MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
28



Vanya melepaskan pelukan pria dihadapannya, lalu menatap pria itu dengan kondisi wajah yang acak-acakan akibat menangis.


"Meski kau guruku, bolehkah aku menyukaimu? bisakah aku memintamu untuk tetap bersamaku? Tanya Vanya kepada pria dihadapannya.


Pria tersebut lalu menggeleng dan menakup wajah Vanya dengan kedua tangannya.


"Jangankan seorang guru, meski aku mahluk yang jauh berbeda darimu, kau masih sangat boleh menyukaiku. Akupun akan seperti itu" Jawab pria tersebut, lalu mengambil tangan kanan Vanya untuk digenggamnya.


"Jika kau memang mencintaiku, maka kau harus pulang" Ujarnya. Vanya pun langsung tersenyum dan mengangguk mantap. Mereka berdua kini berjalan menyusuri ruangan putih yang kosong dengan kedua tangan yang saling menggenggam. Meskipun tak tau arah, jika terus bersama seperti ini itu tidak akan masalah. Sesulit apapun itu, asal ada kau disisiku, aku pasti akan mampu menghadapinya.


"Terimakasih Sean, telah membuatku bisa mencintaimu seperti ini"


_______________________


_______________________


"Tuan Sean, nona Vanya sudah sadar, anda bisa ma---


Ucapan dokter tersebut seketika berhenti karna melihat Sean yang langsung masuk keruangan UGD tanpa mau mendengarnya selesai bicara.


"Dasar pengantin baru" Kesal dokter tersebut yang kini berjalan menuju keruangan pasian lainnya.


"Bagaimana? Masih ada yang sakit? Atau kepalamu pusing? Bodoh, kenapa kau bisa seperti ini?" Ujar Sean yang langsung menyerbu Vanya dengan berbagai pertannyaan, membuat Vanya menggeleng dengan heran.


"Hanya sedikit pusing" Jawab Vanya yang kinj mendudukan badannya di ranjang pasien.


"Pusing? Perlu aku panggilkan do----


Buk


Sean seketika langsung berhenti bicara setelah merasakan tubuhnya yang menghangat akibat pelukan Vanya yang secara tiba-tiba.


"he-hei kenapa" Tanya Sean yang menenggang, bahkan bernafas saja ia kesulitan.


Namun Vanya malah semakin mengeratkan pelukannya, wajahnya ia sembunyikan di dada bidang milik Sean. Hingga tanpa ia sadari, jarum infus yang terpasang ditangannya terlepas dan membuat tangannya berdarah.


"Kau kenapa Vanyaa!" Bentak Sean yang tanpa ia sengaja, karna saking paniknya melihat darah di tangan Vanya.


Vanya yang dibentak seperti itu pun langsung memundurkan badannya dan menunduk menahan tangis.


"Ma-maaf" Lirihnya.


"Kenapa aku harus terbawa suasana dengan mimpi sih" Batin Vanya, ia terus menahan butiran air yang tergenang di kelopak matanya agar tidak terjatuh.


Sean yang sadar akan tindakannya pun mulai merasa bersalah, tidak seharusnya ia membentak Vanya seperti itu. Tapi jujur saja saat ini Sean memang sedang sangat khawatir dengan kondisi Vanya, apalagi melihat darah di tangan Vanya akibat infusnya yang terlepas. Ia tidak habis fikir mengapa Vanya bisa sampai senekat itu hanya untuk memeluk dirinya.


Saat Sean ingin mendekati Vanya, tiba-tiba saja Dokter yang menangani Vanya datang, tentu saja Sean jadi mengurungkan niatnya.


"Astaga kenapa bisa lepas begini, Nanti kau bisa lemas!" Oceh dokter itu yang kini kembali memasang infus ditangan Vanya. Benar saja, tubuh Vanya seketika langsung melemas, perban dikepalanya pun kini mulai mengeluarkan darah.


"Tuan, kau bisa menunggu diluar" Perintah dokter tersebut menyuruh Sean. Sean yang panik jadi terpaksa menuruti perintah dokter tersebut dan menunggu diluar.


Saat Sean ingin menghampiri Arthur yang tak lain adalah Betanya, ia dikagetkan oleh telfon dari Vanya. Saat Sean menjawabnya, yang ia dengar bukanlah suara Vanya, melainkan suara pria asing yang memberitahunya bahwa Vanya sedang berada dirumah sakit akibat kecelakaan.


Tanpa menunggu lama lagi ia segera memutar arah mobilnya menuju RS tempat Vanya dirawat. Ia jadi membatalkan janjinya dengan Arthur dan menunda pencariaanya. Padahal ia sudah menyuruh seorang penyihir untuk melacak keberadaan musuhnya, Jack, si mahluk penghisap darah.


Setibanya Sean dirumah sakit, Sean langsung dihampiri oleh bapak-bapak yang ternyata orang yang menolong Vanya. Bapak-bapak itu dengan segera memberikan barang-barang Vanya kepada Sean termasuk Hp nya. Saat Sean bertanya mengapa Vanya bisa kecelakaan, Bapak-bapak itu menjawab bahwa Vanya adalah korban tabrak lari.


Mendengar Vanya adalah korban tabrak lari, rahang Sean jadi mengeras, tangannya ia kepalkan dengan kuat, ia berjanji akan mencari tau siapa orang yang tidak bertanggung jawab itu, Sean benar-benar akan menghabisinya.


________________________


________________________


Bersambung....


Huaaa maaf ya author baru up lagi T_T..


pasti banyak yg lupa alur,, maap yaaa😭