Mysterious Woman

Mysterious Woman
Enam



"Hallo". Rian menjawab telpon dari Sarah.


"Kamu udah selesai syutingkan".


" Bagaimana kalau kita makan malam bersama".


Balas Sarah.


"Sekarang aku lelah berhenti untuk menggangguku". Rian mematikan panggilannya.


Rian memasuki mobilnya yang terparkir diparkiran, saat ingin masuk kemobil Rian tak sengaja melihat Sezha di jemput seorang pria. Rian mencoba untuk memperjelas penglihatan untuk memastikan siapa pria yang sedang bersama Sezha.


Namun sayang ia sulit melihat dengan jelas karena pria tersebut membelakangi dirinya.


"Mungkin pacarnya". Batin Rian.


"Semua wanita mengejar pria kaya". Rian mengatakan seperti itu karena ia melihat pria yang bersama Sezha mengandarai mobil yang bisa di katakan mobil mewah.


"Tidak ada wanita yang dapat di percaya mereka hanya mengejar uang semata, walaupun memanfaatkan sekalipun". Rian masuk kedalam mobil dan meninggalkan lokasi tersebut.


**


Sezha ingin pergi makan bersama dengan Luna, namun saat diparkiran ia melihat mobil yang tidak asing dimatanya, Sezha mencoba untuk meyakinkan dirinya mengenai mobil itu.


"Lun kaya nya gue kenal sama tu mobil". Ucap Sezha.


Luna yang tak memperhatikan kali, mencoba untuk memperjelas pemilik mobil tersebut.


"Tu kan Mobil kak Abil". Ucap Luna.


Sezha yang mendengar perkataan Luna barusan kaget bukan kepalang, ia tak menyangka Kakaknya berada di tempat ini.


"Kurang kerjaan". Ucap Sezha.


"Ayok Lun lari!!". Sezha menarik Tangan Luna untuk bersembunyi. Sezha malas untuk bertemu dengan kakaknya dalam suasana hati kurang baik.


"Ayok Lun cepat". Sezha masih mencoba menarik tangan Luna tanpa melihat kebelakang.


"Lun". Sezha masih tetap menarik tangan Luna. Namun karena tidak ada respon Sezha membalikkan badannya.


Bukan main kagetnya diri Sezha saat melihat tangan yang ia tarik adalah tangan milik Abil.


"Mau lari kemana?". Tanya Abil kepada Sezha.


"Siapa yang mau lari, Orang Sezha ngajak Luna kekamar mandi".


"Ya kan Lun". Bual Sezha.


"Gak Zha, Lo tadi ngajak gue sembunyi". Ucap Luna yang membuat Sezha menutup mukanya.


Kenapa ia harus berteman dengan orang yang sebelas dua belas idiot nya sama Sezha.


"Luna". Panggil Abil.


"Iya kak?". Balas Luna.


"Kamu balik sendiri aja ya, Sezha balik sama kakak". Sezha yang mendengar ucapan Abil barusan, mengalihkan pandangannya terhadap Luna. Ia berharap temannya itu mau membawanya pergi.


Sezha mengkode-kode Luna untuk mengatakan tidak, namun dengan polosnya Luna menjawab..


"Kok jawab enggak Zha?". Ucap Luna yang membuat Sezha tak sanggup berkata apapun lagi.


Sezha menarik tangan Abil untuk segera pergi dari tempat tersebut.


"Kok langsung pergi".


"Aneh memang".


"Adik kakak sama aja bentuk dan sifatnya". Ucap Luna.


Saat di depan pintu mobil Sezha berusaha untuk bersikap tenang, ia masih tidak tahu apa maksud tujuan kakaknya datang kemari.


"Kak Abil ngapain kemari?". Tanya Sezha dengan menatap Abil tajam.


"Ya jemput kamu lah". Balas Abil dengan santai.


"Dari pada jemput Sezha bagusan kak Abil jemput cinta yang tak terbalas". Sezha membalas dengan kata-kata yang tak kalah menohok.


"Lebih baik kakak mengejar cinta yang tak terbalas dari pada kamu yang tak pernah ngerasain jatuh cinta".


"Coba tanya semua orang, Pria mana yang tak terpesona dengan kecantikan Sezha". Ucap Sezha.


"Sezha memang cantik tapi idiot". Balas Abil.


"Kakak kurang ajar". Sezha membanting pintu mobil Kakaknya.


"Santai dong ini mobil mahal". Ucap Abil saat melihat Sezha membanting pintu mobilnya.


Di lain tempat Rian sedang menuju kerumah kediaman orang tuanya, Rian memang tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya. Saat ayahnya menikah lagi Rian memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut.


Ia tidak mau terlalu ikut campur urusan kedua orang tuanya, dan Rian juga tidak suka hidupnya di atur orang lain dan yang paling penting Rian sulit menerima orang lain masuk kedalam hidupnya tak terkecuali ibu tirinya.


Ibu tiri Rian sebenarnya merupakan orang yang Pengertian dan lembut, hanya saja Rian terlalu mementingkan egonya.


Akhirnya Rian sampai di rumah orang Tuanya.


Kedua orang tua Rian sudah menyambutnya di depan pintu.


"Akhirnya kamu datang juga". Ucap Setyo Guwono, ayah Rian.


"Kamu sudah makan nak?". Tanya Ratih, Ibu tiri Rian.


"Aku sudah makan". Balas Rian.


"Bagaimana kabar kamu?". Tanya Ratih kepada Rian.


"Aku baik-baik saja". Balas Rian.


"Rian apakah kamu masih menekuni profesi kamu saat ini". Tanya Setyo kepada Rian.


"Aku menikmatinya". Balas Rian.


"Baguslah jika kau menikmatinya".


"Ayah ingin bertanya bagaimana hubungan mu dengan Sarah". Rian yang mendapat pertanyaan tersebut menarik nafasnya, seolah olah ia tak ingin membahas masalah itu.


"Aku tak memiliki hubungan apapun dengan seseorang".


"Lalu kau Dengan sarah?". Setyo masih tak yakin dengan ucapan anaknya.


"Aku hanya menuruti apa keinginannya bukan berarti aku menginginkannya".


"Wanita menggunakan cinta untuk mendapatkan harta".


"Dan aku sudah melihatnya sendiri". Ucap Rian.


Setyo yang mendengar jawaban putranya hanya bisa diam.


sedangkan Ratih hanya bisa diam dan menunduk ia tahu bahwa orang yang di sebut putra tirinya itu adalah dia.


"Aku sudah menepati janjiku untuk bertemu kalian".


"Aku harus kembali sekarang".


Rian Menundukkan kepalanya lalu meninggalkan kedua orang tuanya.


"Sudahlah kau tak perlu mendengarkan apa yang dikatakan putra mu". Setyo mencoba untuk menenangkan hati istrinya itu.


***


"Besok Jangan terlambat".


"Ingat Sezha besok tidak boleh terlambat".


Sudah lebih dari sepuluh kali Sezha mengulangi kata-katanya itu.


"Jangan ceroboh".


"Kendalikan dirimu".


"Kamu pasti bisa". Sezha menyemangati dirinya sendiri.


"Pak Rian punya beban hidup apa sih".


"Jutek amat". Sezha mengingat kembali kejadian siang tadi. Sezha sangat malu kalau Mengingat kejadian itu


Bisa bisanya ia bertindak ceroboh seperti itu.


Tapi ia bersyukur Rian menyelamatkannya kalau tidak ia harus ganti rugi dan menanggung malu yang lebih besar.


Sezha teringat kakaknya yang tidak ada dirumah. Saat ini dirumah hanya ada dirinya dan Mbok Ningsih.


"Kak Abil pasti lagi menggoda kak Arin". Batin Sezha saat teringat sosok kakaknya itu.


Dilain tempat Abil dan Arin sedang makan malam bersama, sekalian Abil melancarkan gombalan mautnya.


"Arin..". Panggil Abil.


"Hemm kenapa?". Tanya Arin.


"Entah kenapa semakin lama hati ku semakin berdebar saat melihat senyum mu". Yak gombalan maut Abil mulai beraksi.


Tak mau kalah Arin pun membalas gombalan dari Abil.


"Abil semakin hari kalau di lihat kamu semakin ganteng". Abil yang mendapat gombalan tersebut memegang jantungnya menandakan ia tertusuk oleh rayuan itu.


"Tapi Perasaan ku kekamu gitu-gitu juga". Seketika hati Abil yang berbunga-bunga layu serentak mendengar ungkapan terakhir.


Arin tertawa melihat ekspresi wajah Abil yang terlihat seperti orang tersakiti.


"Eh aku mau nanyak?".


"Sezha kerja dimana sekarang". Arin menanyakan tentang keadaan Sezha.


"Dia jadi Asisten sutradara". Balas Abil.


"Siapa nama sutradaranya". Arin kembali bertanya.


"Sezha gak ada nyebutin nama sutradaranya". Balas Abil.


Arin mengangguk paham.


"Bagaimana pemotretan mu di Prancis?". Abil menanyakan keadaan Arin.


"Selama dua bulan ini gak ada kendala". Balas Arin.


"Rin kamu mau gak jadi pacar aku?". Arin tersedak saat mendengar pernyataan Abil.


"Sudah sekian kalinya kamu nembak aku". Balas Arin.


"Dan untuk kesekian kalinya aku di tolak oleh wanita yang sama". Ucap Abil yang membuat Arin terkikik.


Arin sebenarnya suka dengan Abil, namun saat ini ia masih nyaman dengan hubungan seperti ini.