
"aaaaaaaaaaaaaaa"
"Eummmmm emmmmmmmmmmmmm!!!!!"
Vanya yang tadinya berteriak kini berusaha untuk melepaskan tangan kekar yang menutupi bibir mungilnya
"Kenapa kau teriak,bagaimana kalau ada yang mendengar nanti" Ujar Sean dengan tangannya yang masih menutupi bibir vanya
Vanya ingin menjawab, tapi bagaimana sedangkan mulutnya masih dututupi begitu. kedua tangan mungilnya saja sudah kewalahan untuk melepas satu tangan Sean
Melihat reaksi matenya, Sean tersenyum smirk lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya
dan
"Akhhhh!"
Vanya menggigit keras tangan Sean. Tak mau membuang kesempatan, ia segera membuka pintu dan kabur dari ruangan sean
"Bocaah itu!, terbuat dari apa giginya sampai sampai tangan ku terasa sakit begini" Gerutu Sean yang mengibas ngibaskan tangannya
"Selemah itukah dirimu? alpha? ckckc" Ejek marc melalu mid link
______________________________________
______________________________________
"Huft guru itu, kenapa seperti monster hh" Gumam vanya yang masih mengatur nafasnya. Kini ia sedang berada di perpustakaan untuk menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh sean
"Huaaa banyak banget lagi, aku nanti kan harus nyari kerja, uang sekolah varel harus dibayar secepatnya. Atau aku bolos aja ya, ah tidak tidak, ingat vanya, kamu disini ditanggung oleh pemerintah, jadi gaboleh buat onar, huaaaa gimanaa ini!!!!" Gumam Vanya, lalu menatakan dagunya dimeja
"Kenapa guru itu harus pindah kesini sih, kaya monster lagi" Keluh Vanya sambil menatap buku yang ada didepannya, ia tidak tahu bahwa seseorang tengah mengawasinya
"Ekhem" Sean berdehem, ia membelakangi vanya dan berpura pura mencari buku
Vanya yang sadar akan kehadiran Sean langsung berpura pura mengerjakan tugas hukumannya
"Gawat, jangan bilang dia denger semuanya!astaga iya, tadi aku kan gigit tangannya, gimana kalo aku diusir dari sekolah!? tidak tidak, aku harus minta maaf" Batin Vanya, ia masih terus berpura pura mencatat, menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Sean
"Vanyaa!!" Teriak seorang pria dari pintu perpustakaan
"Kevan? ada apa?" Tanya Vanya yang masih berada di posisinya
Kevan berjalan mendekati vanya, lalu merapihkan buku buku Vanya yang berserakan di meja
"Adikmu varel masuk rumah sakit, sekarang kamu ikut aku" Ujar kevan menarik tangan Vanya
Jika kalian belum tau siapa Kevan, dia adalah mantan ketua osis, namun karna sekarang ia sudah kelas 3, jabatannya kini dialihkan oleh adik kelasnya
Kevan termasuk siswa yang populer, selain tampan dia juga orang yang ramah, maka tak heran jika banyak perempuan yang mengejar ngejarnya
Hubungannya dengan Vanya? mereka tidak ada hubungan spesial, Kevan dan Vanya bertemu pertama kali saat most, dan dari sana kevan terus mendekati Vanya, entah apa maksudnya. Namun karna vanya harus fokus dengan prestasinya, ia jadi tak menghiraukan keberadaan kevan. Ya, vanya adalah murid yang penyendiri.
"ka-kau tau dari mana" Ujar vanya memastikan, jantungnya serasa ingin copot, air matanya sudah tergenang siap untuk jatuh
"Ponselmu daritadi berdering terus, terpaksa aku mengambilnya dari tas mu, dan ternyata yang menelfon adalah Varel, namun saat aku angkat yang kudengar malah suara seorang wanita, dan dia mengatakan bahwa varel sedang berada dirumah sakit
Tes
buliran bening telah jatuh membasahi pipi vanya, sedangkan Sean yang sedari tadi menyimak kini ikut merasakan sakit di dadanya, seakan akan ada ribuan belati yang mengoyak hatinya
Melihat vanya menangis, ia merasakan sesak di dadanya. padahal ia terkenal dengan serigala yang tak pandang bulu, ia sama skali tak punya perasaan untuk membunuh orang yang harus dibunuhnya. Tapi kini ia merasakan hal baru di hatinya, dan itu karna Vanya, matenya
"Aku sudah izin dengan wali kelas, ayo berangkat" Ajak kevan menarik tangan Vanya
Melihat tangan Vanya disentuh pria lain membuat darah Sean mendidih, ia tak trima miliknya di sentuh oleh orang lain, apalagi seorang pria. Jika saja pria itu bukan muridnya maka sudah dipastikan sean akan mencabik cabiknya hingga tak berbentuk
Saat vanya dan kevan melangkah keluar dari perpustakaan, Sean segera menahan dan mencekal tangan Vanya
"Berikan alamatnya, aku yang akan mengantarnya" Ujar Sean dingin, menatap tajam mata kevan
"tapi pak sa---
"Sekarang kau boleh masuk kelas, dan jangan sentuh mate ku lagi. jadilah siswa yang baik" Ujar sean yang melepaskan cengkraman tangan kevan di tangan Vanya, nada bicaranya terkesan tenang namun terdengar mengancam
Kevan yang tak mau berurusan dengan guru barunya pun terpaksa patuh walau itu berat
"ayo berangkat" ujar Sean menggenggam tangan Vanya keluar dari perpustakaan, semua guru dan siswa menatap mereka curiga
Sedangkan Vanya masih kalut dengan pikirannya, satu sisi memikirkan adiknya, dan satu sisi memikirkan ucapan sean tadi
"Mate? jangan sentuh? apa maksudnya?