
"Astaga vanya sekarang bagaimana, kau sama skali tidak tau jalan" Batin Vanya panik
Hari sudah mulai gelap dan sedari tadi Vanya hanya mondar mandir di jalanan yang tidak begitu ramai, ia terlalu emosi hingga memutuskan untuk lari dari rumah gurunya
"Huft kenapa sih ada guru seperti dia, apa urusanya mengatur ngatur pekerjaan ku, toh aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu" Dumel Vanya sambil terus menyusuri setapak jalan, walaupun ia tidak tau kalau arah yang ditujunya sudah benar atau tidak
"Mengapa semakin sepi? bahkan semua toko sudah tutup, astaga Varel belum makan malam bagaimana ini" Panik Vanya pada dirinya sendiri. Hari sudah gelap dan ia tak kunjung mendapati tumpangan, ia hanya bisa terus berjalan tanpa tau arah
Kini Vanya berjongkok di tepi toko yang sudah tutup, tak ada lagi kendaraan yang lewat, ia juga tidak tau jam berapa sekarang. Yang ia lakukan saat ini hanyalah berjongkok sambil menekuk kakinya, Ia menangis
"Apakah kau masih mau lari hem?"Terdengar suara pria yang mungkin saat ini berdiri di depan Vanya
Dan saat Vanya mendongak ke atas, ia mendapati gurunya mengenakan hoodie hitam dengan tangan yang di lipat di dada
"Ba-Bapak, Hiks" Isak Vanya menahan agar air matanya tidak keluar, tapi percuma karna sedari tadi ia memang sudah menangis
Karna saking takutnya, Vanya langsung berdiri dan memeluk tubuh Sean dengan erat, ia tidak peduli bahwa saat ini ia tengah memeluk gurunya. Sean yang tak siap akan perlakuan Vanya pun terjingkat kaget, jantungnya berdetak sangat kencang, namun setelah lama kemudian sean tersenyum dan membalas pelukan Vanya
"Sudah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan Pak jika diluar sekolah" Ujar Sean lembut, tangannya mengusap ngusap punggung Vanya berharap gadis itu berhenti menangis
"Ta-tapi saya tidak tau nama bapak" Ujar Vanya yang masih terisak, ia masih memeluk Sean dengan erat
"Baiklah, mulai sekarang kau harus memanggilku Sean jika sedang berada di luar sekolah hem? Apakah pelukan ku terasa sangat hangat makanya kau sangat betah?" Kata Sean menahan tawanya
Vanya yang sadar kini melepaskan dirinya dari pelukan Sean, lalu berjalan mundur dan menunduk, ia malu!
"Maaf pak, Eh maaf Sean, sa-ya ti- tidak sengaja" Ujarnya malu, ia sangat merutuki tindakannya yang bodoh, astaga bagaimana kalau prilaku nya dinilai buruk oleh Sean
Sean kini tertawa melihat tingkah konyol Vanya, kenapa gadis itu sangat lucu?
______
"Bagaimana kau bisa tau aku ada disana?" Tanya Vanya di dalam mobil, matanya memandang ke luar jendela, ia masih sangat malu dengan Sean
"Menurutmu?" Tanya Sean balik, tidak mungkin ia bilang kalau sedari tadi ia mengikuti Vanya. Saat Vanya lari dari rumahnya, ia masih bisa mencium bau vanilla milik Vanya, bau yang merupakan candu baginya, dan oleh karna itu ia memutuskan untuk mengikuti Vanya secara diam diam.
"Aish, mengapa orang ini malah balik bertanya? sudahlah" Batin Vanya, ia lebih memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan Sean
"Apakah kau lapar" Tanya Sean yang masih fokus menyetir
"Tidak" Jawab Vanya berbohong, ia tidak mau lagi merepotkan gurunya
Sean tau bahwa Vanya tengah berbohong, namun ia hanya diam, mungkin Vanya tidak enak hati kepadanya, karna bagaimana pun mereka baru bertemu tadi pagi. Vanya tidak tahu bahwa dia adalah Mate Sean, Mate dari seorang Alpha, dan belum saatnya Sean memberitahu Vanya, karna ia sendiri masih belum yakin apakah ia bisa menerima seorang manusia untuk menjadi Matenya?
Sean juga masih ragu apakah Vanya akan menerima dirinya? Apakah Vanya akan percaya bahwa dia adalah pasangan dari seorang manusia serigala? apakah Vanya akan menolak? Sean masih belum siap akan hal itu
_________
Bersambung...
_________
Hai readers, jangan lupa dukungannya yah.
kalau belum paham kalian bisa tanya ke author...