
**Alooo readers, author kembali sesuai dengan tanggal yang udah dijanjikan eaaa..
Ada yang kangen sama ceritanya? atau mungkin kangen sama author? ehek ehek canda😆
happy reading kawan🤗**
_______________________________
________________________________
"Ternyata kau siswa yang suka terlambat ya Vanya?" Ujar guru tersebut dari dalam kelas
"Eemm anu pak, tadi saya jalan kaki makanya lambat, bener ga bohong" Elak vanya yang berusaha menutupi kegugupanya, ia terlambat juga gara gara Sean, coba saja kemarin sean tak membawanya pergi sehingga ia harus meninggalkan sepedanya di cafe
Sean berjalan mendekat, dengan senyum smirk yang terbit di wajahnya
"Oh ya? harusnya kau bangun lebih pagi agar tidak telat seperti ini, sekarang ikut saya keruangan" Ujar Sean, lalu melangkah keluar kelas melewati Vanya yang masih berdiri di depan pintu
Melihat Sean yang sudah melangkah, Vanya mengekorinya dari belakang, sedangkan kelas yang tadinya hening kini kembali ribut. Walaupun Sean adalah kategori guru tertampan di sekolah, ia juga masuk ke kategori guru tergalak. Oleh sebab itu saat ia yang mengajar, tak ada yang berani membuat keributan, bahkan berbisik dengan teman sebangkunya saja mereka enggan, karna Sean tak akan segan segan memberi hukuman yang berat bagi siswa yang tak manaati aturan sekolah
Sedangkan Vanya masih terus mengekori Sean hingga Sean sampai di depan pintu ruangan pribadinya.
Sebagai pemilik sekolah dan sekaligus guru bahasa inggris, Sean mempunyai ruangan yang lebih besar dari guru guru lainnya, dan ruanganya itu pun terletak paling pojok didekat taman sekolah, sehingga siswa siswa jarang melewatinya
"Masuk!" Perintah Sean yang sudah duduk di kursi kebesaranya
Vanya yang ragu kini terpaksa masuk kedalam dan
Blakk!
Ceklek!
Pintu ruangan Sean tertutup dan terkunci dengan sendirinya, meihat hal itu vanya terkejut setengah mati, sampai sampai ia meloncat dengan mata yang melebar
Sean terkekeh melihat reaksi matenya seperti itu, berbeda dengan marc yang kini mengomeli sean karna telah membuat Vanya ketakutan
"i-itu--
"Mungkin saja itu angin" Ujar Sean memotong ucapan Vanya
"Sebagai hukuman karna kamu terlambat, kamu harus menyalin ini sekarang juga" Lagi lagi Sean memotong ucapan Vanya sehingga ia hanya bisa mendengus pasrah, lalu melihat lembaran yang diberikan oleh Sean
"eh?"
"ini?"
"Semuanya?!?!?"
"Seharian pun ga bakal selesai!?!?!"
Batin Vanya menatap kertas yang Sean berikan kepadanya
"Kenapa melamun? mau saya tambahkan?" Tanya sean sambil menampilkan senyuman smirk andalannya
"Ini mah kebanyakan pak, toh saya terlambat juga gara gara bapak, kemarin bapak seenaknya bawa saya pergi dari cafe sampai sampai sepeda saya ketinggalan, dan bukan hanya itu, gara gara bapak saya juga kehilangan pekerjaan saya, tau gini mending saya gausah sekolah tadi" Omel Vanya tanpa sadar, nafasnya naik turun dan wajahnya memerah
"Sudah selesai? sekarang cepat kerjakan" Ujar Sean santai, lalu kembali menatap layar ponselnya
"Apa apaan?!?! huftt sabar vanya" Batin vanya, lalu segera melangkah untuk membuka pintu yang terkunci
"Siapa yang suruh kamu keluar? kerjakan disini, dihadapan saya" Perintah sean tegas
Vanya menaikan satu alisnya, berusaha untuk tabah menghadapi sosok dihadapanya
"Tapi bapak harus mengajar di kelas saya, bapak tidak boleh memakan gajih buta, saya permisi" Ujar vanya senang, ya ia sangat senang karna telah berhasil membuat wajah sean memerah seperti kepiting rebus, namun lagi lagi saat ia ingin membuka pintu sean menghalanginya
"Oh ya? apakah kau lupa disini jabatanku sebagai apa?" Ujar sean dingin, lalu berjalan mendekati Vanya yang berdiri di depan pintu, dengan tangan yang dimasukan ke saku celanya, dan sorot mata yang tajam
"Oh tidak, bagaimana aku bisa melupakan hal penting itu, bagaimana ini, kenapa guru ini terus mendekat" Batin Vanya ketakutan, langkah nya terus mundur hingga punggungnya menyentuh pintu, sedangkan sean terus mendekatinya
Semakin mendekat
sudah dekaat....
dan sangaaat dekaat
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!"