas ini". Ucap Sezha.
Akhirnya Sezha memutuskan untuk mengantarkan gelas itu hari ini juga, Ia akan ketempat tersebut jika ia tidak di kasi masuk setidaknya ia sudah mencoba.
Kebetulan Sezha membawa mobil, Abil mengizinkannya mengemudi hari ini.
Sezha pun menuju ke lokasi kediaman Rian yang memakan waktu sekitar kurang lebih satu jaman, Daerah tersebut berada di ujung kota dan jarang di lalui orang.