
Di kamarnya Sezha masih terbayang setiap kejadian yang ia alami saat ini, Ia merasa ada sebuah kejanggalan-kejanggalan yang terjadi selama ia kerja di rumah produksi tersebut, terutama mengenai Rian.
Sezha semakin yakin bahwa ada hal yang tak di ketahui Rian, atau pun memang di sengaja untuk tidak di cari tahu.
Sezha duduk dengan tenang sambil mencoba untuk memikirkan cara untuk mengatahui apa yang sedang terjadi.
"Ya gue harus ngungkapin setiap kejanggalan yang ada". Sezha menyemangati dirinya.
Rian kembali kerumahnya setelah ia mengantarkan Sezha pulang.
Rian berpikir siapa pria yang sedang bersama Sezha, kenapa pria itu terus mencoba mendekatinya.
Rian ingin sekali bertanya kepada Sezha mengenai hal itu, namun Rian berpikir ia tidak begitu dekat dengan Sezha, sehingga Rian sedikit canggung untuk menanyakan hal seperti itu.
Dan kini Rian semakin yakin bahwa ada beberapa hal yang tak ia ketahui dan terkesan mencurigakan. Rian berpikir semenjak kehadiran Sezha beberapa bulan yang lalu, Rian mulai merasakan beberapa hal aneh.
Dan Rian juga mulai merasakan bahwa perusahaan tempat ia bekerja saat ini, bukan di kendalikan Oleh ayahnya namun orang lain.
Rian tidak habis pikir dengan ucapan Setyo yang tak ada menutupi apapun sedikitpun kepada Rian. Jelas-jelas setiap perubahan yang terjadi belakangan ini tidak di ketahui Setyo itu artinya ada dalang di balik semua ini.
"Siapa dalang itu?".
Rian mulai mengingat setiap kejadian aneh yang sering muncul belakangan ini. Termasuk siapa sebenarnya Sehza orang yang paling dekat dengannya saat ini.
Rian mulai berpikir untuk mencari tahu siapa sebenarnya Sehza setelah itu ia akan mencari tahu siapa dalang di dalam perusahaan ayahnya.
"Bagaimana cara aku mengetahui siapa sebenarnya dia?". Batin Rian.
Rian teringat bahwa Sehza bekerja di Cafe sebelum bekerja dengan dia. Rian akan kembali ke Cafe tersebut dan mencoba untuk menggali informasi.
"Ya aku akan ke cafe tersebut besok". Ucap Rian.
Keesokan harinya suasana lokasi syuting tampak sedang sibuk.
Sezha hanya duduk terdiam sambil meminum jus.
"Gue ini sebenarnya kerja apa bukan sih".
"Pak Rian juga di suruh cepat-cepat datang ke lokasi dia nya yang gak hadir".
"Bosan ah". Sezha menggesek-gesekkan tapak sepatunya ketanah yang ia injak.
"Hoi Sezha?". Panggil Ucup.
"Ha lo gak kerja". Tanya Sezha saat melihat Ucup duduk di sampingnya.
"Udah tadi, cuman bawa pakaian aja".
"Terus lo dari tadi gue perhatiin, lo cuman santai aja disini".
"Mana pak Rian gak di kasih tugas lo sama dia". Tanya Ucup kepada Sezha.
"Itu dia masalahnya, gue nungguin dari tadi dia nya gak datang".
"Kok gue merasa kaya bocah ya yang gampang di kibulin". Sezha mengangkat satu jarinya ke dahi yang tampak seperti orang berpikir.
"Ouh ya Zha?? Gue titip barang ini sama lo ya, nanti kasihin sama Luna". Ucap Ucup sambil memberikan tas yang berisikan beberapa perlengkapan Syuting.
"Lah lu aja yang ngasiin sekalian Pdkatekan". Timpal Sezha.
"Gue sih mau gitu!".
"Tapi gue ada urusan mendadak jadi gue titip sama lu ya da...." Ucup bangkit dari kursi dan meninggalkan Sezha.
"Sok sibuk".
"Aduh pak Rian mana sih?". Batin Sezha.
Di lain tempat sedang terjadi rapat inti antara Setyo, Rian dan Seno sebagai perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan milik Setyo.
"Seperti ini model sistem kerja sama kita". Seno menjelaskan bagaimana model kerja sama yang ia gunakan setiap melakukan kerja sama dengan perusahaan lain.
Seno tersenyum dengan hasil kesepakatan tersebut. Namun Seno tidak lupa untuk menggali sedikit informasi tentang perusahaan ini atau lebih rincinya tentang keluarga ini.
"Apakah anda juga salah satu sutradara terbaik disini bukan?". Tanya Seno dengan santai.
"Ya saya merupakan seorang sutradara yang kebetulan menjabat salah satu direksi di perusahaan ini". Balas Seno dengan santai.
"Saya dengar bahwa kalian sedang menggarap Film, yang anda sendiri sutradaranya".
"Lalu bagaimana dengan syuting anda hari ini, saat ini anda sedang mengikuti Rapat". Tanya Seno.
"Saya hanya menjadi sutradara saat di lokasi syuting, di luar lokasi syuting saya adalah seorang direksi". Balas Rian masih dengan santai, walau Rian tahu Pertanyaan ini sedang menjebaknya.
"Baiklah terima kasih atas kerja samanya". Setyo mencoba untuk mencairkan suasana.
Akhirnya pertemuan tersebut selesai, Seno kembali ke parkiran dengan di kawal 2 Pengawal dan sekretarisnya.
Saat ingin memasuki Lift, tak sengaja Seno Melihat Sezha yang sedang menunggu Lift di Lift khusus pegawai.
Seno tidak menyapa Sehza, ia hanya memandangi adiknya, ia tak ingin adiknya tidak nyaman atas kehadirannya.
Saat sampai di parkiran. Seno memerintahkan kepada pengawalnya untuk menaiki mobil terpisah.
"Kalian gunakan mobil itu, saya sudah ada jemputan". Ucap Seno.
Kedua pengawal itu sudah mengerti apa maksudnya, mereka meninggalkan Seno.
Dan tak berapa lama mobil yang di tunggu sampai juga, Seno segera memasuki mobil tersebut.
"Apakah bapak sudah selesai rapat dengan mereka?". Tanya Tangan kanan Seno tersebut.
"Ya aku sudah menyelesaikan rapat".
"Informasi apa yang kau dapat mengenai mereka?". Tanya Seno.
"Saya sudah turun kelapangan, dan saya juga sudah mendapatkan informasi".
"Perusahaan mereka saat ini sedang berada dalam keadaan lintah hitam, yang artinya ada orang lain yang mengatur perusahaan ini kecuali pak Setyo sebagai presiden direktur disini".
"Saya berpikir bahwa pak Setyo tidak mengetahui hal ini, dan putranya Rian menaruh curiga bahwa ayahnya lah yang sedang bermain-main saat ini padahal kenyataannya bukan".
"Mereka menaruh curiga satu dengan yang lainnya". Jelas tangan kanan tersebut.
"Cukup rumit, itu artinya ada penyusup dalam perusahaan mereka". Ucap Seno.
"Lalu bagaimana dengan Sezha?". Tanya Seno.
Inilah hal yang paling penting tentang Keselamatan adiknya.
"Bapak harus lebih hati-hati dalam mengawasi Sezha".
"Saya merasa bahwa Sehza saat ini juga curiga dengan kejanggalan-kejanggalan di dalam perusahaan tersebut".
"Artinya secara tak langsung Sezha akan turun langsung untuk mencari tahu informasi Mengenai perusahaan ini". Jelas Tangan kanan tersebut.
"Dan satu lagi pak, kemungkinan juga Sezha dan Rian akan bekerja sama membongkar seluruh kekacauan ini".
"Saya hanya khawatir Sezha akan menjadi sasaran lain para lintah hitam perusahaan ini". Timpal nya.
Seno mengerti apa maksud tangan kanananya tersebut, berita hari ini cukup mengejutkan untuk dirinya.
"Baiklah antarkan saya kembali ke kantor, setelah itu jual mobil ini seperti biasa". Perintah Seno yang di balas anggukan oleh tangan kanannya itu.
Setiap mencari informasi, Seno akan memberikan mobil kepada kepercayaannya itu untuk ia gunakan dalam menjalankan tugasnya, Setelah selesai menyampaikan informasi yang di butuhkan Seno akan memerintahkan tangan kanannya itu untuk segera menjual mobil tersebut agar tidak ada orang lain yang mencuragai atau tahu siapa tangan kanannya.
Menjual mobil tersebut juga bukan sembarangan Seno memerintahkan tangan kanannya untuk mengantarkan mobil itu ke garasi khusus di kantornya, lalu Seno akan menyuruh bawahannya yang lain untuk menjual mobil tersebut.
Hanya Seno sendirilah yang tahu bagaimana rupa tangan kanannya itu.