Mysterious Woman

Mysterious Woman
Sembilan Belas



Sezha dan Luna sedang duduk berdua dengan santai di Cafe langganan mereka, sekian lama menjalani kesibukan akhirnya mereka dapat kembali bercengkrama.


"Apakah kau tahu rasanya gue mau pensiun dari kerjaan ini?". Keluh Luna sambil mengibas-ngibaskan wajahnya.


"Emang kenapa?".


"Gue rasa lo santai-santai aja". Balas Sezha.


"Iya lo lihat gue santai pas di rumah bukan di kantor". Balas Luna.


"Lo pusing ngehadapin model itu ya?". Tanya Sezha.


"Ya jelas lah karena dia".


"Asal lo tahu ya!! Dia itu salah satu artis figuran yang menyebalkan".


"Dia cuman masuk bagian untuk promosi tapi gaya nya huh... selangit".


"Segala keinginannya minta di turuti bahkan keinginan yang bukan berkaitan dengan pekerjaan aneh gak".


"Entah kenapa gue merasa untuk syuting kali ini itu banyak banget makan energi dan syuting nya juga belibet sehingga beberapa kali harus tertunda". Oceh Luna.


Sezha hanya diam mendengarkan semua keluh kesah sahabatnya itu.


"Lun?".


"Lo merasa gak sih kaya ada sesuatu yang gak beres di perusahaan ini". Sezha bertanya kepada Luna.


Luna yang mendapat pertanyaan itu, tak menjawab apapun. menurut Luna semuanya sama saja hanya saja kali ini sedikit rumit.


"Gak tahu sih gue rasa biasa aja". Balas Luna.


Sezha mengangguk saja, mungkin hanya perasaannya saja. dan lagi pula Sezha kurang lebih satu bulan berada di perusahaan ini, masih minimnya informasi. kisah dan seluk beluk perusahaan ini yang di ketahui Sezha.


"Kemarin aku melihat Elen di lokasi syuting". Ucap Sezha.


Luna yang sedang makan langsung menyetopkan kegiatan makannya setelah mendengar ucapan Sezha.


"Apa urusan dia di lokasi syuting".


"Apa jangan-jangan dia ngikutin lo?". Balas Luna dengan menatap Sezha.


"Gue gak tahu pasti. tapi gue lihat di berbincang dengan seseorang". Balas Sezha.


"Ah sudah lah".


"Sudah banyak hal yang harus di pikirkan jadi jangan tambahi lagi". Ucap Luna sambil melanjutkan makannya.


Sezha juga memakan makanannya, mereka berbincang bahkan tertawa saat makan. entah hal apa yang terasa lucu sehingga mereka berdua tak henti-henti nya tertawa. Sehingga semua orang mengalihkan pandangan kearah mereka.


****


Seno dan Abil sedang duduk berdua sambil menikmati coffee di taman belakang rumah mereka, saat ini Sezha tidak ada di rumah, ia di luar bersama dengan Luna.


"Kak bintangnya ramai ya". Ucap Abil sambil memandangi bintang di langit.


"Kita harus lebih waspada". Ucap Seno.


"Ya aku tahu kak, sesuatu sedang mengintai kita".


"Ayah juga mengatakan ada masanya mereka akan membalas kan dendamnya". Balas Abil.


"Kita tidak tahu orang-orang di sekitar kita seperti apa?".


"Kita hanya perlu waspada". Ucap Seno.


"Abil dengar Sezha datang kekewasan itu". Abil memandangi wajah Seno yang tengah meminum kopinya.


"Dia tidak tahu tempat itu". Balas Seno.


"Sudah pasti sutradara yang tinggal di sana curiga dengan Sezha yang mudah masuk ke tempat itu". Timpal Seno.


"Dia hanya akan mengira bahwa Sezha bukan orang biasa".


"Sezha tidak tahu mengenai hal itu dia pasti akan Mengatakan yang sebenarnya". Balas Seno.


"Ya semoga saja sutradara itu tidak memiliki niatan yang buruk". Ucap Abil.


"Kakak sudah mendapatkan informasi dari tangan kanan kakak, siapa sebenarnya sutradara itu".


"Kau tak perlu khawatir". Seno menenangkan Abil yang sedikit gelisah.


"Sampai sekarang aku tidak tahu, siapa tangan kanan kakak". Abil menatap Seno.


"Jika kalian mengetahuinya, akan sulit bagi dia untuk menjaga kalian".


Di lain tempat Sezha dan Luna baru saja kembali dari pusat perbelanjaan. Sezha menemani Luna membeli kado untuk keponakannya.


"Lo balik naik apa?". Tanya Luna kepada Sezha.


"Gue balik naik taxi aja". Balas Luna.


"Gak gak bagusan lo pandangi wajah si ucup".


"Lagi pula rumah kita berlawanan bisa satu jam lebih dari rumah gue ke rumah lo". Balas Sezha.


"Ya udah deh gue balik dulu". Luna melambaikan tangannya.


Sezha membalas dengan melambaikan tangan juga. Sezha berdiri di pinggir pintu Mall untuk menunggu kedatangan Taxi.


Sambil menunggu Taxi tersebut datang, Sezha memainkan ponselnya.


"Zha". Panggil seorang pria.


Sezha yang merasa namanya terpanggil mengangkat wajahnya.


Setelah melihat siapa orang yang berada di depannya, Sezha segara membuang pandangannya.


"Zha lo gak bisa diamin gue terus". Ucap Elen kepada Sezha.


"Gue gak ada hubungan apapun sama lo, hak gue untuk diam". Balas Sezha.


Elen menarik tangan Sezha, sontak tindakan tersebut membuat Sezha terkejut.


"Apasih mau lo?". Ucap Sezha sedikit berteriak sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Elen.


"Gue mau lo jadi pacar gue".


"Gue sayang sama lo". Ucap Elen.


"Lepasin tangan gue".


"Gue benci sama lo". Teriak Sezha sambil berusaha kembali melepaskan tanggannya dari cengkraman Elen.


Saat Sezha berusaha melepaskan tangan Elen, tiba-tiba ada seseorang yang dengan kasar menarik tubuh Elen.


"Kamu tidak berhak memaksa seseorang". Ucap Rian dengan dingin kepada Elen.


Sezha terkejut saat melihat Rian berada di hadapannya.


"Pak Rian". Ucap Sezha tak percaya.


"Anda tidak perlu ikut campur urusan saya". Ucap Elen.


"Saya tidak berhak untuk ikut campur urusan anda, namun saya tidak bisa membiarkan anda memaksa seseorang". Balas Rian.


"Saya peringati anda untuk jangan mengganggu dia lagi". Ucap Rian.


Rian menarik tangan Sezha menuju kemobil milik Rian, Kebetulan Rian lewat di depan Mall tersebut dan tak sengaja melihat Sezha dengan Elen.


Rian dapat melihat perlakuan Elen yang kasar terhadap Rian, karena tidak nyaman dengan pemandangan itu, Rian menghampiri mereka.


"Kamu tidak apa-apa?". Tanya Rian dan Sezha saat di dalam mobil.


Sezha yang masih tampak bingung tak tau harus mengatakan apa.


Rian dapat melihat Sezha yang belum mengenakan sabuk pengaman. Rian mendekat kearah Sezha untuk memasangkan sabuk pengaman tersebut.


Sezha terkejut saat Rian berjarak begitu dekat dengan dirinya.


"Eh....". Ucap Sezha.


Setelah selesai memasang sabuk pengaman tersebut, Rian menjauhkan tubuhnya.


"Saya akan mengantar kamu pulang".


Rian mengemudikan mobilnya, Sezha tak banyak bicara di dalam mobil, ia masih teringat dengan kejadian tadi.


Ia sama sekali tidak merasa bahwa Alen yang ia kenal dulu sama dengan Alen yang ia baru temui sekarang.


Sezha merasa bahwa sifat Alen berubah sangat jauh, sifat nya yang lembut menjadi kasar terbukti dengan perlakuan memaksanya kepada Sezha.


"Ah tidak mungkin". Ucap Sezha.


"Ada apa?". Tanya Rian.


Sezha baru tersadar bahwa dia sedang berada di mobil milik Rian. Mungkin Rian bertanya-tanya kenapa Sezha tiba-tiba mengumpat.


"Ah tidak apa apa".


"Terima kasih pak Rian". Ucap Sezha.


"Kau harus bisa melindungi diri mu".


"Saya tidak tahu siapa pria itu, hanya saja saya khawatir dia akan menganggu mu lagi". Ucap Rian.


Sezha terdiam seribu bahasa saat ia mendengar ucapan terakhir Rian.


"Kenapa Pak Rian mengkhawatirkan saya". Sezha bertanya kepada Rian untuk memperjelas ucapan terakhir Rian.


"Karena saya peduli dengan orang-orang seperti mu". Balas Rian.